Apakah Qur'an itu Asli?
oleh Harvard House
17 Feb, 2008

Mengapa para sahabat Muhammad menulis versi2 unik Qur'an?
Mengapa versi2 unik Qur'an ini kemudian dibakar?

Ketika Muhammad wafat di tahun 632M, Qur'an belum dicatat dan 
dikumpulkan dalam sebuah buku. Para Muslim hanya menghafalkan 
sebagian besar Qur'an saja. Hal ini terutama dilakukan oleh para 
Muslim yang kenal dekat Muhammad. Qur'an berarti melafalkan. Ada 
kemungkinan bahwa beberapa ayat ditulis di atas tulang, batu, atau 
disembunyikan sebelum Muhammad wafat. Tak lama setelah dia wafat, 
para Muslim awal ini mengambil keputusan mengumpulkan ayat2 Qur'an 
dalam sebuah buku.

Qur'an yang asli dijadikan buku di tahun 634M. Penting untuk 
diketahui bahwa penyusunan Qur'an terjadi karena proses politik. Di 
tahun 633M, terjadi perang yang menewaskan 700 Muslim. Rekan dekat 
Muhammad yang bernama Salim yang mampu melafalkan sebagian besar 
Qur'an terbunuh. Apa yang terjadi jika semua rekan2 karif Muhammad 
terbunuh? Para Muslim awal ingin  mempertahankan kemurnian Qur'an 
seperti yang telah diwahyukan oleh Muhammad.

Jadi Qur'an asli di tahun 634M disusun di bawah pimpinan Kalifah Abu 
Bakr. Qur'an inilah yang lalu dikenal sebagai codex (mushaf) Hafsah 
(ini terjadi 10 tahun kemudian saat Hafsah menyimpan Qur'an ini).

Akan tetapi, Qur'an asli ini dihancurkan para pemimpin Islam di tahun 
667 M. (Hafsah adalah salah satu istri Muhammad. Dia menjaga Qur'an 
yang asli itu sampai ajalnya di tahun 667 M. Para pemimpin Islam 
ingin menghancurkan Qur'an asli ini sebelum Hafsah sampai ajal. Tapi 
Hafsah menolak menyerahkan Qur'an-nya untuk dibakar. Dia berhasil 
mempertahankan Qur'an ini sampai ajalnya [begitu menurut
Al-Masahif 24]. Penting untuk dipertanyakan: "Mengapa Hafsah tidak 
mau menyerahkan Qur'an asli terpenting ini untuk dibakar?").

Berdasarkan sumber2 Islam sendiri saja, tampaknya mushaf Hafsah 
adalah satu dari Qur'an terakhir lainnya yang dihancurkan oleh para 
Muslim. Apakah sebenarnya yang terjadi sehingga Qur'an asli ini tidak 
diterima dan bahkan harus dihancurkan? Mengapa Qur'an mushaf Hafsah 
ini tidak dipertahankan sejak dibentuk jadi buku (tahun 634 M) dan 
hanya dua tahun setelah Muhammad wafat (di tahun 632M)?

Untuk mengetahuinya sebabnya, maka perlu dimengerti prosedur awal 
yang ditetapkan dalam mengumpulkan Qur'an yang asli. Abu Bakr 
memerintahkan bahwa ayat2 Qur'an yang dikumpulkan harus disampaikan 
oleh kesaksian paling sedikit dua Muslim. Versi awal Qur'an ini 
tentunya yang paling banyak diingat para pengikut Muhammad di tahun 
634M. Dengan begitu jelas alasannya mengapa Hafsah tidak mau 
menyerahkan Qur'an-nya yang asli untuk dibakar.

Sejarah bagaimana Qur'an dicatat dinyatakan di sumber2 tulisan Muslim 
yang patut dipercayai, yakni hadis. Masalah Qur'an mulai muncul di 
saat kekalifahan ketiga Islam, yang dipimpin oleh Kalifah Usman (644 –
 656M). Rupanya saat itu agama Islam sudah menyebar luas gara2 
penyerangan militer Islam. Para tentara Muslim membaca berbagai versi 
Qur'an yang berbeda-beda. Orang2 ini bertanya,"Apakah
Qur'an yang ini benar2 murni seperti yang diwahyukan dan diajarkan 
Muhammad?"
Hadis yang paling terpercaya yakni Sahih Bukhari mencatat bagaimana 
prajurit2 Muslim bersengketa tentang versi2 Qur'an yang berbeda.

Hadis Sahih Bukhari, volume 6, buku 61, nomer 510
Hudhaifa khawatir akan perbedaan pelafalan Qur'an, jadi dia berkata 
pada `Uthman, "Wahai, ketua para umat! Selamatkan negara ini sebelum 
mereka bersengketa tentang Qur'an seperti yang terjadi pada orang2 
Yahudi dan Kristen sebelumnya."

Dalam menangani permintaan ini, Kalifah Uthman mengirim pesan kepada 
Hafsah karena Hafsahlah yang punya Qur'an asli yang dikumpulkan di 
tahun 634M. Inilah yang ditulis Uthman kepada Hafsah:
"Kirim pada kami susunan naskah2 Qur'an sehingga kami bisa 
mengumpulkan bahan2 Qur'an dalam jilid2 yang sempurna dan kami akan 
mengembalikan susunan naskah Qur'an itu padamu."
Hafsah lalu mengirimkan Qur'an-nya pada Uthman.

Lalu Kalifah Uthman memerintahkan orang2nya yang mengerti Qur'an 
untuk menyusun Qur'an sekali lagi. Ini yang tertulis dalam hadis:
Uthman lalu memerintahkan empat orang menulis kembali Qur'an dalam 
duplikat2 yang sempurna. Setelah ini dilakukan, Qur'an mushaf Hafsah 
dikembalikan pada Hafsah. "Uthman mengembalikan naskah2 Qur'an yang 
asli pada Hafsah."

Setelah memiliki versi baru Qur'an, Uthman memerintahkan semua 
Qur'an2 yang lain dibakar. Inilah yang tertulis dalam hadis:
Uthman mengirim sebuah duplikat Qur'an pada setiap propinsi Muslim, 
dan memerintahkan naskah2 Qur'an yang lain dibakar, tidak peduli 
apakah tertulis di naskah2 terpisah atau seluruh kumpulan Qur'an, 
harus dibakar.

Ini berarti terjadi perubahan drastis. Pertanyaan yang muncul adalah,
"Mengapa Qur'an2 dan naskah2 Qur'an lainnya harus dibakar?" 
Jawabannya terdapat dalam pernyataan Hudhaifa di hadis:
"Hudhaifa khawatir akan perbedaan pelafalan Qur'an."
Hudhaifa tidak ingin ada versi Qur'an yang berbeda. Bagi Hudhaifa, 
satu versi Qur'an berarti kesatuan seluruh umat Muslim. Jika tentara 
Muslim tidak bersatu, maka Islam akan runtuh.

Apa yang salah pada versi2 Qur'an yang lain sehingga harus dibakar 
musnah? Apakah Qur'an yang sekarang ada benar2 asli seperti yang 
dipercaya Muslim jaman modern? Karena alasan pembakaran semua versi 
Qur'an yang berbeda hanyalah alasan politik, maka Qur'an modern 
merupakan hasil keputusan politis para pemimpin politik Muslim, dan 
bukan keputusan sang Nabi Muhammad. Pertanyaan2 seperti ini tidak 
akan pernah bisa dijawab. Tapi sudah pasti bahwa Qur'an yang ada saat 
ini tidaklah sama dengan Qur'an asli yang disusun hanya dua tahun 
setelah Muhammad wafat. Sudah pasti bahwa Qur'an mushaf Hafsah 
merupakan Qur'an yang paling asli, paling tepat sepanjang masa. Tapi 
para pemimpin Muslim malahan ngotot membakarnya. Apa sih sebenarnya 
yang terjadi di tahun2 awal Islam?

Bukti ada Beberapa Versi Qur'an yang Berbeda

Sumber2 literatur Islam menyatakan bahwa setidaknya terdapat empat 
versi Qur'an yang ada sebelum Kalifah Usman mengeluarkan perintah 
pembakaran. (referensi: "Al Tamhid 2, 247).

Empat versi Qur'an itu ditulis oleh orang2 yang kenal dekat dengan 
Muhammad. Setiap orang menulis versi Qur'an-nya sendiri. Berdasarkan 
sumber2 Islam, perbedaan versi Qur'an ini cukup serius sehingga 
mengakibatkan perpecahan antar Muslim. Sumber Islam "K. Al Masahif" 
melaporkan bahwa perbedaan begitu serius sehingga seorang Muslim 
menyebut Muslim lainnya bid'ah:
Sewaktu pemerintahan Uthman, guru2 mengajarkan pelafalan ini dan itu 
pada murid2nya. Ketika para murid bertemu dan tidak setuju cara 
pelafalan tertentu, mereka melaporkan perbedaan ini kepada guru2 
mereka.
Mereka lalu mempertahankan cara pelafalan mereka, dan menuduh pihak 
lain bid'ah. (Abu Bakr `Abdullah b. abi Da'ud, "K. al Masahif).

Jadi keputusan politis dikeluarkan untuk menciptakan satu versi 
Qur'an saja. Hal ini tidak disetuji oleh para Muslim awal yang telah 
menyusun Qur'an versi mereka sendiri. Siapakah orang2 ini?

Sumber literatur Islam menyatakan orang2 terpilih ini yang menyusun 
Qur'an mereka sendiri. Hadis Sahih Bukhari, volume 5, buku 58, nomer 
150
Aku mendengar sang Nabi berkata, "Belajarlah pelafalan Qur'an dari 
empat orang ini: (1) Abdullah Ibn Mas'ud, (2) Salim (yang terbunuh di 
perang tahun 633M), dan dia adalah budak Abu Hudhaifa yang 
dimerdekakan, (3) Ubayy b. Ka'ab, dan (4) Muadh bin Jabal."

Jadi ada beberapa orang khusus yang dipilih Muhammad karena 
pengetahuan mereka akan Qur'an dan orang2 ini lalu menyusun Qur'an 
versi mereka sendiri. Qur'an2 ini beredar luas dan digunakan di 
kalangan Muslim. Hal inilah yang menyebabkan tentara2 Muslim saling 
bersengketa dan menuduh satu sama lain bid'ah.

Setelah Qur'an yang "resmi" diterbitkan dan keluar perintah 
pembakaran Qur'an versi lain, maka sekelompok Muslim marah.
Keterangan berikut dari literatur Islam mungkin merupakan keterangan 
yang terpenting tentang orang2 yang mengenal Muhammad secara pribadi.
Mari mulai dengan Abdullah Ibn Mas'ud yang diminta untuk membakar 
versi Qur'an-nya sendiri.
"Bagaimana mungkin kau memerintahkan dirku untuk melafalkan pembacaan 
Zaid, sedangkan aku melafalkannya dari mulut sang Nabi sendiri akan 
tujuhpuluh Sura?" "Apakah aku, " tanya Abdullah, "harus melupakan apa 
yang kuketahui dari bibir sang Nabi sendiri?"
("K. al Masahif" oleh Ibn abi Dawood, 824-897 AD, hal. 12, 14).

Apakah Abdullah Ibn Mas'ud menganggap Qur'an yang beredar saat ini 
merupakan Qur'an murni, padahal dia menolak membakar Qur'an versi 
miliknya sendiri? Karena Mas'ud tidak sudi membiarkan Qur'an versi 
miliknya dibakar, maka sudah jelas Mas'ud tidak menganggap Qur'an 
milik Uthman itu asli. Hal yang penting untuk dipertanyakan, "Mengapa 
Mas'ud tidak mau menyerahkan dan membakar Qur'an miliknya?"

Mas'ud adalah sahabat karib dan pelayan pribadi Muhammad. Nabi 
Muhammad mengajarkan Qur'an pada Mas'ud secara pribadi. Karena 
eratnya hubungan pribadi dengan Muhammad, maka Mas'ud jelas yakin 
bahwa dia punya kualifikasi meyakinkan untuk menyusun Qur'an versinya 
sendiri.

Mas'ud lalu pindah ke Kufa, Irak, di mana dia menyelesaikan menyusun 
Qur'an versinya sendiri, yang dikenal dengan mushaf Kufan. Qur'an 
unik ini selesai disusunnya beberapa tahun setelah Qur'an asli milik 
Hafsah disusun (tahun 634 M). Qur'an versi Mas'ud tidak memiliki Sura 
1, 113, dan 114 yang terdapat dalam Qur'an
"resmi" saat ini. Apakah Qur'an itu benar2 asli seperti yang 
dipercayai Muslim sekarang?

Qur'an versi lain disusun oleh Ubayy b. Ka'ab. Diapun adalah sahabat 
karib Muhammad dan merupakan sekretaris (juru tulis) Muhammad. Ubayy 
mahir melafalkan banyak ayat2 Qur'an, dan dia belajar pelafalan ini 
langsung dari Muhammad. Para ilmuwan Islam menemukan bahwa Qur'an 
versi Ubayy berbeda dengan Qur'an "resmi" karena punya Ubayy terdapat 
dua Sura lain (berjudul Sura Al-Khal dan Sura Al-Afd). Karena 
Muhammad secara pribadi mengajar Ubayy tentang Qur'an, maka mengapa 
yaaa Qur'an "resmi" saat ini tidak mengandung dua Sura tersebut?

Ubayy wafat saat kepemimpinan Kalifah Umar, dan saat itu Qur'an 
yang "resmi" belum disusun oleh Uthman. Karena itulah, Ubayy  tidak 
usah menyaksikan Qur'an versi miliknya dibakar atas perintah Uthman.
Karena Ubayy menyusun Qur'annya sendiri dan belajar langsung dari 
mulut nabi Muhammad, tentunya dia akan setuju dengan sikap Mas'ud 
yang menolak menyerahkan Qur'an versinya untuk dibakar, bukan?

Karena keputusan Uthman untuk menciptakan Qur'an versi "resmi", maka 
Qur'an versi Ubayy dibakar. Penting untuk dipertanyakan, "Apakah 
Qur'an sekarang benar2 asli?"

Sekarang tentang Qur'an asli yang dikenal sebagai mushaf Hafsah. 
Qur'an ini dibakar para pemimpin Muslim segera setelah Hafsah 
meninggal. Penting untuk dipertanyakan, "Mengapa Hafsah tidak mau 
Qur'an bernaskah terasli ini dibakar?"

Qur'an "resmi" jaman sekarang datang dari Zaid ibn Thabit, yang 
merupakan juru tulis Muhammad yang paling muda. Zaid, karena usia 
mudanya, masih hidup ketika orang2 terdekat Muhammad lainnya sudah 
mati. Akan tetapi, akhirnya malah Qur'an versi Zaid yang dipilih 
Uthman sebagai Qur'an yang "resmi."

Muslim2 lain yang sangat dekat hubungannya dengan Muhammad menjadi 
sangat marah ketika Uthman bersikeras hanya ada satu jenis Qur'an 
saja yang boleh digunakan. Sumber2 Islam menunjukkan bahwa keaslian 
Qur'an sejak jaman Muhammad tidak jelas lagi. Jika tidak terdapat 
versi2 Qur'an yang berbeda, maka tentunya tidak akan ada perintah 
pembakaran.

Kaum Muslim percaya bahwa terdapat tujuh versi Qur'an, tapi hanya 
Qur'an versi Uthman saja yang benar. Jadi para Muslim tidak 
mempermasalahkan pembakaran Qur'an2 versi lain. Akan tetapi, 
dibutuhkan "iman buta" untuk percaya dan menerima pandangan seperti 
ini.

Jika Muhammad betul2 mampu secara konsisten meramalkan masa depan, 
maka tentunya Qur'an memang berasal dari Tuhan. Akan tetapi 
kenyataannya tidak begitu. Peristiwa politik pembakaran Qur'an versi 
lain yang dilakukan para pemimpin awal Islam membuktikan bahwa Qur'an 
berasal dari Jibril gadungan.

Kirim email ke