On 10/25/08, riksanagara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> YTH Rekan2 Agromania
>
> FYI,
> 1. terlampir disampikan development energi alternatif di tanah air
> diambil dari gatra online hari ini
>
> 2. Salah satu industry teknology seperti ini di Europe, beberapa bulan
> yang lalu "amblas" jutaan Euros karena ganggang nya terkontaminasi
> ,....jadi teknology nya belum proven,.. masih tials & errors
>
> cheers
> Riksanagara
> ________________________________
>
> DIREKTORI AGROBISNIS ABC:
> http://www.direktoriabc.co.cc
> MAU GABUNG? ISI FORMULIR DI:
> http://www.formulirabc.co.cc
> _______________________________
>
> ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
>       
> Energi Alternatif
> Generasi Ketiga BBM dari Kolam Hijau
>
> Mujizat Kawaroe di Kolam Pembiakan Ganggang Renik (GATRA/Syamsul
> Hidayat)Sebuah kolam berkuran 5 x 18 meter terhampar di belakang
> kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), Baranangsiang, Bogor. Di dalam
> kolam ada lima unit bak yang diletakkan berjejer tertutup kaca. Airnya
> menghijau seperti dipenuhi lumut tebal. Toh, Ir. Mujizat Kawaroe, MSi,
> 43 tahun, dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas
> Perikanan IPB, betah berlama-lama di sana. Ia sedang melakukan
> penelitian tentang bioenergi.
>
> Kolam berukuran 5 x18 meter itu sebenarnya lokasi uji coba pembiakan
> ganggang renik. "Budi daya" ganggang itu dilakukan tim peneliti
> Surfactan and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB, tempat Mujizat
> menjadi salah satu anggotanya. Boleh jadi, kolam itu ikut menentukan
> masa depan ketersediaan bahan bakar alternatif di Indonesia.
>
> Mujizat dan rekan-rekan timnya sedang mengembangkan bahan bakar energi
> alternatif dari ganggang renik. Karena itu, ganggang justru dibiarkan
> tumbuh subur. Inilah bioteknologi yang sedang giat dikembangkan para
> ahli; membiakkan ganggang renik (mikroalga) untuk diubah menjadi
> biofuel. Warna hijau di bak-bak budi daya Mujizat itu adalah warna
> ganggang, bukan lumut.
>
> Mikroalga adalah koloni tumbuhan renik yang hidup di seluruh wilayah
> perairan tawar, payau, ataupun yang asin (laut). Ganggang mikro yang
> tak kasatmata itu lazim disebut fitoplankton. ''Mikroalga pada saat
> ini menjadi salah satu sumber energi baru alternatif yang sangat
> potensial,'' kata Mujizat. Sejauh ini, para ahli mengenal setidaknya
> empat kelompok utama mikroalga yang potensial dapat diolah menjadi
> biofuel. Yakni diatom (Bacillariophyceae), ganggang hijau
> (Chlorophyceae), ganggang emas (Chrysophyceae), dan ganggang biru
> (Cyanophyceae).
>
> ''Keempatnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku biofuel,'' tutur
> Mujizat. Tentu saja, ketika bumi dilanda krisis energi, cara apa pun
> bakal ditempuh ilmuwan untuk mengatasinya. Sebagai ahli tumbuhan laut,
> Mujizat memilih meneliti dan mengembangkan mikrogalga sebagai energi
> alternatif sejak 2005.
>
> Mikroalga memenuhi kriteria untuk dapat dibudidayakan sebagai
> penghasil BBM (bahan bakar minyak). ''Kandungan minyaknya tinggi,
> tahan perubahan lingkungan, dan memiliki laju pertumbuhan tinggi,''
> kata Mujizat. Pembiakan mikrogalga juga sedang dilakukan di banyak
> negeri, seperti di Amerika Serikat, Spanyol, Jerman, dan Belanda
> (lihat: Bakteri, Bahan Bakar Masa Depan). ''Tapi, di luar negeri,
> pengembangannya kurang optimal karena kurang sinar matahari yang
> penting untuk pertumbuhan alga,'' ujar Mujizat.
>
> Awalnya, Mujizat melakukan penelitian sendiri dengan membiakkan
> ganggang di belakang gedung SBRC IPB. Karena belum ada sponsor, ia
> terpaksa memakai honor penelitiannya untuk biaya. ''Totalnya mencapai
> Rp 150 juta. Mula-mula ini memang penelitian pribadi,'' kata Mujizat.
> Lama-kelamaan, ada satu-dua sponsor yang datang membantu. PT Freeport
> Indonesia, misalnya, menyumbang koleksi mikroalga dari perairan
> Arafura, Papua.
>
> Selain Arafura, Mujizat juga meneliti mikroalga lainnya dari sejumlah
> perairan, seperti di Kepulauan Seribu, perairan Manado, hingga Pulau
> Batam, selama dua tahun terakhir. Sejauh ini, ia menemukan setidaknya
> 11 jenis mikroalga. Yang dianggapnya potensial sebagai penghasil bahan
> bakar nabati adalah Chlorella, yang memiliki kandungan minyak mentah
> (crude alga oil) mencapai 32%, Dunaliella (23%), Isochrysis galbana
> (35%), dan Nannochloropsis oculata (68%).
>
> Tahap selanjutnya adalah membiakkan jasad renik tersebut. Walaupun
> cepat tumbuh, membiakkan ganggang yang berkualitas baik tidaklah
> gampang. Awalnya, bibit-bibit ganggang renik itu disimpan dalam
> botol-botol pireks di ruangan khusus berukuran 2 x 2 meter. Suhu
> ruangan diatur mencapai 18 derajat celsius, yang diterangi dengan
> beberapa lampu neon berdaya 20 watt. ''Ini agar bibit-bibit itu tak
> terkontaminasi unsur lain,'' tutur Mujizat. Pada kondisi ini, mikroba
> lain tertekan, sedangkan mikroalga berkembang.
>
> Hingga tahap ini, menurut Mujizat, jumlah sel alga yang tumbuh relatif
> sedikit, yakni 2-5 juta sel per cc. Padahal, kondisi ideal untuk
> disemai, kepadatan selnya harus mencapai 10-20 juta sel per cc.
> ''Kondisi itu bisa tercapai pada kisaran waktu empat hingga tujuh
> hari,'' kata Mujizat.
>
> Nah, pada tahap ini harus hati-hati. Soalnya, setelah mencapai
> perkembangan optimum, grafik pertumbuhan alga itu cepat menurun. Kalau
> dibiarkan, mereka akan mati sendiri. ''Karena itulah, grafik
> pertumbuhannya harus selalu dipantau melalui pengecekan jumlah selnya
> setiap hari,'' ujar Mujizat.
>
> Waktu pembiakan bibit yang ideal, menurut Mujizat, adalah sore hari.
> Ini agar agar alga bisa menyesuaikan diri dengan iklim di luar sebelum
> berfotosintesis dengan pencahayaan sinar matahari. ''Kalau pagi hari,
> alga belum sempat menyesuaikan diri dengan iklim. Jika langsung
> terkena sinar matahari, bisa mati,'' kata Mujizat.
>
> Setelah jumlah sel bibit berkembang sempurna, tiba waktunya untuk
> disemai di kolam. Untuk mencapai hasil optimal, takaran jumlah bibit
> adalah sekitar 10 liter untuk air 100 liter di kolam pembiakan.
> ''Suhunya diatur sekitar 28 derajat celsius, dengan keasaman (pH) 6-7
> dan kedalaman kolam 20-40 sentimeter,'' tutur Mujizat.
>
> Setelah sepekan hingga 10 hari, ganggang renik siap dipanen. Dari 1
> ton panen akan diperoleh 1 liter natan, berwujud pasta yang masih
> mengandung 85% air. ''Setelah dikeringkan, alga selanjutnya
> diekstraksi dengan pelarut hexan atau diethyl ether, tergantung jenis
> alganya,'' kata Mujizat. Selanjutnya ekstraksi ini menghasilkan minyak
> alga, yang setelah diolah dapat menghasilkan biofuel (lihat grafik).
> Hasil residu minyak alga pun dapat diproses menjadi bioethanol dan
> pakan ternak.
>
> Inilah sejumlah kelebihan budi daya mikroalga. Proses pengolahan
> minyak alga sangat ramah lingkungan. Ketika tumbuh, mikroalga hanya
> memerlukan karbondioksida (CO2). Pertumbuhannya meningkat 2,5 kali
> jika ke dalam air tempat pembiakan dipasok CO2. Untuk kolam budi daya
> mikroalga berukuran sekitar 5 meter kubik, diperlukan 1 kilogram CO2
> setiap hari. Jadi, sampai masa panen selama 10 hari, dibutuhkan 10
> kilogram CO2.
>
> Mujizat melihat, kultivasi mikroalga berpeluang mengatasi masalah
> pemanasan global. ''Budi daya mikroalga ini dapat saja bekerja sama
> dengan pabrik untuk diserap gas karbonnya,'' tutur Mujizat. Cerobong
> pabrik yang kaya CO2 dari hasil pembakaran BBM-nya bisa didaur ulang.
>
> Tak hanya itu. Mikroalga pun lebih efektif menghasilkan biofuel jika
> dibandingkan dengan kultivasi lainnya di darat. Menurut kalkulasi
> Mujizat, pada 1 hektare ladang minyak bumi rata-rata hanya bisa
> disedot 0,83 barel minyak per hari, sampai kemudian habis dan tak
> berproduksi lagi. Sedangkan pada luas yang sama, budi daya mikroalga
> menghasilkan 2 barel bahan bakar.
>
> Kolam mikroalga itu lebih produktif karena ganggang termasuk jenis
> tumbuhan berklorofil yang sangat efisien mengonversi cahaya matahari
> yang diserapnya menjadi senyawa hidrokarbon. Dalam proses yang cepat,
> senyawa tadi diubah menjadi senyawa minyak.
>
> Tapi yang masih menjadi perhatian Mujizat adalah stabilitas produksi
> mikroalga. ''Tingkat produktivitasnya rata-rata masih rendah. Perlu
> penelitian mendalam untuk meningkatkan produktivitasnya,'' kata
> Mujizat. Dalam konteks ini, tak tertutup kemungkinan dilakukan
> rekayasa genetik untuk menghasilkan mikroalga yang lebih efisien
> mengonversi radiasi matahari menjadi hidrokarbon.
>
> Lebih jauh, agar bahan bakar ganggang renik ini bisa dinikmati
> masyarakat luas, tentu diperlukan banyak penyesuaian lagi. Apakah
> kelak mampu menggantikan minyak bumi? Tentu banyak yang berharap
> demikian, termasuk PT Diatoms Cell Bioenergy. Walaupun pengembangan
> mikroalga itu masih dalam tahap penelitian, Diatoms sudah berani
> berinvestasi.
>
> Perusahaan itu sepakat membiayai penelitian mikroalga hingga membuat
> suatu pilot project yang akan dilaksanakan pada 2011, sejak Agustus
> lalu. ''Prospek dan nilai ekonomis pengembangan biofuel mikroalga
> sangat menjanjikan di Indonesia,'' kata Direktur Utama PT Diatoms,
> Dudy Christian. Apalagi, iklim tropis Indonesia sangat mendukung budi
> daya mikroalga.
>
> Soal pengolahan mikroalga, Diatoms memang sudah berpengalaman. ''Grup
> perusahaan kami yang lain sudah bergerak dalam bisnis pengolahan
> ganggang BBM ini,'' kata Suryanto, Direktur PT Diantoms. Yakni dalam
> hal penyediaan peralatan budi daya, pengolahan biofuel, dan sebagainya.
>
> Karena itulah, setelah melalui kajian mendalam sejak delapan bulan
> lalu, Diatoms mantap untuk terjun ke bisnis ganggang BBM ini. ''Modal
> investasi awal mencapai US$ 700.000. Jumlah ini akan bertambah sesuai
> dengan kondisi di lapangan,'' ujar Suryanto. Suatu kawasan seluas 1
> hektare di Cimalaya, Sukabumi, Jawa Barat, telah disediakan untuk budi
> daya mikroalga.
>
> Selain itu, PT Diatoms juga berencana membuka sejumlah lahan lainnya
> di Pulau Jawa dan Kalimantan. ''Kami sudah berdiskusi dengan beberapa
> gubernur, dan respons mereka bagus,'' kata Suryanto kepada wartawan
> Gatra Antonius Un Taolin.
>
> Targetnya, dalam waktu lima tahun sejak sekarang, dapat didirikan
> pabrik percontohan BBM mikroalga. Setelah itu, bahan bakar yang sering
> disebut ''minyak generasi ketiga'' ini dapat diuji coba pada kendaraan
> bermotor. Masyarakat pun dapat menikmati minyak ramah lingkungan ini.
> Seperti minyak nabati lainnya, BBM mikroalga itu juga tak menyebabkan
> pertambahan gas rumah kaca di atmosfer. Sebab jumlah karbon yang
> dilepaskan akan sama dengan jumlah karbon yang diserap dalam proses
> budi dayanya.
>
> Nur Hidayat dan Syamsul Hidayat
> [Ilmu dan Teknologi, Gatra Nomor 49 Beredar Kamis, 16 Oktober 2008]
>
>

-- 
Sent from my mobile device

Kirim email ke