Subhanallah Bacanya bikin aku sedih Thanks yah,,
Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: fino db <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 14 Jun 2012 21:19:53 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: ~ aga ~ Fw: "Abi...Abi... aku masih ingat alif, ba, ta, tsa.." Pada tanggal 14/06/12, yanto.ic <[email protected]> menulis: > repost = delete > > > === > > > > "Abi.Abi... aku masih ingat alif, ba, ta, tsa.." > > From : Admin HAS > > Kisah ini sungguh membuatku menangis... > Membaca kisah ini membuatku ingat akan Kebesaran Allah, ingat akan > anak-anakku, dan ingat bahwa Allah selalu akan menyelamatkan keturunan > orang-orang shaleh.. Allahu Akbar ! > > Kisah Hidup Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy > > Suatu petang, di Tahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ > terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang > terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. > > Setiap tahanan penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo > penjara' itu melintasi di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu 'boot > keras' milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu akan mendarat di wajah > mereka. Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar > seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. > > "Hai.hentikan suara jelekmu! Hentikan.!" Teriak Roberto sekeras-kerasnya > sambil membelalakkan mata. > > Namun apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja > bersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu > menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu > orang. > > Dengan marah ia menyemburkan ludahnya ke wajah tua sang tahanan yang keriput > hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyundut wajah dan > seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Sungguh > ajaib. Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. > > Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat galak untuk meneriakkan kata > Rabbi, wa ana 'abduka. Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak > bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustaz.Insya Allah tempatmu di > Syurga." > > Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustaz oleh sesama tahanan, > 'algojo penjara' itu bertambah memuncak marahnya. Ia memerintahkan pegawai > penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-kerasnya > sehingga terjerembab di lantai. > > "Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa hinamu > itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang > tua dungu, bumi Sepanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapa kami, > Tuhan Jesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan 'suara-suara' > yang seharusnya tidak didengari lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan > kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami." > > Mendengar "khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto > dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ia lalu berucap, "Sungguh.aku sangat > merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat > kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan > segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika > aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh." > > Sejurus saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat di > wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara > dengan wajah berlumuran darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang > telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto berusaha > memungutnya. Namun tangan sang Ustaz telah terlebih dahulu mengambil dan > menggenggamnya erat-erat. > > "Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto. > > "Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang > suci ini!"ucap sang ustaz dengan tatapan menghina pada Roberto. > > Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan > buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak > jari-jari tangan sang ustaz yang telah lemah. > > Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak > demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar > gemeretak tulang yang terputus. Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih > puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang > telah hancur. > > Setelah tangan tua itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang > membuatnya berang. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. > Mendadak algojo itu termenung. > > "Ah.seperti aku pernah mengenal buku ini. Tetapi kapan? Ya, aku pernah > mengenal buku ini." > > Suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama > itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat > tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan > seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Sepanyol. > > Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustaz yang sedang melepaskan > nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya > yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat > peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak. > > Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. > Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa kanak-kanaknya terjadi > kekacauan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Petang itu ia melihat > peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian > kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah > dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di bumi Andalusia. > > Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung > pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan > tertiup angin petang yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan > berkibar-kibar di udara. Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam > dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki > agama yang dibawa oleh para rahib. > > Seorang anak- anak laki-laki lucu dan tampan, berumur sekitar tujuh tahun, > malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. > Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah lucu itu melimpahkan > airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. > Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah bernyawa, > sambil menggayuti abinya. Sang anak itu berkata dengan suara parau, "Ummi, > ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam > ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa..? Ummi, cepat pulang ke > rumah ummi." > > Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab > ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu apa yang harus dibuat . > Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocah itu berteriak > memanggil bapaknya, "Abi.Abi.Abi." Namun ia segera terhenti berteriak > memanggil sang bapa ketika teringat petang kemarin bapanya diseret dari > rumah oleh beberapa orang berseragam. > > "Hai.siapa kamu?!" jerit segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati bocah > tersebut. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi." jawabnya memohon belas > kasih. "Hah.siapa namamu bocah, coba ulangi!" bentak salah seorang dari > mereka. "Saya Ahmad Izzah." dia kembali menjawab dengan agak kasar. > Tiba-tiba "Plak! sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil. "Hai bocah.! > Wajahmu tampan tapi namamu bodoh. Aku benci namamu. Sekarang kutukar namamu > dengan nama yang lebih baik. Namamu sekarang 'Adolf Roberto'.Awas! Jangan > kau sebut lagi namamu yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, > nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki itu." > > Bocah itu mengigil ketakutan, sembari tetap menitikkan air mata. Dia hanya > menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya > bocah tampan itu hidup bersama mereka. > > Roberto sadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah > sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh > sang ustaz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat perut laki-laki itu. Ketika ia > menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeria, "Abi.Abi.Abi." Ia pun > menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus > bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang > ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering > dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul > ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bagian pusat perut. > > Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh tua nan lemah. Tampak > sekali ada penyesalan yang amat dalam atas tingkah-lakunya selama ini. > Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun lupa akan Islam, saat itu dengan > spontan menyebut, "Abi. aku masih ingat alif, ba, ta, tsa." Hanya sebatas > kata itu yang masih terekam dalam benaknya. > > Sang ustaz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang > membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang > yang tadi menyiksanya habis-habisan kini sedang memeluknya. "Tunjuki aku > pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu." > Terdengar suara Roberto meminta belas. > > Sang ustaz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu memejamkan > matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika setelah puluhan > tahun, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. > Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah. > > Sang Abi dengan susah payah masih boleh berucap. "Anakku, pergilah engkau ke > Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan > Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri > itu," > > Setelah selesai berpesan sang ustaz menghembuskan nafas terakhir dengan > berbekal kalimah indah "Asyahadu anla Illaahailla llah, wa asyahadu anna > Muhammad Rasullullah.'. Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan > tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini. > > Kini Ahmah Izzah telah menjadi seorang alim Ulama di Mesir. Seluruh hidupnya > dibaktikan untuk agamanya, 'Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda > sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru > dengannya." Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy. > > Benarlah firman Allah. > > "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas > fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada > perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan > manusia tidak mengetahui." (QS. 30:30) > -- > > > > __________ NOD32 7173 (20120527) Information __________ > > This message was checked by NOD32 antivirus system. > http://www.eset.com > > -- > you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. > to post emails, just send to : > [email protected] > to join this group, send blank email to : > [email protected] > to quit from this group, just send email to : > [email protected] > please visit to www.facebook.com/aga.madjid, > add my Yahoo Messenger at [email protected] or > add my twitter @aga_madjid > thanks for joinning this group. > -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group. -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group.
