Saya dapat dari Trubus. Disinggung sedikit tentang cukai. Yang penting juga, 
beliau juga membuat asosiasi produsen skala kecil untuk bergabung. Ada yang 
punya akses?

---------------------------------------
AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC)
INFORMASI:http://www.agromania.co.cc
FORMULIR:http://www.formulirabc.co.cc
DIREKTORI:http://www.direktoriabc.co.cc
---------------------------------------



Himawan Adiyoson Untuk Setetes Bioetanol
Oleh trubusid
Rabu, Juni 18, 2008 00:01:53 Klik: 2355
Klik untuk melihat foto lainnya...
Masih jernih dan benderang dalam ingatan Himawan Adiyoso saat melakukan 
eksperimen untuk ke-20 kali di gudang itu. 'Saat itu bioetanol di atas 90% 
menetes untuk pertama kali dari alat destilasi,' kenang salah satu perintis 
bioetanol di tanahair itu. Dia membayar mahal kejadian bersejarah pada 2006 itu 
dengan ongkos sekitar Rp200-juta. Walaupun begitu dia bilang, 'Saya tidak 
menyesal.'
Dinding gudang yang berlokasi di pinggiran kota Cilegon, Jawa Barat, itu 
sedikit rusak. Cat putihnya terkelupas di sana-sini. Saat terik sinar matahari 
datang memantul di pelataran gudang berlantai semen tebal itu menebar hawa 
panas. Suasana berbeda saat berada di dalam gudang seluas 200 m2 itu. Di sana 
mengalir hawa sejuk karena plafon gudang cukup tinggi, mencapai 10 m seperti 
rumah Belanda tempo dulu. Gudang itu kini menjadi tempat perakitan alat 
destilasi untuk kapasitas produksi 1 ton bioetanol.
Di gudang itu Himawan pertama kali melakukan eksperimen pembuatan bioetanol 
dari molase. Limbah tebu itu dipilih semata-mata karena Himawan sebelumnya 
terjun menekuni bisnis molase untuk memasok kebutuhan industri kecap dan 
penyedap makanan. 'Di sini (Cilegon, red) molase mudah diperoleh karena banyak 
berdiri pabrik-pabrik gula,' kata mantan manajer corporate banking sebuah bank 
swasta yang dilikuidasi pada zaman krisis moneter 1998 itu.Suhu tinggi
Menjadikan molase sebagai bioetanol tidak mudah. Apalagi saat itu belum ada 
teknologi alat penyuling molase untuk bioetanol. Himawan mesti mengejar 
sumber-sumber informasi di berbagai institusi pemerintah dan universitas. Namun 
hasilnya jauh dari memuaskan. 'Jawaban mereka hampir seragam, belum banyak 
penelitiannya,' katanya. Sebab itu alumnus pascasarjana di Institut Pendidikan 
Magister Manajemen di Jakarta Pusat itu, putar haluan dengan bergerilya di 
dunia maya.
Secercah harapan muncul pertengahan 2006 saat Himawan mengunjungi situs make 
your own fuel. Situs itu dikelola Robert Warren dari Amerika Serikat. Nama 
Robert mendunia sebagai praktikus bioetanol sejak 1978. 'Saya akhirnya membeli 
rancangan alat destilasi dari Robert Warren itu,' katanya. Cetak biru di tangan 
masih perlu dimodifikasi hingga dapat dipakai memproses molase. Modifikasi 
itulah yang menghamburkan biaya besar. Untuk setiap eksperimen menelan dana 
Rp5-juta-Rp10-juta.
Sejatinya Himawan paham benar seluk-beluk proses destilasi. Latar belakang 
pendidikan dari Teknik Kimia Universitas Diponegoro cukup membantu mengetahui 
proses yang terjadi. Namun, teori dan praktek kadang berjarak. Saat ujicoba 
kerap muncul kendala. 'Masalah terbesar menjaga api (saat fermentasi, red) dan 
aliran air pendingin supaya konstan di mesin destilasi,' katanya. Berkali-kali 
suhu destilasi drop atau kelewat tinggi sampai di atas 100oC. Pada suhu rendah, 
etanol sulit menetes. Sebaliknya pada suhu tinggi etanol mengalir, tapi 
kadarnya rendah, 50-60%.
Semangat juang Himawan memang cukup besar. Meski berulang-ulang gagal, ia yakin 
suatu saat alat destilasinya mengeluarkan bioetanol di atas 90%. 'Saya tidak 
menyesal mengeluarkan uang banyak,' katanya. Saat mesin itu bisa menghasilkan 
bioetanol sesuai harapan, masalah lain timbul. 'Etanolnya masih banyak 
mengandung aldehid dan keton sehingga bau,' katanya. Saat disetor pada teman 
yang bersedia menampung, 400 liter produksi perdana itu semuanya dikembalikan. 
'Barangnya dianggap berkualitas rendah,' kata ayah 2 putri itu. Setelah 
diperbaiki kualitasnya, semua kiriman bioetanolnya diterima. Mitra
Ketertarikan Himawan membuat bioetanol tidak lepas dari kegemarannya menggali 
informasi kemajuan teknologi industri. 'Saat itu di Amerika sudah ramai 
membicarakan pengganti bahan bakar fosil. Bahkan negara-negara di Afrika bisnis 
bioetanol sudah berjalan,' katanya. Apalagi saat itu denyut utama bisnisnya, 
mengekspor cassava chip, biji kapas, dan biji kapuk ke Korea mulai berhenti. 
Padahal tiap bulan Himawan rutin mengirim 50 kontainer bahan-bahan itu. 'Stop 
karena keuntungannya menipis akibat devisiasi nilai rupiah,' ujarnya.
Setelah mampu membuat bioetanol di atas 95%, Himawan lebih memilih 
berkonsentrasi di sektor hulu. Dia lebih banyak memikirkan cara membuat alat 
destilasi bahan bioetanol untuk kapasitas besar, di atas 1 ton/hari. 'Ini 
penting untuk ke depan karena alat destilasi Indonesia paling banter 
berkapasitas produksi 250 l/hari,' katanya.
Toh sektor hilir tak begitu saja mentah-mentah ditinggalkan. Himawan membuat 
pabrik bioetanol di Cikande, Provinsi Banten, dengan kapasitas produksi 
mencapai 3.000 l/hari. Selain itu ia juga menjalin kerja sama win-win solution 
dengan pembeli perdana produksinya. Dialah yang jadi agen pemasaran sekaligus 
menggaet mitra lain. Salah satu bentuk kerja sama yang sudah berjalan adalah 
bersama PTP VIII dan Pemda Kebumen. 'Kami memasok alat dan alih teknologi. 
Keuntungan nantinya dibagi berdasarkan persentase kepemilikan saham,' ujar 
Sugeng Hardjanto, mitra Himawan.
Menurut Himawan masalah aturan cukai yang belum jelas pada produk bioetanol 
menjadi sandungan besar yang dihadapi. Maklum dengan dikenakan cukai sebesar 
Rp10.000/l, biaya penjualan bioetanol bakal menjulang. 'Ini yang tidak 
diharapkan karena boleh jadi konsumen tidak tertarik lagi,' katanya. Gara-gara 
cukai itu pula pertengahan 2007 lokasi penyulingan di Cilegon sempat digrebek 
oleh aparat kepolisian. 'Mungkin dikira kami memproduksi etanol untuk miras,' 
ujar Himawan.
Sebab itu pula Himawan bersama beberapa teman kini merintis terbentuknya 
asosiasi pengusaha bioetanol skala kecil. 'Saat ini kami berhimpun membentuk 
asosiasi pengusaha bioetanol yang memiliki kapasitas produksi di bawah 5.000 
l/hari,' katanya. Dengan terbentuknya asosiasi itu Himawan berharap ada standar 
baku dalam produksi bioetanol termasuk memberi perlindungan agar kelangsungan 
industri bioetanol skala kecil dan menengah bisa bernapas panjang. (Dian 
Adijaya S)


__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke