Kamis, 30/12/2010 08:25 WIB
 Piala AFF
 Bukan Hanya Karena Aksi Usil di Bukit Jalil
 *Doni Wahyudi* - detiksport



Detiksport/M Resha Pratama

  *Jakarta* - Alfred Riedl menyebut kalau kekalahan telak di Malaysia telah
membuat kans Indonesia jadi juara menipis di laga kedua. Benarkah hasil
buruk di Bukit Jalil karena keusilan tuan rumah? Atau ada sebab lain?

"Sebetulnya kita sudah kalah lebih dulu di Malaysia. 15 menit yang kacau di
sana kita bayar mahal di sini," seru Alfred
Riedl<http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2010/12/29/221652/1535524/76/15-menit-yang-kacau-buyarkan-mimpi-indonesia>usai
laga final kedua di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Rabu (29/12/2010)
malam WIB.

Pernyataan pahit yang dilontarkan Riedl tersebut merujuk pada hasil 0-3 yang
didapat Indonesia saat menjalani final pertama di Stadion Bukit Jalil,
Minggu (29/12/2010) lalu. Saat itu gawang Markus jebol tiga kali
masing-masing di menit 61, 68 dan 73.

Ada banyak dalih yang kemudian muncul dari pengurus PSSI terkait hasil laga
tersebut. Ketua Umum Nurdin Halid dengan lantang menyebut kalau ada upaya
tidak *fair* yang dilakukan pihak Malaysia untuk memetik kemenangan.

Aksi tembak laser jelas jadi yang paling mencolok karena seluruh publik
Indonesia juga menyaksikannya dari layar kaca. Selain itu Nurdin juga
menuduh kalau kubu Malaysia juga menggunakan serbuk gatal di lapangan tempat
timnas menggelar latihan, yang membuat Markus gata-gatal dan terkena alergi.

Namun anehnya pernyataan Nurdin tersebut justru
disanggah<http://detiksport.com/sepakbola/read/2010/12/28/001754/1533772/76/pikal-bantah-teror-serbuk-gatal>oleh
asisten pelatih Wolfgang Pikal. "Tapi itu bukan
*itchy powder* (serbuk gatal), tapi hanya *fertilizer*. Tapi kita tidak tahu
itu disengaja atau tidak," sanggah Pikal beberapa hari lalu.

Lalu benarkah kekalahan 0-3, yang kemudian berpengaruh besar dalam kegagalan
Indonesia menjadi juara, disebabkan oleh sikap usil Malaysia dalam laga di
Bukit Jalil?

Itu mungkin saja. Tapi usai laga final pertama tersebut Riedl akhirnya membuka
unek-unek<http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2010/12/26/222822/1532987/76/riedl-akui-tim-terganggu-media-dan-agenda-pssi>yang
mungkin selama ini dia simpan sendiri. Sebuah rasa tidak puas akan
kondisi timnas terkait aktivitas-aktivitas di luar lapangan.

"Belakangan ini aktivitas dari federasi juga agak mengganggu kami.
Kegiatan-kegiatan yang berlebihan dan tidak perlu," sindir pelatih asal
Austria itu di Malaysia.

Tekanan yang datang dari media pun dinilai sudah berlebihan oleh Riedl.
Pemain mulai dianggap selayaknya selebritas yang setiap gerak-geriknya jadi
berita utama acara gosip. "Ya media terlalu banyak minta wawancara tim,"
sambung Riedl saat itu.

Entah kebetulan atau tidak, kekalahan 0-3 yang diderita timnas datang
setelah Firman Utina dkk melakukan aktivitas-aktivitas yang tak ada
hubungannya dengan sepakbola. Datang ke rumah Aburizal Bakrie sehari setelah
kemenangan di semifinal kedua atas Filipina, dan menghadiri doa bersama
hanya kurang dari 16 jam sebelum penerbangan ke Malaysia.

Seperti diungkapkan pengamat dan komentator sepakbola M. Kusnaeni dalam
perbincangannya dengan *detiksport* beberapa waktu lalu, kalau timnas tampil
tidak maksimal di final itu mungkin tak mutlak kesalahan Riedl. Karena dia
juga tak bisa menjalanlan programnya dengan cara terbaik terkait acara-acara
non teknis yang dilakukan timnas.

"Kalau (timnas) tak bisa tampil maksimal mau disalahkan siapa? Alfred bisa
bilang kalau programnya tidak berjalan proporsional. Riedl nanti
disalahkan," ungkap pria yang akrab disapa Bung Kus itu.

* ( din / din )

**Warm Regards,


Zigo AlCapone
*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke