Minggu, 02/01/2011 11:49 WIB

 Tahun Baru dan Reformasi PSSI
 *Dharma Setyawan* - detiksport


Timnas Indonesia (detiksport/Resha Pratama)

  *Jakarta* - Tahun Baru kembali lagi harapan dan cita-sita masa lalu masih
dapat diraih di tahun selanjutnya. Momentum ini sepatutnya menjadi refleksi
kerja untuk masa depan yang lebih baik. Sepakbola Indonesia kembali mendapat
perhatian publik. PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) adalah
organisasi yang dituntut pertanggungjawaban dalam membina dan memajukan
prestasi sepakbola Indonesia.

Kekalahan timnas Indonesia di final Piala AFF 2010 melawan Malaysia bukanlah
sejarah akhir perjuangan sepakbola Indonesia. Timnas dengan para pemain yang
penuh dengan semangat baru, baik pemain naturalisasi ataupun pemain asli
Indonesia harus kita apresiasi sejak 19 tahun lamanya sepakbola Indonesia
bermain tanpa prestasi. Skuad Garuda harus terus didukung dengan terus
meningkatkan dukungan materil maupun moril.

PSSI  yang sejak lama dipimpin oleh para kaum tua harus segera dilakukan
pembenahan. Kepemimpinan "status quo" sudah saatnya berganti dengan
profesionalisme kerja. Beberapa kejadian opportunisme partai politik muncul
menjadi penghambat tumbuhnya timnas Indonesia untuk maju atas nama bangsa
Indonesia. Hal-hal yang terjadi seperti Nurdin Halid sebagai ketua PSSI yang
memasang baliho gambar diri di Bukit Jalil merupakan hal yang tidak
substansial dalam memberi dukungan ke timnas.

Nurdin yang lekat dengan partai Golkar dan mengajak para pemain timnas sowan
ke kediaman Aburizal Bakrie adalah tindakan yang tidak lazim sebagai ketua
federasi sepakbola. Opportunisme parpol semakin kuat ketika para pemain
dieksploitasi dengan beberapa jamuan kunjungan ke tokoh politik negeri ini.
Seharusnya PSSI sama-sama sadar bahwa masyarakat tidak akan menilai prestasi
sepakbola di kaitkan dengan hubungan kepentingan Parpol.

Narsisme para tokoh politik negeri ini sangat terlihat ketika PSSI membuka
peluang keuntungan tiket Final. SBY yang memiliki otoritas sebagai seorang
pemimpin bahkan tidak dapat berbuat banyak dan hanya mampu mengimbau PSSI
untuk tidak menaikkan tiket final. Aburizal Bakrie pun ikut andil mengambil
momentum untuk meminta diturunkannya harga tiket akibat kerakusan PSSI yang
untung miliaran.

Di beberapa surat kabar juga terjadi beberapa hal yang tidak substansif
terkait dengan banyaknya politisasi citra atau "cari muka" di momentum
sepakbola. Tokoh-tokoh Parpol lain yang juga *"mejeng"* di Bukti Jalil
antara lain Hatta Radjasa (PAN), Ical, dan bahkan Presiden SBY dengan
spanduk berwarna biru.

Nasionalisme sepertinya hanya dimiliki oleh para pemain dan suporter di
negeri ini. Prestasi Parpol sebagai pemain di "Liga Demokrasi" selama ini
tidak mencerminkan prestasi yang baik. Prestasi "tim Parpol" seharusnya
tidak mencampuri timnas yang berkembang baik dan berusaha memajukan bangsa
ini. Pengakuan Nurdin bahwa bukan SBY yang menyuruh saya menurunkan harga
tiket tetapi Ical adalah penghianatan seorang profesional yang tunduk oleh
otoritas politisi.

PSSI sebagai organisasi sepakbola nasional seharusnya lebih baik dalam
menjalankan fungsi dan peran kongkret dalam memberikan prestasi di kompetisi
domestik. Sedangkan "Liga Demokrasi" yang tidak mendapat apresiasi yang
layak dan kehilangan citra di masyarakat seharusnya sadar dan membenahi diri
masing-masing dengan prestasi kemenangan dengan gol* welfare state.* PSSI
harus tegas dalam menjalankan fungsinya dalam memajukan sepakbola bangsa
ini.

PSSI harus membersihkan diri dari para pengurus yang terlibat aktif dengan
para elit politik yang mencoba menghegemoni citra dan prestasi sepakbola
nasional. Kasus seperti Nurdin adalah contoh ketidakprofesionalan seorang
pemimpin di organisasi yang seharusnya berjuang atas nama bangsa bukan
pemimpin parpol. Bangsa ini butuh politisi dan negarawan yang berjuang bukan
atas nama golongan. Perlu bagi kita semua untuk andil ide dalam membenahi
PSSI agar mampu mengfungsikan diri sebagai organisasi yang layak memajukan
sepakbola Indonesia.

Pertama, PSSI harus dibersihkan dari para pengurus yang selalu tunduk dan
terhegemoni oleh kepentingan parpol. Pengurus PSSI adalah mereka yang mau
berjuang sepenuhnya bukan atas nama tokoh tertentu dan bermain citra di
depan layar media. Masyarakat indonesia adalah masyarakat yang lambat laun
semakin cerdas menilai mana kepentingan atas nama kelompok atau bangsa.
Pembersihan pengurus yang penuh dengan karakter opportunis ini diharapkan
mampu menjaga pengaruh buruk dari parpol yang haus citra positif di depan
rakyat Indonesia dan membersihkan PSSI dari *conflic of interest* (konflik
kepentingan) berbagai pihak.

Kedua, pemerintah bersama program PSSI harus mampu memaksimalkan anggaran
yang dimiliki secara efektif dan efisien. Selama ini PSSI seharusnya
berterimakasih dengan kemandirian sepakbola daerah yang menolong peran PSSI
dalam menjaring bakat pemain daerah. Industri mulai sangat diperhitungkan
menjadi kemandirian ekonomi bagi sepakbola negeri ini. Mulai dari kebutuhan
organisasi suporter, para anggota mania tim di daerah sampai produksi
atribut timtelah menjadi industri yang sangat menguntungkan.

Selain itu dana, dari perusahaan yang siap mensponsori tim adalah modal
ekonomi yang akan akan menjadi salah satu faktor mamajukan sepakbola kita.
Kita juga menyadari para kapitalis asing memanfaatkan para buruh di
Indonesia untuk dipekerjakan membuat produk mulai dari seragam, sepatu
sampai atribut  internasional di produksi di Indonesia. Dari produk* Nike*dan
*Adidas *yang dijual mahal di internasioanal, dalam kenyataannya buruh
Indonesia menjadi sumber daya manusia penyumbang keuntungan terbesar
perusahaan tersebut. Upaya pemerintah menata ulang kebijakan para investor
negeri ini dan mereformasi PSSI dengan pengurus yang profesional adalah
kunci untuk memajukan sepakbola indonesia.

Di Tahun Baru ini sepakbola negeri ini mulai menampakkan kebangkitannya
secara alami dan nyata. Sudah selayaknya para pemimpin negeri ini menyambut
dan memberi apresiasi yang lebih terhadap prestasinya. Semangat Garuda akan
menjadi spirit baru bagi kebanggan indonesia di kancah nasioanal. Semangat
tahun baru menjadi semangat untuk mereformasi PSSI dan manajemen dan sistem
sepakbola indonesia. Garuda di Dadaku, karena kita yakin suatu hari nanti
pasti menang. Selamat Tahun baru 2011 tetap semangat bergerak tuntaskan
perubahan!




==
* Penulis adalah pemerhati sepakbola, tinggal di Lampung, pebisnis dan juga
Ketua LSM *Komunitas Hijau Lampung.*

* ( a2s / a2s )

**Warm Regards,


Zigo AlCapone
*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke