Senin, 21/02/2011 12:36 WIB
Bunuh Diri di Jakarta(1)
Hidup Terlalu Berarti Untuk Diakhiri
*Iin Yumiyanti* - detikNews
* *
*Jakarta* - Hidup ini memang tidak mudah. Bagi banyak orang bahkan hidup
dianggap sangat kejam. Begitu banyak tantangan dan tuntutan kehidupan yang
semakin hari semakin kompleks saja. Sementara kepedulian terhadap sesama
semakin rendah. Masing-masing orang sibuk dengan urusan dan dirinya sendiri.
Maka tidak heran bila depresi menjangkiti siapa saja.
Mereka yang tidak kuat menahan gempuran depresi, bunuh diri pun menjadi
pilihan instan. Seolah dengan bunuh diri semua persoalan yang dihadapi
terselesaikan. Sama dengan depresi yang bisa menyerang siapa saja, demikian
pula dengan bunuh diri. Bunuh diri bisa dilakukan oleh siapa saja dan di
mana saja.
Ada anak usia Sekolah Dasar (SD) yang gantung diri karena tidak bisa
sekolah. Ada ibu dan anak bunuh diri bersama karena tidak tahan lagi
menghadapi kemiskinan. Ada anggota Brimob minum Baygon berdua pacarnya di
penginapan. Ada remaja bunuh diri karena putus cinta. Ada PRT gantung diri
karena hamil. Di luar negeri, ada juga jenderal bunuh diri karena ketahuan
melakukan korupsi.
Bila dicermati, angka bunuh diri ini akhir-akhir ini semakin
mengkhawatirkan. Tiap hari selalu saja ada berita orang bunuh diri. Di
Indonesia, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health
Organization (WHO) yang dihimpun tahun 2005-2007 sedikitnya 50 ribu orang
Indonesia melakukan bunuh diri. Itu baru data 2005-2007, bisa dibayangkan,
pada 2011 sekarang pastinya mengalami peningkatan.
Untuk di Jakarta misalnya, data Polda Metro Jaya pada 2010 memperlihatkan
bila setiap dua hari sekali ada orang melakukan bunuh diri. Data tersebut
diperoleh dari data rata-rata jumlah orang bunuh diri di Jakarta. Di
Ibukota, angka bunuh diri naik dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 kejadian
bunuh diri mencapai 165 kasus. Pada 2010, angka bunuh diri meningkat menjadi
176 kasus. Artinya setiap bulan ada 12-14 kasus bunuh diri atau setiap dua
hari sekali ada orang yang bunuh diri di ibukota ini.
Bagi orang yang tinggal di Jakarta tentu akan sangat merasakan betapa
Jakarta sungguh tidak ramah. Jakarta kota yang kejam. Data Kemenkes tahun
2008, gangguan mental emosional di Jakarta lebih tinggi dari angka nasional.
Gangguan mental untuk Jakarta 14,1 persen sedangkan nasional 11,6 persen.
Padahal di kota inilah banyak orang mengejar impian. Banyak orang
meninggalkan kampung halaman dan memilih hidup di Jakarta demi mimpinya.
Maka tidak aneh bila orang bilang semua orang Jakarta hidup dalam
ketergesaan mengejar mimpinya.
Di rumah, di jalan, semua orang terburu-buru, tidak sabaran dan mudah marah.
Meski katanya orang Indonesia adalah orang yang ramah, itu rupanya tidak
berlaku bagi warga Jakarta. Makian, kemarahan dan sumpah serapah nyaris
menjadi menu harian bagi warga kota metropolitan ini. Di tengah hidup yang
keras itu, sama seperti nasi, mimpi pun tidak mudah dibeli di kota ini. Di
sisi lain, sejajar dengan menjulangnya gedung-gedung tinggi, individualisme
pun begitu tinggi.
Orang-orang lalu teralienasi, merasa kesepian, sendirian, tidak punya teman
untuk berbagi kesedihan, harapan atau sekadar untuk bercerita. Banyak orang
yang kemudian tidak tahu kepada siapa ia harus mengadu atau memberi tahu
bahwa ia butuh pertolongan. Lantas tiba-tiba saja muncul berita mahasiswi
nan cantik terjun dari apartemennya yang tinggi, seorang ABG menggantung
diri karena tidak bisa bayar sekolah. Kemudian tahu-tahu kasus yang sama
terjadi lagi, lagi dan lagi. Tahu-tahu jumlah angka bunuh diri makin tinggi.
Bagaimana caranya agar angka bunuh diri bisa ditekan? Salah satu kuncinya
yakni dengan kepedulian. Pemerintah yang peduli pada rakyatnya akan
menghilangkan kemiskinan, meningkatkan pendidikan dan menyediakan fasilitas
kota yang manusiawi. Dengan demikian tingkat depresi bisa berkurang. Namun
kita tentu tahu tidak bisa menyerahkan semua-semuanya pada pemerintah.
Individu, keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat lebih bisa diandalkan
untuk berperan mencegahnya. Keluarga, lingkungan dan sekolah yang baik
semestinya mampu menumbuhkan pemahaman bahwa hidup terlalu berarti untuk
diakhiri. Selain itu juga mampu menumbuhkan rasa saling peduli. Dengan
adanya kepedulian, seseorang akan merasa tidak sendirian menanggung beban.
Kepedulian akan membantu orang untuk sadar setiap masalah pasti ada jalan
keluar.
* (iy/diks)
**Warm Regards,
Zigo AlCapone
*
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.