Betul sekali Pak... Ikutan nebeng pak, pemilihan jenis yang tepat sangat mempengaruhi keberhasilan penanaman rehabilitasi (penghijauan dan reboisasi). Sangat tidak menarik bagi masyarakat untuk menanam pohon, jika pohon yang ditanam (menurut perspektif masyarakat) tidak menguntungkan baginya di masa datang.
Mengalaman kami dalam penanaman pohon untuk konservasi dan restorasi di DTA Danau Toba, masyarakat sangat berkeinginan menanam secara sukerala (tanpa adanya uang tanam) jika pohon yang ditanam memiliki nilai ekonomi tinggi (misal ingul/suren dan pada daerah di sekitar pantai dengan gaharu/alim). Kedua jenis ini (ingul dan gaharu) juga menarik karena tidak termasuk jenis-jenis yang 'dikhatirkan' masyarakat jika ditanam maka tegakan dan lahannya nanti 'diklaim' sebagai kawasan hutan. Dengan prospek yang cukup baik tersebut, kedua jenis ini sangat disarankan ditanam pada kawasan hutan rakyat/ lahan milik. Dengan teknologi inokulasi yang telah dikuasai, peningkatan nilai ekonomi dari pohon alim/gaharu sangat dimungkinkan. Walaupun sebetulnya telah diketahui potensi gaharu sejak lama, secara luas pengembangan gaharu terasa gencar akhir-akhir ini. Kebetulan juga suami saya (bekerja di litbang kehutanan regional sumatera di Aek Nauli-Parapat) beberapa tahun yang menanam dan mengembangkan gaharu pada hutan penelitian dan hutan rakyat di Tapanuli Selatan dan Aceh Selatan, dan dari segi pertumbuhannya cukup baik. Kondisi ini mendorong kami untuk menyebarluaskannya terutama untuk kegiatan hutan rakyat. Pada awalnya kami cukup 'gemas' dengan harga bibit yang tinggi (karena tidak memberi insentif bagi masyarakat untuk menanam) sehingga kami menyembangkan persemaian gaharu dengan harga murah dan terjangkau. Kami sangat mendukung segenap usaha yang bertujuan untuk memulihkan hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari sumberdaya hutan. Salam, Cut Rizlani website : http://www.laksmananursery.blogspot.com email : [email protected]

