Rekan-rekan Agromania, berikut ini satu pertanyaan dari rekan kami di Solution 
Exchange Indonesia (www.solutionexchange.or.id), barangkali ada yang punya 
jawaban?, Salam. Thamrin.

Rekan-rekan Praktisi Pertanian,

Saya Ferry Samosir, saat
ini berkerja untuk sebuah proyek di wilayah Aceh Tamiang.  Program
Aceh Tamiang fokus pada upaya meningkatkan “rantai nilai” sektor karet, di mana
tanaman karet adalah tanaman kedua yang paling banyak diusahakan oleh mayoritas
penduduk Aceh Tamiang. 
Permasalahan yang dihadapi
oleh sektor karet di Aceh Tamiang teridentifikasi sebagai
berikut:
 
Rata-rata produktivitas smallholder (petani individu) yang ekstrim
rendah (632kg/ha/thn), bahkan dibandingkan dengan standard nasional (800
kg/ha/thn), apalagi bila dibandingkan Thailand, negara terbesar penghasil karet
dunia. (1.700 kg/ha/tahun)
Pabrik sering menemukan tingkat
kotoran yang tinggi pada bahan baku karet yang diterima dari para petani.
Kotoran bisa berupa kayu, air dalam plastik, atau batu-batuan. Hal ini
menurunkan nilai dari bahan baku karet tersebut.
Kualitas bahan olah karet rakyat
(bokar) juga menjadi buruk dengan penggunaan zat pembeku latex yang tidak
direkomendasikan (urea, air aki, cuka, buah mengkudu).
Produksi getah pohon karet rakyat
yang semakin menurun teridentifikasi karena pohon-pohon karet yang sudah tua
(lebih dari 30 tahun) dengan produksi getah yang rendah;  diperlukan upaya
peremajaan.
Tertinggalnya pengetahuan smallholder akan ilmu dan teknologi
terkini dalam budidaya karet; mulai dari kegiatan pra panen sampai dengan pasca
panen (terutama penanganan produk pasca panen).

 

Banyak petani yang
mengeluh, terlebih pada akhir-akhir ini, saat harga karet belum juga membaik
akibat krisis keuangan global tahun lalu.  Sejak lebaran tahun 2008, harga karet
di tingkat petani turun menjadi Rp 4,000/kg dari sebelumnya Rp 9,000/kg dan 
tidak
pernah lebih dari itu.
Dengan cara transaksi yang
memberikan lebih banyak keuntungan kepada pihak pembeli (di tingkat pedagang
maupun pabrik) karena penilaian terhadap kualitas karet dilakukan secara
pengamatan visual dan cenderung subyektif. Pedagang menerapkan harga
menyesuaikan dengan harga yang akan mereka terima dari
pabrik.
Saat petani diminta untuk
tidak berlaku “curang” dengan mencampur material lain di dalam karet mereka,
mereka akan membela diri bahwa mereka yang terlebih dahulu telah dicurangi
karena harga dirasakan sangat rendah.  Saat pabrik diminta untuk tidak menerima
karet kotor / tercampur dengan material lainnya, maka pabrik akan keberatan.
Jika hal itu diterapkan, maka kemungkinan pabrik tidak akan beroperasi karena
sangat sedikit karet petani yang benar-benar bersih atau murni. 

 
Idealnya, pabrik dan petani
memiliki saling ketergantungan yang sangat erat dan timbal balik.  Petani tidak
dapat hidup tanpa pabrik dan pabrik tidak dapat hidup tanpa petani.  Untuk itu,
segala upaya perbaikan di wilayah kegiatan petani, pasti berkorelasi erat dengan
pabrik. Singkatnya, peningkatan produktivitas dan kualitas di tingkat petani,
akan berbanding lurus kepada pabrik, atau pelaku-pelaku lain di antara mereka
(termasuk pedagang desa dan pedagang besar).
 
Berkaitan dengan itu:

Kami memohon sumbangan pemikiran,
saran, berdasarkan pengalaman dari rekan-rekan semua: Untuk meningkatkan
produksi dan pendapatan petani karet, bentuk-bentuk solusi apa saja yang dapat
kita lakukan untuk masalah-masalah di atas?
Apa saja keuntungannya untuk tetap
menerapkan pendekatan rantai nilai?
 
Kami sangat menghargai
kontribusi rekan-rekan, dan itu akan memperkaya pilihan-pilihan solusi terhadap
permasalahan pembangunan masyarakat di sektor karet di Indonesia, khususnya di
Aceh Tamiang. 
 


Terima kasih dan
salam, Ferry
Samosir
============================================
Diperbaharui Terus!!
DIREKTORI PEBISNIS AGRO INDONESIA
Berisi data penjual dan pembeli, eksporter,
importer, perusahaan, distributor, produsen,
mediator di bidang agro (pertanian, perkebu-
nan, perikanan, peternakan, agroindustri).
Edisi terbaru dari Agro & Food Expo.
Dapatkan di Kios Agromania: http://tiny.cc/kios
Kontak Info: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only)
============================================
GABUNG DI ABC: http://tiny.cc/formulir
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa
KOPERASI: http://tiny.cc/agrokoperasi

Kirim email ke