Kota-kota Paling 'Berbahaya' di Asia
Mon Jun 20 3:58am
Share
* retweet
* Email
* Print
Oleh Andrew Willis
Inilah kota-kota terbaik di Asia yang akan mengakomodasi berbagai kenakalan
Anda.
Tujuh kota sibuk di Asia ini menawarkan berbagai macam godaan. Anda bisa
makan
dengan rakus di Taipei atau menjadi seorang pesolek di Manila. Kota-kota ini
bisa menjadi alasan tersendiri untuk berdosa.
1. Kerakusan: Taipei, Taiwan
Makanan murah bisa Anda temukan di manapun, siang maupun malam.
Ada 18 jalan di Taipei yang didedikasikan hanya untuk berjualan makanan. Di
tempat-tempat yang biasanya akan terdapat halte bus, di Taipei Anda akan
menemukan makanan panggang. Trotoar menjadi kios penganan. Bau tahu fermentasi
pun memenuhi udara.
Pasar malam di Taipei jadi terkenal karena pilihan camilannya. Biasanya,
makanan-makanan ini dikenal dengan sebutan xiaochi, yang arti harfiahnya
adalah
“makanan kecil”. Harga makanan kecil ini antara $ 1-2.
Perut Anda sangat mudah membuncit di kota ini.
2. Kemalasan: Seoul, Korea Selatan
Jika tidak lembur, orang-orang Korea Selatan akan menghabiskan bandwidth.
Internet di Seoul sudah ditata, dikelola, dan dirapikan sedemikian rupa
sampai,
saking cepatnya, orang tidak perlu bergerak ke mana-mana. Penduduk Korea
Selatan bisa berjam-jam bermain World of Warcraft dengan nyaman.
Korea Selatan ada di peringkat 15 kota termalas di dunia (dan nomor satu di
Asia) oleh The Daily Beast. Dan ada alasan mereka bisa menjadi lebih malas
lagi.
Proposal terbaru dari pemerintah mengusulkan kemajuan teknologi digital.
Alasannya adalah permintaan dari game online dan video streaming di Seoul.
Pada
2012, kecepatan Internet di kota berpenduduk 39 juta orang ini bisa mencapai
1000 Mbps.
3. Kebanggaan: Manila, Philippines
Wanita-wanita Filipina terkenal akan kecantikannya. Tapi para prianya terlalu
sibuk mematut-matut diri mereka sendiri di depan cermin.
Menurut penelitian terbaru dari Synovate, pria Filipina adalah yang paling
narsisistik di Asia. Sekitar 48 persen dari pria-pria ini meyakini diri mereka
menarik secara seksual.
Dan sekitar 9 dari 10 pria yang mencabut alisnya mengaku, mereka ingin
terlihat
keren untuk dirinya sendiri, bukan untuk memikat wanita.
Jika dibandingkan, hanya 25 persen pria di Singapura yang yakin dirinya
atraktif. Angka itu hanya mencapai 17 persen di Cina dan Taiwan, sementara di
Hongkong hanya 12 persen pria yang berpikir mereka menarik.
4. Ketamakan: Shenzhen, Cina
Saat semua orang berusaha menghemat pengeluarkan, Shenzhen tak henti-hentinya
mengeluarkan miliaran dolar untuk membeli produk-produk teknologi tinggi.
Shenzhen adalah satu dari sekian banyak kota dengan pertumbuhan tercepat di
dunia. Pemasukan domestik bruto provinsi ini mencapai $ 42 miliar — itu
artinya
lebih dari PDB negara seperti Guatemala, Lebanon, dan empat kali lebih besar
dari Islandia.
Tinggal tunggu waktu sampai ada 1 miliar jutawan di Cina. Filosofi Shenzhen
berkata, jika kamu tidak bisa menghasilkan satu juta, maka hasilkanlah satu
miliar.
5. Gairah: Tokyo, Jepang
Industri seks Jepang diperkirakan mencapai ¥ 2.5 triliun ($ 30 miliar), nomor
dua di bawah industri otomotifnya.
Menurut penulis “Pink Box”, Joan Sinclair, “Jepang bisa menawarkan apa pun yang
bisa Anda bayangkan.”
Dari porno yang menjijikkan sampai pelayan kafe, Tokyo seperti seorang pria
tua berpikiran jorok di tubuh seorang remaja. Dan dia memuaskan
keinginan-keinginan kotornya dengan semangat seorang eksibisionis.
Tokyo adalah kota yang bisa memenuhi fetis Anda, atau tempat Anda bisa
dimandikan oleh seorang remaja muda berseragam.
6. Iri: New Delhi, India
Pada 2010, orang India adalah emigran kedua terbesar dunia setelah Meksiko.
Data ini berdasarkan Migration and Remittances Factbook 2011 dari Bank Dunia.
Ada sekitar 11,4 juta orang India yang bermigrasi untuk mencari penghidupan
lebih baik. India dan ibu kotanya, New Delhi, mengalami sindrom “rumput
tetangga lebih hijau” yang terparah.
7. Dendam: Pyongyang, Korea Utara
Keras kepala, suka membuka konfrontasi, antidamai... ibu kota Korea Utara
seperti remaja labil Asia. Tetapi, tidak seperti remaja yang suka
mengekspresikan rasa ketidakamanan mereka dengan menindik bagian tubuh atau
mewarnai rambut, Korea Utara lebih suka menenggelamkan kapal atau menembaki
pulau-pulau dengan peluru.
Olahraga nasional Korea Utara adalah Taekwondo. Jika terjadi kekurangan
pangan,
maka militerlah yang lebih dulu dilayani. Film-film propaganda terus-menerus
berbicara tentang kekuatan tak terlihat tentara Korea Utara. Poster-poster di
Pyongyang juga berpesan, “Kedamaian ada di ujung bayonet.”
Dengan penduduk sekitar 24 juta orang, Korea Utara memiliki 1 juta tentara.
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.