Ini tulisn Nopember 2007, tapi banyak informasinya yang masih relevan.

Alhilal Hamdi
Produsen Boleh Oplos Bioetanol 
Oleh admin 
Kamis, Nopember 01, 2007 21:09:25 Klik: 1560      
Ruang kerja kira-kira 2 kali lapangan voli itu tampak resik. Dua buah meja 
panjang membentuk huruf L ada di sudut. Mesin pendingin terus menyembur 
sehingga membuat nyaman. Itulah tempat kerja Alhilal Hamdi (53) sebagai 
komisaris utama Perusahaan Listrik Negara. Namun, kadang-kadang ia tak sungkan 
berpanas-panas di tengah ladang singkong atau jarak pagar, komoditas sumber 
bahan bakar nabati. 
Ketua Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati itu memang menjadi petani. 
Ia mengebunkan aren, singkong, dan jarak pagar. 'Kalau punya ide tentang 
sesuatu, saya selalu mencoba menanam sendiri. Dulu waktu pengembangan rami, 
saya tanam rami,' kata mantan menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada zaman 
Presiden Abdurrahman Wahid itu. Peran yang ia emban memang sangat menentukan 
berkembangnya bahan bakar nabati di Indonesia. 
Pada awal Oktober 2007, selama 2,5 jam Alhilal menerima wartawan Trubus Sardi 
Duryatmo, Dian Adijaya Susanto, dan Imam Wiguna untuk wawancara. Kelahiran 
Cilacap 28 Maret 1954 itu menaruh harapan besar pada bahan bakar nabati 
termasuk bioetanol sebagai sumber energi. Berikut petikannya.
Seserius apakah pemerintah mengembangkan bahan bakar nabati?
Serius banget. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan energi yang makin besar, 
harganya makin mahal, dan disubsidi. Di pasar internasional harga minyak tanah 
Rp6.000 per liter, di sini dijual Rp2.000. Subsidi Rp4.000 per liter kalikan 
saja dengan 4-miliar liter (kebutuhan minyak tanah per tahun). Kebutuhan 
premium 17-miliar liter per tahun, subsidi Rp1.500-Rp2.000 per liter. Puluhan 
triliun rupiah hanya untuk dibakar! 

__________________________________

AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC)
Tempat ngumpulnya pengusaha bonafide:
http://www.agromania.co.cc
MAU GABUNG? ISI FORMULIR DI:
http://www.formulirabc.co.cc
__________________________________



Jika bukan hanya semata-mata untuk energi, apa tujuan lain pemanfaatan 
bioenergi? 
Pengembangan bahan bakar nabati juga menciptakan lapangan kerja. Karena 
basisnya pertanian sehingga menciptakan masyarakat mandiri. Kalau mereka 
menggeluti pertanian hasilnya bagus, penghasilan masyarakat pun berkelanjutan. 
Bandingkan misalnya jika hanya bertani yang biasa seperti wortel. Ketika semua 
ramai-ramai tanam wortel, gagal menembus tengkulak, harga pun jatuh. 
Sedangkan energi selalu dibutuhkan. Itulah sebabnya tanaman penghasil energi 
harganya terus membaik seperti sekarang ini. Singkong sebelum ramai bioetanol 
harganya Rp60 per kg. Untuk ongkos panen saja, lebih besar daripada harga jual. 
Sekarang harganya Rp450 per kg. Petani makin bersemangat, mereka menanam 
singkong yang dirawat bagus, menggunakan bibit berproduktivitas tinggi seperti 
mukibat yang bisa dijual Rp300/kg. Penghasilan petani pun bertambah, yang 
semula menganggur dapat bekerja. Pemerintah melihat ini sangat menjanjikan. 
Jika demikian, Indonesia tak perlu mengirim tenaga kerja ke luar negeri?
Kita tak perlu ekspor tenaga kerja. Kalau kita mengembangkan 5-6 juta ha untuk 
tanaman bahan bakar nabati memerlukan 3-4 juta orang. Tenaga kerja kita di 
Malaysia juga bekerja di perkebunan. Di Timur Tengah jadi pembantu. Untuk apa 
kita merendahkan harga diri di sana. Tapi kita tak dapat larang. Dulu saya 
pernah larang, tapi saya didemo. Kenapa? Karena kita tak dapat menciptakan 
lapangan kerja. Nah, dengan pengembangan bahan bakar nabati tercipta lapangan 
kerja. Itu luar biasa. Energi hijau jadi lokomotif kemajuan ekonomi. 
Bagaimana program sosialisasi bahan bakar nabati? 
Program biodiesel dan bioetanol berjalan. Sekarang ada 200 SPBU di seluruh 
Indonesia. Nanti diharapkan dengan banyaknya pemasok, harga lebih bagus lagi. 
Kami juga mensosialisasikan penggunaan premium yang diberi bioetanol lebih 
bagus karena emisi lebih rendah, berkurang 30-50%, dan menghidupkan petani. 
Saya berharap makin banyaknya industri, makin banyaknya petani yang menggunakan 
varietas lebih produktif, membuat industri kita makin efisien. Dengan makin 
terintegrasi hulu-hilir jadi lebih kompetitif. 
Ada strategi integral untuk pengembangan bioetanol di Indonesia?
Pemerintah menyediakan kemudahan untuk berinvestasi bidang bioenergi dari hulu 
ke hilir. Kuncinya kan ada investasi. Di hulu atau perkebunan, pada 2007 
pemerintah menyiapkan gelontoran kredit Rp25-triliun-Rp50-triliun melalui 
perbankan. Jika bunga 15%, petani hanya kena 10%. Berarti subsidi bunga 4-5% 
atau total Rp1-triliun. Pemerintah juga menyediakan insentif pajak berupa tax 
allowance bagi perusahaan yang mengembangkan baban bakar nabati. Jadi 30% 
investasi mengurangi pembayaran pajak. Selain itu ada kompensasi kerugian. Bila 
tahun pertama hingga ketiga rugi, tahun ke-4 untung, maka kerugian di 3 tahun 
pertama mengurangi pembayaran pajak pada tahun ke-4. 
Trubus beberapa kali menyelenggarakan pelatihan pengolahan bioetanol. Peserta 
membeludak dari berbagai kota dan akhirnya mempraktekkan. Bagaimana Anda 
melihat bergairahnya masyarakat memproduksi bioetanol?
Saya sangat surprise! Kalau saya tahu saya kirim banyak orang. Saya 
berterimakasih kepada teman-teman Trubus. Kalau basisnya singkong, adaptasinya 
luas dari dataran rendah hingga dataran tinggi Yahukimo, singkong dapat tumbuh. 
Petani juga mudah menanamnya. Untuk investasi di bawah Rp100-juta mudah 
dilakukan. Bulan lalu PLN kirim bibit 10.000 setek ke Kutai Timur.
Beberapa produsen khawatir menjual bioetanol karena cukai yang tinggi. 
Bagaimana koordinasi antardepartemen?
Kalau penjualan bioetanol itu bebas cukai. Seperti Molindo (produsen bioetanol 
di Malang, Jawa Timur, red) yang menjual bioetanol ke Pertamina itu bebas 
cukai, kecuali jika bioetanol dijual untuk nonbahan bakar. Produsen dapat 
melapor ke Departemen Energi Sumber Daya Mineral untuk mendapatkan izin. 
Produsen di daerah dapat memperoleh izin di dinas terkait seperti Dinas 
Perindustrian supaya tidak dianggap liar. Kita kan harus juga melindungi 
konsumen dan mencegah pengusaha nakal.
Jika serius menggalakkan bioetanol, pemerintah secara bertahap meningkatkan 
kadar campuran bioetanol dalam bahan bakar fosil. Mengapa itu tak dilakukan?
Pemerintah mengeluarkan aturan boleh mengoplos baik biodiesel maupun bioetanol 
sampai 10%. Ketika industri (kecil) di Cicurug, Sukabumi, mengoplos bioetanol 
ke dalam premium dan menjualnya, ia tak bisa ditangkap. Karena memang 
dibolehkan kalau sudah mendapatkan izin. Dulu kan ngga boleh. Jadi, untuk 
mengoplos bukan monopoli Pertamina. Petani di Lampung, Banten yang memproduksi 
bioetanol fuel grade, boleh mengoplos. Saat ini memang belum ada aturan wajib 
bagi Pertamina untuk meningkatkan kadar campuran. Pemerintah hanya wajib 
meningkatkan kadar energi terbarukan dari waktu ke waktu, angkanya belum 
dicantumkan. Namun, di undang-undang energi yang baru, yang akan dikeluarkan 
pada 2008, kewajiban, misalnya, 1% terhadap seluruh premium. 
Mutu bioetanol skala kecil-menengah sangat beragam. Bagaimana mekanisme 
sertifikasi untuk mengontrol kualitas?
Banyak lembaga terakreditasi yang bisa memberi sertifikasi seperti Lemigas, 
Sucofindo. Mudah kok.
Pertamina mensyaratkan volume pasokan bioetanol yang besar sehingga produsen 
kecil tak mampu melayani. Bagaimana idealnya rantai tataniaga?
Adanya pengepul memungkinkan. Itu mekanisme rantai tataniaga yang biasa. 
Industri kecil dapat menjual ke perusahaan perantara atau ke gudang 
penyimpanan. Kalau yang kecil-kecil menjual ke Pertamina kan repot. Namun, bisa 
juga tangki-tangki bensin mendatangi atau mendekati industri kecil sehingga 
bioetanol langsung digrojokin ke tangki. 
Jika volume tangki 8.000 liter langsung saja masukkan 800 liter. Sebanyak 800 
liter itu kan produksi 4 hari. Proses pencampurannya ketika mobil jalan. 
Syaratnya produsen harus menjaga mutu dan kelangsungan pasokan. Kami akan 
memfasilitasi agar tercipta mekanisme paling mudah bagi industri kecil yang 
memasok Pertamina tanpa perantara. Perantara itu kan biaya. Atau bisa juga 
langsung dikirim ke SPBU karena jaringan Pertamina luas.
Mungkinkah memberikan subsidi untuk bahan bakar nabati seperti yang diberikan 
kepada bahan bakar fosil?
Subsidi sangat bisa. Subsidi bahan bakar yang dikenal di APBN itu untuk 
mengikuti BBM misalnya harga Rp6.000 ya dibeli sesuai harga itu, tak lebih.
Harga beli Pertamina mengacu harga bahan bakar minyak di pasaran internasional?
Itu bisa sebagai acuan.
Pemerintah menargetkan penggunaan bahan bakar nabati secara bertahap: 2% pada 
2005-2010, kemudian 3%, 2011-2015, dan 5% 2016-2025. Melihat perkembangan 2 
tahun terakhir, Anda optimis target itu dapat dicapai?
Saya optimis. Bisa! Dari waktu ke waktu pasokan bahan bakar nabati makin besar, 
industri yang efisien, dan petani yang menanam komoditas dengan produksi 
tinggi. Apalagi nanti pada 2009 subsidi untuk bahan bakar minyak dikurangi 
sehingga mendekati harga pasar. Itu membuat bahan bakar nabati lebih mudah lagi.
Dengan mengurangi subsidi bahan bakar, meski cuma Rp100 per liter, memadai 
untuk meningkatkan campuran bioetanol 10% hanya dalam 2 tahun. Bagaimana Anda 
menilai ide itu? 
Saya kira bagus sekali. Subsidi dari energi kembali ke energi. 
Sebagian besar bahan baku bioetanol-jagung, sorgum, ubikayu-juga berfungsi 
sebagai bahan pangan. Apakah tidak terjadi konflik kepentingan antara pangan 
dan industri bioetanol?
Sebetulnya nggak-lah. Misalnya singkong. Kuncinya meningkatkan produktivitas. 
Dari 10 ton menjadi minimal 40 ton. Yang 10 ton untuk pakan, 30 ton untuk 
industri, ampas untuk pakan ternak. Ini industri yang terintegrasi dengan 
bagus. Saya tak khawatir terjadi konflik antara pangan dan industri energi. 
Contoh kelapasawit produksi 17-juta ton per tahun, kebutuhan kita 3,6 juta 
liter. Surplus besar sekali. Bahwa harga minyak goreng naik, bukan karena 
konflik bahan bakar nabati dan pangan, tetapi karena distribusi dan tataniaga 
yang jelek. 
Saat ini belum ada batasan produksi yang boleh diekspor dan harus dialokasikan 
untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri untuk menstabilkan pasokan energi di 
dalam negeri. Apakah nantinya ada regulasi khusus?
Kami mengusulkan 15-20% untuk keperluan domestik. Tapi itu diperlakukan 
fleksibel. Kita dapat mencontoh Brazil. Ketika harga bioetanol di pasar 
internasional lebih tinggi daripada harga bensin, ia mengekspor bioetanol 
besar-besaran. Brazil mengimpor bensin untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri 
sehingga dapat surplus devisa. Ketika harga bioetanol lebih rendah, ia lebih 
banyak menggunakan bioetanol dalam negeri. Jadi fleksibel. Di Indonesia banyak 
investor mengadakan kontrak jangka panjang dengan pasar luar negeri. Jika tak 
ada ketentuan itu, produksi mereka lari ke luar negeri. Kita tak punya alat 
untuk membeli prodk bahan bakar nabati dari luar negeri. 'Eh kalian (para 
investor/produsen, red) wajib memasok kebutuhan.' 
Sebagai ketua Tim Nasional Bahan Bakar Nabati, apa kendala yang Anda hadapi?
Banyak keluhan soal urusan lahan. Banyak perizinan lahan yang tumpang tindih. 
Banyak izin tahun-tahun lalu tidak dimanfaatkan dan tak bisa dicabut begitu 
saja. Oleh karena itu bupati sedang menginventarisir lahan yang sudah diberi 
izin lokasi, tetapi belum digarap sehingga nanti dapat dicabut dan diberikan 
kepada pengusaha yang serius. Pengusaha itu juga dilihat ada ngga riwayat 
pembalakan liar. Masalah lain infrastruktur. Banyak daerah yang 
infrastrukturnya minim.
Peran Anda strategis untuk mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati. Apa upaya 
Anda?
Dalam penyusunan Undang-undang Energi yang baru, kami mengusulkan agar pasal 
dalam menentukan wajib mencampur dengan bahan bakar nabati itu diperjelas. Di 
Filipina undang-undang bahan bakar nabati menyebutkan, '? satu tahun sejak 
diundangkan, maka minimum1% bahan bakar nabati dalam campuran bahan bakar 
minyak dijual oleh SPBU-SPBU. Undang-undang kita hanya menyebutkan, wajib 
meningkatkan dari waktu ke waktu. Wajibnya berapa? Sepuluh persen? Atau satu 
tetes? Indonesia kalau bikin aturan sering nanggung. Harus menuggu juklak, 
juklaknya lama lagi.*** 

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam?  Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam  
http://id.mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke