Mewaspadai Bahaya Berhutang! 

     
     

      
     

      
     

      
     
Senin, 19 Desember 2011 

Di zaman kredit yang relatif murah dan mudah sekarang ini, siapa yang tidak 
punya hutang? Beli motor, hutang. Beli rumah, hutang. Beli komputer, hutang. 
Sebagian ibu rumah tangga juga gemar memenuhi rumahnya dengan perabotan yang 
dibeli secara berhutang, mulai dari kulkas, televisi, VCD player, dipan, 
almari, sampai panci dan alat penggorengan. Bahkan, ada juga yang naik haji 
dengan – difasilitasi oleh – hutang!

Lalu, apakah berhutang itu tercela dan dilarang? Bukan begitu. Hutang 
samasekali tidak dilarang. Bahkan, ayat terpanjang dalam Al-Qur’an justru 
membicarakan masalah hutang. Silakan periksa surah al-Baqarah: 282.

Secara terinci sekali Allah membimbing kita bagaimana caranya mengelola 
transaksi hutang-piutang ini, nyaris sama dengan cara Allah mengajari kita 
bagaimana membagi harta warisan. Berbagai kemungkinan diantisipasi di dalamnya, 
mulai dari pencatatan, persaksian, saksi cadangan, jaminan, wali, dan lain 
sebagainya. Sepertinya, di dunia ini tidak ada Kitab Suci yang membicarakan 
hutang-piutang dan transaksi keuangan, serta mendudukkannya pada posisi yang 
tidak kalah pentingnya dengan masalah-masalah spiritual, selain Al-Qur’an. Akan 
tetapi, yang hendak kita waspadai adalah penyakit-penyakit yang kerapkali 
muncul akibat berhutang itu. 

Karena pentingnya urusan hutang ini dengan aherat, maka Rasulullah saw 
bersabda, “Jika engkau terbunuh di jalan Allah dalam kondisi bersabar mengharap 
ridha Allah dan maju tak gentar tidak mundur, maka Allah akan menebus 
kesalahan-kesalahanmu KECUALI HUTANG. Begitulah yang dikatakan Jibril kepadaku 
barusan.” [HR Abu Dawud].

Jadi, urusan hutang ini adalah urusan akherat. Sebab gara-gara hutang belum 
terselesaikan, semua amalan-amalan kita bisa lenyap.

Masalahnya, banyak kaum Muslim saat ini terjerat dengan sistem ribawi. Di mana 
mereka dibuat bangga menjadi penghutang. Salah satu contohnya adalah pengguna 
kartu kredit. Bagaimana orang dibuat bangga menjadi “penghutang” dan boros. 
Kasus terakhir adalah pembunuhan terhadap Nasabah Citibank yang tewas setelah 
dihajar debt collector akibat tunggakan hutang.

Betapa jauh serta mendalamnya pandangan Nabi terhadap persoalan ini. Jelas 
sudah, bukan berhutangnya yang dilarang. Tetapi, beliau meminta kita 
berhati-hati terhadap hutang karena ia potensial memicu dua kesalahan besar, 
yaitu: berbohong dan ingkar janji.

Mari kita amati. Ketika seseorang terhimpit hutang dan tidak sanggup 
melunasinya, sangat mungkin ia berbohong dan ingkar janji. Betapa beratnya 
untuk secara jujur dan gentle mengakui tidak mampu serta meminta keringanan. 
Adakalanya karena malu, gengsi, sungkan, atau niat-niat yang tidak baik.

Misalnya, ketika tagihan datang, bisa saja ia justru berdusta dengan mengatakan 
bahwa sebenarnya punya uang sekian-sekian tapi masih dibawa si fulan, atau 
punya aset begini-begitu dan sekarang dalam proses penjualan. Padahal, 
sebenarnya tidak ada samasekali. Atau, ia berjanji pada tanggal sekian akan 
segera membayar, namun kemudian mengingkarinya.

Maka, Rasulullah pun mengajari kita untuk memohon perlindungan kepada Allah 
dari berhutang ini, sebab beliau khawatir kita akan berbohong dan mengingkari 
janji. Mengapa keduanya sangat berbahaya?

Sebuah hadits lain akan menjelaskan letak masalahnya. Nabi bersabda, “Ada empat 
sifat, siapa saja yang keempatnya ada dalam dirinya, maka dia adalah seorang 
munafik sejati. Tetapi, siapa saja yang dalam dirinya terdapat salah satu 
darinya, maka di dalam dirinya terdapat salah satu sifat munafik sampai ia 
meninggalkannya. Yaitu: jika dipercaya ia khianat, jika berbicara ia bohong, 
jika berjanji ia ingkar, dan jika berdebat/bersengketa dia akan curang/zhalim.” 
(Riwayat Bukhari dan Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash).

Jadi, adakalanya berhutang akan menjerumuskan kita ke dalam kemunafikan tanpa 
sadar. Jika saja seseorang banyak berhutang, lalu dalam transaksi-transaksi ini 
dia sering berbohong atau mengingkari janjinya, bisa dipastikan ia tengah 
mendidik dirinya sendiri untuk menjadi munafik. Pelan-pelan, ia akan terjerat 
jaring-jaring kemunafikan, hingga suatu saat sudah tak bisa lepas lagi. Seluruh 
bagian dirinya dipenuhi kebohongan, kepalsuan, tidak bisa dipercaya, pendeknya: 
tipuan. Dan, inilah hakikat munafik itu sendiri: menampakkan iman tetapi 
menyimpan kekufuran. Na’udzu billah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an;

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم 
بِمُؤْمِنِينَ
يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم 
وَمَا يَشْعُرُونَ
فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا 
كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari 
Akhir,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka 
hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu 
dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. Di dalam hati mereka ada 
penyakit, lalu Allah semakin memperparah penyakitnya; dan bagi mereka siksa 
yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Qs. al-Baqarah: 8-10).

Dengan kata lain, ketika beliau mengajari kita untuk “berlindung dari himpitan 
hutang”, beliau sebenarnya sangat khawatir jika kita terjangkiti penyakit 
nifaq. Beliau tidak melarang berhutang, karena hutang-piutang adalah bagian 
dari interaksi normal dalam kehidupan, dan di dalamnya pun terkandung sikap 
tolong-menolong yang dianjurkan Islam.

Hanya saja, jika kita harus berhutang, beliau meminta kita untuk sangat 
berhati-hati, yakni jangan sampai terjatuh dalam kebiasaan berbohong dan ingkar 
janji; yang merupakan bagian dari kemunafikan. Sebab, ancaman Allah sangatlah 
berat kepada sifat yang satu ini. 

Allah berfirman;

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ 
لَهُمْ نَصِيراً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling 
bawah dari neraka. Kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun 
bagi mereka.” (Qs. an-Nisa’: 145).

Maka, mohonlah pertolongan Allah, dan berhati-hatilah! Semoga kita tidak 
terjangkiti penyakit gemar berbohong dan ingkar janji gara-gara hutang. 

Diceritakan oleh ummul mu’minin ‘Aisyah, bahwa Rasulullah pernah berdoa dalam 
shalatnya, agar terlindung dari himpitan hutang.

“Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Aku berlindung 
kepada-Mu dari fitnah al-Masih Dajjal. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah 
kehidupan dan kematian. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari pemicu dosa dan 
himpitan hutang.” Lalu, ada seseorang yang berkata kepada beliau, “Betapa 
seringnya Anda memohon perlindungan dari hutang, wahai Rasulullah.” Beliau 
menanggapi, “Sungguh seseorang itu, bila terhimpit hutang, ia berbicara lalu 
bohong, dan berjanji lalu ingkar.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Mudah-mudahan kita terhindang dari himpitan hutang, berbohong serta inkar 
janji/ Amiiin. 


Wallahu a’lam


CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this
communication. If you have received this communication in error, please notify
us immediately by return email and delete the original message.



-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

<<clip_image003.gif>>

Kirim email ke