Senin, 21/02/2011 13:58 WIB
Bunuh Diri di Jakarta (2)
Waspadai Curhat 'Buat Apa Aku Hidup'!
*Deden Gunawan,Iin Yumiyanti* - detikNews
* *
*Jakarta* - Rencana Surya Pranata Sidauruk untuk merayakan Valentine tidak
kesampaian. Tiga hari menjelang Hari Kasih Sayang itu, anggota polisi itu
bunuh diri dengan menembakkan pistol di pelipisnya. Pria berusia 25 tahun
itu tidak sanggup lagi hidup setelah asmaranya dengan sang kekasih, Dewi,
kandas.
Aksi yang dilakukan Surya menambah daftar catatan kasus bunuh diri yang
terjadi di Indonesia, khususnya di Jakarta pada 2011. Bukan tidak mungkin
pada tahun ini aksi bunuh diri bakal meningkat dari sebelumnya. Dari catatan
Divisi Humas Polda Metro Jaya dari tahun ke tahun kasus bunuh diri di
wilayah Polda Metro Jaya terus meningkat. Misalnya, pada tahun 2009 kejadian
bunuh diri mencapai 165 kasus. Sementara 2010, angka bunuh diri meningkat
jadi 176 kasus.
Bila melihat data-data yang ada, hampir 2 hari sekali terjadi kasus bunuh
diri. "Modus bunuh diri yang dilakukan dengan berbagai cara," kata Kabid
Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharrudin saat dikonfirmasi.
"Mengapa orang ingin melakukan bunuh diri ? Dalam kalimat yang pendek saya
rangkum dalam kalimat karena tantangan dan tuntutan kehidupan yang semakin
kompleks, sementara kepedulian (kepada sesama dan lingkungan) yang semakin
rendah," kata psikolog Tiwin Herman.
Menurut Tiwin, bunuh diri pada dasarnya bisa dibagi dalam 2 katagori.
Pertama committed suicide yakni ada tekad untuk bunuh diri yang dilandasi
karena adanya suatu keyakinan tertentu. Misalnya didasari keyakinan agama
seperti melakukan bom bunuh diri, atau bunuh diri berjamaah oleh anggota
sekte. Dilandasi patriotisme seperti meledakkan diri diantara musuh.
Didasari potres atau perlawanan sosial seperti membakar diri dan didasari
keyakinan budaya seperti melakukan Harakiri (kehormatan).
Kategori bunuh diri kedua adalah Cry For Help' yakni tekad membunuh diri
karena disebabkan merasa sendiri (dan putus asa) dalam menghadapi
permasalahan kehidupan sehingga tidak bisa lagi melihat sisi sisi positif
dari suatu kehidupan. Contohnya bunuh diri karena perselingkuhan, bunuh diri
karena putus cinta seperti dalam kasus yang dialami Surya. Lalu karena putus
asa dengan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh, karena dikucilkan, karena
kemiskinan ataupun karena depresi yang merupakan mayoritas penyebab bunuh
diri.
Pelaku bunuh diri bisa siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tidak ada
profil yang khas baik dari sisi usia, pendidikan, warna kulit, jenis kelamin
maupun strata sosial. Tetapi ada yang khas dari pelaku pada umumnya, yaitu
adalnya perubahan pada perilakunya (yang disebabkan karena depresi).
Adapun indikasinya adalah terjadi perubahan perilaku yakni menarik diri dan
sering membicarakan masalah kematian. Misalnya dengan bilang "kalau begini
aku mati saja". "Aku mau bunuh diri". "Buat apa aku hidup”. “Aku nggak mau
hidup lebih lama lagi" dan sebagainya.
Indikasi lainnya yakni adanya perubahan emosi yakni bercerita tentang
perasaannya yang sepi, tidak bisa menolong diri sendiri, ataupun merasa
tidak berharga. Kemudian juga kehilangan hasrat dengan hal-hal yang biasa
dilakukannya. Lalu mengalami depresi (kesedihan mendalam, hilangnya
keinginan melakukan sesuatu, gangguan tidur dan makan) yang semakin buruk.
"Ada perubahan yang tiba-tiba, tidak terduga, dari perasaan sangat sedih
menjadi tenang atau tiba-tiba sangat gembira. Tanda atau gejala inilah yang
semestinya kita perhatikan agar orang tidak jadi bunuh diri," jelas Tiwin
yang menggagas situs Jangan bunuhdiri.net tersebut.
Sementara psikolog Sarlito Wirawan berpendapat orang melakukan bunuh diri
karena dia kehilangan makna hidupnya. Orang kehilangan makna hidup bisa
karena sakit jiwa atau karena masalah yang tidak bisa diatasinya. Masalah
itu bisa karena rasa bersalah, misalnya tidak bisa membayar utang,
anak-isterinya terlantar, rasa malu atau memalukan nama keluarga, kehilangan
harga diri dan lain lainnya, atau karena suatu idealisme yang tidak
tercapai, seperti gagal cinta, atau karena idealisme itu bisa diperolah di
alam baka sana. Ini seperti dalam kasus bom bunuh diri di mana mengharapkan
imbalannya di surga.
*Orang Kaya*
Belakangan modus bunuh diri dengan melompat dari ketinggian, seperti gedung
bertingkat, cenderung meningkat. Untuk modus seperti ini, diakuinya, cukup
menyita perhatian Polda Metro Jaya. Berdasarkan data Humas Polda Metro
Jaya, pada periode 2010, kasus bunuh diri dengan cara terjun dari
ketinggian, menjadi urutan tertinggi kedua setelah gantung diri, dengan
jumlah 7 kasus. Sementara angka gantung diri tercatat 83 kasus, Minum racun
3 kasus, potong nadi 5 kasus, bakar diri 1 kasus, tembak diri 1 kasus, cebur
diri 2 kasus. Selebihnya dengan cara-cara lain.
Meningkatnya kasus bunuh diri dari gedung tinggi menurut psikolog dari
Universitas Indonesia, Liza Malrielly Djaprie sebagai sebuah petanda kalau
bunuh diri bukan hanya dilakukan orang miskin. Sebab gedung-gedung tinggi
itu lokasi yang sering dikunjungi kalangan menengah ke atas, seperti mal
atau aparteman.
"Kalau orang miskin atau kurang mampu yang ingin bunuh diri dengan cara
melompat dari ketinggian umumnya memilih menara PLN atau BTS. Karena mereka
tidak terbiasa masuk ke hotel, apartemen atau ke mal-mal," begitu kata Liza
kepada detikcom.
Ditambahkan Liza, adanya peningkatan jumlah orang kaya yang bunuh diri di
Indonesia menunjukan depresi atau stres tidak hanya dimiliki oleh
orang-orang miskin. Sebab tingkat stres justru banyak terjadi di lingkungan
masyarakat yang tingkat ekonominya tinggi.
Fenomena bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang kaya itu bisa dilihat
dari maraknya upaya bunuh diri yang dilakukan di mal, apartemen, maupun
hotel. Lokasi-lokasi tersebut, terang Liza, merupakan tempat yang biasa
dikunjungi orang-orang kaya. Jadi ada keterkaitan antara lokasi bunuh diri
dan latar belakang orang yang bunuh diri.
Sementara Sosiolog lulusan Universitas Kebangsaan, Malaysia, Musni Umar
mengatakan, pola hidup masyarakat kota, khususnya Jakarta, yang semakin
individualis menjadi salah satu faktor mengapa banyak kalangan menengah ke
atas yang bunuh diri.
Menurut Musni, mereka yang bunuh diri kebanyakan orang yang menyendiri
sehingga tidak berintegrasi dengan lingkunannya. Ketika orang tersebut
menghadapi masalah, tidak ada teman, kerabat, atau tetangga tempat berkeluh
kesah.
"Dalam kondisi ini, orang yang tidak berintegrasi dengan lingkungannya
tersebut merasa dirinya tidak ada harapan lagi. Sehingga memilih bunuh
diri," terang Musni kepada detikcom. Adapun faktor yang mendesak seseorang
bunuh diri, lanjutnya, yang paling banyak biasanya disebabkan faktor
ekonomi. Apalagi saat ini biaya hidup semakin tinggi sementara penghasilan
tidak berubah.
Di tengah kegalauan itu, mereka sangat membutuhkan orang lain. Paling tidak
mereka merasa punya sedikit harapan dan tidak merasa seolah dunia ini telah
berakhir baginya. Untuk itu dibutuhkan peran serta masyarakat, tokoh agama,
maupun pemerintah.
"Pemerintah dan tokoh agama fungsinya sangat penting untuk menumbuhkan
harapan. Sehingga masyarakat yang mengalami masalah bisa terhindar dari
keinginan untuk bunuh diri,"pungkasnya.
*Warm Regards,
Zigo AlCapone
*
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.