ini membutuhkan suatu langkah terpadu.langkah pertama menurut saya adalah menyadarkan para petani perlunya replanting pohon karet dengan bibit yang unggul
Pangaloan-email : [email protected] ============================= Mitra Bisnis Menanti Anda di: DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios KOPERASI: http://tiny.cc/agrokoperasi INFO: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only) ============================= --- On Fri, 9/11/09, Thamrin Simanjuntak <[email protected]> wrote: From: Thamrin Simanjuntak <[email protected]> Subject: [agromania] Pertanyaan Tentang Kebon Karet Rakyat To: [email protected] Date: Friday, September 11, 2009, 12:25 AM Rekan-rekan Agromania, berikut ini satu pertanyaan dari rekan kami di Solution Exchange Indonesia (www.solutionexchan ge.or.id) , barangkali ada yang punya jawaban?, Salam. Thamrin. Rekan-rekan Praktisi Pertanian, Saya Ferry Samosir, saat ini berkerja untuk sebuah proyek di wilayah Aceh Tamiang. Program Aceh Tamiang fokus pada upaya meningkatkan “rantai nilai” sektor karet, di mana tanaman karet adalah tanaman kedua yang paling banyak diusahakan oleh mayoritas penduduk Aceh Tamiang. Permasalahan yang dihadapi oleh sektor karet di Aceh Tamiang teridentifikasi sebagai berikut: Rata-rata produktivitas smallholder (petani individu) yang ekstrim rendah (632kg/ha/thn) , bahkan dibandingkan dengan standard nasional (800 kg/ha/thn), apalagi bila dibandingkan Thailand, negara terbesar penghasil karet dunia. (1.700 kg/ha/tahun) Pabrik sering menemukan tingkat kotoran yang tinggi pada bahan baku karet yang diterima dari para petani. Kotoran bisa berupa kayu, air dalam plastik, atau batu-batuan. Hal ini menurunkan nilai dari bahan baku karet tersebut. Kualitas bahan olah karet rakyat (bokar) juga menjadi buruk dengan penggunaan zat pembeku latex yang tidak direkomendasikan (urea, air aki, cuka, buah mengkudu). Produksi getah pohon karet rakyat yang semakin menurun teridentifikasi karena pohon-pohon karet yang sudah tua (lebih dari 30 tahun) dengan produksi getah yang rendah; diperlukan upaya peremajaan. Tertinggalnya pengetahuan smallholder akan ilmu dan teknologi terkini dalam budidaya karet; mulai dari kegiatan pra panen sampai dengan pasca panen (terutama penanganan produk pasca panen). Banyak petani yang mengeluh, terlebih pada akhir-akhir ini, saat harga karet belum juga membaik akibat krisis keuangan global tahun lalu. Sejak lebaran tahun 2008, harga karet di tingkat petani turun menjadi Rp 4,000/kg dari sebelumnya Rp 9,000/kg dan tidak pernah lebih dari itu. Dengan cara transaksi yang memberikan lebih banyak keuntungan kepada pihak pembeli (di tingkat pedagang maupun pabrik) karena penilaian terhadap kualitas karet dilakukan secara pengamatan visual dan cenderung subyektif. Pedagang menerapkan harga menyesuaikan dengan harga yang akan mereka terima dari pabrik. Saat petani diminta untuk tidak berlaku “curang” dengan mencampur material lain di dalam karet mereka, mereka akan membela diri bahwa mereka yang terlebih dahulu telah dicurangi karena harga dirasakan sangat rendah. Saat pabrik diminta untuk tidak menerima karet kotor / tercampur dengan material lainnya, maka pabrik akan keberatan. Jika hal itu diterapkan, maka kemungkinan pabrik tidak akan beroperasi karena sangat sedikit karet petani yang benar-benar bersih atau murni. Idealnya, pabrik dan petani memiliki saling ketergantungan yang sangat erat dan timbal balik. Petani tidak dapat hidup tanpa pabrik dan pabrik tidak dapat hidup tanpa petani. Untuk itu, segala upaya perbaikan di wilayah kegiatan petani, pasti berkorelasi erat dengan pabrik. Singkatnya, peningkatan produktivitas dan kualitas di tingkat petani, akan berbanding lurus kepada pabrik, atau pelaku-pelaku lain di antara mereka (termasuk pedagang desa dan pedagang besar). Berkaitan dengan itu: Kami memohon sumbangan pemikiran, saran, berdasarkan pengalaman dari rekan-rekan semua: Untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani karet, bentuk-bentuk solusi apa saja yang dapat kita lakukan untuk masalah-masalah di atas? Apa saja keuntungannya untuk tetap menerapkan pendekatan rantai nilai? Kami sangat menghargai kontribusi rekan-rekan, dan itu akan memperkaya pilihan-pilihan solusi terhadap permasalahan pembangunan masyarakat di sektor karet di Indonesia, khususnya di Aceh Tamiang. Terima kasih dan salam, Ferry Samosir ============ ========= ========= ========= ===== Diperbaharui Terus!! DIREKTORI PEBISNIS AGRO INDONESIA Berisi data penjual dan pembeli, eksporter, importer, perusahaan, distributor, produsen, mediator di bidang agro (pertanian, perkebu- nan, perikanan, peternakan, agroindustri) . Edisi terbaru dari Agro & Food Expo. Dapatkan di Kios Agromania: http://tiny. cc/kios Kontak Info: 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS Only) ============ ========= ========= ========= ===== GABUNG DI ABC: http://tiny. cc/formulir BURSA JUAL-BELI: http://tiny. cc/bursa KOPERASI: http://tiny. cc/agrokoperasi [Non-text portions of this message have been removed]

