*Paus Benediktus XVI: Gigolo Boleh Pakai Kondom untuk Cegah HIV* <http://sg.rd.yahoo.com/sea/news/article/REPUlogo/SIG=116isknqb/**http%3A%2F%2Fwww.republika.co.id%2F>
*Republika - Senin, 22 November** * <http://id.news.yahoo.com/repu/20101121/img/pwl-1-paus-benediktus-xvi-g-765256e1ced70.html> *Paus Benediktus XVI: Gigolo Boleh Pakai Kondom untuk Cegah HIV* REPUBLIKA.CO.ID <http://republika.co.id/>,VATICAN CITY--Pemimpin Katolik dunia, Paus Benediktus XVI tampaknya mulai melunak menyikapi pemakaian kondom dalam berhubungan seksual. Dalam kasus tertentu, Paus menganggap pemakaian kondom oleh gigolo diperbolehkan untuk menghindari penyebaran virus HIV. Sikap Paus itu dimuat dalam buku barunya yang akan diluncurkan Selasa (23/11) pekan depan. Sebagian isi dari buku yang berjudul ''Cahaya Dunia: Paus, Gereja dan Tanda-tanda Waktu'' itu diungkap oleh harian Vatican, Sabtu (20/11) kemarin. Dalam buku hasil wawancara panjang dengan jurnalis Jerman itu, Paus mengatakan pemakaian kondom dibolehkan dalam kondisi tertentu seperti bagi pelacur laki-laki alias gigolo untuk mencegah penyebaran HIV. Padadal ajaran gereja yang lama menentang pemakaian kondom sebagai alat kontrasepsi. Kondom juga tak boleh dipakai meski dengan alasan mencegah penyebaran HIV/AIDS. Namun kini, Benediktus menganggap pemakaian kondom oleh kalangan gigolo itu bukanlah isu pokok dan kondom juga bukan merupakan solusi moral. Namun pemakaian kondom bisa digunakan untuk mengurangi risiko penyebaran inveksi penyakit. Pernyataan Paus ini dinilai sebagai pergeseran posisi gereja Katolik. Karena sebelumnya pada Maret 2009 ketika berada di Afrika, dia mengatakan bahwa kondom tak akan menyelesaikan masalah AIDS. Sebaliknya, kondom malah bisa meningkatkan risiko penyebaran penyakit mematikan itu. Waktu itu, pernyataan Paus yang menentang penggunaan kondom meski untuk menghindari penyebaran HIV/AIDS itu kontan mendapatkan kecaman dari sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Jerman, maupun badan PBB yang memerangi AIDS. Pernyataan Paus itu dianggap tidak bertanggung jawab dan membahayakan. ======================================= From: *Etha Oprah* *Fakta Dulu, Baru Bicara** *Oleh: Sonny Wibisono "Opinions are made to be changed, or how is truth to be got at?"-- Lord Byron, penyair asal Inggris, 1788-1824 KETIKA masuk ke dalam ruang rapat, dua rekannya langsung menghentikan pembicaraan. Sontak Agus merasa tidak enak. Dia pun langsung menduga ada sesuatu yang tengah dibicarakan dua rekannya. Pikiran Agus, yang memang penuh curiga melayang kemana-mana. Sampai akhirnya dia menaruh tuduhan: kedua temannya tengah merencanakan sebuah tindakan yang akan merugikannya dalam rapat ini. Rapat pun dimulai. Alih-alih memperhatikan jalannya rapat, mata Agus malah lekat-lekat menyaksikan kedua rekannya. Dia bersiap, kalau saja dua orang rekannya berulah, dia akan menjegalnya. Namun lebih dari satu jam rapat, tak ada gelagat buruk. Malah yang terjadi, dia kena tegur sang bos gara-gara dia tidak bisa menjawab pertanyaan. Karena hal sepele, Agus kena semprot. Anehnya, Agus justru menambah porsi dendam pada dua rekannya. Dia berkilah, dua orang itu teramat senang Agus diomeli sang bos. Malah dia makin menjadi-jadi. Pikirnya, dua orang itu tengah membuat rencana yang menyudutkannya di kelak hari. Sepanjang hari, sepanjang minggu, dia menjadi sibuk memperhatikan dua orang itu. Anda, duhai pembaca, pasti bisa merasakan betapa repotnya menjadi Agus. Dia hidup dan sibuk dalam kecurigaan yang sama sekali tidak pernah terbukti. Anehnya, dia tidak mencari kebenaran dari tuduhannya itu. Namun malah membiarkan pikirannya sendiri yang mengendalikan kesehariannya, dan tanpa disadari juga karirnya. Performa kerja lambat laun tentu akan menurun. Gelagatnya sudah kelihatan. Dia kena semprot saat pertemuan dengan sang bos. Agaknya kisah legendaris Sam Kok atau Kisah Tiga Negara yang kesohor itu perlu diketengahkan agar Agus bisa tersadar dari lamunannya. Alkisah, Cao-Cao, seorang perdana menteri yang melarikan diri dengan dibantu oleh seorang pejabat yang simpati kepadanya, Chen Gong. Dalam pelariannya, Cao-Cao bersembunyi di rumah pamannya, yang merupakan saudara angkat dari ayahnya. Masalahnya, Cao-Cao bawaannya selalu curiga. Ia curiga setiap tindak tanduk dari Lu Boshe, pamannya. Hingga suatu hari ketika Lu Boshe mengadakan pertemuan keluarga, Cao-Cao berhasil menguping pembicaraan keluarga itu. "Ikat saja dulu, lalu kita bunuh!" Itulah kalimat yang dicuri dengar oleh Cao-Cao. Mendengar isi pembicaraan tersebut, Cao-Cao langsung marah. Ia pun mengambil pedangnya dan berusaha membunuh keluarga Lu Boshe. Tapi segera saja Chen Gong berusaha menenangkannya. "Sabar, mari kita dengar dulu apa maksud dari pembicaraan tersebut," kata Chen Gong. Tapi Cao-Cao tidak mempedulikannya, walau Chen Gong sudah berusaha membujuknya dengan susah payah. Cao-Cao akhirnya membantai seluruh keluarga tersebut dengan pedangnya. Air mata Chen Gong pun mengalir deras sedih dan menyesalkan tindakan semena-mena yang dilakukan Cao-Cao. Setelah diselidiki, ternyata Pamannya hendak mengikat seekor babi untuk dijadikan santap malam bagi Cao-Cao dan temannya. Tapi nasi telah menjadi bubur. Kini, hanyalah penyesalan yang kemudian tersisa. Semoga Agus atau kita semua tidak bertindak seperti Cao-Cao. Melihat segala sesuatu hanya dengan persepsi, bukan dengan fakta. Atau menghakimi orang dengan opini, bukan dengan bukti-bukti. Sebelum bertindak dan mengambil keputusan yang penting, galilah dulu bukti-bukti yang memadai. Dengarkan jangan hanya dari satu pihak saja. Setelah itu barulah Anda mengambil tindakan. Jangan kemudian penyesalan yang didapat ketika Anda telah memutuskan sesuatu tanpa didasari oleh fakta-fakta. Is that right brother? *) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media Komputindo, 2009 ==================================== From: *Etha Oprah* *Berbicara dengan Hati, Bukan Jari ** *Oleh: Sonny Wibisono * Ditulis oleh Machrifal Anuar “Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu.” – Eric Schmidt, CEO Google ADIL jengkel betul dengan istrinya. Sepanjang liburan akhir pekan keduanya sepakat memilih beristirahat di rumah. Lima hari bekerja membuat mereka ingin melemaskan otot-otot. Sekaligus tentu saja mempererat tali cinta diantara mereka berdua. Maklum, mereka belum lagi genap dua tahun menikah. Buah hati yang menjadi dambaan mereka tak kunjung datang. Mungkin Yang Di Atas belum memberikan mereka kepercayaan. Begitu keduanya menghibur diri. Tapi akhir pekan yang seharusnya indah justeru berubah menyebalkan. Seharian Anita, sang istri, hanya berada di kamar. Mungkin saja letih. Dia ingin istirahat penuh. Namun yang membuatnya jengkel, Anita terus menggenggam gadget kesayangannya. Anita kadang tertawa sendiri. Sampai kadang dia tak ingin jauh dari colokan listriknya. Gadget kesayangannya itu sering kehilangan tenaga, sehingga terpaksa harus dicharge. Adil geleng-geleng kepala. Namun Anita cuek bebek. Katanya, dia sedang asyik mengobrol dengan teman yang lama tak dijumpainya. Bertemu di jejaring sosial facebook, mereka kemudian bertukar nomor PIN. Lalu itulah yang terjadi, mereka mengobrol ngalor-ngidul sesuka hati. Adil pun memilih untuk keluar rumah dan mengobrol dengan tetangga. Ponsel cerdas itu menjadi booming di dunia, termasuk Indonesia. Apalagi setelah beberapa tokoh dunia dan seleb memakainya juga. Kelebihan menggunakan gadget ini dibandingkan dengan ponsel biasa memang beragam, misalnya saja layanan push mail, menerima dan membalas email yang masuk pada saat itu juga. Atau mengambil foto dan mengirimkannya ke handai taulan di luar negeri dalam sekejap. Lalu ada pula fasilitas chatting, browsing, hingga fasilitas online berbagai situs jejaring sosial. Kedekatan seseorang di dunia maya seakan-akan tidak lagi terpisahkan oleh ruang dan waktu. Tak aneh bila kemudian muncul istilah, ‘mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.’ Namun memakai gadget ini bukan tak ada kekurangannya sama sekali. Contohnya, ya itu, interaksi antara Adil dan Anita menjadi tak nyaman. Ketika seseorang berasyik masyuk dengan dirinya dan dunianya sendiri, serta tidak memperdulikan lingkungan sekitar, apalagi menjadikannya sebagai ketergantungan yang sangat, maka menurut anak zaman sekarang dikatakan terkena ‘gejala autis’. Tapi bukankah merujuk peribahasa, ‘man behind the gun’, bahwa baik-buruknya penggunaan teknologi tergantung si pemakainya? Betul. Bila pemakainya memakai dengan bijak, tentu tak masalah. Sebaliknya pun demikian. Tapi nyatanya memang, menurut penelitian, ketergantungan akan gadget menyebabkan seseorang menjadi tak fokus. Bahkan para uskup senior di Liverpool, Inggris menantang umatnya untuk berpuasa teknologi selama 40 hari. Mereka mendorong masing-masing orang untuk memangkas penggunaan karbon dengan tidak memakai sejumlah gadget. Tingkat ketergantungan pemakai gadget memang sungguh luar biasa. Hingga muncul istilah, ‘it is heaven for business owners, but hell for employees’. Gadget dibuat dengan tujuan membantu si pemakainya. Untuk menjadikan urusan berjalan dengan efektif dan efisien. Ambil satu contoh, misalnya saja ketika diadakan rapat penting. Saat dalam rapat membutuhkan komunikasi rahasia di antara peserta rapat, tentu saja cara yang cerdas dengan menggunakan gadget yang tersedia. Tetapi pada kenyataannya, yang kerap kita jumpai, teknologi yang awalnya dirancang untuk membantu kehidupan manusia, malah justeru membuat kita semakin menjauh satu dengan lainnya. Menjauh dari orang-orang yang kita kasihi, dan menjauh pula dari Tuhan yang sesungguhnya dekat dengan kita. Dengarlah apa yang dikatakan Eric Schmidt, CEO Google, dalam pidatonya di University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 18 Mei 2009 lalu dihadapan enam ribu wisudawan. Schmidt berujar, “Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu.” Schmidt mengatakan demikian setelah melihat banyaknya kaum muda yang hanya terpaku pada dunia virtual di internet. Seakan tak peduli untuk berelasi dengan orang lain. Itulah yang dirasakan Adil sekarang. Ia merasa jauh sekali dari istrinya. Adil sesungguhnya tak menuntut lebih dari Anita. Adil hanya ingin Anita menghentikan sekali saja pada saat mereka berada di rumah. Apalagi disaat-saat mereka sedang berdua atau liburan. Baginya komunikasi yang baik bukan lagi semata dengan jari-jari, walau teknologi sudah maju. Berbicara dengan tatap muka, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh tentu lebih memanusiakan diri. Kita seharusnya memang dapat berhenti sejenak dari kegaduhan dunia virtual dan kembali pada ‘habitatnya’ sebagai makhluk sosial. *) Sonny Wibisono, penulis buku ‘Message of Monday’, PT Elex Media Komputindo, 2009 -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group.
