*Artikel yg menarik pak Roy.....* 2009/8/27 Rinaldy Roy (SCM) <[email protected]>
> > > Politik dan Pangan > Berita kompas tanggal 24/8 dimana kebutuhan import produk pangan > mencapai USD 5 miliar pertahun. Namun dari segi beras pemerintah dapat > berbangga karena berhasil mencapai swasembada. Benarkah ? Sejak tahun > 1984 Indonesia tidak pernah mencapai swasembada beras. Publikasi soal > swasembada ini tidak lebih hanya jargon politik untuk meningkatkan citra > pemerintah dihadapan rakyat. Berdasarkan perhitungan produksi nasional, > swasembada itu termasuk sisa stock beras import yang ada digudang Bulog. > Keliatannya rakyat cepat lupa soal hebatnya Bulog melakukan inport tahun > tahun sebelumnya. Buktinya, tahun ini, Indonesia kembali berencana > mengimpor beras, karena alasan produksi dalam negeri diprediksi jauh > berada di bawah kebutuhan nasional akibat kemungkinan badai El Nino. > Padahal menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, > diperkirakan dampak El Nino masih kecil, namun pemerintah telah > menyiapkan anggaran sebesar Rp 2 triliun untuk mengantisipasi masalah > ini. > > Kebutuhan akan produk pangan lainnya yang masih tergantung import lebih > disebabkan kebijakan pemerintah tidak comprehensive. Pemain atau > importir sangat kuat pengaruh lobynya kepada penguasa untuk > memingigirkan rakyat agar lemah berproduksi.. Petani sapi perah > mendulang nestapa karena kalah bersaing dengan susu import. Siapa pemain > industri susu itu ? Sebagian besar asing yang menyerap 70% impor susu. > Tanpa ada alternatif pasar, posisi peternak sapi perah akan selalu > lemah. Sejak tahun 2001 hingga 2006, susu segar peternak selalu dibeli > IPS dengan harga jauh di bawah harga bahan baku susu impor setara susu > segar. Sementara itu, ketika harga susu impor melambung tahun 2007/2008, > kenaikan harga beli susu segar dalam negeri tidak setinggi susu impor. > Justru pemerintah memberikan facilitas bebas bea masuk bagi importir > susu segar. Petani sapi perah semakin tak punya bargain untuk > memperbaiki harga ditengah kekuatan pasar yang dikuasai segelintir > pemain. > > Kedelai, kita tidak mungkin bisa swasembada. Karena loby senat AS sangat > kuat membuat pemerintah tidak punya kekuatan untuk memberikan kebijakan > purna terhadap produk pangan ini. Begitupula Garam. Bagaimana mungkin PN > Garam tidak mendapat dukungan penuh dari segi permodalan ( revitalisasi > ) dalam menyangga produksi garam petani ? Semua tahu bahwa importir > garam sekarang dikontrol oleh "pendekar sembilan " yang juga menguasai > import gula ( Refinery). Soal perikanan juga tak ada bedanya. "Pendekar > Sembilan " yang bekerja sama dengan asing menguasai penangkapan ikan > dengan menggunakan floating processing dan eksport langsung dari ZEE > tanpa dapat dideteksi oleh bea dan cukai. Kemudian , mereka jual lagi ( > re eskport ) ke Indonesia untuk memenuhi industri pengalengan ikan ( > food industry ). > > Begitupula dengan sapi. Semua tahu bahwa import sapi ini dikuasai oleh > segelintir orang yang punya akses kekuasaan dan modal. Pemerintah masih > menganggap import sapi pada batas yang wajar karena dibawah 30% dari > total kebutuhan daging nasional. Atas dasar inilah , kebijakan > peternakan belum peduli rakyat. Namun peternak asing yang ada di > Australia diuntungkan. > > Ini semua karena kebijakan pro pasar bebas. Pemerintah hanya melihat > pemenuhan kebutuhan ( pasar ) dan tidak penting dari mana asal barang > tersebut. Tidak penting bila karena impor itu devisa terkuras. Karena > selagi SUN Valas masih laku dijual , untuk apa repot mikirin produksi > petani yang manja minta subsidi. Subsidi itu anti pasar dan kalaupun ada > hanya jargon politik. Implementasinya ..luaaar biasa sulitnya. > > Berkaca dengan China, yang mempunyai pusat riset dibidang agro menelan > anggaran USD 10 millar pertahun ( Rp. 100 triliun ) dan memiliki bank > tani ( Agriculture Bank of CHina). Pemerintah China, tahun kemarin mem > bail out hutang petani sebesar USD 19 Milliar dan tahun ini akan kembali > di bail out dengan nilai USD 320 miliar ( 3200 triliun rupiah ). > Ditengah crisis global, susbsi diutamakan kepada rakyat, kredit > dipermudah, bunga ditekan dan restruktur hutang petani dilakukan dengan > cepat, landreform dilaksanakan. .Ditengah kecaman negara maju dalam G20, > china tidak peduli. Karena bagi mereka kepentingan mayoritas adalah > segala galanya , utamanya ketika pasar tak lagi bersahabat maka negara > digaris depan mengawal rakyat dari ketidak adilan pasar > > ----------------------------------------- > |a|g|r|o|m|a|n|i|a > Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000 > MILIS: http://tiny.cc/milis > FORMULIR: http://tiny.cc/formulir > BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa > KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios > KOPERASI: http://tiny.cc/agrokoperasi > INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only) > ----------------------------------------- > > [Non-text portions of this message have been removed]

