Jumat, 08/10/2010 07:01 WIB
 Kolom Sepakbola
 500 Juta dan PSSI yang Zalim
 *Zen Rachmat Sugito* - detiksport

detiksport

  *Jakarta* - Kemarin, saat kedatangan tim nasional Uruguay jadi pemberitaan
di mana-mana, saya membaca pernyataan manajer Persibo Bojonegoro, Taufiq
Risnendar. Dari sebuah situs sepakbola, saya membaca pernyataan Risnendar:
"Hadiah yang menjadi hak kami belum diterima."

Persibo, kita tahu, berhasil menjadi juara Divisi Utama musim kompetisi
2009/2010. Di partai final, Persibo mengalahkan Deltras Sidoarjo dalam laga
yang digelar di Stadion Manahan Solo. Partai itu berlangsung pada 29 Mei
2010 silam. Ini sudah Oktober dan Persibo sudah tampil dua kali dalam
kompetisi Super League 2010/2011.

Kemarin, saat saya membaca pernyataan Taufikq Risnendar tentang PSSI yang
ingkar, media massa sedang asyik-asyiknya memberitakan batalnya kedatangan
Diego Forlan ke Jakarta. Tim nasional Uruguay memang punya prestasi hebat,
tapi Forlan punya nilai khusus sehingga kedatangan Forlan ke Jakarta
kabarnya masuk hitung-hitungan tersendiri. Ada match-fee khusus yang harus
dibayarkan PSSI jika Forlan ingin hadir di Jakarta.

Anda tahu berapa hadiah juara yang menjadi hak Persibo? "Hanya" 500 juta.

Saya terpaksa menggunakan kata "hanya" karena saya memang hendak
membandingkan dengan match-fee yang harus dikeluarkan PSSI untuk bisa
mendatangkan tim nasional Uruguay. 500 juta memang "hanya", karena --seturut
pernyataan Imam Arif selaku Ketua Badan Tim Nasional (BTN)-- angka yang
harus dikeluarkan PSSI untuk mendatangkan tim nasional Uruguay mencapai 4
miliar.

Kemarin, masih di hari yang sama saat saya membaca pernyataan Taufiq
Risnendar tentang PSSI yang ingkar, PSSI dan BTN diberitakan akan meninjau
ulang match-fee yang akan dibayarkan kepada tim nasional Uruguay gara-gara
Diego Forlan urung datang ke Jakarta. Perlu diketahui, dari 4 miliar
match-fee itu, 20 ribu US dolar di antaranya sebagai match-fee untuk Diego
Forlan.

Saya belum membaca berita terbaru apakah sudah dilakukan re-negosiasi
mengenai match-fee yang harus dibayar PSSI dan BTN gara-gara batalnya Diego
Forlan datang ke Jakarta. Saya tidak tahu harus berapa kali PSSI dan BTN
bernegosiasi lagi mengenai match-fee. Yang saya tahu, Persibo tak pernah
bernegosiasi mengenai jadwal turunnya hadiah juara yang menjadi hak mereka.
Yang saya tahu, lagi-lagi dari pernyataan Taufiq Risnendar, Persibo sudah
mengirim surat sampai lima kali ke PSSI untuk menanyakan soal uang hadiah
juara Divisi Utama 2009/2010.

Kemarin, saat saya membaca pernyataan Taufikq Risnendar tentang PSSI yang
ingkar, saya juga membaca berita tentang gagal tampilnya tiga pemain
keturunan yang sedianya akan diturunkan dalam laga melawan tim nasional
Uruguay. Tobias Waisapy, Johnny van Beukering dan Raphael Guillermo Eduardo
Maitimo adalah beberapa calon pemain yang hendak dinaturalisasi oleh PSSI.

FIFA memperingatkan PSSI bahwa jika tiga pemain yang belum menjadi WNI itu
diturunkan, maka pertandingan dengan Uruguay tidak akan mendapatkan poin.
Apa pun hasil pertandingan itu, tidak akan menambah poin tim nasional
Indonesia dalam ranking FIFA. PSSI ternyata memilih tidak memakai tenaga
tiga pemain keturunan itu.

Saya tidak tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mendatangkan tiga
pemain keturunan itu. Anda yang paham sila menghitung kalkukasinya, dari
mulai tiket sampai akomodasi. Jika dikalkulasi dengan 20 ribu US dolar
Amerika yang sedianya digelontorkan PSSI untuk mendatangkan Diego Forlan
seorang, mungkin angkanya bisa mencapai setengah dari hadiah yang menjadi
hak Persibo Bojonegoro.

Menyedihkan sekali, bukan? Tidak, kali ini bukan soal uang yang saya
persoalkan, tapi kegagapan PSSI dan BTN dalam memahami peraturan FIFA
mengenai laga internasional. Dengan biaya besar yang dikeluarkan untuk
mendatangkan tim nasional Uruguay, kok ya masih muncul berita-berita tak
enak hanya karena kegagapan PSSI dan BTN dalam memahami peraturan FIFA.

Ruwet, karut marut, tak pernah belajar, mungkin memang tak mau belajar.

Butuh kolom tersendiri untuk menelaah seberapa efektif ujicoba berharga 4
miliar ini bagi persiapan tim nasional Indonesia menghadapi Piala AFF
Desember mendatang. Saya tak hendak membicarakan mengenai pokok persoalan
satu itu. Saya hanya ingin menyoroti betapa laga berharga milyaran itu
digelar di atas hutang 500 juta. Tidak perlu membawa kasus yang jauh jauh
(hadiah juara bagi Arema yang sempat ditunggak berbulan-bulan juga, atau
kasus ngemplangnya PSSI dari kewajiban membayar biaya akomodasi dan hotel
beberapa tahun lalu), cukup dengan hutang 500 juta kepada Persibo kita bisa
melihat ironi dari laga ujicoba miliaran rupiah ini.

Apes betul nasib Persibo. Sudahlah menggunakan miliaran dana APBD untuk
mengarungi kompetisi Divisi Utama 2009/2010, hadiahnya "hanya" 500 juta,
ealah... hadiah yang "cuma" segitu pun masih juga dikemplang. Saya harus
mengatakan bahwa PSSI benar-benar zalim dalam kasus ini. Ya, zalim.

Anda masih percaya bahwa sebuah rezim penuh kezaliman akan menghasilkan
manfaat dan prestasi? Saya sih tidak.

Oya, di artikel ini saya berkali-kali mengaku "tidak tahu". Ya, saya memang
tidak tahu, apalagi dalam urusan duit dan perputarannya di kantung PSSI.
Seperti yang dikatakan Dedi Miing saat PSSI minta duit 1,5 triliun kepada
DPR pada 4 Oktober lalu, "PSSI tidak pernah transparan soal keuangaan, dan
laporan keuangannya pun tidak boleh diketahui oleh publik. Jika mereka punya
masalah, selalu berlindung di balik statuta."

Nah, kali ini kata zalim tidak tepat dikatakan pada PSSI. Itu bukan
tanda-tanda rezim yang zalim, tapi itu ciri-ciri rezim yang korup!

**Penulis adalah pencinta sepakbola, editor di IndonesiaBoekoe. Tulisan
adalah opini penulis dan tidak mencerminkan pendapat redaksi detiksport.*


* ( arp / a2s ) *
*Warm Regards,


Zigo AlCapone
*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke