betul sekali mas, hal tersebut yang menjadi ketakutan saya selama ini asik - asiknya produksi ethanol kita di grebek oleh polisi dan masuk penjara dengan alasan ethanol tersebut untuk memasok minuman keras dan supaya aman kita juga harus membayar pajak lebih ke obnum kepolisian
karena itu kita perlu adanya himpunan pengusaha ethanol skala ukm untuk mencegah hal itu, kita perlu strategi market : 1. adanya perlindungan dari pemerintah dalam produksi ethanol 2. tujuan produksi ethanol untuk kemakmuran bersama 3. kemasan penjualan ethanol dalam bentuk gel atau padat 4. adanya saling membantu sesama pengusaha ethanol skala ukm untuk menuju hal tersebut kami, cv bio energi mandiri menjual ethanol dalam bentuk gel, padat dan membuat destilasi bertingkat dengan sistem reflux dengan harga bisa di jangkau masyarakat menengah ke bawah semoga rekan2 sehat dan sukses selalu setyo budi =================================== Jika Anda pelaku agrobisnis bonafid, ayo kita gabung dan kumpul di sini: http://www.direktoriabc.co.cc =================================== 2008/10/17 Soebekti Soebekti <[EMAIL PROTECTED]> > Saya dapat dari Trubus. Disinggung sedikit tentang cukai. Yang penting > juga, beliau juga membuat asosiasi produsen skala kecil untuk bergabung. Ada > yang punya akses? > > --------------------------------------- > AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC) > INFORMASI:http://www.agromania.co.cc > FORMULIR:http://www.formulirabc.co.cc > DIREKTORI:http://www.direktoriabc.co.cc > --------------------------------------- > > Himawan Adiyoson Untuk Setetes Bioetanol > Oleh trubusid > Rabu, Juni 18, 2008 00:01:53 Klik: 2355 > Klik untuk melihat foto lainnya... > Masih jernih dan benderang dalam ingatan Himawan Adiyoso saat melakukan > eksperimen untuk ke-20 kali di gudang itu. 'Saat itu bioetanol di atas 90% > menetes untuk pertama kali dari alat destilasi,' kenang salah satu perintis > bioetanol di tanahair itu. Dia membayar mahal kejadian bersejarah pada 2006 > itu dengan ongkos sekitar Rp200-juta. Walaupun begitu dia bilang, 'Saya > tidak menyesal.' > Dinding gudang yang berlokasi di pinggiran kota Cilegon, Jawa Barat, itu > sedikit rusak. Cat putihnya terkelupas di sana-sini. Saat terik sinar > matahari datang memantul di pelataran gudang berlantai semen tebal itu > menebar hawa panas. Suasana berbeda saat berada di dalam gudang seluas 200 > m2 itu. Di sana mengalir hawa sejuk karena plafon gudang cukup tinggi, > mencapai 10 m seperti rumah Belanda tempo dulu. Gudang itu kini menjadi > tempat perakitan alat destilasi untuk kapasitas produksi 1 ton bioetanol. > Di gudang itu Himawan pertama kali melakukan eksperimen pembuatan bioetanol > dari molase. Limbah tebu itu dipilih semata-mata karena Himawan sebelumnya > terjun menekuni bisnis molase untuk memasok kebutuhan industri kecap dan > penyedap makanan. 'Di sini (Cilegon, red) molase mudah diperoleh karena > banyak berdiri pabrik-pabrik gula,' kata mantan manajer corporate banking > sebuah bank swasta yang dilikuidasi pada zaman krisis moneter 1998 itu.Suhu > tinggi > Menjadikan molase sebagai bioetanol tidak mudah. Apalagi saat itu belum ada > teknologi alat penyuling molase untuk bioetanol. Himawan mesti mengejar > sumber-sumber informasi di berbagai institusi pemerintah dan universitas. > Namun hasilnya jauh dari memuaskan. 'Jawaban mereka hampir seragam, belum > banyak penelitiannya,' katanya. Sebab itu alumnus pascasarjana di Institut > Pendidikan Magister Manajemen di Jakarta Pusat itu, putar haluan dengan > bergerilya di dunia maya. > Secercah harapan muncul pertengahan 2006 saat Himawan mengunjungi situs > make your own fuel. Situs itu dikelola Robert Warren dari Amerika Serikat. > Nama Robert mendunia sebagai praktikus bioetanol sejak 1978. 'Saya akhirnya > membeli rancangan alat destilasi dari Robert Warren itu,' katanya. Cetak > biru di tangan masih perlu dimodifikasi hingga dapat dipakai memproses > molase. Modifikasi itulah yang menghamburkan biaya besar. Untuk setiap > eksperimen menelan dana Rp5-juta-Rp10-juta. > Sejatinya Himawan paham benar seluk-beluk proses destilasi. Latar belakang > pendidikan dari Teknik Kimia Universitas Diponegoro cukup membantu > mengetahui proses yang terjadi. Namun, teori dan praktek kadang berjarak. > Saat ujicoba kerap muncul kendala. 'Masalah terbesar menjaga api (saat > fermentasi, red) dan aliran air pendingin supaya konstan di mesin > destilasi,' katanya. Berkali-kali suhu destilasi drop atau kelewat tinggi > sampai di atas 100oC. Pada suhu rendah, etanol sulit menetes. Sebaliknya > pada suhu tinggi etanol mengalir, tapi kadarnya rendah, 50-60%. > Semangat juang Himawan memang cukup besar. Meski berulang-ulang gagal, ia > yakin suatu saat alat destilasinya mengeluarkan bioetanol di atas 90%. 'Saya > tidak menyesal mengeluarkan uang banyak,' katanya. Saat mesin itu bisa > menghasilkan bioetanol sesuai harapan, masalah lain timbul. 'Etanolnya masih > banyak mengandung aldehid dan keton sehingga bau,' katanya. Saat disetor > pada teman yang bersedia menampung, 400 liter produksi perdana itu semuanya > dikembalikan. 'Barangnya dianggap berkualitas rendah,' kata ayah 2 putri > itu. Setelah diperbaiki kualitasnya, semua kiriman bioetanolnya diterima. > Mitra > Ketertarikan Himawan membuat bioetanol tidak lepas dari kegemarannya > menggali informasi kemajuan teknologi industri. 'Saat itu di Amerika sudah > ramai membicarakan pengganti bahan bakar fosil. Bahkan negara-negara di > Afrika bisnis bioetanol sudah berjalan,' katanya. Apalagi saat itu denyut > utama bisnisnya, mengekspor cassava chip, biji kapas, dan biji kapuk ke > Korea mulai berhenti. Padahal tiap bulan Himawan rutin mengirim 50 kontainer > bahan-bahan itu. 'Stop karena keuntungannya menipis akibat devisiasi nilai > rupiah,' ujarnya. > Setelah mampu membuat bioetanol di atas 95%, Himawan lebih memilih > berkonsentrasi di sektor hulu. Dia lebih banyak memikirkan cara membuat alat > destilasi bahan bioetanol untuk kapasitas besar, di atas 1 ton/hari. 'Ini > penting untuk ke depan karena alat destilasi Indonesia paling banter > berkapasitas produksi 250 l/hari,' katanya. > Toh sektor hilir tak begitu saja mentah-mentah ditinggalkan. Himawan > membuat pabrik bioetanol di Cikande, Provinsi Banten, dengan kapasitas > produksi mencapai 3.000 l/hari. Selain itu ia juga menjalin kerja sama > win-win solution dengan pembeli perdana produksinya. Dialah yang jadi agen > pemasaran sekaligus menggaet mitra lain. Salah satu bentuk kerja sama yang > sudah berjalan adalah bersama PTP VIII dan Pemda Kebumen. 'Kami memasok alat > dan alih teknologi. Keuntungan nantinya dibagi berdasarkan persentase > kepemilikan saham,' ujar Sugeng Hardjanto, mitra Himawan. > Menurut Himawan masalah aturan cukai yang belum jelas pada produk bioetanol > menjadi sandungan besar yang dihadapi. Maklum dengan dikenakan cukai sebesar > Rp10.000/l, biaya penjualan bioetanol bakal menjulang. 'Ini yang tidak > diharapkan karena boleh jadi konsumen tidak tertarik lagi,' katanya. > Gara-gara cukai itu pula pertengahan 2007 lokasi penyulingan di Cilegon > sempat digrebek oleh aparat kepolisian. 'Mungkin dikira kami memproduksi > etanol untuk miras,' ujar Himawan. > Sebab itu pula Himawan bersama beberapa teman kini merintis terbentuknya > asosiasi pengusaha bioetanol skala kecil. 'Saat ini kami berhimpun membentuk > asosiasi pengusaha bioetanol yang memiliki kapasitas produksi di bawah 5.000 > l/hari,' katanya. Dengan terbentuknya asosiasi itu Himawan berharap ada > standar baku dalam produksi bioetanol termasuk memberi perlindungan agar > kelangsungan industri bioetanol skala kecil dan menengah bisa bernapas > panjang. (Dian Adijaya S) > > __________________________________________________ > Apakah Anda Yahoo!? > Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap > spam > http://id.mail.yahoo.com > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]

