Suatu saat nanti setelah pejabat dan penguasa korup sudah ditumpas habis dan 
diganti dengan generasi penerus yang bersih yang tulus mengabdi tanpa ada 
pamrih . Mungkinkah? Mungkin suatu saat nanti entah kapan. 

--- Pada Sab, 9/8/08, D. Hadi <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: D. Hadi <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: [agromania] Nikmatnya jadi Petani Amerika
Kepada: [email protected]
Tanggal: Sabtu, 9 Agustus, 2008, 5:41 AM










    
            Kapan Indonesia bisa seperti ini?



D. Hadi



NDSU<http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 08/08/18040358/ nikmatnya. 
jadi..petani. amerika#>

Petani di North Dakota memanfaatkan teknologi dan peralatan canggih untuk

bertani.

 /<http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 08/08/18040358/ nikmatnya. 
jadi.petani. amerika>

  Jumat, 8 Agustus 2008 | 18:04 WIB



*Laporan dari Minot, North Dakota*



Apa yang terjadi jika panen Pak Amat di Jawa Tengah atau Kang Asep di Jawa

Barat gagal? Keluarga mereka pasti akan mengalami kesulitan setelahnya. Bisa

jadi mereka terpaksa makan nasi aking, menggadaikan barang-barang, dan

menunggak bayaran sekolah anaknya. Tapi bila mereka adalah petani di Amerika

Serikat, hal seperti itu sepertinya tak akan terjadi. Pasalnya pemerintah

akan mengganti kerugian gagal panen mereka.



Jaminan dari pemerintah adalah salah satu kenikmatan yang didapat para

petani. Selain jaminan gagal panen, para petani AS juga mendapat bantuan

pengetahuan dan teknologi dari berbagai pihak, terutama universitas. Mereka

bisa dengan mudah mendapat informasi bibit unggul terbaru, kondisi cuaca

harian, bahkan harga berbagai jenis panenan. Itu artinya para petani

diharapkan akrab dengan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.



Menurut Jay Fisher, direktur Pusat Riset Distrik di North Dakota State

University, petani memang sudah menggunakan internet untuk mencari berbagai

informasi. "Petani di North Dakota sebagian besar memiliki akses internet

dari rumahnya," ujar Fisher saat ditemui Senin (28/7) di pusat riset di

pinggiran kota kecil Minot, North Dakota.



Selain di rumah, para petani dan peternak bisa berkumpul di pusat riset

untuk mengikuti ceramah tentang produk pertanian atau peternakan. Bukan

hanya mendengarkan para peneliti lokal, mereka juga bisa bertanya atau *

sharing* dengan peneliti di lokasi lain secara *teleconference* . "Akibatnya

petani menjadi akrab dengan teknologi. Mereka bahkan menentukan apa yang

akan ditanam atau di mana hasil panen akan dijual melalui internet," ujar

Fisher.



Kedekatan para petani terhadap teknologi juga terlihat dalam penggunaan

alat-alat pertanian mereka. Selain mesin-mesin besar yang dipakai memanen,

mereka juga memiliki perlengkapan penanda lokasi semacam GPS (*global

positioning system*) yang bisa menuntun jalannya traktor sehingga tidak

belok ke lahan orang. Alat ini sangat penting mengingat tiap petani

menggarap rata-rata 1.000 hektar lahan. Dengan ketepatan alat ini,

lahan-lahan pertanian terlihat rapi terkotak-kotak dari atas langit North

Dakota.



Lalu hal apa yang bisa ditiru petani Indonesia? Sulit memang mencontoh

penggunaan mesin-mesin besar dalam proses pertanian karena lahan para petani

Indonesia tergolong amat kecil. Kebanyakan petani juga bukan pemilik lahan

melainkan penggarap. Namun teknologi dan informasi tetap bisa dimanfaatkan.

Petani sayur di Buleleng, Bali, misalnya sempat meneguk keuntungan setelah

mereka melalui internet berhasil mengetahui kebutuhan pasar. Ada pula petani

kacang di Jawa Timur yang menemukan pembeli setelah menjelajahi dunia maya.

Tak jarang di antara mereka membentuk komunitas online untuk saling bertukar

pikiran.



Permulaannya memang sulit. Kebanyakan petani Indonesia bercerita bahwa

mereka sangat takut mengoperasikan komputer. Takut keliru, katanya. Tapi itu

bukan hanya masalah di Indonesia. Petani Amerika pun mengalami hambatan

serupa. "Awalnya sulit mengajak mereka memanfaatkan internet," papar Fisher..

"Namun setelah beberapa orang mendapatkan manfaat, yang lain akhirnya

tertarik."



Hal lain yang dirasa sangat membantu petani adalah mudahnya mengakses

informasi pertanian lewat internet. Situs North Dakota State

University<http://www.ag. ndsu.nodak. edu/minot/>misalnya menyediakan

hasil-hasil penelitian mereka yang terbaru mengenai

hama dan sistem pertanian. Itu juga pasti bisa dibangun di Indonesia. Yang

sedikit sulit mungkin adalah memastikan petani akan mendapat ganti rugi bila

panen mereka gagal. Namun bisa jadi itu bukan hal yang mustahil kelak. Dan

bila sudah begitu, produk pertanian kita mungkin bisa bersaing di pasar

dunia. Siapa tahu?



*A. Wisnubrata*

Sent from my BlackBerry (c) Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network



____________ _________ _________ _________ ___

|

$  AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC)

$  Mau Daftar? Segera Hubungi:

$  AGROMANIA (online & terpercaya sejak 1 Agustus 2000)

$  SMS: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9

$  EMAIL: [EMAIL PROTECTED] co.id.

$  MILIS: http://groups. yahoo.com/ subscribe/ agromania

$  AKTIVITAS: http://ph.groups. yahoo.com/ group/agromania/ photos

$  REFERENSI: http://groups. yahoo.com/ group/agromania/ files/

$  ALAMAT: Jl.Jambu No.53, Pejaten Barat 2, Jaksel 12510

$  TELP/FAX: ( 0 2 1 ) 7 1 9 9 6 6 0

|___________ _________ _________ _________ _




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke