Membebaskan dari Budaya Arab
Tugas intelektual muslim adalah terus menggali
universalitas ajaran Alquran yang telah telanjur
terkurung dalam nuansa kearaban yang sangat kental.
Tegasnya bisa dikatakan bahwa harus dibedakan antara
pesan universal Alquran (Islam) dan budaya lokal Arab,
sebab antara keduanya tidaklah sama. Mungkin bisa
dikatakan bahwa hanyalah sebuah "kebetulan" sejarah,
Islam dengan kitab Alquran sebagai kitab pegangan,
hadir dalam komunitas masyarakat Arab
ALQURAN bukanlah kitab atau buku yang difax oleh Tuhan
dari langit. Ia tidak hadir dalam keadaan terisolir,
melainkan merupakan bagian dari suatu gerakan sosial
untuk me-nentang penindasan yang dilakukan oleh
kelompok masyarakat yang kuat dan sombong
(mustakbirin) atas kelompok masyarakat lain yang lebih
lemah (mustadl'afin) di Arab kala itu. Lalu Alquran
mendorong kepada kebebasan, kesetaraan, dan keadilan.
Dalam beberapa ayat disebutkan bahwa Alquran
disampaikan secara verbal, bukan sekadar makna atau
ide-ide saja. Cara penerimaan ini sering disalahpahami
oleh Barat maupun sebagian muslim sendiri, sehingga
melahirkan konsep eksternalitas wahyu Nabi dari efek
pemahaman bahwa Malaikat Jibril adalah sebuah agen
yang sama sekali eksternal, sehingga cara penyampaian
Alquran dalam alur pemikiran ini adalah semata-mata
melalui telinga.
Menurut Rahman, ortodoksi Islam belum mempunyai
kemampuan intelektual untuk melahirkan konsep bahwa
Alquran adalah firman Tuhan dan secara bersamaan
merupakan perkataan Nabi Muhammad (both the Word of
God and the word of Muhammad) (Fazlur Rahman, Islam).
Dari sini terlihat bahwa telah terjadi partnership
antara Tuhan dan manusia (nabiNya) dalam menulis
sejarah (partnership of God and man in history).
Pandangan ini lahir karena Rahman menggunakan
hermeneutika sebagai basis intelektual dalam memahami
Alquran. Konsepsi ini sesungguhnya sangat kokoh
karena beberapa ayat Alquran sendiri mendukungnya.
"Ruh yang terpercaya telah membawanya turun ke hatimu
agar engkau menjadi salah seorang di antara
orang-orang yang memberi peringatan" (26: 194).
"Katakanlah: Barangsiapa memusuhi Jibril, maka
sesungguhnya Jibril itu telah menurunkan Alquran ke
dalam hatimu dengan seizin Allah" (2: 97). Kedua ayat
ini menyatakan bahwa Alquran diturunkan ke dalam hati
Nabi Muhammad. Dengan demikian, tidak mungkin Alquran
bersifat eksternal dari diri Nabi Muhammad sendiri.
Dengan kata lain, Fazlur Rahman hendak mengatakan
bahwa Alquran bukanlah teks yang turun dalam bentuk
kata-kata aktual secara verbal, melainkan merupakan
spirit wahyu yang ditangkap oleh Nabi Muhammad Saw,
sekaligus diekspresikan dalam batas intelek dan
kemampuan linguistiknya.
Nabi Muhammad Saw sebagai penerima wahyu diposisikan
sebagai "pengarang" Alquran. Dengan basis
hermeneutika, kandungan Alquran dapat dipilah dari
partikularitas yang menjadi kerangkanya sehingga dapat
ditangkap pesan universalnya.
Menggapai Universalitas
Nilai-nilai ajaran di dalamnya sesungguhnya adalah
nilai-nilai ajaran yang bersifat universal. Tidak
hanya terdapat dalam ayat-ayat yang bersifat perintah,
tetapi juga dalam ayat-ayat cerita atau kisah masa
lalu. Kisah-kisah tersebut tidak dimaksudkan untuk
sekadar bercerita, melainkan memberikan pelajaran
moral bahwa di masa lalu Tuhan telah memberikan
balasan buruk kepada orang-orang yang berlaku jahat
dan sebaliknya.
Namun karena ia diturunkan kepada seorang Nabi yang
tinggal di Arab, maka ajaran-ajaran Alquran mau tidak
mau harus menyesuaikan dengan kondisi sosial
masyarakat Arab.
Solusi yang ditawarkan oleh Alquran sebagian adalah
solusi yang secara praktis hanya cocok untuk
masyarakat Arab. Dalam konteks inilah universalitas
pesan Alquran terperangkap dalam budaya lokal Arab.
Keterperangkapan macam inilah, yang menurut Derrida,
membuat tak ada teks yang dapat ditotalisasikan tanpa
melibatkan signifikasi: selalu ada sesuatu yang
terabaikan, sebuah aspek atau dimensi teks yang
tereduksi, terlewatkan, terberangus, atau terdiamkan
(Peter Beilharz, Social Theory: A Guide to Central
Thinkers, hal. 78).
Karena itu tugas intelektual muslim adalah terus
menggali universalitas ajaran Alquran yang telah
telanjur terkurung dalam nuansa kearaban yang sangat
kental.
Tegasnya bisa dikatakan bahwa harus dibedakan antara
pesan universal Alquran (Islam) dan budaya lokal Arab,
sebab antara keduanya tidaklah sama. Mungkin bisa
dikatakan bahwa hanyalah sebuah "kebetulan" sejarah,
Islam dengan kitab Alquran sebagai kitab pegangan,
hadir dalam komunitas masyarakat Arab.
Banyak hal yang menjadi bukti telah terjadi proses
Arabisasi dalam Alquran. Tidak hanya konteks yang
telah membuatnya telah menjadi bernuansa Arab. Bahkan
nama-nama nabi yang berasal dari luar Arab dan telah
tertera dalam kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya
juga mengalami Arabisasi.
Nama-nama para nabi dalam Perjanjian Lama mengalami
Arabisasi terutama melalui bahasa Suriah, misalnya Nuh
dari Noah, dan Yunani, misalnya Ilyas dari Elias,
Yunus dari Jonah, bukan langsung dari bahasa Ibrani.
(Philip K. Hitti, History of the Arab, hal. 157).
Dekonstruksi
Philip K. Hitti melihat bahwa Alquran menjadi kitab
yang sangat penting karena ia menjadi pilar Islam dan
memiliki otoritas tertinggi dalam persoalan spiritual
dan etika (hal. 159). Namun tentu saja Alquran tidak
bisa menjadi pilar yang sempurna apabila ia dipandang
sebagai buku yang taken for granted.
Karena itu diperlukan dekonstruksi terhadap teks-teks
Alquran. Dekonstruksi, menurut Derrida, dapat
mendorong kepada keterbukaan interpretasi dan
responsif kepada yang lain (Peter Beilharz, Social
Theory: A Guide to Central Thinkers, hal. 78).
Interpretasi baru inilah yang akan membuat ktiab suci
itu terus dapat memberikan konstribusi bagi pemecahan
problem kemanusiaan kontemporer.
Dalam melakukan dekonstruksi untuk menemukan spirit
baru al-QurĂan di era kemodernan sekarang ini, Arkoun
menganggap penting untuk memahami secara
sosiologis-histories dengan cara melibatkan aspek
ruang dan waktu untuk dapat memahami Alquran agar
mendapatkan pemahaman yang tepat.
Yang dimaksud ruang dan waktu di sini adalah muatan
lokal partikular, yakni lokalitas Arab berikut
budayanya pada masa Alquran hadir. Karena itu untuk
memahaminya dalam konteks ruang dan waktu yang telah
berubah, umat muslim perlu keberanian untuk
mendekonstruksi struktur pemahaman yang telah mapan
yang terbangun oleh kultur masyarakat sebelumnya dalam
bentuk doktrin-doktrin yang telah kokoh sedemikian
rupa. Jika analisis historis-sosiologis terhadap
Alquran tidak dilakukan, maka Alquran akan kehilangan
atau terputus dari konteks dan relevansi historisnya,
sehingga Islam akan tampil sebagai paket yang telah
final dan tidak fleksibel dengan perubahan zaman.
(Mohammed Arkoun, Rethinking Islam: Common Questions,
Uncommon Answer, Oxford: Westview Press, 1994).
Dekonstruksi dapat dicapai dengan menggunakan metode
hermeneutika. Sayang, metode ini dicurigai oleh
sebagian besar kalangan intelektual muslim sebagai
metode yang sangat berpotensi mendistorsi ajaran
Alquran hanya karena metode ini dipopulerkan oleh
pemikir-pemikir sosial kritis dari Barat.
Seharusnya kecurigaan berlebihan ini dieliminir karena
sebenarnya tradisi intelektual Islam pun sudah
memiliki perangkat yang secara substansi adalah
sama, hanya saja disebut dengan nama yang berbeda.
Dalam tradisi intelektual Islam klasik sudah dikenal
asbab al-nuzul untuk mengetahui latar belakang
sebuah ayat hadir, dan asbab al-wurud untuk mengetahu
latar belakang sebuah hadis diucapkan atau dilakukan
oleh Nabi Muhammad.
Umat Islam perlu mengembangkan sikap terbuka kepada
perangkat-perangkat baru untuk membuat teks-teks
sumber keagamaan Islam menjadi lebih kontributif dalam
zaman yang sudah mengalami banyak perubahan dan
semakin rumit ini.(11).
--- Mohammad Nasih MSi, presidium Masika Nasional ICMI
(Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia), Mahasiswa
Program Doktor Ilmu Politik UI
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?
Find them fast with Yahoo! Search.
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
Yahoo! Groups Links
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ