Rekan Ery Yunasri,
Di bawah artikel yang lebih seru untuk dikaji secara rasional.
Salam,
Iming
----- Forwarded Message ----
From: henkmahendra yahoo.com <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, December 15, 2007 4:56:26 PM
Subject: [alumni-sma1jkt-85] Gelombang Ketiga Transmisi Islam Lebih Politis
[Ketika dikirim ke Afganistan, mereka tidak langsung bertemu kelompok
Afgan-Arab. Mereka belajar dulu di Peshawar, Pakistan. Dari awal, tujuan mereka
memang bukan semata-mata membantu Afganistan. Sebab, mujahidin Afganistan
dinilai sudah mampu melakukan itu. Tapi mereka mempersiapkan diri untuk misi di
Indonesia. Kesimpulannya, sumber gerakan yang disinyalir berasal dari Peshawar
itu pun, ujung-ujungnya dari Arab juga]
Gelombang Ketiga Transmisi Islam Lebih Politis
Ketika galau dengan alternatif-alternatif, tradisi
yang paling dekatlah yang akhirnya diimpikan, yaitu
kebesaran masa lampau Islam, supremasi Quran-Hadis,
dan kembali ke agama. Karena itu, ide paling menonjol
yang muncul adalah kembali ke Alquran dan Sunnah lagi.
Itulah revivalisme. Gagasan ini menjadi sangat menarik
terutama ketika terjadinya Revolusi Iran (1979),
meskipun dari sekte Islam yang berbeda, yaitu Syiah.
Gagasan-gagasan keislaman dari di Timur Tengah selalu
ikut mempengaruhi pemikiran keislaman di Indonesia.
Proses transmisi gagasan-gagasan tersebut paling tidak
sudah berlangsung dalam tiga gelombang. Seperti apa
dan isu apa saja yang jadi titik tekan tiap gelombang?
Berikut perbincangan Kajian Islam Utan Kayu (KIUK)
dengan M. Imdadun Rahmat, intelektual muda NU, penulis
buku Transmisi Gagasan Revivalisme Islam dari Timur
Tengah ke Indonesia, di Kantor Radio Radio 68H
Jakarta, 5 Juli lalu.
Mas Imdad, bisa dijelaskan kilasan sejarah tentang
kaitan antara ulama Indonesia dengan para ulama di
Timur Tengah?
Harus diakui, sebagai daerah Muslim yang periferal,
ulama-ulama terkemuka Indonesia, sejak awal kehadiran
Islam, sudah sangat bergantung ke Timur Tengah. Kalau
membaca sejarah perkembangan Islam di Indonesia, kita
akan tahu bahwa ulama-ulama atau dai-dai terkemuka,
kebanyakan memang berlatarbelakang pendidikan Timur
Tengah. Bahkan sebagian adalah orang atau keturuan
Timur Tengah sendiri.
Jadi jelaslah bahwa Islam yang berkembang di Indonesia
sejak awalnya adalah Islam yang sangat Arab. Itu logis
karena Islam Indonesia dikembangkan oleh mereka-mereka
yang datang dari Arab. Memang ada beberapa teori yang
menjelaskan tentang siapa yang mula-mula menyebarkan
Islam di Nusantara. Ada yang mengatakan tidak dari
Arab langsung, tapi dari Gujarat. Bahkan ada juga yang
menyebut Islam datang dari Cina. Tapi sejauh
pengkajian saya, yang masuk akal dan yang dapat
dipercaya adalah: transmisi itu berlangsung dari Arab.
Bagaimana kajian akademis tentang proses transmisi
gagasan Islam dari Timur Tengah ke Indonesia itu dari
abad ke abad?
Ada beberapa kajian. Pertama dilakukan Deliar Noer,
yaitu sejak munculnya gerakan Islam modern di
Indonesia. Itu dikaitkan dengan bangkitnya
rasionalisme Timur Tengah yang diwakili tokoh-tokoh
seperti Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridla lewat
jaringan majalah al-Manar pada abad XIX. Kemudian
disusul penelitian serius oleh Prof. Azyumardi Azra
tentang jaringan ulama Indonesia ke Timur Tengah yang
terbentuk sejak abad XV, XVI, dan XVII.
Ide utama jaringan terakhir ini kemudian ikut
memengaruhi gerakan Islam baru di Nusantara. Fokusnya
adalah bagaimana meluruskan kembali praktek Islam yang
dianggap telah menyimpang oleh tarekat dan mistisisme.
Kelompok ulama pembaharu ini lalu mengawinkan antara
unsur syariat dan sufisme. Dengan begitu lahirlah
kombinasi yang kira-kira cukup moderat dari perpaduan
unsur syariat dan sufisme Nusantara. Dan inilah yang
berkembang dan ikut memengaruhi keberagamaan orang
Nusantara pada umumnya.
Apakah itu masih terefleksi dalam tarekat-tarekat yang
berkembang di Indonesia sampai sekarang?
Kombinasi itu masih kita saksikan sampai saat ini.
Misalnya tergabung dalam kaum tarekat yang dianggap
mu’tabarah (disahkan) oleh NU. Syaratnya: bertarekat
plus bersyariat. Karena itu, praktek tarekat yang
mengabaikan unsur syariat dianggap tidak mu’tabarah.
Dan karena itu, terekat tersebut tidak layak diikuti
umat Islam Indonesia. Jadi, di situ ada kombinasi
antara terjaganya order yang ditawarkan syariat, plus
corak keberagamaan yang lebih indah dan tidak kering.
Dan seperti itulah warna Muslim di Nusantara saat ini.
Selain Deliar Noer dan Azyumardi Azra, ada studi-studi
lain?
Penelitian serius memang hanya dua itu. Tapi kalau
kita teliti lebih lanjut, sebetulnya masih ada banyak
gelombang transmisi gagasan Islam dari Timur Tengah ke
Indonesia yang layak diteliti. Misalnya, gelombang
puritanisme yang diperjuangkan kalangan Wahabiyah.
Gerakan ini juga pernah menjadi gerakan yang besar di
Timur Tengah dan juga terasa imbasnya ketika muncul
gerakan Padri di Sumatra Barat. Gerakan ini tampil
melawan kalangan adat karena dianggap telah melenceng
dari agama. Lalu, ada gelombang lain yang sekarang ini
menjadi konsen saya, yaitu gerakan revivalisme Islam
atau al-shahwah al-Islamiyah.
Jadi, buku yang diangkat dari tesis master Anda itu
melanjutkan studi-studi yang sudah ada sebelumnya?
Ya. Katakanlah gelombang pertama gagasan Islam dari
Timur Tengah itu telah ditulis Prof. Azyumardi sejak
abad XVI-XVII. Kemudian pada awal abad XX, lahirnya
Muhamadiyah, Persis, dan al-Irsyad sebagai respons
atas gerakan al-Manar. Itu kemudian ditulis Deliar
Noer. Dan kini tibalah giliran saya untuk mengamati
bangkitnya revivalisme Islam di Indonesia. Ini mungkin
arus ketiga dari proses transmisi Islam dari Timur
Tengah ke Indonesia dan kelanjutan dari dua penelitian
sebelumnya.
Menurut Anda, isu apa yang populer pada tiap-tiap
gelombang?
Isu gelombang pertama terkait maraknya sufisme,
khususnya sufisme filosofis. Sufisme ini dipengaruhi
oleh berbagai tradisi filsafat atau tradisi mistis
agama-agama lain. Dan ini mungkin juga terpengaruh
oleh mistisisme lokal seperti kejawen di Jawa dan
praktek ziarah kubur. Tapi ziarah kubur sebetulnya
tidak masuk dalam konsen mistisme. Yang menonjol
adalah pandangan tentang wahdatul wujûd, dan ide
tentang tajallî. Ide-ide seperti ini sudah berkembang
di Nusantara masa itu.
Hamzah al-Fansuri, ulama terkemuka dari Aceh misalnya,
telah mengembangkan ide ini. Di Jawa, Syekh Siti Jenar
dan juga Kiai Mutamakkin, juga masuk dalam kategori
ini. Mereka adalah tokoh-tokoh sufisme yang
menyebarkan paham wahdatul wujûd atau manunggaling
kawula gusti. Dan mereka telah menjadi martirnya dan
berhadapan langsung dengan ulama-ulama formal yang
mainstream.
Hamzah al-Fansuri berhadapan dengan Abdurrauf
al-Sinkili. Al-Sinkili bahkan mengeluarkan fatwa halal
darahnya Hamzah al-Fansuri, dan para pengikutnya
sempat mengalami kekerasan. Buku-buku al-Fansuri
hangus dibakar. Sejarah Jawa juga hampir demikian.
Syekh Siti Jenar juga menghadapi tiang gantungan dan
pengikutnya dibubarkan-paksa oleh Wali Sanga.
Lantas apa konsen gelombang kedua?
Konsen gelombang kedua ada pada dua hal. Pertama,
meneruskan ide purifikasi Islam. Ide ini muncul dari
Muhamad bin Abdul Wahab sebagai pengikut Syeikh Ibn
Taimiyah dan Ibnul Qoyyim al-Jauziyah. Pada awal abad
XX, ketika dunia Islam mengalami krisis terus-menerus
akibat kolonialisme, muncullah ide bahwa kita
mengalami dekadensi karena tidak kembali ke akidah
yang benar.
Selain purifikasi, muncul juga isu rasionalisme Islam
yang dikumandangkan Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid
Ridla, dan kawan-kawannya. Mereka berpikiran bahwa
kekalahan umat Islam atas Barat memang dikarenakan
kebanyakan umat Islam tidak berpikir rasional. Umat
Islam terjebak kejumudan, cara berpikir statis,
kebekuan, dan hanya bertaklid buta kepada ulama
terdahulu.
Tapi, dilihat dari semangat, baik puritanisme maupun
rasionalisme sama saja, yaitu ingin kembali kepada
Alquran dan Sunnah. Bedanya, kelompok pertama kembali
kepada Alquran dan Sunnah dalam pengertian yang
formalistik. Sementara kelompok kedua mengartikan
semangat kembali kepada Alquran dan Sunnah dengan etos
pengkajian yang rasional.
Nah, dua arus dalam gelombang kedua ini sebenarnya
berlawanan tapi bisa berjalan beriringan. Pengaruh
gelombang kedua ini terhadap masyarakat Muslim
Nusantara telah melahirkan kelompok-kelompok baru
Islam, seperti al-Irsyad, Persis, dan Muhamadiyah.
Dalam perkembangannya, al-Irsyad dan Persis lebih
kental aura puritanismenya. Sementara Muhamadiyah coba
mengimbangkan dua arus dengan cara tetap memerangi
bidah, khurafat, dan takhayul, tapi tetap
merasionalisasi cara berpikir dengan memperbaiki
sistem pendidikan dan pengorganisasian massa. Namun di
Muhamadiyah juga selalu ada tarik-ulur. Kadang yang
menonjol aspek rasionalitasnya, tapi tak jarang justru
purifikasinya. Tergantung ke mana bandul sedang
berayun.
Gelombang ketiga seperti apa?
Gelombang ketiga disebut sebagai gelombang kebangkitan
umat Islam. Pada gelombang ini lebih kental nuansa
politisnya. Gelombang ini muncul akibat krisis yang
dialami negara-negara Muslim pasca-kolonialisme.
Setelah merdeka, kebanyakan mengadopsi “sistem Barat”,
memilih nation-states, prosedur demokrasi, dan lain
sebagainya. Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an,
negara-negara Muslim baru ini justru mengalami
kebangkrutan. Perekonomian terpuruk, pengangguran
mengingkat, sistem pendidikan tidak bermutu, dan yang
terpenting, kumpulan negara-negara Arab kalah total
berdahadap dengan Israel.
Ini menorehkan sakit hati yang luar biasa bagi
kebanyakan bangsa Arab. Maka dicarilah
alternatif-alternatif. Ketika galau dengan
alternatif-alternatif, tradisi yang paling dekatlah
yang akhirnya diimpikan, yaitu kebesaran masa lampau
Islam, supremasi Quran-Hadis, dan kembali ke agama.
Karena itu, ide paling menonjol yang muncul adalah
kembali ke Alquran dan Sunnah lagi. Itulah
revivalisme. Gagasan ini menjadi sangat menarik
terutama ketika terjadinya Revolusi Iran (1979),
meskipun dari sekte Islam yang berbeda, yaitu Syiah.
Apa yang membuat Revolusi Iran punya magnet
kebangkitan?
Ketika mampu mengalahkan dominasi Amerika atas Iran
dengan tumbangnya rezim Reza Pahlevi, dunia Arab
tergugah dan merasa yakin bahwa Islam bisa menjadi
alternatif. Semangat itu dengan cepat menyebar luas ke
hampir seluruh negara-negara Muslim. Nah, kebangkitan
Islam itu punya banyak ciri. Salah satunya adalah
semangat untuk menjadikan Alquran dan Hadis sebagai
sumber hukum positif. Tidak hanya sebagai aturan
keagamaan, juga sebagai aturan kenegaraan. Inilah
gelombang Islam politik.
Kedua, ada kecenderungan kuat untuk mencari
sumber-sumber ide modern dari akar tradisi Islam
sendiri. Misalnya, ide tentang sistem ekonomi, juga
bagaimana meluruskan paham keislaman yang telah
terpengaruh oleh budaya lokal ataupun Barat. Jadi
arahnya tetap purifikasi yang bahkan mengandung
kebencian terhadap rasionalisme. Cara-cara memaknai
teks-teks agama lalu cenderung harfiah, dan semangat
untuk melakukan jihad sangat besar. Ciri-ciri seperti
ini, di Timur Tengah telah dikembangkan oleh kelompok
Ikhwanul Muslimin dengan berbagai kelompok
sempalannya.
Di mana saja sentra-sentra gagasan Islam yang ikut
mempengaruhi ulama Indonesia?
Sebelum abad XX, sentrumnya Mekah dan Madinah. Juga
Baghdad di Irak, dan Hadramaut di Yaman. Tapi mulai
abad XIX, muncul sentrum baru, yaitu Kairo, Mesir.
Sentrum-sentrum ini melahirkan produk pemikiran yang
berbeda-beda nuansanya. Produk Mekah dan Madinah
biasanya melahirkan sosok ulama yang ahli hadis.
Biasanya, mereka juga anti-tahlil, dan tidak suka
penggunaan akal yang berlebihan dalam memaknai Alquran
maupun hadis.
Demikian juga dengan yang dari Yaman. Tapi biasanya,
yang Yaman lebih kuat aspek fikihnya. Tapi itu pun
masih tergantung gurunya. Kalau berguru kepada ulama
salafi, maka alumninya juga akan seperti itu. Mereka
biasanya apolitis dan tidak mau terlibat dalam politik
apapun dan fokus bergerak di bidang dakwah. Dakwahnya
pun biasanya ditujukan untuk menyelamatkan umat Islam
dari akidah yang dianggap sesat dan praktek-praktek
agama yang dipandang melenceng.
Bisa menambahkan aspek yang mencerahkan dari gagasan
Islam yang ditransmisi dari Timur Tengah?
Dari Timur Tengah, tidak semua gagasan yang ditransfer
berasal dari kelompok pendukung Islam politik. Corak
Islam yang revolusioner juga ada. Pendekatan yang
sangat progresif dalam menggunakan akal dalam agama
juga telah melahirkan jajaran intelektual yang mumpuni
dan sangat berpengaruh bagi kalangan intelektual Islam
muda di Indonesia. Dari Maroko ada sosok ulama-pemikir
seperti Muhammad Abid al-Jabiri. Dari Mesir ada
banyak, di antaranya Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu
Zaid, dan lain-lain. Mereka sangat inspiratif.
Bagaimana dengan kebakitan kalangan jihadis?
Sejarahnya bermula dari banyaknya mujahidin dari
negara-negara Arab yang pergi ke Afganistan untuk
berjihad melawan Uni Soviet. Mereka disebut juga
kelompok ”Afgan-Arab” (para pejuang di Afganistan yang
berasal dari Arab). Tahun 1980-an, orang-orang ini
dikirim secara resmi dan dibiayai oleh negara-negara
Arab untuk berjihad. Selanjutnya, kelompok ini
berkembang menjadi jaringan al-Qaedah di bawah komando
Usamah bin Laden.
Mereka dulunya juga direkrut dan dilatih Amerika.
Ketika berhasil membebaskan Afganistan dari Soviet,
Amerika takal-tiga dengan mereka. Amerika punya
kepentingan sendiri, Bin Laden pun punya kepentingan
sendiri. Ironisnya, kalangan Afgan-Arab ini justru
ditolak kembali ke negara masing-masing yang telah
mengirim mereka. Mereka dianggap sumber
ketidakstabilan baru. Jadi, mereka yang tadinya
dielu-elukan sebagai pahlawan, justru dianggap sebagai
musuh negara.
Apakah saat itu Indonesia juga mengirimkan
relawan-relawan jihad secara resmi?
Tidak ada pengiriman secara resmi. Tapi ormas-ormas
Islam seperti Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII),
GPI (Gerakan Pemuda Islam) diam-diam mengirimkan orang
ke sana. Tapi para alumninya secara diam-diam juga
diterima kembali dan sebagian hidup di tengah
masyarakat. Mereka ini berbeda dengan jaringan yang
berkembang menjadi Jamaah Islamiyah yang diburu-buru
pemerintah.
Sejarahnya berbeda. Ketika dikirim ke Afganistan,
mereka tidak langsung bertemu kelompok Afgan-Arab.
Mereka belajar dulu di Peshawar, Pakistan. Dari awal,
tujuan mereka memang bukan semata-mata membantu
Afganistan. Sebab, mujahidin Afganistan dinilai sudah
mampu melakukan itu. Tapi mereka mempersiapkan diri
untuk misi di Indonesia. Kesimpulannya, sumber gerakan
yang disinyalir berasal dari Peshawar itu pun,
ujung-ujungnya dari Arab juga.
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
Yahoo! Groups Links
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ