42: Hujan Air Versus Hujan Uang
 
Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Menurut pendapat Anda, apa kesamaan antara air dengan uang? Banyaklah ya. 
Salah satunya; sama-sama ‘basah’. Kalau air basah beneran, kalau uang 
‘basah’ sebatas istilah. Makanya, tempat atau posisi yang menjanjikan 
banyak uang disebut ‘posisi basah’. Musim kemarau disebut ‘musim kering’. 
Di tanggal tua, kita menyebut ‘dompet kering’. Nah, pada saat sedang 
‘kering’ itu kan kita mengharapkan turunnya hujan. Pertanyaannya adalah; 
mana yang paling Anda harapkan, hujan air atau hujan uang?
 
Sekarang kita memasuki musim hujan. Setiap hari hujan disertai dengan 
petir dan banjir. Sampai-sampai tidak jarang kita mendengar orang berkata 
‘Yaaah… hujan lagi deh’. Kayaknya kita kecewa deh kalau hujan turun. 
Padahal, sebulan yang lalu kita masih memohon agar segera turun hujan 
karena air sumur sudah mulai mengering. Begitu hujan lebat turun, kita 
menggerutu. Kalau soal uang, sikap kita nggak begitu. Nggak ada kan orang 
yang bilang ‘Yaaa….dapat uang lagi deh…” Kalau soal uang mah, berapa pun 
ya dikeruk aja.
 
Kita sih inginnya kalau hujan itu ya secukupnya saja. Jangan sampai banjir 
gitu loh. Tak jarang dalam hati kita berbisik;‘Ya Tuhan, tolong kurangi 
hujannya jangan terlalu lebat….’ Soal air ini, kita berani bilang agar 
Tuhan membatasi jumlahnya. Kalau soal uang, mana pernah kita bilang; 
“Tuhan tolong dong, jumlah uang saya dikurangi. Kebanyakan nih….”. Nggak 
banget deh.
 
Di musim hujan ini kita juga berharap agar turunnya tidak sampai membuat 
aktivitas harian kita terhambat iyya kan? Kalau bisa, hujan turunnya pas 
malam hari aja ketika kita sedang tidur. Pagi siang hingga sore, nggak 
turun hujan. Kan enak. Ehem… maunya sih gitu. Kalau soal uang, kapan pun 
datangnya kita siap aja toh? Malah kalau perlu, ketika sedang tidur pun 
uang terus berdatangan ke dompet kita. Nggak ada tuch ceritanya kita 
bilang; ‘tolong dong jangan kasih saya uang terus. Mau istirahat dulu 
nih…”
 
Apa sih yang Anda khawatirkan dari hujan yang lebat? Kita takut kebanjiran 
kan. Kita takut bumi ini tidak sanggup menampung curahnya sehingga air itu 
malah membawa bencana. Air yang terlalu banyak, terbukti bisa menimbulkan 
malapetaka. Terus, apa yang Anda takutkan jika uang yang Anda miliki itu 
terlalu banyak? Ehem… ngapain mesti takut kan? Justru makin banyak uang, 
kayaknya sih kita bakal makin senang. Tapi apa iyya dengan uang yang lebih 
banyak itu hidup kita akan menjadi lebih baik? 
 
Boleh jadi, kebanyakan uang malah menyebabkan kita berubah dari baik 
menjadi buruk. Bukankah banyak orang yang ketika masih belum kaya raya 
hidupnya bersahaja, santun, ramah dan baik hati. Tapi ketika sudah punya 
banyak uang sikap dan perilakunya berubah menjadi buruk. Seperti air yang 
terlalu banyak, uang yang terlalu banyak itu pun terbukti punya efek 
buruk.
 
Tapi, kan tidak semua orang yang punya uang banyak perilakunya jadi buruk. 
Cukup banyak orang yang justru semakin baik hati seiring dengan semakin 
banyaknya uang yang mereka miliki. Sama seperti hujan besar yang tidak 
selamanya menimbulkan banjir. Di tempat-tempat tertentu, sebanyak apapun 
guyuran hujan tetap saja menjadi anugerah. Maka bagi pribadi-pribadi 
tertentu, semakin banyak uang justru semakin baik dirinya.  Dengan hujan 
yang lebat, ada daerah yang banjir. Dan ada yang menjadi subur. Dengan 
uang yang banyak, ada orang yang berperilaku semakin buruk. Dan ada juga 
orang-orang yang semakin baik. Apa yang menimbulkan perbedaannya ya?
 
Mari perhatikan, apa yang terjadi di dataran yang suka banjir itu. 
Tanahnya tidak mampu menyerap air yang tertumpah dari langit. Setiap kali 
turun hujan, airnya mejeng saja dipermukaan. Makanya jadi banjir. 
Perhatikan bahwa manusia pun ada yang punya perilaku seperti itu. Kalau 
punya uang, langsung dipamerkan dipermukaan. Bukannya diserap lalu 
dimasukkan ke tempat penyimpanan yang tertutup rapi, ini malah dengan 
nyantainya diperlihatkan kepada publik. Makin banyak uangnya, makin rajin 
pamer. Makin banyak yang melihatnya. Makin bangga dirinya. Kepada tukang 
pamer seperti ini, tidak ada orang yang menaruh hormat kan? Kalau yang 
kepengen kecipratan uangnya … banyak.
 
Beda banget dengan tanah yang mau menyerap air itu. Berapapun air yang 
mengalir diatasnya, langsung diserapnya masuk kedalam. Sedangkan 
dipermukaan, dia cukup terlihat basah saja. Karena air yang diserapnya dia 
simpan didalam kompartemen bawah tanah. Air itulah yang kelak menjadi 
sumber kehidupan, bagi mahluk lainnya. Orang-orang yang bersahaja 
kira-kira berperilaku seperti ini. Meski punya banyak uang, mereka tidak 
memamerkannya lewat kekayaan dan gaya hidup bermewah-mewahan. Uangnya 
digunakan untuk memberi manfaat kepada lingkungannya. Seperti tanah yang 
menyerap air kehidupan itu.
 
Tanah yang menyerap air, berubah menjadi subur. Air didalamnya semakin 
banyak. Hingga diatasnya tumbuh berbagai tanaman. Keberadaan tanah itu 
menjadi hikmah bagi lingkungannya. Tanah yang memamerkan air itu, semakin 
terkikis. Air yang dimilikinya hanya melintas sesaat. Setelah banjir 
surut, semua hilang begitu saja. Boro-boro menumbuhkan pohon yang baru, 
yang sudah ada saja ikut tumbang. 
 
Manusia juga kira-kira samalah. Orang-orang yang suka pamer kemewahan. 
Duwitnya ludes begitu kemewahan tidak sanggup lagi dibelinya. Seperti 
banjir yang menyusut saja. Nggak ada sisanya sama sekali. Seperti tanah 
yang doyah pamer air permukaan itu. Banjir. Surut. Lalu kering dan 
gersang. Sedangkan tanah yang gembur itu mengumpamakan mereka yang tetap 
bersahaja. Meski musim hujan telah reda, airnya masih ada.  Karena ketika 
uang masih ada, mereka tidak berfoya-foya.
 
Diantara tanaman yang tumbuh ditanah subur itu ada yang berakar besar. 
Pohonnya menjulang tinggi ke langit. Dia mengambil air dari tanah. Lalu 
berbuah. Tapi pohon itu tidak menyebabkan air didalam tanah menjadi 
kering. Malah sebaliknya. Pohon yang rindang itu menarik awan. Ketika sang 
awan datang, dia membawa hujan. Ketika turun hujan, tanah itu menyerap 
airnya lagi. Hingga dia semakin subur. Dan kandungan air dalamnya semakin 
melimpah. Lalu biji-bijian dari buah yang terjatuh kembali tumbuh. Terus 
begitu, hingga semakin rindanglah tanah itu. Lama-lama menjadi hutan 
lebat.
 
Hutan itu adalah perumpamaan bagi orang-orang yang menggunakan uangnya 
untuk beramal soleh. Sedangkan untuk dirinya sendiri ya hidup secukupnya 
saja. Tidak pelit kepada diri sendiri, namun tidak berlebih-lebihan. 
Apakah dengan beramal soleh uangnya akan habis? Tidak. Malah sebaliknya. 
Semakin lancar rezekinya mengalir. Persis seperti siklus pertumbuhan 
tanaman ditanah gembur yang menyerap hujan itulah. Mengapa bisa begitu? 
Karena alam ini mengikuti hukum Tuhan. Sedangkan hukum Tuhan menyatakan 
bahwa setiap kebaikan manusia yang tulus dibalas hingga 700 kali lipatnya. 
Bahkan lebih banyak lagi.
 
Ini sesuai dengan firman Tuhan dalam surah 2 (Al-Baqarah) ayat 261; 
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya dijalan Allah itu 
seperti sebutir biji yang menumbuhkan 7 tangkai. Pada setiap tangkai, ada 
100 biji. Dan Allah melipatgandakannya lagi bagi siapa saja yang Dia 
kehendaki.” Jadi, apa lagi kesamaan antara hujan air dan hujan uang? Akan 
sama-sama menjadi hikmah jika kita menyikapi dan menggunakannya dengan 
cara yang sesuai dengan hukum Tuhan.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 10 Desember 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 

 



-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke