[image: buku sd vulgar bogor_cv graphia buana.jpg]


TS miris banget tulisan dari seorang blogger, yang mana menuliskan bahwa
buku pelajaran bahasa Indonesia kelas 6 SD, mirip dengan buku stensilan.



*halaman tengah 57 - 60:*















































* ".....Beban yang berat membawanya untuk masuk lebih dalam ke bilik kamar
yang hanya ditutupi oleh kain.Bilik itu bagian belakang dari sebuah warung
remang-remang di pinggiran kota .Tempat dimana sekarang dia membanting
tulang demi hidupnya dan keluarganya di sebuah kampung.Di dalam bilik itu
sudah menunggu seorang laki-laki yang segera menyambutnya dengan sebuah
pertanyaan. "Dari mana asalmu ?" "Panyuren, " jawab perempuan ,yang baru
saja duduk di dalam kamar itu, singkat. Gerakan perempuan itu terlihat
masih kikuk .Benar seperti kata pemilik warung ini, dia ini pendatang baru
!.Jakunnya bergerak turun naik melihat kemolekan perempuan itu.Hanya saja
dia masih penasaran dengan nama kampung asal yang tadi disebut. "Panyuren
.Agaknya saya pernah ke sana .Kampung itu terletak dekat dengan hutan lebat
bukan?". “iya benar,” perempuan itu menjawab singkat dan terdengar ragu.
Jangan-jangan lelaki di hadapannya pernah mengenal dirinya. Hal itu semakin
menambah kekikukannya di depan lelaki itu. Sementara lelaki yang
dikuatirkan mengenalnya itu rupanya asyik meneguk sejenis minuman
beralkohol. Pada botol minuman itu, ada gambar seekor banteng yang tengah
menanduk. Dia ingat pada orangtuanya yang punya dua ekor sapi. Ayahnya
pernah bilang kalau nanti anak yang dilahirkannya sudah agak besar, akan
dikenalkan dengan ternak dan hutan seperti kakeknya. Ah, rahasia. Kenapa
harus begitu kelam? Bertahun-tahun, seorang mandor penebangan kayu
melihatnya sedang mandi di sebuah telaga. Akhirnya terjadilah peristiwa
yang merenggut kegadisannya sekaligus menimbulkan tumbuhnya janin di
perutnya. Dia tadinya tidak bisa terima. Begitu lahir, bayi itu
ditinggalkannya dengan kedua orangtuanya sementara dia lari ke kota. Kini
dia sadar bahwa dia harus berbuat sesuatu untuk menghidupi anak yang pernah
dikandungnya. Walau bagaimanapun dia adalah darah dagingnya. Dia ibu dari
anak itu. Dari tempat paling hina di dunia ini, warung remang-remang tempat
dia menjajakan badan, dia selalu diingatkan pada hal itu. Apapun. Apapun
harus ia lakukan demi kehidupannya dan anak itu. “Kamu cantik sekali.
Marilah dekat kesini.” Suara itu membuyarkan lamunannya. Pada awalnya dia
tampak ragu untuk meladeni rayuan lelaki itu. Akan tetapi sebentar tadi,
masa lalu yang kelam sudah menyeretnya pada sebuah kesadaran, dia ingin
melupakan kepahitan hidupnya. Melupakan deritanya pada sosok lelaki yang
menistakan dirinya, pada sosok jabang bayi yang meruak dari celah
selangkangannya, pada kesadaran bahwa dia adalah perempuan yang
sewaktu-waktu mudah dihempas oleh jerat nafsu. Kali ini, dia membulatkan
tekad untuk berkuasa sepenuhnya pada daya tubuhnya. Hanya itu yang dia
punya. Hanya itu, Maka… “Bergairahlah lelakiku. Aku ingin sekali
menyempurnakan keinginanmu.” Lelaki itu tersenyum lebar. Dia mengulurkan
segelas minuman pada perempuan itu yang segera disambut dan dituntaskan
dalam satu tegukan. Mereka tenggelam dalam pelukan dan ciuman. “Tunggu
dulu. Aku ingat lesung pipit ini. Bagaimana bisa kau datang kemari?” Dengan
terpaksa, perempuan itu melepaskan erat pelukan, berjalan ke arah saklar
untuk menyalakan lampu kamar. Dia ingin menegaskan wajah lelaki itu. Apakah
memang dia mengenalnya? “Tidak. Tidak. Aku tidak mengenalmu. Dan tidak juga
ingin mengenalmu setelah pertemuan ini.” Begitu hatinya bergemuruh. “Ya,
Aku pun begitu. Tapi kau kukenali sebagai gadis yang berjalan menunduk
ketika melewati kemah kami. Gadis yang cantiknya sering sekali Mandor Onih
ceritakan. Gadis yang setiap malam kutangisi setelah kejadian itu.” Lelaki
itu tiba-tiba mengisak. Tangannya menggapai seakan meminta perempuan itu
mendekat dan memeluk dirinya. Dan ketika perempuan itu terengkuh olehnya,
pada telinganya dia berbisik lirih. “Gadis yang aku cintai.” Ah, inikah
cinta? Dia pun gemetar dalam pelukan lelaki itu. Seperti lampu di kamar
yang berpijar, dia merasa terbakar sendirian. “Kau punya anak?” Lelaki itu
kembali bertanya. Mengangguk lemah, dia memejamkan mata. Dua butir air mata
segara meluncur di atas pipinya yang keputihan oleh pupur. “Anak Mandor
Onih?” Dia mengangguk lagi. Kali ini dia melepaskan pelukan lelaki itu.
Lelaki itu kaget. Apakah dia menolak cintanya? Dipandangnya lekat mata
sembab perempuan itu. Mata itu sudah berubah menyala. Ada sesuatu yang akan
terjadi. “Kita jadi tidak? Aku dan anakku perlu makan bukan rayuan!” Senja
itu, di sebuah lubang sarang, anak-anak serigala mengunyah rerumputan.
Induknya belum juga pulang. Anak gembala yang lengan dan kakinya terluka
karena gigitan serigala tertatih mengiring ternaknya ke kandang, dan
perempuan yang adalah ibunya, di dalam kamar mengisak perlahan. Entah isak
tangis senang hari ini dia mendapat uang dari langganan pertamanya, atau
tangis kerinduan pada kampung halaman. Atau… *
















-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL
!!! ...." *

*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out.

<<image004.jpg>>

<<image003.jpg>>

Kirim email ke