haluuu...
ada yg pnya obat buat cwwe yg lg patah hati gaa ?? supaya bangkit
lagiii,,,gak sediihh mulu..Dankeh
*Best Regards,*
*FITRI ROSALINE*
*Purchasing Material*
*PT. Ching Luh Indonesia*
*Jl. Raya Serang Km.16 Ds.Talagasari, Cikupa-Tangerang*
*Telp. 021-59407888 Ext.8340*
*Skype. piet_fitri*
*Personal Email : [email protected]*
*Cell Phone. 0818 065 18436*
On 11/21/2011 09:47 AM, aga madjid wrote:
Insyaallah, Endonesah menang ...
*From: * Arsianti Dewi <[email protected]>
*Sender: * [email protected]
*Date: *Mon, 21 Nov 2011 10:24:41 +0800 (SGT)
*To: *[email protected]<[email protected]>
*ReplyTo: * [email protected]
*Subject: *~ aga ~ Bung, Ayo, Bung!
Senin, 21/11/2011 08:13 WIB
Bung, Ayo, Bung!
Surat untuk Kurnia Meiga, Egi, Tibo, dkk.
*Zen Rachmat Sugito* - detiksport
<http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.detiksport.com%2Fsepakbola%2Fread%2F2011%2F11%2F21%2F081334%2F1771601%2F425%2Fsurat-untuk-kurnia-meiga-egi-tibo-dkk&src=sp>
*
Jakarta* - Kepada semua punggawa timnas U-23, ingatlah: sejarah hanya
mengabadikan nama para juara. Maka, bertarunglah, menanglah, dan
jadikan namamu abadi!
Yeah, sejarah memang kerap tak adil bagi mereka yang kalah, mereka
yang mungkin sudah bertarung sekuatnya dan melawan dengan
sebaik-baiknya. Tapi, apa boleh bikin, begitulah tabiat sejarah: ia
hanya mencatat para pemenang, hanya mau mengabadikan para juara.
Kadang ada yang berkata kemenangan bukan segalanya. Ada juga yang
bilang yang terpenting bermain dengan indah dan bertanding dengan
penuh kegembiraan.
Perkataan seperti itu tak sepenuhnya salah. Tapi, Kawan, mungkin kau
juga sudah sangat tahu: Indonesia sudah terlalu sering kalah dan
akhirnya terbiasa menjadi pecundang. Sedihnya lagi, kekalahan yang
datang seringkali bukan jenis "kekalahan yang indah", tapi kekalahan
yang sebenar-benarnya kekalahan: kalah secara hasil, kalah secara
permainan, dan tragisnya kadang diselimuti bau gajah yang tak sedap .
Dua puluh tahun sudah Indonesia berada dalam situasi seperti itu, 20
tahun sudah Indonesia tak merasakan pengalaman menjadi juara. Indonesia
hanya pernah mengendus bau juaranya saja, tapi tak pernah benar-benar
bisa merengkuhnya. Setelah 1991, beberapa kali Indonesia "nyaris" jadi
juara, tapi tak lebih dari "nyaris", hanya "nyaris". Tidak di SEA
Games, tidak di Piala AFF/Tiger. Semua serba "nyaris".
Karena terbiasa dengan "nyaris", itu pula yang selalu diulang-ulang
dan diceritakan: nyaris mengalahkan Uni Soviet di Olimpiade 1956,
nyaris lolos Olimpiade 1976, nyaris juara Piala AFF, dan nyaris-nyaris
yang lain. Karena terbiasa dengan "nyaris" itu jugalah kita dilenakan
oleh julukan-julukan yang simbolik saja: (pernah jadi) Macan Asia,
negara gila bola, dll., dkk.
Karena itulah surat ini ingin berterus terang mengatakannya: Indonesia
tak bisa terjerembab lebih lama dan terperosok lebih dalam lagi.
Indonesia butuh sebuah pencapaian baru, sebuah tonggak, suatu
milestone, yang dibangun oleh tangan dan kaki dari generasi terbaru.
Karena kita tak bisa lagi terus menerus mengelap-elap peninggalan lama
saat para jiran kita sudah melaju dan memancangkan target-target baru
yang lebih jauh.
Apa boleh bikin! Beban itu kali ini memang ada di pundakmu. Ya, beban.
Aku harus berterus terang mengatakannya karena tak ingin
mengenteng-entengkan hanya sekadar untuk membesarkan hati. Lagi pula,
aku juga tak ingin berpura-pura, kami tak ingin berpura-pura:
Indonesia ingin gelar juara.
Hanya dengan itulah aku (mungkin juga Indonesia) akan mengingat nama
kalian, mengenang sampai lama, sampai jauh di kemudian hari!
Sejarah itu, Kawan, hari ini sudah di depan ujung hidungmu. Hanya
tinggal sejengkal lagi jaraknya dari jangkauan kedua tanganmu. Apakah
kau sudah bisa mulai mencium baunya? Apakah kau sudah mulai dapat
mengendus aromanya?
Kesempatan yang sudah amat dekat ini, peluang untuk diingat dan
dikenang ini, mungkin tak akan datang sebanyak dua kali. Generasi
berikutnya mungkin akan mendapat kesempatan serupa, tapi tak ada yang
bisa menjamin kau akan mendapatkan kesempatan seperti ini sekali lagi.
Siapa tahu ini akan jadi kesempatanmu satu-satunya.
Kawan, tentu kau tidak akan sudi menukar momen bersejarah ini dengan
apa pun juga, bukan?
Jadi, bertandinglah seakan-akan laga final SEA Games 2011 adalah
pertandingan terakhirmu. Menderita dan sekaratlah hanya untuk hari ini
saja agar
selanjutnya kau bisa menjalani sisa hidupmu sebagai seorang juara!
Bung, ayo, Bung!
===========
*Penulis adalah penyuka sejarah, penikmat sepakbola. Beredar di dunia
maya dengan akun Twitter /@zenrs/
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.