Mengingat Mati, Cara Efektif Tundukkan Nafsu
Senin, 19 Desember 2011
SUATU hari sahabat Umar bin Khattab duduk bersama Rasulullah SAW. Kemudian
datanglah seorang sahabat Anshar. Seraya memberi salam ia berkata: “Wahai
Rasulullah, mukmin yang seperti apa yang paling utama?”. Beliau menjawab:”Yang
paling baik akhlaknya”.
Sahabat itu bertanya lagi: “Mukmin seperti apakah yang paling cerdas?” Beliau
menjawab: “Muslim yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat
kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu,
mereka itulah orang-orang yang cerdas”(diriwayatkan oleh Imam al-Qurtubi dalam
al-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umuri al-Akhirah).
Nabi SAW menyebut orang yang ingat kematian dan mempersiapkannya itu sebagai
orang cerdas, sebab orang seperti itu mengetahui hakikat hidup, dan mengindar
dari tipuan-tipuan kehidupan.
Imam al-Qurtubi menyebutnya sebagai standar kecerdasan seorang manusia. Yakni
tidak pernah melupakan sesuatu yang pasti dan persiapannya itu untuk hal-hal
yang sesungguhnya dipastikan akan terjadi.
Syekh Abdul Wahhab al-Sya’rani dalam bukunya Tanbih al-Mughtarin menyebut bahwa
mengingat-ingat mati pada setiap langkah perbuatannya adalah salah satu
karakter para salafuna sholih. Ketika setiap perbuatannya disertai mengingat
mati, mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan tujuan ridla Allah.
Ternyata, cara tersebut mereka gunakan untuk menghindari perbuatan-perbuatan
yang tidak dirasakannya sebagai maksiat. Diceritakan bahwa, ketika Sufyan
al-Tsauri sedang bertadabbur mengingat-ingat mati, maka tidak seorang pun bisa
membujuk dia. Jika ditanya tentang perkara dunia, ia menjawab: “Saya tidak
tahu”.
Begitulah sikap Sufyan al-Tsauri ketika dirasa hatinya kurang mendekat kepada
Allah SWT. Ia langsung bermuhasabah mengingat akhirat dan membayangkan pedinya
sakaratul maut. Bahkan diantara mereka memiliki cara unik. Ia membuat ruangan
khusus di rumahnya. Ruang khusus itu dibuat liang lahat seperti kuburan. Mereka
masuk ruang tersebut sekedar untuk mengingat-ingat bahwa ia suatu saat akan
mengalami dahsyatnya mati.
Rasulullah SAW bersabda: "Perbanyaklah olehmu mengingat-ingat kepada sesuatu
yang melenyapkan segala macam kelazatan, yaitu kematian.” (HR. Turmudzi).
Imam al-Qurtubi mengatakan bahwa, hadis Nabi SAW tersebut merupakan nasihat
sekaligus peringatan. Bahwasannya mengingat mati itu perintah, sebab orang yang
teringat kematian dengan sebenarnya pasti akan mengurangi sifat-sifat tamaknya
terhadap dunia dan menghalanginya untuk berangan-angan yang tak berujung. Hadis
itu juga peringatan bahwa, betap sakaratul maut itu sungguh ujian yang dahsyat.
Allah SWT berfirman betapa sulitnya sakaratul maut itu:
ُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلآئِكَةُ
بَاسِطُواْ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُواْ أَنفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ
الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ
آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُو
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang dzalim
berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan
tangannya, (sambil berkata), 'Keluar-kanlah nyawamu". (QS. Al-An'am: 93).
Begitulah bagaiman maut itu menjemput orang dzalim. Seperti kulit terkelupas
secara pelan-pelan dari ujung kaki hingga kepala.
Syekh Abdul Wahhab al-Sya’rani mengatakan, saat kata-kata kematian dan sakatul
maut itu disebut, para salafuna sholih bergetar hatinya, bulu kuduknya berdiri
membayangkan bagaiman hal itu akan terjadi pada dirinya suatu saat nanti.
Tetesen air mata langsung jatuh dari dua matanya, memohon kepada Allah agar
mengakhirkannya dengan khusnul khotimah dan dimudahkan dalam sakaratul maut.
Memperbanyak mengingat mati berarti memperbanyak amal kebaikan. Orang yang
tidak beramal baik atau dia berbuat buruk berarti tidak ingat dirinya akan
mati. Imam ad-Daqqaq berkata, "Barangsiapa memperbanyak mengingat mati, dia
dikaruniai tiga perkara: Menyegerakan taubat, hati yang qana'ah, dan semangat
beribadah." (Imam al-Qurtubi, al-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umuri
al-Akhirah).
Jika kita kesulitan mengamalkan ikhlas atau tidak mampu mengontrol hawa nafsu,
maka saat itu ingat-ingatlah bahwa kita kapan saja akan dijemput kematian yang
tidak diduga-duga. Jika perlu kita contoh para ulama dahulu yang memiliki cara
sendiri-sendiri, ada yang bertafakkur, muhasabah tentang kematian, ada yang
membaca kitab atau hadis tentang mati atau ada pula yang sekedar melihat kubur
(berziarah kubur).
Ingat-ingatlah akan firman Allah SWT:
أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ
مُّشَيَّدَةٍ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُواْ هَـذِهِ مِنْ عِندِ اللّهِ
وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُواْ هَـذِهِ مِنْ عِندِكَ قُلْ كُلًّ مِّنْ
عِندِ اللّهِ فَمَا لِهَـؤُلاء الْقَوْمِ لاَ يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثاً
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, ken-datipun kamu di
dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." (QS. An-Nisa`: 78).
Mengingat mati akan memusatkan fikiran ke negeri akhirat yang kekal. Jika
manusia berada dalam kesulitan dan cobaan hidup, maka mengingat kematian akan
memudahkan dia menghadapi cobaan tersebut.
Maka, saat kita mengingat kematian maka kita seperti terdorong untuk menjadikan
akhirat ukuran segala-galanya. Setiap tutur kata, dan gerak-gerika ditimbang
apa kah bermanfaat untuk menghadapi kematian kelak.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Ibn Umar: "Jikalau engkau berpetang-petang,
maka janganlah engkau menanti-nantikan waktu pagi dan jikalau engkau
berpagi-pagi, janganlah engkau menanti-nantikan waktu petang - yakni untuk
mengamalkan kebaikan itu hendaklah sesegera mungkin. Ambillah kesempatan
sewaktu engkau berkeadaan sihat untuk mengejar kekurangan di waktu engkau sakit
dan di waktu engkau masih hidup guna bekal kematianmu." (HR. Bukhari).
Maka, saat kita lalai, tak terasa bermaksiat kepada Allah SWT maka beberapa
cara yang perlu dilakukan untuk mengingat mati, diantaranya; berziarah kubur,
membaca kisah-kisah dan kitab tentang sakaratul maut serta merenungkannya, dan
melihat orang yang meninggal.
Oleh sebab itu, mengingat mati memang telah digunakan para ulama salaf untuk
menggugah semangat beribadah. Mengingat Allah SWT dan lebih mengikhlaskan amal
perbuatan. Dan sudah tentu cara ini akan mematikan hawa nafsu
CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this
communication. If you have received this communication in error, please notify
us immediately by return email and delete the original message.
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.
<<clip_image002.jpg>>
<<clip_image003.gif>>
