Thank's to Pak Budhi
Uswatun Hasanah Nabi Muhammad Saw adalah Teladan yang Baik (Uswatun Hasanah), 33. Al Ahzab 21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Teladan yg baik itu terbukti dari Riwayat di bawah ini: Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?". Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja". "Apakah Itu?", tanya Abubakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana", kata Aisyah RA. Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu ?". Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa." "Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", bantah si pengemis buta itu. "Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW". Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... " Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim. Nah, bagi saudara-saudara kita yang sibuk mengaku sebagai golongan terbaik, sebaiknya lebih sibuk berbuat yang terbaik. Lembut dan sopan kepada orang lain bahkan musuh sekali pun: Nabi Muhammad Saw selalu lembut dan elegan kepada siapa pun, tidak pernah memandang jijik atau najis kepada orang lain. Pernah sekali Beliau khilaf, bermuka masam kepada seseorang, ALLAH langsung menegurnya dengan turunnya Surat ‘Abasa. Nabi Muhammad Saw walau pun seorang Nabi tidak pernah memaksa seseorang untuk masuk agama Islam, tidak pula mengancamnya, tidak pula mengaku yang paling baik. Beliau cuma sibuk memberi teladan yang baik, sehingga orang ikhlas masuk Islam. Nah, begitu juga bagi Saudara-Saudara kita yang sibuk mengaku golongannya yang terbaik, lebih baik sibuk berbuat yang terbaik sehingga tidak perlu sibuk membujuk-bujuk orang lain atau anggota keluarganya agar ikut golongannya, apalagi pakai cara mengancam. Sibuki diri saja berbuat yang terbaik, otomatis orang akan ikhlas mengikutinya. Tunjukan pula bahwa seluruh sudutnya baik tidak ada yang ditutupi, tidak ada tipu daya, tidak pula menjadi pendukung rezim atau partai yang jelas-jelas korup. Korupsi adalah tindakan kejahatan yang setara dengan teroris, teroris membunuh orang yang tak berdosa secara cepat, koruptor membunuh orang yang tidak berdosa secara pelan-pelan. Pemimpin yang Sederhana: Nabi Muhammad Saw adalah Pemimpin yang Sederhana, bahkan bisa dibilang miskin karena seluruh hartanya diikhlaskan untuk Agama Islam. Beliau mengharamkan diri Beliau dan Keluarganya untuk menerima Zakat. Pemimpin yang Sistem Keuangannya Transparan dan Tidak Ada Tipu Daya: Al Baqarah 282: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah [179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu [179]. Bermuamalah ialah seperti berjualbeli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya. Pemimpin yang mengajarkan untuk berbuat baik kepada Orangtua: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[850]. 17. Al Israa' 23. Orangtua itu dulu yang mengandung kita, membesarkan kita, menyekolahkan kita sehingga bisa seperti ini. Apakah karena beda agama.golongan/sekte kita harus memutuskan hubungan dengan Orangtua? Al Qur’an jelas melarang itu. Tidak memaksa orang lain untuk mengikutinya: "Apakah kamu (mau) masuk Islam." Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (3. Ali 'Imran 20) <> -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group.
