Politik dan Pangan
Berita kompas tanggal 24/8 dimana kebutuhan import produk pangan
mencapai USD 5 miliar pertahun. Namun dari segi beras pemerintah dapat
berbangga karena berhasil mencapai swasembada. Benarkah ? Sejak tahun
1984 Indonesia tidak pernah mencapai swasembada beras. Publikasi soal
swasembada ini tidak lebih hanya jargon politik untuk meningkatkan citra
pemerintah dihadapan rakyat. Berdasarkan perhitungan produksi nasional,
swasembada itu termasuk sisa stock beras import yang ada digudang Bulog.
Keliatannya rakyat cepat lupa soal hebatnya Bulog melakukan inport tahun
tahun sebelumnya. Buktinya, tahun ini, Indonesia kembali berencana
mengimpor beras, karena alasan produksi dalam negeri diprediksi jauh
berada di bawah kebutuhan nasional akibat kemungkinan badai El Nino.
Padahal menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika,
diperkirakan dampak El Nino masih kecil, namun pemerintah telah
menyiapkan anggaran sebesar Rp 2 triliun untuk mengantisipasi masalah
ini.


Kebutuhan akan produk pangan lainnya yang masih tergantung import lebih
disebabkan kebijakan pemerintah tidak comprehensive. Pemain atau
importir sangat kuat pengaruh lobynya kepada penguasa untuk
memingigirkan rakyat agar lemah berproduksi.. Petani sapi perah
mendulang nestapa karena kalah bersaing dengan susu import. Siapa pemain
industri susu itu ? Sebagian besar asing yang menyerap 70% impor susu.
Tanpa ada alternatif pasar, posisi peternak sapi perah akan selalu
lemah. Sejak tahun 2001 hingga 2006, susu segar peternak selalu dibeli
IPS dengan harga jauh di bawah harga bahan baku susu impor setara susu
segar. Sementara itu, ketika harga susu impor melambung tahun 2007/2008,
kenaikan harga beli susu segar dalam negeri tidak setinggi susu impor.
Justru pemerintah memberikan facilitas bebas bea masuk bagi importir
susu segar. Petani sapi perah semakin tak punya bargain untuk
memperbaiki harga ditengah kekuatan pasar yang dikuasai segelintir
pemain.

Kedelai, kita tidak mungkin bisa swasembada. Karena loby senat AS sangat
kuat membuat pemerintah tidak punya kekuatan untuk memberikan kebijakan
purna terhadap produk pangan ini. Begitupula Garam. Bagaimana mungkin PN
Garam tidak mendapat dukungan penuh dari segi permodalan ( revitalisasi
) dalam menyangga produksi garam petani ? Semua tahu bahwa importir
garam sekarang dikontrol oleh "pendekar sembilan " yang juga menguasai
import gula ( Refinery). Soal perikanan juga tak ada bedanya. "Pendekar
Sembilan " yang bekerja sama dengan asing menguasai penangkapan ikan
dengan menggunakan floating processing dan eksport langsung dari ZEE
tanpa dapat dideteksi oleh bea dan cukai. Kemudian , mereka jual lagi (
re eskport ) ke Indonesia untuk memenuhi industri pengalengan ikan (
food industry ).

Begitupula dengan sapi. Semua tahu bahwa import sapi ini dikuasai oleh
segelintir orang yang punya akses kekuasaan dan modal. Pemerintah masih
menganggap import sapi pada batas yang wajar karena dibawah 30% dari
total kebutuhan daging nasional. Atas dasar inilah , kebijakan
peternakan belum peduli rakyat. Namun peternak asing yang ada di
Australia diuntungkan.

Ini semua karena kebijakan pro pasar bebas. Pemerintah hanya melihat
pemenuhan kebutuhan ( pasar ) dan tidak penting dari mana asal barang
tersebut. Tidak penting bila karena impor itu devisa terkuras. Karena
selagi SUN Valas masih laku dijual , untuk apa repot mikirin produksi
petani yang manja minta subsidi. Subsidi itu anti pasar dan kalaupun ada
hanya jargon politik. Implementasinya ..luaaar biasa sulitnya.

Berkaca dengan China, yang mempunyai pusat riset dibidang agro menelan
anggaran USD 10 millar pertahun ( Rp. 100 triliun ) dan memiliki bank
tani ( Agriculture Bank of CHina). Pemerintah China, tahun kemarin mem
bail out hutang petani sebesar USD 19 Milliar dan tahun ini akan kembali
di bail out dengan nilai USD 320 miliar ( 3200 triliun rupiah ).
Ditengah crisis global, susbsi diutamakan kepada rakyat, kredit
dipermudah, bunga ditekan dan restruktur hutang petani dilakukan dengan
cepat, landreform dilaksanakan. .Ditengah kecaman negara maju dalam G20,
china tidak peduli. Karena bagi mereka kepentingan mayoritas adalah
segala galanya , utamanya ketika pasar tak lagi bersahabat maka negara
digaris depan mengawal rakyat dari ketidak adilan pasar

-----------------------------------------
|a|g|r|o|m|a|n|i|a
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
MILIS: http://tiny.cc/milis
FORMULIR: http://tiny.cc/formulir
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa
KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios
KOPERASI: http://tiny.cc/agrokoperasi
INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only)
-----------------------------------------

Kirim email ke