Terima kasih boss Tony atas penjelasannya. Bukan menggurui, melainkan apa yang boss Tony sampaikan pasti merupakan suatu info yang kita perlukan.
Saya saat ini sih posisinya cuman coba-coba piara sapi dengan sistem paron, yang saya pikir resikonya juga gede. Tetapi sebelumnya saya sudah tanya sana-sini mengenai sapi, sampai pada akhirnya mendapat kesimpulan bahwa ternyata penggemukan sapi ini profit marginnya sangat tipis, terutama bila kita tidak mendapatkan pakan dengan harga yang 'dibanting'. Di daerah probolinggo, tempat saya paron, adalah sentra sapi perah. Disini, akibatnya, hijauan menjadi 'langka' dimusim kering, karena berebut dengan sapi perah. Di gunung sana, triknya adalah menyewa lahan eks perhutani untuk ditanami jagung atau rumput (disela-sela pohon jati). Tapi tetap saja kalo dihitung hijauan kalau beli, biayanya gak masuk. Jadi saya tertarik dengan teknologi pengawetan hijauan ini. Jadi bisa beli murah di musim hujan. Sekarang dengan asumsi bahwa kita punya lahan sendiri yang bisa kita tanami hijauan, nah kira-kira untung mana bila: 1. Lahan ditanami jagung, limbah daun/batang diambil, dan kemudian jagungnya dijual. Mumpung jual jagung gampang sekarang? Tentu saja kita perlu keluarin biaya u/ tanam jagung tadi (pupuk, buruh, bibit, dlsb.). Kita harap dapat keuntungan di jagung, lah limbahnya gratis gitu. Berapa ton limbah hijauan per hektar? 2. Ditanami rumput, dimana rumput itu bisa tumbuh terus menerus setelah dipotong. Dan tentunya ada sedikit biaya u/ pemupukan. Disini kerugiannya ya rumput cuman buat sapi saja, kita gak bisa dapat apa-apa. Berapa ton rumput bisa didapat? ATAU malah: 3. Lebih untung beli saja semua, kemudian diawetkan, daripada tanam semuanya sendiri? Nah ini menarik, kalo bisa dilihat itung2annya. Sekali lagi, maaf kalo ada kata2 yang salah, saya pingin banget belajar dari boss disini mengenai ini.. Dulu saya penasaran dengan boss Edhy yang bisa kasih pakan sapi sehari rp. 5000 (kalo ga salah). Wah profitnya bisa gede tuh.. salam, Gunawan --------------------------------------- AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC) INFORMASI:http://www.agromania.co.cc FORMULIR:http://www.formulirabc.co.cc DIREKTORI:http://www.direktoriabc.co.cc --------------------------------------- --- In [email protected], tony sapi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Para Boss SAPI'er yth, > Kalau di hitung satu kali jalan atau "single cycle", perhitungan nanam jagung kemudian batang dan daunnya di pakai untuk silage, memang untung. > Karena dengan menanam jagung saja, kita sudah dapat untung bukan. Daun dan batangnya sebagai tambahan pendapatan. Ok lah lumayan. > Untuk putaran berikutnya , berapa lama anda harus menunggu untuk menanam jagung ulang, belum lagi biayanya. Terkecuali anda menanam sendiri dengan mengerjakan sendiri, tanpa membayar tenaga buruhnya. > Silahkan hitung dengan pembanding berikut: > Biarlah petani lain yang menanam jagung, kita yang membeli limbahnya, yg berupa daun dan batang jagung, untuk kita buat silage. > Dengan demikian jumlah bahan silage relative tak terbatas, dan tersedia setiap saat. Syaratnya kita harus rajin keluar masuk perkebunan petani lain, beli kontrak sejak dini agar harganya murah. > Pembanding kedua adalah dengan  menanam rumput sendiri, untuk langsung diberikan sebagai pakan dan untuk di buat silage. Sehabis panen rumput, kita tidak keluar biaya lagi untuk menanamnya, hanya menunggu sampai rumputnya tumbuh kembali. > Dengan cara ini, kendala utamanya hanya "waktu", menyiasatinya dapat dilakukan dengan banyak cara yang antara lain: > * Lakukan penanaman secara bertahap, dengan jarak waktu tanamnya disesuaikan dengan ketersediaan lahan dan lama tumbuhnya rumput (ROG=rate of growth) > * Menanamnya di lahan mati milik petani lain, seperti di sela-sela saluran air, pagar kebun/rumah dll. Tanpa di sadari karena tidak pernah di perhatikan, yang namanya lahan mati ini sebetulnya sangat amat luas. Jika anda pernah menjadi tukang ngarit seperti saya ini, maka anda akan mudah memahaminya, karena saat ngarit rumput - pada lokasi-lokasi tersebutlah yang paling banyak dan baik kualitas rumputnya (tidak pernah di injak orang dll). > Penjelasan saya tersebut di atas, di dasari oleh satu syarat, yaitu "keluarlah dari lingkungan anda" atau bahasa kotanya sih "out of the box", jika kita terkungkung oleh kenyamanan kita untuk berupaya di lingkungan sendiri, kadang segala sesuatunya nampak serba terbatas. Konsekuensinya kita harus mempunyai daya angkut yang bisa menjelajah ke lingkungan lain. >  > Mohon maaf bukanlah saya berniat mengajari para Boss SAPI'er yang terhormat, apa yang saya utarakan hanyalah salah satu pengalaman pribadi dalam mengatasi kesulitan hijauan di lingkungan internal peternakan ndeso kami dahulu kala. > Terimakasih dan salam hormat >  > TONY_SAPI > http://sapiology.com > http://tonysapi.multiply.com > > --------------------------------------- > AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC) > INFORMASI:http://www.agromania.co.cc > FORMULIR:http://www.formulirabc.co.cc > DIREKTORI:http://www.direktoriabc.co.cc > --------------------------------------- > >

