Pada tanggal 14/06/12, yanto.ic <[email protected]> menulis:
> repost = delete
>
>
> ===
>
>
>
> "Abi.Abi... aku masih ingat alif, ba, ta, tsa.."
>
> From : Admin HAS
>
> Kisah ini sungguh membuatku menangis...
> Membaca kisah ini membuatku ingat akan Kebesaran Allah, ingat akan
> anak-anakku, dan ingat bahwa Allah selalu akan menyelamatkan keturunan
> orang-orang shaleh.. Allahu Akbar !
>
> Kisah Hidup Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy
>
> Suatu petang, di Tahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ
> terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang
> terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.
>
> Setiap tahanan penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo
> penjara' itu melintasi di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu 'boot
> keras' milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu akan mendarat di wajah
> mereka. Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar
> seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.
>
> "Hai.hentikan suara jelekmu! Hentikan.!" Teriak Roberto sekeras-kerasnya
> sambil membelalakkan mata.
>
> Namun apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja
> bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu
> menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu
> orang.
>
> Dengan marah ia menyemburkan ludahnya ke wajah tua sang tahanan yang keriput
> hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyundut wajah dan
> seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Sungguh
> ajaib. Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan.
>
> Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat galak untuk meneriakkan kata
> Rabbi, wa ana 'abduka. Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak
> bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustaz.Insya Allah tempatmu di
> Syurga."
>
> Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustaz oleh sesama tahanan,
> 'algojo penjara' itu bertambah memuncak marahnya. Ia memerintahkan pegawai
> penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-kerasnya
> sehingga terjerembab di lantai.
>
> "Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa hinamu
> itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang
> tua dungu, bumi Sepanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapa kami,
> Tuhan Jesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan 'suara-suara'
> yang seharusnya tidak didengari lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan
> kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami."
>
> Mendengar "khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto
> dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ia lalu berucap, "Sungguh.aku sangat
> merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat
> kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan
> segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika
> aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh."
>
> Sejurus saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat di
> wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara
> dengan wajah berlumuran darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang
> telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto berusaha
> memungutnya. Namun tangan sang Ustaz telah terlebih dahulu mengambil dan
> menggenggamnya erat-erat.
>
> "Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto.
>
> "Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang
> suci ini!"ucap sang ustaz dengan tatapan menghina pada Roberto.
>
> Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan
> buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak
> jari-jari tangan sang ustaz yang telah lemah.
>
> Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak
> demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar
> gemeretak tulang yang terputus. Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih
> puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang
> telah hancur.
>
> Setelah tangan tua itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang
> membuatnya berang. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh.
> Mendadak algojo itu termenung.
>
> "Ah.seperti aku pernah mengenal buku ini. Tetapi kapan? Ya, aku pernah
> mengenal buku ini."
>
> Suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama
> itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat
> tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan
> seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Sepanyol.
>
> Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustaz yang sedang melepaskan
> nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya
> yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat
> peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.
>
> Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.
> Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa kanak-kanaknya terjadi
> kekacauan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Petang itu ia melihat
> peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian
> kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah
> dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di bumi Andalusia.
>
> Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung
> pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan
> tertiup angin petang yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan
> berkibar-kibar di udara. Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam
> dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki
> agama yang dibawa oleh para rahib.
>
> Seorang anak- anak laki-laki lucu dan tampan, berumur sekitar tujuh tahun,
> malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap.
> Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah lucu itu melimpahkan
> airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan.
> Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah bernyawa,
> sambil menggayuti abinya. Sang anak itu berkata dengan suara parau, "Ummi,
> ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam
> ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa..? Ummi, cepat pulang ke
> rumah ummi."
>
> Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab
> ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu apa yang harus dibuat .
> Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocah itu berteriak
> memanggil bapaknya, "Abi.Abi.Abi." Namun ia segera terhenti berteriak
> memanggil sang bapa ketika teringat petang kemarin bapanya diseret dari
> rumah oleh beberapa orang berseragam.
>
> "Hai.siapa kamu?!" jerit segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati bocah
> tersebut. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi." jawabnya memohon belas
> kasih. "Hah.siapa namamu bocah, coba ulangi!" bentak salah seorang dari
> mereka. "Saya Ahmad Izzah." dia kembali menjawab dengan agak kasar.
> Tiba-tiba "Plak! sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil. "Hai bocah.!
> Wajahmu tampan tapi namamu bodoh. Aku benci namamu. Sekarang kutukar namamu
> dengan nama yang lebih baik. Namamu sekarang 'Adolf Roberto'.Awas! Jangan
> kau sebut lagi namamu yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu,
> nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki itu."
>
> Bocah itu mengigil ketakutan, sembari tetap menitikkan air mata. Dia hanya
> menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya
> bocah tampan itu hidup bersama mereka.
>
> Roberto sadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah
> sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh
> sang ustaz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat perut laki-laki itu. Ketika ia
> menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeria, "Abi.Abi.Abi." Ia pun
> menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus
> bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang
> ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering
> dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul
> ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bagian pusat perut.
>
> Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh tua nan lemah. Tampak
> sekali ada penyesalan yang amat dalam atas tingkah-lakunya selama ini.
> Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun lupa akan Islam, saat itu dengan
> spontan menyebut, "Abi. aku masih ingat alif, ba, ta, tsa." Hanya sebatas
> kata itu yang masih terekam dalam benaknya.
>
> Sang ustaz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang
> membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang
> yang tadi menyiksanya habis-habisan kini sedang memeluknya. "Tunjuki aku
> pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu."
> Terdengar suara Roberto meminta belas.
>
> Sang ustaz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu memejamkan
> matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika setelah puluhan
> tahun, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini.
> Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.
>
> Sang Abi dengan susah payah masih boleh berucap. "Anakku, pergilah engkau ke
> Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan
> Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri
> itu,"
>
> Setelah selesai berpesan sang ustaz menghembuskan nafas terakhir dengan
> berbekal kalimah indah "Asyahadu anla Illaahailla llah, wa asyahadu anna
> Muhammad Rasullullah.'. Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan
> tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.
>
> Kini Ahmah Izzah telah menjadi seorang alim Ulama di Mesir. Seluruh hidupnya
> dibaktikan untuk agamanya, 'Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda
> sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru
> dengannya." Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.
>
> Benarlah firman Allah.
>
> "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas
> fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada
> perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan
> manusia tidak mengetahui." (QS. 30:30)
> --
>
>
>
> __________ NOD32 7173 (20120527) Information __________
>
> This message was checked by NOD32 antivirus system.
> http://www.eset.com
>
> --
> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
> to post emails, just send to :
> [email protected]
> to join this group, send blank email to :
> [email protected]
> to quit from this group, just send email to :
> [email protected]
> please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
> add my Yahoo Messenger at [email protected] or
> add my twitter @aga_madjid
> thanks for joinning this group.
>

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke