Ohhhh, ibenk udah bangkotan ya hehehe

Gue nggak nyadar ya selama ini ټ 

aga

-----Original Message-----
From: "Rochmad Sigit" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 18 Nov 2010 12:42:57 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: RE: ~ aga ~ Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I - Bukan Film 
Anak-Anak

Ibenk mah dah ga termasuk anak2 lagi,, Ga,, udah bangkotan,, :p

 

Thanks

Warm Regards,

 

 

Rochmad Sigit

 

[ Rasa kecilnya diri ini saat berhadapan dengan masalah, 

bukan disebabkan oleh besarnya masalah, 

tetapi oleh kecilnya tujuan hidup. ]

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of aga
Sent: Thursday, November 18, 2010 12:40 PM
To: aga madjid
Subject: Re: ~ aga ~ Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I - Bukan
Film Anak-Anak

 

Haduh, nggak bisa ngajak anak2 nih ...

aga

  _____  

From: "Rochmad Sigit" <[email protected]> 

Sender: [email protected] 

Date: Thu, 18 Nov 2010 12:33:21 +0700

To: <[email protected]>

ReplyTo: [email protected] 

Subject: ~ aga ~ Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I - Bukan Film
Anak-Anak

 


Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I - Bukan Film Anak-Anak


Diposting Oleh Lika Samiadi, Kamis, 18 November 2010 09.43 WIB

Description:
http://l.yimg.com/jj/image-4ce49035e1480-potter+voldemort+-+warner+bros.jpg

Dok. Warner Bros Pictures 

"Sulit dipercaya bahwa 9 tahun yang lalu seri ini dimulai dengan sebuah film
keluarga yang ditonton banyak anak-anak." 

Siapa pun yang sudah melahap habis tujuh buku Harry Potter pasti tahu bahwa
Harry Potter and the Deathly Hallows memiliki mood paling gelap dibanding
enam buku sebelumnya. Sepertinya mood ini berhasil dipertahankan sutradara
David Yates dalam adaptasi filmnya. Sepanjang film, nuansa gelap dan muram
sangat terasa, mulai dari tone warna, dialog, hingga musik scoring. Sulit
dipercaya bahwa sembilan tahun yang lalu seri film ini dimulai dengan sebuah
film keluarga yang ditonton banyak anak-anak.

Tentunya film dibuat lebih "gelap" bukan tanpa alasan. Di seri sebelumnya
(Harry Potter and the Half-Blood Prince), film diakhiri dengan kematian
Albus Dombledore. Maka The Deathly Hallows dimulai dengan memperlihatkan
kekacauan dunia sihir dan dunia muggle sepeninggal Dumbledore. Kementrian
Sihir diambil alih Death Eater (alias Pelahap Maut), muggle dan penyihir
"berdarah lumpur" ditangkap dan dibunuh, bahkan demi melindungi keluarganya,
Hermione sampai harus menghapus dirinya dari ingatan kedua orang tuanya.

Kalau itu masih kurang "muram", di 30 menit pertama sudah ada satu tokoh
yang tewas, dan satu lagi yang terluka parah. Bahkan pesta pernikahan Bill
Weasley dengan Fleur Delacour pun tak berhasil menciptakan suasana suka cita
di kediaman keluarga Weasley.

Dari situ, fokus film berpindah pada petualangan Harry, Ron, dan Hermione
mencari dan menghancurkan horcrux. Horcrux adalah jimat berisi potongan jiwa
Lord Voldemort -- seluruhnya berjumlah tujuh buah -- yang jika semuanya
berhasil dihancurkan, tamatlah riwayat Sang Pangeran Kegelapan. Tentunya
mencari horcrux bukan hal yang mudah, karena tak ada satu pun dari mereka
yang tahu apa bentuk horcrux-horcrux tersebut. Dan jika sudah berhasil
ditemukan pun, tak ada yang tahu bagaimana cara menghancurkannya.

"Satu lagi penanda tiga penyihir ini sudah beranjak dewasa adalah adegan
ciuman yang semakin berani" 



Situasinya makin rumit karena kali ini tiga sekawan penyihir ini tak
mendapat bantuan sama sekali dari pihak luar, bahkan dari keluarga mereka
sendiri. Harry dkk terpaksa tinggal di tenda, berpindah-pindah tempat supaya
tak mudah terlacak. Maklum saja, wajah Harry sudah tersebar di seluruh
penjuru kota dalam selebaran bertuliskan 'Wanted'. 

Masalah juga timbul saat Ron -- yang diam-diam jatuh cinta pada Hermione --
merasa cemburu dengan kedekatan Harry dan gadis pujaannya. Beban Ron di
perjalanan ini memang tak ringan. Bukan saja merasa tersisih dari Harry dan
Hermione yang sering menghabiskan waktu bersama, Ron juga tak pernah
melepaskan pendengarannya dari siaran radio gerilya. Radio ini tak
memutarkan musik, melainkan memberi informasi tentang siapa saja penyihir
yang dinyatakan hilang, dan siapa saja yang terbunuh.

"Aku mendengarkan untuk memastikan nama Ginny, Fred and George, atau ibuku
tak disebut," ujar Ron saat Harry memintanya mematikan radio.

Heart-breaking, isn't it?
Tapi jangan khawatir, di tengah segala kesedihan dan ketegangan film, kita
masih akan dibuat tertawa dengan humor-humor khas Harry Potter. Pengocok
perut paling utama tentu saja adalah Ron, yang dari dulu dikenal suka
melontarkan pernyataan-pernyataan konyol. Belum lagi usahanya memikat hati
Hermione yang bukan jadi romantis tapi malah mengundang tawa. 

Lalu jika Anda masih membayangkan Harry dkk sebagai bocah-bocah imut siswa
sekolah Hogwarts, hapuskan imej itu dari pikiran Anda. Daniel Radcliffe kini
berusia 21 tahun, Rupert Grint -- pemeran Ron -- sudah pernah melakukan
adegan sex di film Cherry Bomb (2009), sedangkan Emma Watson... Ah, masih
perlukah saya beri tahu seperti apa rupa Emma Watson saat ini?

Satu lagi penanda tiga penyihir ini sudah beranjak dewasa adalah adegan
ciuman yang semakin "berani". Bukan lagi sekadar kecupan di bibir, tapi
french kiss panjang dan penuh gairah, yang menampilkan Emma Watson topless.

Jadi jelaslah sudah, Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I memang
bukan film anak-anak. Logikanya sih, anak-anak SD yang dulu menonton Harry
Potter and the Sorcerer's Stone di tahun 2001 pun kini telah beranjak
remaja. 

Oh ya, kenapa ada embel-embel "Part I" pada judul film? Tidak lain karena
buku terakhir dari seri Harry Potter ini memang diangkat ke dalam dua film.
Mungkin terlalu banyak detail yang tak boleh terlewatkan sehingga jika
semuanya dimuat ke satu film bisa-bisa durasinya jadi lima jam. Maka
berakhirlah Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I pada sebuah adegan
yang menampilkan Lord Voldemort. Penonton pun dibuat geregetan dan penasaran
karena harus menunggu sambungan ceritanya -- Harry Potter and the Deathly
Hallows: Part II -- yang baru akan dirilis Juli 2011.

Saat saya menyaksikan film ini di pemutaran perdananya di Jakarta, begitu
film berakhir, seluruh penonton bertepuk tangan panjang.

 

 

Thanks

Warm Regards,

 

 

Rochmad Sigit

 

[ Rasa kecilnya diri ini saat berhadapan dengan masalah, 

bukan disebabkan oleh besarnya masalah, 

tetapi oleh kecilnya tujuan hidup. ]

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

<<image001.jpg>>

Kirim email ke