YTH Rekan2 Agromania

FYI,
1. terlampir disampikan development energi alternatif di tanah air
diambil dari gatra online hari ini

2. Salah satu industry teknology seperti ini di Europe, beberapa bulan
yang lalu "amblas" jutaan Euros karena ganggang nya terkontaminasi
,....jadi teknology nya belum proven,.. masih tials & errors

cheers
Riksanagara
________________________________

DIREKTORI AGROBISNIS ABC:
http://www.direktoriabc.co.cc
MAU GABUNG? ISI FORMULIR DI:
http://www.formulirabc.co.cc
_______________________________

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Energi Alternatif
Generasi Ketiga BBM dari Kolam Hijau

Mujizat Kawaroe di Kolam Pembiakan Ganggang Renik (GATRA/Syamsul
Hidayat)Sebuah kolam berkuran 5 x 18 meter terhampar di belakang
kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), Baranangsiang, Bogor. Di dalam
kolam ada lima unit bak yang diletakkan berjejer tertutup kaca. Airnya
menghijau seperti dipenuhi lumut tebal. Toh, Ir. Mujizat Kawaroe, MSi,
43 tahun, dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas
Perikanan IPB, betah berlama-lama di sana. Ia sedang melakukan
penelitian tentang bioenergi.

Kolam berukuran 5 x18 meter itu sebenarnya lokasi uji coba pembiakan
ganggang renik. "Budi daya" ganggang itu dilakukan tim peneliti
Surfactan and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB, tempat Mujizat
menjadi salah satu anggotanya. Boleh jadi, kolam itu ikut menentukan
masa depan ketersediaan bahan bakar alternatif di Indonesia.

Mujizat dan rekan-rekan timnya sedang mengembangkan bahan bakar energi
alternatif dari ganggang renik. Karena itu, ganggang justru dibiarkan
tumbuh subur. Inilah bioteknologi yang sedang giat dikembangkan para
ahli; membiakkan ganggang renik (mikroalga) untuk diubah menjadi
biofuel. Warna hijau di bak-bak budi daya Mujizat itu adalah warna
ganggang, bukan lumut.

Mikroalga adalah koloni tumbuhan renik yang hidup di seluruh wilayah
perairan tawar, payau, ataupun yang asin (laut). Ganggang mikro yang
tak kasatmata itu lazim disebut fitoplankton. ''Mikroalga pada saat
ini menjadi salah satu sumber energi baru alternatif yang sangat
potensial,'' kata Mujizat. Sejauh ini, para ahli mengenal setidaknya
empat kelompok utama mikroalga yang potensial dapat diolah menjadi
biofuel. Yakni diatom (Bacillariophyceae), ganggang hijau
(Chlorophyceae), ganggang emas (Chrysophyceae), dan ganggang biru
(Cyanophyceae).

''Keempatnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku biofuel,'' tutur
Mujizat. Tentu saja, ketika bumi dilanda krisis energi, cara apa pun
bakal ditempuh ilmuwan untuk mengatasinya. Sebagai ahli tumbuhan laut,
Mujizat memilih meneliti dan mengembangkan mikrogalga sebagai energi
alternatif sejak 2005.

Mikroalga memenuhi kriteria untuk dapat dibudidayakan sebagai
penghasil BBM (bahan bakar minyak). ''Kandungan minyaknya tinggi,
tahan perubahan lingkungan, dan memiliki laju pertumbuhan tinggi,''
kata Mujizat. Pembiakan mikrogalga juga sedang dilakukan di banyak
negeri, seperti di Amerika Serikat, Spanyol, Jerman, dan Belanda
(lihat: Bakteri, Bahan Bakar Masa Depan). ''Tapi, di luar negeri,
pengembangannya kurang optimal karena kurang sinar matahari yang
penting untuk pertumbuhan alga,'' ujar Mujizat.

Awalnya, Mujizat melakukan penelitian sendiri dengan membiakkan
ganggang di belakang gedung SBRC IPB. Karena belum ada sponsor, ia
terpaksa memakai honor penelitiannya untuk biaya. ''Totalnya mencapai
Rp 150 juta. Mula-mula ini memang penelitian pribadi,'' kata Mujizat.
Lama-kelamaan, ada satu-dua sponsor yang datang membantu. PT Freeport
Indonesia, misalnya, menyumbang koleksi mikroalga dari perairan
Arafura, Papua.

Selain Arafura, Mujizat juga meneliti mikroalga lainnya dari sejumlah
perairan, seperti di Kepulauan Seribu, perairan Manado, hingga Pulau
Batam, selama dua tahun terakhir. Sejauh ini, ia menemukan setidaknya
11 jenis mikroalga. Yang dianggapnya potensial sebagai penghasil bahan
bakar nabati adalah Chlorella, yang memiliki kandungan minyak mentah
(crude alga oil) mencapai 32%, Dunaliella (23%), Isochrysis galbana
(35%), dan Nannochloropsis oculata (68%).

Tahap selanjutnya adalah membiakkan jasad renik tersebut. Walaupun
cepat tumbuh, membiakkan ganggang yang berkualitas baik tidaklah
gampang. Awalnya, bibit-bibit ganggang renik itu disimpan dalam
botol-botol pireks di ruangan khusus berukuran 2 x 2 meter. Suhu
ruangan diatur mencapai 18 derajat celsius, yang diterangi dengan
beberapa lampu neon berdaya 20 watt. ''Ini agar bibit-bibit itu tak
terkontaminasi unsur lain,'' tutur Mujizat. Pada kondisi ini, mikroba
lain tertekan, sedangkan mikroalga berkembang.

Hingga tahap ini, menurut Mujizat, jumlah sel alga yang tumbuh relatif
sedikit, yakni 2-5 juta sel per cc. Padahal, kondisi ideal untuk
disemai, kepadatan selnya harus mencapai 10-20 juta sel per cc.
''Kondisi itu bisa tercapai pada kisaran waktu empat hingga tujuh
hari,'' kata Mujizat.

Nah, pada tahap ini harus hati-hati. Soalnya, setelah mencapai
perkembangan optimum, grafik pertumbuhan alga itu cepat menurun. Kalau
dibiarkan, mereka akan mati sendiri. ''Karena itulah, grafik
pertumbuhannya harus selalu dipantau melalui pengecekan jumlah selnya
setiap hari,'' ujar Mujizat.

Waktu pembiakan bibit yang ideal, menurut Mujizat, adalah sore hari.
Ini agar agar alga bisa menyesuaikan diri dengan iklim di luar sebelum
berfotosintesis dengan pencahayaan sinar matahari. ''Kalau pagi hari,
alga belum sempat menyesuaikan diri dengan iklim. Jika langsung
terkena sinar matahari, bisa mati,'' kata Mujizat.

Setelah jumlah sel bibit berkembang sempurna, tiba waktunya untuk
disemai di kolam. Untuk mencapai hasil optimal, takaran jumlah bibit
adalah sekitar 10 liter untuk air 100 liter di kolam pembiakan.
''Suhunya diatur sekitar 28 derajat celsius, dengan keasaman (pH) 6-7
dan kedalaman kolam 20-40 sentimeter,'' tutur Mujizat.

Setelah sepekan hingga 10 hari, ganggang renik siap dipanen. Dari 1
ton panen akan diperoleh 1 liter natan, berwujud pasta yang masih
mengandung 85% air. ''Setelah dikeringkan, alga selanjutnya
diekstraksi dengan pelarut hexan atau diethyl ether, tergantung jenis
alganya,'' kata Mujizat. Selanjutnya ekstraksi ini menghasilkan minyak
alga, yang setelah diolah dapat menghasilkan biofuel (lihat grafik).
Hasil residu minyak alga pun dapat diproses menjadi bioethanol dan
pakan ternak.

Inilah sejumlah kelebihan budi daya mikroalga. Proses pengolahan
minyak alga sangat ramah lingkungan. Ketika tumbuh, mikroalga hanya
memerlukan karbondioksida (CO2). Pertumbuhannya meningkat 2,5 kali
jika ke dalam air tempat pembiakan dipasok CO2. Untuk kolam budi daya
mikroalga berukuran sekitar 5 meter kubik, diperlukan 1 kilogram CO2
setiap hari. Jadi, sampai masa panen selama 10 hari, dibutuhkan 10
kilogram CO2.

Mujizat melihat, kultivasi mikroalga berpeluang mengatasi masalah
pemanasan global. ''Budi daya mikroalga ini dapat saja bekerja sama
dengan pabrik untuk diserap gas karbonnya,'' tutur Mujizat. Cerobong
pabrik yang kaya CO2 dari hasil pembakaran BBM-nya bisa didaur ulang.

Tak hanya itu. Mikroalga pun lebih efektif menghasilkan biofuel jika
dibandingkan dengan kultivasi lainnya di darat. Menurut kalkulasi
Mujizat, pada 1 hektare ladang minyak bumi rata-rata hanya bisa
disedot 0,83 barel minyak per hari, sampai kemudian habis dan tak
berproduksi lagi. Sedangkan pada luas yang sama, budi daya mikroalga
menghasilkan 2 barel bahan bakar.

Kolam mikroalga itu lebih produktif karena ganggang termasuk jenis
tumbuhan berklorofil yang sangat efisien mengonversi cahaya matahari
yang diserapnya menjadi senyawa hidrokarbon. Dalam proses yang cepat,
senyawa tadi diubah menjadi senyawa minyak.

Tapi yang masih menjadi perhatian Mujizat adalah stabilitas produksi
mikroalga. ''Tingkat produktivitasnya rata-rata masih rendah. Perlu
penelitian mendalam untuk meningkatkan produktivitasnya,'' kata
Mujizat. Dalam konteks ini, tak tertutup kemungkinan dilakukan
rekayasa genetik untuk menghasilkan mikroalga yang lebih efisien
mengonversi radiasi matahari menjadi hidrokarbon.

Lebih jauh, agar bahan bakar ganggang renik ini bisa dinikmati
masyarakat luas, tentu diperlukan banyak penyesuaian lagi. Apakah
kelak mampu menggantikan minyak bumi? Tentu banyak yang berharap
demikian, termasuk PT Diatoms Cell Bioenergy. Walaupun pengembangan
mikroalga itu masih dalam tahap penelitian, Diatoms sudah berani
berinvestasi.

Perusahaan itu sepakat membiayai penelitian mikroalga hingga membuat
suatu pilot project yang akan dilaksanakan pada 2011, sejak Agustus
lalu. ''Prospek dan nilai ekonomis pengembangan biofuel mikroalga
sangat menjanjikan di Indonesia,'' kata Direktur Utama PT Diatoms,
Dudy Christian. Apalagi, iklim tropis Indonesia sangat mendukung budi
daya mikroalga.

Soal pengolahan mikroalga, Diatoms memang sudah berpengalaman. ''Grup
perusahaan kami yang lain sudah bergerak dalam bisnis pengolahan
ganggang BBM ini,'' kata Suryanto, Direktur PT Diantoms. Yakni dalam
hal penyediaan peralatan budi daya, pengolahan biofuel, dan sebagainya.

Karena itulah, setelah melalui kajian mendalam sejak delapan bulan
lalu, Diatoms mantap untuk terjun ke bisnis ganggang BBM ini. ''Modal
investasi awal mencapai US$ 700.000. Jumlah ini akan bertambah sesuai
dengan kondisi di lapangan,'' ujar Suryanto. Suatu kawasan seluas 1
hektare di Cimalaya, Sukabumi, Jawa Barat, telah disediakan untuk budi
daya mikroalga.

Selain itu, PT Diatoms juga berencana membuka sejumlah lahan lainnya
di Pulau Jawa dan Kalimantan. ''Kami sudah berdiskusi dengan beberapa
gubernur, dan respons mereka bagus,'' kata Suryanto kepada wartawan
Gatra Antonius Un Taolin.

Targetnya, dalam waktu lima tahun sejak sekarang, dapat didirikan
pabrik percontohan BBM mikroalga. Setelah itu, bahan bakar yang sering
disebut ''minyak generasi ketiga'' ini dapat diuji coba pada kendaraan
bermotor. Masyarakat pun dapat menikmati minyak ramah lingkungan ini.
Seperti minyak nabati lainnya, BBM mikroalga itu juga tak menyebabkan
pertambahan gas rumah kaca di atmosfer. Sebab jumlah karbon yang
dilepaskan akan sama dengan jumlah karbon yang diserap dalam proses
budi dayanya.

Nur Hidayat dan Syamsul Hidayat
[Ilmu dan Teknologi, Gatra Nomor 49 Beredar Kamis, 16 Oktober 2008]

Kirim email ke