BAB I. PENDAHULUAN 

Pinus merkusii dengan nama daerah tusam banyak dijumpai tumbuh di 
belahan bumi bagian 
selatan. Pohon bertajuk lebat, berbentuk kerucut mempunyai perakaran 
cukup dalam dan 
kuat. Walaupun jenis ini dapat tumbuh pada berbagai ketinggian 
tempat, bahkan 
mendekati 0 meter di atas permukaan air laut, dengan tempat tumbuh 
yang terbaik pada 
ketinggian tempat antara 400 – 1500 m dpl, pada tipe iklim A dan B 
menurut Schmidt – 
Ferguson, pada curah hujan sekurang-kurangnya 2000 mm/tahun tanpa 
dengan jumlah 
bulan kering 0 – 3 bulan. 

Jenis ini dapat tumbuh pada berbagai tipe jenis tanah dengan lapisan 
tanah yang 
tebal/dalam, pH tanah asam dan mengendaki tekstur tanah ringan 
sampai sedang. 

Manfaat jenis pohon ini cukup banyak. Kayunya dapat digunakan 
sebagai bahan bangunan 
ringan, peti, korek api, bahan baku kertas dan vinir/kayu lapis. 

Pada umur 10 tahun, pohon sudah dapat disadap getahnya. Dari getah 
Pinus dapat dibuat 
gondorukem dan terpentin. Gondorukem digunakan dalam industri batik 
sedang terpentin 
digunakan sebagai pelarut minyak cat dan lak. 

BAB II. PEMBUATAN BIBIT 

1. Pengadaan biji 
Biji Pinus merkusii akan mempunyai viabilitas dan daya kecambah 
tinggi, apabila diambil 
dari kerucut yang sudah masak dengan ciri-ciri berwarna hijau 
kecoklatan dan sisik 
kerucut yang telah mulai melebar kebiruan sedikit. Pengumpulan buah 
dapat dilakukan 
setiap tahun, karena berbuahnya setiap tahun. Biji kering berisi 
antara 45.000 – 60.000 
butir setiap kilogramnya. 

Sebellum ditabur sebaiknya dilakukan seleksi biji. Biji yang baik 
mempunyai ciri-ciri 
warna kulit bij kuning kecoklatan dengan bintik-bintik hitam, agar 
bentuk biji bulat, 
padat dan tidak mengkerut. Untuk menyeleksi biji yang biasa juga 
digunakan cara 
perendaman. Biji yang akan digunakan sebagi bibit direndam dalam air 
dan benih yang 
tenggelam saja menandakan biji baik. Lama biji direndam air dingin 
3 – 4 jam sebelum 
ditabur. 

2. Penaburan biji 
Pada kegiatan ini yang perlu diperhatikan adalah bahan media tabur 
yang akan 
digunakan hendaknya mempunyai persyaratan sebagai berikut : 

• Bebas dari hama-penyakit (steril) 
• Cukup sarang 
• Dapat merangsang proses perkecambahan 
Sesuai persyaratan di atas, maka bahan campuran berupa pasir yang 
berukuran ± 2 mm 
dan tanah (humus) halus dapat digunakan sebagai media tabur. Tanah 
dan pasir 
perbandingan 1 : 2. Selanjutnya campuran ini disterilkan dengan cara 
digoreng 4 – 6 
jam dan dijemur diterik matahari. 

Media yang sudah siap digunakan dimasukkan ke dalam bak plastik 
setinggi ± 5 cm. 
Bak diletakkan di atas rak-rak di dalam bedeng penaburan atau ruang 
kaca. Benih-benih 
yang terpilih, kemudian dihamburkan di bak tabur, selanjutnya 
ditutup dengan bahan 
media tabur kira-kira sama dengan tebal benih yang ditabur. 


Setelah 10 – 15 hari dari saat penaburan, benih akan berkecambah. 
Proses 
perkecambahan berlangsung sampai satu bulan. 

3. Penyapihan 
Sebelum dilakukan penyapihan terlebih dahulu disiapkan kantong 
plastik yang berisi 
media tumbuh. Pinus merkusii adalah jenis tanaman yang melakukan 
simbiose dengan 
jamur/mikorhiza. Penularan mikorihiza yang paling baik ialah pada 
waktu pencampuran 
media tumbuh. Untuk itu, dalam setiap kantong plastik media tumbuh 
harus dicampur 
dengan tanah humus yang berasal dari bawah tegakan tua Pinus 
merkusii. 

Media tumbuh untuk jenis tanaman ini yang paling baik adalah 
campuran dari tanah, 
pasir dan kompos dengan perbandingan 7 : 2 : 1 dengan penambahan 
pupuk NPK 
sebanyak 0,25 gram setiap kantong yang berisi 300 gram media. 

Setelah bibit berumur 5 – 8 minggu di bak tabur kemudian dilakukan 
penyapihan. Pada 
saat ini kulit biji sudah terlepas dari kecambah dan bibit telah 
memiliki daun jarum 
pertama. 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyapihan bibit antara 
lain : 

• 
Semai ditanam berdiri tegak lurus 
• 
Akar tidak boleh terlipat 
• 
Hindarkan semai dari kerusakan 
• 
Lakukan penyapihan pada tempat yang teduh 
4. Pemeliharaan 
Dalam kegiatan ini perlu dilakukan penyiraman semai secara hati-
hati, dan untuk 
menghindarkan damping off perlu dilakukan penyemprotan dengan 
fungisida. 

Upayakan agar bibit selama dipersemaian bebas dari gangguan rumput-
rumput liar, 
erangga maupun penyakit. Untuk itu kebersihan persemaian sangat 
menunjang 
keberhasilan bibit yang disapih. 

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam kegiatan ini antara 
lain : 

• 
Naungan untuk menjaga kelembaban, menahan percikan air hujan dan 
mengurangi penguapan. 
• 
Penyiraman secara teratur, setiap hari satu kali pagi hari dan sore 
hari. 
• 
Pemupukan dengan NPK dengan interval 2 minggu sekali. 
• 
Penyulaman pada kantong plastik yang mati bibitnya atau 
pertumbuhannya jelek 
segera dilakukan. 
• 
Perumputan apabila rumput atau tumbuhan liar lainnya mengganggu 
pertumbuhan tanaman muda. 
• 
Akar-akar yang keluar dari lubang kantong agar dipotong. 
BAB III. PEMBUATAN TANAMAN 

1. Persiapan lapangan 
Sebelum melaksanakan penanaman, perlu dilakukan pekerjaan persiapan, 
antara lain : 

• 
Pembersihan lapangan dari tumbuhan pengganggu, seperti alang-alang, 
semak 
belukar, dan lain-lain. 
• 
Pengolahan tanah (manual/mekanik). Dalam pengolahan tanah pada lahan 
miring hendaknya memperhatikan kaidah pengawetan tanah agar 
dihindarkan 
erosi yang berlebihan. 
• 
Pemasangan acir tanaman pada lahan miring sejajar garis kontour. 
• 
Pembuatan lubang tanaman. 

Pembuatan bibit agar diusahakan seaman mungkin dan semurah mungkin. 
Apabila 
pengangkutan tidak hati-hati maka kerusakan bibit membawa kerugian 
yang cukup 
besar. Oleh karena itu jumlah bibit yang diangkut disesuaikan dengan 
kemampuan 
menanam regu tanam. Hal ini untuk menghindarkan penumpukan bibit di 
lapangan. 

2. Penanaman 
Pada saat bibit akan ditanam, kantong plastik dilepas secara hati-
hati supaya media 
tumbuh tetap utuh. Kemudian bibit dimasukkan ke dalam lubang yang 
telah disiapkan. 
Lubang yang telah berisi bibit ditutup kembali dengan tanah galian 
dan dipadatkan di 
sekitar leher akar. Harus diupayakan agar bibit tetap tegak. 

Penanaman bibit dilakukan pada permulaan musim penghujan, setelah 
curah hujan 
cukup merata. Sistem penanaman dapat dilakukan dengan tumpangsari 
atau tanpa 
tumpang sari. Tanaman sela yang digunakan disesuaikan dengan tempat 
tumbuhnya. 

3. Pemeliharaan 
Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan maksud agar tanaman muda mampu 
tumbuh 
menjadi tegakan akhir dengan kerapatan dan tingkat pertumbuhan yang 
diharapkan. 

Kegiatan pemeliharaan meliputi : 

a) 
Penyulaman dilakukan apabila dijumpai adanya kematian bibit setelah 
satu bulan 
setelah satu bulan selesai penanaman, segera dilakukan penyulaman. 
Penyulaman 
ini terus dilakukan sampai jumlah tanaman muda cukup sesuai dengan 
kerapatan 
tegakan yang dipersyaratkan. Penyulaman ini sebaiknya dilaksanakan 
pada 
pertengahan musim penghujan. 

b) 
Penyiangan gulma dan tumbuhan lain yang mengganggu tanaman muda 
segera 
dilakukan, agar bebas dari persaingan untuk mendapatkan cahaya dan 
unsur hara 
dari dalam tanah. 

c) 
Pendangiran hanya dilakukan bilamana kondisi tanah yang padat atau 
berdrainase 
jelek. Dengan catat mendangir di sekitar piringan dengan berjari-
jari 0,5 meter. 
Dan dilaksanakan bersamaan waktunya dengan penyiangan. 

d) 
Pemberantasan hama dan penyakit. Tindakan yang paling menguntungkan 
dari 
kegiatan ini adalah mencegah penularan hama dan penyakit yang 
menyerang 
tanaman muda. Cara pencegahannya antara lain dengan cara fisik atau 
cara 
kimiawi. Namun demikian harus selalu diupayakan agar nilai ambang 
ekonominya 
tidak terlalu membahayakan tanaman. 

e) 
Penjarangan. Dimaksudkan untuk memberi ruang tumbuh yang lebih baik 
bagi 
tegakan selanjutnya, sehingga mutu tegakan dan volume tegakan 
menjadi 
meningkat. Pohon yang tertekan terserang hama dan penyakit, batang 
pokok 
bengkok, menggarpu, dibuang dalam penjarangan. Saat penjarangan 
tegakan 
tergantung pada kerapatan tegakan, kesuburan tanah dan sifat 
pertumbuhan dari 
pohon. Tepatnya beberapa saat setelah tajuk saling bersinggungan. 

f) 
Pengendalian api dan kebakaran. Pinus merkusii sangat peka terhadap 
api. Sekali 
terjadi kebakaran, tanaman muda akan musnah. Hal ini disebabkan pada 
batang 
jenis tanaman ini banyak mengandung getah (damar). Tindakan 
pencegahan 
secara dini dapat dilakukan antara lain : 

i. Membuat jalur sekat, jalur hijau secara jelas dan tegas. 
ii. Pembentukan satuan tugas pengendali kebakaran dan mengaktifkan 
ronda api. 
iii. 
Pembuatan sistem komunikasi yang menjangkau seluruh areal dan 
sekitarnya. 

BAB IV. PEMUNGUTAN HASIL 

Pada umur 10 tahun, Pinus merkusii mulai dapat dipungut getahnya. 
Penebangan untuk 
tujuan kayu pertukangan sebaiknya dilakukan apabila tegakan telah 
mencapai umur 30 
tahun dengan taksiran produksi kayu tebal sebanyak 238 – 322 m3/ha. 
Sedangkan untuk 
tujuan kayu pulp dipergunakan daur 10 – 15 tahun. 

Sistem pemungutan hasil yang digunakan dalam pengelolaan HTI Pinus 
merkusii adalah 
Sistem Tebang Habis dengan Permudaan Buatan. 

Disalin dari : Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Reboisasi 
dan Rehabilitasi Lahan. Teknik 
Pembuatan Tanaman Pinus merkusii. Direktorat Hutan Tanaman Industri. 
Mare 1990. 


Kirim email ke