MUHAMMAD – Wikipedia


Muhammad bin ‘Abdullāh (Arab: محمد بن عبد الله; Transliterasi: Muḥammad;[1]
dieja [mʊħɑmmæd]  ( dengarkan); [2][3][4] (ca.
570/571 Mekkah[مَكَةَ
]/[ مَكَهْ ] – 8 Juni, 632 Medina),[5]
adalah pembawa ajaran Islam,
dan diyakini oleh umat Muslim sebagai nabi Allah
(Rasul) yang
terakhir. Menurut biografi tradisional Muslimnya (dalam bahasa Arab disebut
sirah), ia lahir diperkirakan
sekitar 20
April 570/ 571, di Mekkah
("Makkah") dan wafat pada 8 Juni 632 di Madinah. Kedua kota tersebut
terletak di daerah Hejaz
(Arab
Saudi saat ini).

Michael H. Hart, dalam bukunya The 100,
menetapkan Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah
manusia.
Menurut Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih
keberhasilan luar biasa baik dalam hal agama maupun hal
duniawi. Dia memimpin bangsa yang awalnya terbelakang dan terpecah belah,
menjadi bangsa maju yang bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi di medan
pertempuran.[6]

Etimologi

"Muhammad" dalam bahasa Arab berarti "dia yang terpuji".
Muslim
mempercayai bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad adalah
penyempurnaan
dari agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Selain itu di dalam
Al-Qur'an,
Surah
As-Saff (QS 61:6) menyebut Muhammad dengan nama "Ahmad"
(أحمد), yang dalam bahasa Arab juga berarti "terpuji".

Sebelum masa kenabian, Muhammad mendapatkan dua julukan dari para kaum
Quraisy yaitu Al-Amin
yang artinya "orang yang dapat dipercaya" dan As-Saadiq
yang artinya "yang benar". Setelah masa kenabian para sahabatnya
memanggilnya dengan gelar Rasul Allāh (رسول الله), kemudian
menambahkan kalimat Shalallaahu 'Alayhi Wasallam (صلى الله عليه و سلم,
yang berarti "semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan
kepadanya"; sering disingkat "S.A.W" atau "SAW")
setelah namanya.

Kemudian Muhammad mendapatkan julukan Abu al-Qasim[8] yang
berarti "bapak Qasim", karena Muhammad pernah memiliki anak lelaki
yang bernama Qasim, tetapi ia meninggal dunia sebelum mencapai usia dewasa.

Genealogi

Silsilah Muhammad dari kedua orang tuanya kembali ke Kilab
bin Murrah bin Ka'b bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin Malik
bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas
bin Mudar bin
Nizar bin Ma`ad bin Adnan.[9]
Adnan merupakan keturunan laki-laki ke tujuh dari Ismail
bin Ibrahim,
yaitu keturunan Sam
bin Nuh.[10]
Muhammad lahir di hari Senin, 12 Rabi’ul Awal tahun 571 Masehi (lebih
dikenal
sebagai Tahun Gajah).

Riwayat

Kelahiran

Para penulis sirah (biografi) Muhammad pada umumnya sepakat bahwa ia lahir
di Tahun Gajah,
yaitu tahun 570 M.
Muhammad lahir di kota Mekkah, di bagian Selatan Jazirah Arab, suatu tempat
yang ketika itu merupakan daerah paling terbelakang di dunia, jauh dari
pusat
perdagangan, seni, maupun ilmu pengetahuan. Ayahnya, Abdullah[11],
meninggal dalam perjalanan dagang di Yatsrib, ketika
Muhammad masih dalam kandungan. Ia meninggalkan harta lima ekor unta,
sekawanan biri-biri dan
seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman
yang kemudian mengasuh Nabi.[10]

Pada saat Muhammad berusia enam tahun, ibunya Aminah binti Wahab mengajaknya
ke Yatsrib (Madinah) untuk
mengunjungi keluarganya serta mengunjungi makam ayahnya. Namun dalam
perjalanan
pulang, ibunya jatuh sakit. Setelah beberapa hari, Aminah meninggal dunia di
Abwa' yang terletak
tidak jauh dari Yatsrib,
dan dikuburkan di sana .[9]
Setelah ibunya meninggal, Muhammad dijaga oleh kakeknya, 'Abd al-Muththalib.
Setelah kakeknya meninggal,
ia dijaga oleh pamannya, Abu Thalib. Ketika inilah ia diminta menggembala
kambing-kambingnya disekitar Mekkah dan kerap menemani pamannya dalam urusan
dagangnya ke
negeri Syam (Suriah, Libanon dan Palestina).

Hampir semua ahli hadits dan sejarawan sepakat bahwa Muhammad lahir di bulan
Rabiulawal,
kendati mereka berbeda pendapat tentang tanggalnya. Di kalangan Syi'ah,
sesuai
dengan arahan para Imam
yang merupakan keturunan langsung Muhammad, menyatakan bahwa ia lahir pada
hari
Jumat, 17 Rabiulawal;
sedangkan kalangan Sunni
percaya bahwa ia lahir pada hari Senin, 12 Rabiulawal atau (2 Agustus
570M).[10]

Berkenalan dengan Khadijah

Ketika Muhammad mencapai usia remaja dan berkembang menjadi seorang yang
dewasa, ia mulai mempelajari ilmu bela diri dan memanah,
begitupula dengan ilmu untuk menambah keterampilannya dalam berdagang.
Perdagangan menjadi hal yang umum dilakukan dan dianggap sebagai salah satu
pendapatan yang stabil. Muhammad menemani pamannya berdagang ke arah Utara
dan
secepatnya tentang kejujuran dan sifat dapat dipercaya Muhammad dalam
membawa
bisnis perdagangan telah meluas, membuatnya dipercaya sebagai agen penjual
perantara barang dagangan penduduk Mekkah.

Seseorang yang telah mendengar tentang anak muda yang sangat dipercaya
dengan adalah seorang janda
yang bernama Khadijah.
Ia adalah seseorang yang memiliki status tinggi di suku Arab
dan Khadijah sering pula mengirim barang dagangan ke berbagai pelosok daerah
di
tanah Arab. Reputasi Muhammad membuatnya terpesona sehingga membuat Khadijah
memintanya untuk membawa serta barang-barang dagangannya dalam perdagangan.
Muhammad dijanjikan olehnya akan dibayar dua kali lipat dan Khadijah sangat
terkesan dengan sekembalinya Muhammad dengan keuntungan yang lebih dari
biasanya.

Akhirnya, Muhammad pun jatuh cinta kepada Khadijah kemudian mereka menikah.
Pada saat itu Muhammad berusia 25 tahun sedangkan Khadijah mendekati umur 40
tahun, tetapi ia masih memiliki kecantikan yang menawan. Perbedaan umur yang
sangat jauh dan status janda yang dimiliki oleh Khadijah, tidak menjadi
halangan bagi mereka, karena pada saat itu suku Quraisy memiliki adat dan
budaya yang lebih
menekankan perkawinan dengan gadis ketimbang janda. Walaupun harta kekayaan
mereka semakin bertambah, Muhammad tetap sebagai orang yang memiliki gaya
hidup sederhana, ia
lebih memilih untuk mendistribusikan keuangannya kepada hal-hal yang lebih
penting.

Memperoleh gelar

Ketika Muhammad berumur 35 tahun, ia bersatu dengan orang-orang Quraisy
dalam perbaikan Ka'bah. Ia pula yang memberi keputusan di antara mereka
tentang
peletakan Hajar
al-Aswad di tempatnya. Saat itu ia sangat masyhur di antara kaumnya dengan
sifat-sifatnya yang terpuji. Kaumnya sangat mencintainya, hingga akhirnya ia
memperoleh gelar Al-Amin yang artinya "orang yang dapat
dipercaya".

Diriwayatkan pula bahwa Muhammad percaya sepenuhnya dengan ke-Esaan Tuhan.
Ia hidup
dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat angkuh dan sombong. Ia
menyayangi orang-orang miskin, para janda dan anak-anak yatim serta berbagi
penderitaan dengan berusaha menolong mereka. Ia juga menghindari semua
kejahatan yang biasa di kalangan bangsa Arab pada masa itu seperti berjudi,
meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain,
sehingga ia dikenal sebagai As-Saadiq yang memiliki arti "yang
benar".

Kerasulan

Muhammad dilahirkan di tengah-tengah masyarakat terbelakang yang senang
dengan kekerasan dan pertempuran dan menjelang usianya yang ke-40, ia sering
menyendiri ke Gua
Hira' sebuah gua bukit sekitar 6 km sebelah timur kota Mekkah, yang
kemudian dikenali sebagai Jabal An Nur. Ia bisa berhari-hari bertafakur
dan beribadah disana dan sikapnya itu dianggap sangat bertentangan dengan
kebudayaan Arab pada zaman tersebut dan di sinilah ia sering berpikir dengan
mendalam, memohon kepada Allah supaya memusnahkan kekafiran dan
kebodohan.

Pada suatu malam sekitar tanggal 17 Ramadhan/ 6
Agustus 611, ketika Muhammad sedang bertafakur di Gua Hira',
Malaikat Jibril
mendatanginya. Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di
telinganya. Ia diminta membaca. Ia menjawab, "Saya tidak bisa membaca".
Jibril mengulangi tiga kali meminta agar Muhammad membaca, tetapi jawabannya
tetap sama. Akhirnya, Jibril berkata:

“


Bacalah
dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan
perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak
diketahuinya.(Al-Alaq 96: 1-5)


”



Ini merupakan wahyu
pertama yang diterima oleh Muhammad. Ketika itu ia berusia 40 tahun 6 bulan
8
hari menurut perhitungan tahun kamariah (penanggalan berdasarkan bulan),
atau
39 tahun 3 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun syamsiah (penanggalan
berdasarkan matahari). Setelah pengalaman luar biasa di Gua Hira tersebut,
dengan rasa ketakutan dan cemas Muhammad pulang ke rumah dan berseru pada
Khadijah untuk menyelimutinya, karena ia merasakan suhu tubuhnya panas dan
dingin secara bergantian. Setelah hal itu lewat, ia menceritakan
pengalamannya
kepada sang istri.

Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Muhammad mendatangi
saudara sepupunya, yaitu Waraqah bin Naufal, yang banyak mengetahui
nubuat tentang nabi terakhir dari kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi.
Mendengar cerita yang dialami Muhammad, Waraqah pun berkata, bahwa ia telah
dipilih oleh Tuhan menjadi seorang nabi. Kemudian Waraqah menyebutkan bahwa
An-Nâmûs
al-Akbar (Malaikat Jibril) telah datang kepadanya, kaumnya akan mengatakan
bahwa ia seorang penipu, mereka akan memusuhi dan melawannya.

Wahyu turun kepadanya secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 23 tahun.
Wahyu tersebut telah diturunkan menurut urutan yang diberikan Muhammad, dan
dikumpulkan dalam kitab bernama Al Mushaf yang juga dinamakan Al- Qurʾān
(bacaan). Kebanyakan ayat-ayatnya mempunyai arti yang jelas, sedangkan
sebagiannya diterjemahkan dan dihubungkan dengan ayat-ayat yang lain.
Sebagian
ayat-ayat adapula yang diterjemahkan oleh Muhammad sendiri melalui
percakapan,
tindakan dan persetujuannya, yang terkenal dengan nama As-Sunnah.
Al-Quran dan As-Sunnah digabungkan bersama merupakan panduan dan cara hidup
bagi "mereka yang menyerahkan diri kepada Allah", yaitu penganut
agama Islam.

Mendapatkan pengikut

Selama tiga tahun pertama, Muhammad hanya menyebarkan agama terbatas kepada
teman-teman dekat dan kerabatnya. Kebanyakan dari mereka yang percaya dan
meyakini ajaran Muhammad adalah para anggota keluarganya serta golongan
masyarakat awam, antara lain Khadijah, Ali, Zaid
bin Haritsah dan Bilal. Namun pada awal tahun 613, Muhammad mengumumkan
secara terbuka agama Islam.
Banyak tokoh-tokoh bangsa Arab seperti Abu Bakar, Utsman
bin Affan, Zubair bin Al Awwam, Abdul Rahman bin Auf, Ubaidah bin Harits,
Amr bin Nufail masuk Islam
dan bergabung membela Muhammad. Kesemua pemeluk Islam pertama itu disebut
dengan As-Sabiqun al-Awwalun.

Akibat halangan dari masyarakat jahiliyyah di Mekkah, sebagian orang Islam
disiksa, dianiaya, disingkirkan dan diasingkan. Penyiksaan yang dialami
hampir
seluruh pengikutnya membuat lahirnya ide berhijrah (pindah) ke Habsyah.
Negus, raja Habsyah, memperbolehkan
orang-orang Islam berhijrah ke negaranya dan melindungi mereka dari tekanan
penguasa di Mekkah. Muhammad sendiri, pada tahun 622 hijrah ke Madinah,
kota yang berjarak sekitar 200 mil (320 km) di sebelah Utara Mekkah.

Hijrah ke Madinah

Di Mekkah terdapat Ka'bah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim.
Masyarakat jahiliyah Arab dari berbagai suku berziarah ke Ka'bah dalam suatu
kegiatan tahunan, dan mereka menjalankan berbagai tradisi keagamaan
mereka dalam kunjungan tersebut. Muhammad mengambil peluang ini untuk
menyebarkan Islam. Di antara mereka yang tertarik dengan seruannya ialah
sekumpulan orang dari Yathrib (dikemudian hari berganti nama menjadi
Madinah). Mereka
menemui Muhammad dan beberapa orang Islam dari Mekkah di suatu tempat
bernama Aqabah secara sembunyi-sembunyi.
Setelah menganut Islam, mereka lalu bersumpah untuk melindungi Islam,
Rasulullah (Muhammad) dan orang-orang Islam Mekkah.

Tahun berikutnya, sekumpulan masyarakat Islam dari Yathrib datang lagi ke
Mekkah. Mereka menemui Muhammad di tempat mereka bertemu sebelumnya. Abbas
bin
Abdul Muthalib, yaitu pamannya yang saat itu belum menganut Islam, turut
hadir
dalam pertemuan tersebut. Mereka mengundang orang-orang Islam Mekkah untuk
berhijrah ke Yathrib. Muhammad akhirnya setuju untuk berhijrah ke kota itu.

Mengetahui bahwa banyak masyarakat Islam berniat meninggalkan Mekkah,
masyarakat jahiliyah
Mekkah berusaha menghalang-halanginya, karena beranggapan bahwa bila
dibiarkan
berhijrah ke Yathrib, orang-orang Islam akan mendapat peluang untuk
mengembangkan agama mereka ke daerah-daerah yang lain. Setelah berlangsung
selama kurang lebih dua bulan, masyarakat Islam dari Mekkah pada akhirnya
berhasil
sampai dengan selamat ke Yathrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah atau
"Madinatun Nabi" ( kota
Nabi).

Di Madinah,
pemerintahan (kalifah)
Islam diwujudkan di bawah pimpinan Muhammad. Umat Islam bebas beribadah
(salat) dan
bermasyarakat di Madinah. Quraish Makkah yang mengetahui hal ini kemudian
melancarkan beberapa serangan ke Madinah, akan tetapi semuanya dapat diatasi
oleh umat Islam. Satu perjanjian damai kemudian dibuat dengan pihak Quraish.
Walaupun demikian, perjanjian itu kemudian diingkari oleh pihak Quraish
dengan
cara menyerang sekutu umat Islam.

Penaklukan Mekkah

Pada tahun ke-8 setelah berhijrah ke Madinah, Muhammad
berangkat kembali ke Makkah dengan pasukan Islam sebanyak 10.000 orang.
Penduduk Makkah yang khawatir kemudian setuju untuk menyerahkan kota Makkah
tanpa
perlawanan, dengan syarat Muhammad kembali pada tahun berikutnya. Muhammad
menyetujuinya, dan ketika pada tahun berikutnya ia kembali maka ia
menaklukkan
Mekkah secara damai. Muhammad memimpin umat Islam menunaikan ibadah haji,
memusnahkan semua berhala yang ada di sekeliling Ka'bah, dan kemudian
memberikan amnesti umum dan menegakkan peraturan agama Islam di kota Mekkah.

Mukjizat

Seperti nabi dan rasul sebelumnya, Muhammad
diberikan irhasat (pertanda) akan datangnya seorang nabi, seperti yang
diyakini oleh umat Muslim
telah dikisahkan dalam beberapan kitab suci ajaran
samawi, kemudian dikisahkan pula terjadi pertanda pada masa didalam
kandungan, masa kecil dan remaja. Kemudian Muhammad diyakini diberikan
mukjizat selama
kenabiannya.

Dalam syariat Islam, mukjizat terbesar Muhammad adalah Al-Qur'an,
karena pada masa itu bangsa Arab memiliki kebudayaan sastra yang cukup
tinggi dan Muhammad sendiri adalah orang yang buta huruf,
yang diyakini oleh umat muslim mustahil dikarang olehnya. Selain itu,
Muhammad
juga diyakini pula oleh umat Islam pernah membelah bulan pada masa
penyebaran
Islam di Mekkah
dan melakukan Isra dan Mi'raj dalam waktu tidak sampai satu hari.
Kemampuan lain yang dimiliki Muhammad adalah kecerdasannya mengenai ilmu
ketauhidan.

Fisik dan ciri-ciri Muhammad

Berikut adalah penggambaran sosok Muhammad dari salah satu istinya yaitu
Aisyah, sepupunya Ali bin Abi Thalib, para sahabatnya, serta orang
terakhir yang masih hidup yang kala itu sempat melihat sosoknya secara
langsung, yaitu Abu Taufik.

Aisyah dan Ali bin Abi Thalib telah merincikan ciri-ciri
fisik dan penampilan keseharian Muhammad, diantaranya adalah rambut ikal
berwarna sedikit kemerahan,[12] terurai
hingga bahu. Kulitnya putih kemerah-merahan, wajahnya cenderung bulat dengan
sepasang matanya hitam dan bulu mata yang panjang. Tidak berkumis dan
berjanggut sepanjang sekepalan telapak tangannya.

Tulang kepala besar dan bahunya lebar. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan
tidak pula terlalu pendek, berpostur kekar sangat indah dan pas dikalangan
kaumnya. Bulu badannya halus memanjang dari pusar hingga dada. Jemari tangan
dan kaki tebal dan lentik memanjang.[13]

Apabila berjalan cenderung cepat dan tidak pernah menancapkan kedua telapak
kakinya, beliau melangkah dengan cepat dan pasti. Apabila menoleh, ia
menolehkan wajah dan badannya secara bersamaan. Di antara kedua bahunya
terdapat
tanda kenabian dan memang ia adalah penutup para nabi. Ia adalah orang yang
paling dermawan, paling berlapang dada, paling jujur ucapannya, paling
bertanggung jawab dan paling baik pergaulannya. Siapa saja yang bergaul
dengannya pasti akan menyukainya.

Setiap orang yang bertemu Muhammad pasti akan berkata, "Aku tidak
pernah melihat orang yang sepertinya, baik sebelum maupun sesudahnya."
Begitulah Muhammad di mata khalayak, akhlaknya yang sangat mulia digambarkan
dalam salah satu ayat Al-Qur’an,

“


"Dan
sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Al-Qalam: 4)


”



Dalam hadits riwayat Bukhari, Muhammad digambarkan sebagai orang yang
berkulit
putih dan berjenggot hitam dengan uban.[14]

Dalam satu hadits diterangkan mengenai corak fisik Muhammad, yaitu ia
bertubuh sedang, kulitnya berwarna cerah tidak terlalu putih dan tidak pula
hitam. Rambutnya berombak. Ketika Muhammad wafat uban yang tumbuh di rambut
dan
janggutnya masih sedikit.[15]

Anas juga mengatakan bahwa Muhammad memiliki tinggi sedang, tidak tinggi
sekali ataupun pendek, tegap. Bila ia berjalan sangat gesit dengan tubuh
condong sedikit kedepan.[16]

Bara’a bin Aazib
mengatakan bahwa Muhammad memiliki tinggi yang sedang, dengan tulang pundak
bidang. Rambutnya cukup tebal, panjang sampai batas telinga.[17]

Ali bin Abi Thalib meriwayatkan bahwa Muhammad tidaklah tinggi dan juga
pendek. Telapak tangan dan kaki beliau padat berisi. Ia memiliki kepala yang
agak besar dan kuat. Bulu-bulu halus tumbuh di dadanya dan terus kebawah
sampai
pusar. Jika berjalan, melangkahnya seolah-olah seperti turun (meloncat) dari
suatu ketinggian. Ditambahkan pula bahwa Ali belum pernah melihat orang
sepertinya diantara sahabatnya sesudah wwafatnya Muhammad.[18]

Ali menambahkan bahwa Muhammad memiliki rambut lurus sedikit berombak. Tidak
gemuk dan tidak terlalu besar, berperawak baik dan tegak. Warna kulit cerah,
matanya hitam dengan bulu mata yang panjang. Persendian tulang yang kuat
dada,
tangan dan kakinya kekar. Tidak memiliki bulu yang tebal tetapi hanya tipis
dari dada sampai pusarnya. Jika berbicara dengan seseorang, maka ia akan
menghadapkan wajahnya keorang tersebut dengan penuh perhatian. Diantara
bahunya
ada tanda kenabian. Muhammad orang yan baik hatinya dan paling jujur, orang
yang paling dirindukan dan sebaik-baiknya keturunan. Siapa saja yang
mendekati
dan bergaul dengannya maka akan langsung merasa terhormat, khidmat,
menghargai
dan mencintainya.[19]

Hind bin Abi Halah
mendapat cerita dari Hasan bin Ali mengatakan bahwa Muhammad memiliki
pribadi mulia dan sangat agung jika orang melihatnya. Wajahnya bercahaya
seperti bulan purnama. Ia sedikit lebih tinggi dari rata-rata orang tapi
lebih
pendek dari orang yang jangkung. Kepalanya lebih besar dari rata-rata orang
dan
rambutnya agak keriting (berombak) agak panjang hingga mencapai kuping dan
dibelah tengah. Kulit berwarna cerah dahinya agak lebar. Alis matanya
melengkung hitam dan tebal, diantara alisnya nampak urat darah halus yang
berdenyut bila sedang emosi.

Hidungnya agak melengkung dan mengkilap jika terkena cahaya serta tampak
agak menonjol jika pertama kali melihatnya padahal sebenarnya tidak.
Berjanggut
tipit tapi penuh rata sampai pipi. Mulutnya sedang, giginya putih cemerlang
dan
agak renggang. Pundaknya bagus dan kokoh, seperti dicor perak. Anggota tubuh
lainnya normal dan proporsional. Dada dan pinggangnya seimbang dengan
ukurannya. Tulang belikatnya cukup lebar, bagian-bagian tubuhnya tidak
tertutup
bulu lebat, bersih dan bercahaya. Kecuali bulu halus yang tumbuh dari dada
hingga pusar.

Lengan dan dada bagian atas berbulu. Pergelangan tangannya cukup panjang,
telapak tangannya agak lebar serta tangan dan kakinya berisi, jari-jari
tangan
dan kaki cukup langsing. Jika berjalan agak condong kedepan melangkah dengan
anggun serta berjalan dengan cepat dan sering melihat kebawah dari pada
keatas.
Jika berhadapan dengan orang maka ia memandang orang itu dengan penuh
perhatian
dan tidak pernah melototi seseorang dan pandangannya menyejukkan. Selalu
berjalan agak dibelakang, terutama jika saat melakukan perjalanan jarak jauh
dan ia selalu menyapa orang lain terlebih dahulu.[20]

Dari kisah Jabir bin Samurah
meriwayatkan bahwa Muhammad memiliki mulut yang agak lebar, di matanya
terlihat
juga garis-garis merahnya, serta tumitnya langsing. Jabir (ra) juga
meriwayatkan bahwa ia berkesempatan melihat Muhammad di bawah sinar
rembulan,
ia juga memperhatikan pula rembulan tersebut, baginya Muhammad lebih indah
dari
rembulan tersebut.[21]

Abu Ishaq mengemukakan bahwa, Bara’a bin Aazib pernah
berkata, bahwa rona Muhammad lebih mirip purnama yang cerah.[22]

Abu
Hurairah mengatakan bahwa Muhammad sangatlah rupawan, seperti dibentuk dari
perak. Rambutnya cenderung berombak dan Abu Hurairah belum pernah melihat
orang
yang lebih baik dari dan lebih tampan dari Muhammad, rona mukanya
secemerlang
matahari dan tidak pernah melihat orang yang secepatnya. Seolah-olah tanah
digulung oleh langkah-langkah Muhammad jika sedang berjalan. Dikatakan jika
Abu
Hurairah dan yang lainnya berusaha mengimbangi jalannya Muhammad dan nampak
ia
seperti berjalan santai saja.[23]

Jabir bin Abdullah
mengatakan, Muhammad pernah bersabda bahwa ia pernah menyaksikan gambaran
tentang para nabi. Diantaranya adalah Musa berperawakan
langsing seperti orang-orang dari Suku Shannah, dan melihat Isa yang mirip
salah
seorang sahabatnya yang bernama Urwah bin Mas’ud dan
ketika melihat Ibrahim
dikatakan sangat mirip dengan dirinya sendiri (Muhammad), kemudian Muhammad
juga mengatakan bahwa ia pernah melihat Malaikat Jibril yang mirip
dengan Dehya Kalbi.[24]

Said al Jahiri mengatakan
bahwa ia pernah mendengar Abu Taufik berkata bahwa pada
saat ini tidak ada lagi yang masih hidup orang yang pernah melihat secara
langsung Muhammad kecuali dirinya sendiri dan Muhammad memiliki roman muka
sangat cerah dan perawakanna sangat baik.[25]

Ibnu
Abbas mengatakan bahwa gigi depan Muhammad agak renggang tidak terlalu
rapat dan jika bericara nampak putih berkilau.[26][27]

Pernikahan

Selama hidupnya Muhammad menikahi 11 atau 13 orang wanita (terdapat
perbedaan pendapat mengenai hal ini). Pada umur 25 Tahun ia menikah dengan
Khadijah, yang
berlangsung selama 25 tahun hingga Khadijah wafat.[28]
Pernikahan ini digambarkan sangat bahagia,[29][30]
sehingga saat meninggalnya Khadijah (yang bersamaan dengan tahun
meninggalnya Abu Thalib
pamannya) disebut sebagai tahun kesedihan.

Sepeninggal Khadijah, Muhammad disarankan oleh Khawla binti Hakim,
bahwa sebaiknya ia menikahi Sawda binti Zama (seorang
janda) atau Aisyah
(putri Abu
Bakar, dimana Muhammad akhirnya menikahi keduanya. Kemudian setelah itu
Muhammad tercatat menikahi beberapa wanita lagi sehingga mencapai total
sebelas
orang, dimana sembilan diantaranya masih hidup sepeninggal Muhammad.

Para ahli sejarah antara lain Watt dan Esposito berpendapat
bahwa sebagian besar perkawinan itu dimaksudkan untuk memperkuat ikatan
politik
(sesuai dengan budaya Arab), atau memberikan penghidupan bagi para janda
(saat
itu janda lebih susah untuk menikah karena budaya yang menekankan perkawinan
dengan perawan).[31]

Perbedaan dengan nabi dan rasul terdahulu

Dalam mengemban misi dakwahnya, umat Islam percaya bahwa Muhammad diutus
Allah untuk menjadi Nabi bagi seluruh umat manusia (QS. 34 : 28),
sedangkan nabi dan rasul sebelumnya hanya diutus untuk umatnya masing-masing
(QS 10:47, 23:44) seperti halnya Nabi Musa yang diutus Allah kepada kaum
Bani
Israil.

Sedangkan persamaannya dengan nabi dan rasul sebelumnya ialah sama-sama
mengajarkan Tauhid,
yaitu kesaksian bahwa Tuhan
yang berhak disembah atau diibadahi itu hanyalah Allah (QS 21:25).

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke