Tuhan memiliki tradisi dalam mencipta dan merawat setiap makhluknya 
di jagat raya ini. Tradisi itu akan berulang dan tetap terjaga serta 
tidak pernah berubah karakternya sedikitpun. Karena ia berulang 
dengan porsi karakter yang sama, maka tradisi Tuhan ini dapat 
dipahami sebagai sebuah hukum yang berlaku bagi alam semesta dan 
isinya. Menguapnya air jika dipanaskan dalam suhu 100 derajat 
celcius, hukum gravitasi, tsunami, gempa bumi, dan berbagai gejala 
alam yang terjadi, semua itu adalah bagian dari tradisi Tuhan. 
Tradisi Tuhan juga berlaku pada komunitas manusia. Adanya kematian 
dan kelahiran, adanya perbuatan baik dan jahat, tumbuh dan hilangnya 
sebuah kekuasaan, serta naik turunnya peradaban manusia adalah sebuah 
fenomena yang sesungguhnya dapat dipahami sebagai tradisi Tuhan yang 
terus terjadi secara simultan.

Penciptaan dan perkembangan dalam alam adalah sebangun dengan 
dinamika peradaban manusia. Ada pelajaran yang Tuhan ingin sampaikan 
kepada manusia; bahwa jika ingin membangun sebuah komunitas yang 
solid maka tirulah bagaimana alam semesta senantiasa mencapai titik 
keseimbangan.
Menurut bahasa Arab, tradisi tuhan ini dikenal dengan kata 
Sunnatullah yang berasal dari kata Sunnah dan Allah. Sunnatullah 
adalah hukum Allah yang berproses pada alam dan kehidupan manusia 
yang bersifat pasti dan berlangsung sepanjang masa tanpa perubahan 
atau penyimpangan.

Pada kehidupan manusia, Tuhan memiliki karakter untuk menghidupkan 
dan mematikan sebuah peradaban. Ada kalanya sebuah peradaban itu 
berjaya hingga mencapai titik keemasannya, dan ada pula saatnya 
peradaban itu terpuruk menuju kehancuran. Tradisi Tuhan ini sering 
dilalaikan oleh komunitas yang peradabannya dahulu pernah mencapai 
kejayaan. Adanya arogansi antara umat agama semit yaitu Yahudi, 
Nasrani dan Muslim, dikarenakan kurang memahami jalannya tradisi 
Tuhan. Padahal sesungguhnya ketiga kaum itu diikat oleh satu visi dan 
misi yang diemban oleh para pendahulunya; yakni memurnikan pengabdian 
hanya kepada Tuhan saja.

Agama-agama tadi jika ditelusuri berasal dari satu sumber yang 
populer yaitu Abraham atau Ibrahim sebagai founding father nya. Ia 
banyak disebut dan dipuji dalam kitab-kitab suci baik Taurat, Injil 
dan Alquran sebagai bapak/pemimpin dari banyak orang. Pada jaman 
Abraham, umat binaannya tidak bergolong-golongan, tetapi mengusung 
kesatuan visi dan misi untuk mengabdi kepada sang Pencipta. Ia sering 
disebut dengan Yahweh oleh kaum Yahudi, El oleh kaum Nasrani, dan 
Allah oleh kaum Muslim. Perbedaan penyebutan disebabkan karena 
perbedaan dialek diantara rumpun semit tadi. Tetapi umat yang dahulu 
dipimpin oleh Abraham hanya mengenal satu konsep pengabdian 
(monoteistik) dan tidak terpecah-pecah.

Abraham memiliki 2 anak yakni Ismael dan Ishak. Ismael sebagai anak 
pertama ditugasi Abraham untuk menyebarkan konsep monotheis terpisah 
dari saudaranya Ishak. Sedangkan Ishak sebagai anak kedua memiliki 
tugas untuk mendapatkan Tanah Perjanjian yang dahulu dijanjikan oleh 
Tuhan kepada Abraham, yaitu Kanaan atau Palestina. Tanah Perjanjian 
itu didapat melalui kepemimpinan Yoshua sebagai panglima tentara bani 
Israil rintisan Musa. Semenjak itu kepemimpinan dunia dipegang oleh 
Ishak melalui keturunannya bani Israil yang bertebaran dari mulai 
daerah Yericho, Hebron, Libanon, Araba-Yordania, Gaza, sebelah timur 
laut Arab (Laut Asin), dan Negeri Palestina. Maka menurut kitab suci, 
tanah Palestina itu sebenarnya Tuhan peruntukan bagi bani Israil 
pimpinan nabi Musa yang dahulu terusir dari Mesir oleh raja Fir'aun. 
Hingga bani Israil dapat berjaya selama 7 abad.

Ada dua kali bani Israil mendapatkan kesempatan untuk memegang mandat 
kepemimpinan dunia; Yaitu pada jaman Musa melalui tangan Yoshua, dan 
untuk kedua kalinya melalui tangan Yesus. Deskripsi kemenangan Yesus 
sangat jelas dinyatakan dalam Taurat dan Injil; bahwa Yesus sebagai 
utusan Nya berhasil menegakkan kembali bangunan Tuhan secara faktual 
sebagaimana jaman Musa dan Yoshua. Keberhasilan ini juga dinyatakan 
dengan tegas dalam Alquran sebagai kitab suci penerus dari Taurat, 
Mazmur (Zabur) dan Injil. Karena memang ada hubungan antara kitab 
suci-kitab suci tadi yang dijadikan sebagai pegangan oleh para utusan 
Nya. Ternyata ketika Yerussalem tegak, keturunan bani Ismael 
dilibatkan dalam dinamika kejayaan bangunan Tuhan yang dipimpin oleh 
bani Israil. Mereka saling bekerjasama dalam berbagai bidang untuk 
memperteguh karakter Tuhan pada komunitas manusia. Dengan kerjasama 
itu maka tercapailah perdamaian dunia menuju kepada satu visi dan 
misi pengabdian kepada Tuhan.

Hingga ada saatnya mandat itu dicabut dan dilimpahkan kepada 
keturunan Ismael dengan pelopornya yakni Muhammad. Dan ketika bani 
Ismael mendapat mandat untuk memimpin dunia, mereka juga merangkul 
bani Israil sebagai elemen penting dalam bangunan Tuhan. Maka 
perdamaian dunia dapat terwujud kembali sebagaimana pada jaman Musa 
dan Yesus. Karena perdamaian dunia hanya bisa dicapai apabila kedua 
keturunan Abraham ini bersatu dan saling bekerjasama, bukan 
mengedepankan kesombongan sektarian yang akan berujung kepada 
kerusakan dan kenistaan.

Bagaimana kisah bangunan Tuhan yang diperjuangkan oleh keturunan 
Ismael selanjutnya? Apakah hingga hari ini masih memimpin dunia? 
Bagaimana dengan kenyataan tertindasnya mereka dikancah perpolitikan 
dunia?Buku ini mengajak pembaca untuk memahami dan menyikapi tradisi 
Tuhan, sehingga dapat mencerdasi bagaimana sikap yang harus diambil 
agar perdamaian dunia dapat terwujud kembali. Dan menurut tradisi Nya 
bangunan Tuhan akan kembali tegak dalam waktu dekat ini, karena 
tradisi Tuhan terus bergulir hingga detik ini.


Kirim email ke