Tulisan ini menurut gw kurang berimbang, ada beberapa hal yg kurang tepat;
"Konsep ini coba diterapkan pada musim ini, dengan kursi kepemimpinan PSSI
yang sudah berada ditangan mereka, konsorsium mencoba menerapkan konsep
tersebut dikompetisi musim ini, tapi terbentur dengan keberadaan klub-klub
besar yang sudah berpuluh tahun berdiri.
Kenapa? Karena klub2 itu sudah bisa mendapatkan sponsor sendiri, tanpa
perlu bantuan konsorsium."
*Comments: Sedikit sekali jumlah klub yg berhasil mendapatkan sponsor
sendiri, pada jaman orde nurdin dengan ISL nya kebanyakan klub justru
sangat bergantung pada APBD yg jelas2x merugikan rakyat. Andaipun ada klub
yg berhasil mendapatkan sponsor sendiri tapi sangat riskan dan rentan untuk
kesinambungan kerjasamanya.
Akibatnya tidak ada prestasi klub yg stabil, contoh nya persik dan arema yg
di musim sebelumnya menjadi kampiun namun di musim berikutnya prestasi
melorot karena ditinggal sponsor.

Tapi yg paling penting sebenarnya, sampai kapan kita mau terus dibodohi dan
dikangkangi oleh dinasti "B" yg notabene adalah dalang dibalik ini semua.
Ga cukup ya dia menyengsarakan masyarakat sidoarjo dengan lapindo nya?
Ga cukup ya bagaimana dia mengobok obok2x sri mulyani hingga angkat kaki
dari kabinet?
Kenapa kita begitu cepat lupa dengan dosa2x rejim NH,NB dan tentu saja NDB
atas PSSI.
Sebegitu bodoh nya kah kita?

Gw kira PSSI harus tetap jalan dan tegas, mau cuma 13 klub yg ikut IPL,
kompetisi harus tetap jalan.
Setuju dengan pendapat Djohar Arifin, "tidak akan ada sanksi thd pemain,
karena pemain sama sekali tidak bersalah, klub lah yg harus di berikan
sanksi"
Langkah tegas PSSI harus dilakukan,
1. bekukan aja semua kegiatan ISL karena memang tidak diakui oleh BOPPI,
PSSI, AFC dan FIFA.  Jangan kasi ijin mereka melakukan pertandingan.
2. Segera laporkan ke KPK tentang laporan keuangan PSSI dijaman dinasti NH,
biar mereka ga berani macam2x lagi.
3. Jangan takut menskors klub yg balelo, meski dia klub besar sekalipun.
Namanya revolusi memang harus memakan korban.





*


2011/11/28 Aga Madjid <[email protected]>

>
> **
>
>
> Perbedaan konsep IPL dan ISL
>
> Konsep IPL yaitu Liga Indonesia berada dalam satu perusahaan (konsorsium),
> jadi semua klub dibiayai konsorsium, dengan konsekuensi hasil tiket, hak
> siar dan lain-lain masuk ke PSSI (konsorsium, red).
> Ini yang mendasari kenapa saham 70% ke Djohar, 30% ke Faried.
>
> Hal ini sudah berjalan pada kompetisi LPI musim lalu, namun bisa dikatakan
> musim lalu adalah proyek rugi, kenapa?
> Dengan jumlah uang miliaran rupiah yang telah dibagikan konsorsium ke 20
> klub LPI musim lalu, kontrak marquee player, gaji untuk wasit asing,
> ternyata animo penonton untuk LPI sangat kurang. Karena sebagian besar
> adalah klub2 baru tanpa basis supporter yang kuat, sepi penonton, akhirnya
> tak laku dijual ke sponsor.
>
> Konsep ini coba diterapkan pada musim ini, dengan kursi kepemimpinan PSSI
> yang sudah berada ditangan mereka, konsorsium mencoba menerapkan konsep
> tersebut dikompetisi musim ini, tapi terbentur dengan keberadaan klub-klub
> besar yang sudah berpuluh tahun berdiri.
> Kenapa? Karena klub2 itu sudah bisa mendapatkan sponsor sendiri, tanpa
> perlu bantuan konsorsium.
> Akhirnya segala cara coba ditempuh PSSI,
> 1. Menggemukan kompetisi menjadi 36 dan setelah banyak mendapat protes
> menjadi 24, kenapa kok gak 18 tim aja, sesuai statuta? Ya karena dari 18
> tim ISL musim lalu, sebagian besar bukan "tim nya konsorsium", artinya
> nggak balik modal. Akhirnya ditambahlah 6 tim siluman itu, yang notabene
> "timnya konsorsium", pesan sponsor, red.
> 2. Memergerkan tim-tim LPI dengan ISL, contoh Jakarta FC dengan Persija,
> ini bisa dikatakan take over secara halus, karena kita tahu potensi besar
> Persija dengan the Jak Mania nya. Beberapa klub berhasil melawan, hasilnya
> apa? Timbullah dualisme, Persebaya 1927-Persebaya Wisnu, Arema M.Nuh Arema
> Rendra, Persija (Jakarta FC) Persija Paulus, dan hampir saja timbul Persib
> 1933. Klub2 diatas adalah klub2 besar dengan basis supporter yang kuat,
> bisa dibayangkan keuntungan yang didapat oleh konsorsium?
>
> Tidak ada yang salah dengan konsep konsorsium tersebut, dengan syarat
> seluruh tim adalah timnya konsorsium, seluruh biaya dari konsorsium, dengan
> timbal balik, hasil tiket tidak sepenuhnya untuk klub, sebagian ke
> konsorsium, pembagian hak siar, sponsor dan keuntungan ke konsorsium. Tapi
> hal ini tidak akan bisa berjalan jika di liga tersebut hanya sebagian kecil
> yang mau jadi timnya konsorsium.
>
> Sedangkan konsep ISL, klub cari uang sendiri, cari sponsor sendiri, tapi
> keuntungan kompetisi ya balik ke klub (99% klub, 1%PSSI) karena pada konsep
> ini klub lah yang berdarah2 membiayai diri mereka sendiri. Konsep ini yang
> dianut sebagian besar kompetisi2 eropa.
>
> Tidak ada yang salah dengan 2 konsep itu, yang menjadi masalah adalah
> ketika klub-klub dengan 2 konsep tersebut digabung menjadi satu kompetisi.
> Klub konsorsium tentu tidak masalah ketika hak siar, uang tiket, sponsor
> masuk ke konsorsium, karena toh mereka tidak mengeluarkan uang sepeserpun
> untuk biaya kontrak dan operasional klub. tapi klub-klub yang membiayai
> diri sendiri tentu keberatan, karena mereka membiayai diri mereka sendiri.
> Mau rapat 7hari 7malam pun tidak akan ketemu titik temu.
>
> Seandainya pun IPL dengan 24 tim berjalan, ada kemungkinan konsorsium akan
> berusaha membela dan mempertahankan eksistensi klub-klubnya di IPL, dan
> mendegradasikan klub-klub nonkonsorsium. Suatu bahaya laten.
>
> Menurut pendapat saya pribadi, konsep ini tidak dikemukakan oleh PSSI
> sejak awal, sehingga timbul saling curiga. Seharusnya mereka dari awal
> menawarkan ide mereka ke 18 tim yang berhak tampil di ISL.
>
> Kalau mereka setuju maka jalan…
> Jika tidak, ya jangan dipaksakan, karena mereka duduk di kursi itu karena
> dipilih oleh klub-klub anggota PSSI.
> Yang terjadi sekarang PSSI seperti memaksakan kehendaknya, menghalalkan
> segala cara, tanpa menghiraukan aspirasi klub-klub anggota, akhirnya segala
> keputusan main tabrak sana tabrak sini.
> Timbul yang namanya PSMS ke IPL karena pesan sponsor, Bontang FC ke IPL
> karena kasihan dikerjain wasit, dan alasan2 lainnya yang terlalu dibuat2.
>
> Dan saya lebih setuju jika tim2 profesional mencari sponsor sendiri,
> seperti di Liga2 Eropa. Daripada pendanaan terpusat ala konsorsium.
>
> Jika AP ingin memajukan sepak bola nasional, iya bisa membeli klub-klub
> yang sudah ada, atau mendirikan klub baru dan berjuang dari bawah.
> Tidak seperti kasus Persija, Arema dan tim2 lainnya. Dengan Kekuasan PSSI,
> mereka seperti mengambil alih tim2 tersebut secara paksa. Menunjuk satu
> orang, dan mengatakan bahwa ini Arema yang sah, ini Persija yang sah. Tapi
> satu hal yang perlu diingat, tim-tim tersebut besar bukan karena namanya,
> tapi karena suporternya.
>
> Walaupun anda sudah merasa kuasai Arema, sudah kuasai Persija, tanpa
> Aremania dan The Jak Mania, tetap saja tim itu seperti Jakarta FC, Bintang
> Medan , dan tim2 LPI lainnya. Tanpa penonton dan anda rugi.
>
> __._,_.___
>
> *".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL!!! 
> ...."
> *
> **
> *- Aga Madjid -*
>
>  --
> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
> to post emails, just send to :
> [email protected]
> to join this group, send blank email to :
> [email protected]
> to quit from this group, just send email to :
> [email protected]
> please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
> add my Yahoo Messenger at [email protected] or
> add my twitter @aga_madjid
> thanks for joinning this group.
>

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke