Bagi yang ingin tau isi buku Meditation dari Marcus Aurelius, silakan klik http://classics.mit.edu/Antoninus/meditations.html atau http://www.gutenberg.org/etext/2680.
Silakan di"download". Gratis dan legal kok. ----- Original Message ---- From: iming tesalonika <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED]; ad ad <[EMAIL PROTECTED]>; ad ad <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; sma1 alumni85 <[EMAIL PROTECTED]> Cc: hu hu <[EMAIL PROTECTED]>; akhi akhi <[email protected]>; po po <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, May 28, 2008 3:03:18 PM Subject: [AKHI] Marcus Aurelius: PERADI VS Kongres Advokat Indonesia rekan2 advokat, di bawah adalah cerita moral seru dari seorang king yang kebetulan filsuf. Melihat serunya pertarungan antara peradi dan KAI, kayaknya para pimpinan petarung musti adu mental dan kekuatan filsafatnyanya nich, supaya bisa memenangkan legal battle. Sebentar lagi kita akan mendengar laporan pengaduan ke polisi dari pihak peradi terhadap KAI dan sebaliknya. pasti seru banget dech. Tinggal polisi ketawa ketiwi melihat betapa tololnya manusia yang mengaku officium nobellum melaporkan ketololan organisasi profesinya kepada profesi yang lebih inferior pengetahuan hukum dan filsafatnya. Nach, lawyer itu khan hidup dari laporan pengaduan ke laporan pengaduan. Setidaknya, itu kata Daniel Panjaitan (anggota majelis kehormata DKI peradi) tatkala menanggapi complain saya betapa rumitnya penyelesaian sengketa : laporkan saja lawyer lawan ke polisi kek, peradi kek atau kemana aja. Daniel pikir dengan membuat laporan pengaduan berarti masalah akan segera kelar. ho..ho..ho.. Pengen tahu dech, kalau kedua pihak, peradi or KAI saling lapor polisi - saling tuding tindak pidana, SAMPAI KAPAN KELAR-NYA ? Ke depan, untuk bisa menjabat sebagai pimpinan peradi, pengurus peradi, atau bahkan anggota majelis kehormatan peradi, calon harus memiliki kelulusan dari sekolah filsafat, supaya bisa memberi kontribusi bagi dunia penegakan hukum, bukan peruwetan hukum. Salam keruwetan hukum, Iming Tesalonika Advokat yang senang melihat asosiasi advokat berkelahi supaya advokat tambah pinter filsafatnya Marcus Aurelius Kamu kan pernah nonton film Gladiator? Itu lho, yang ceritanya seorang jenderal, yang akhirnya jadi gladiator. Kamu inget ngak, diawal film ada raja yang namanya Marcus Aurelius Antoninus? Hanya sebentar sih munculnya, kali cuma 15 menit. Tapi, sesungguhnya yang benaran ada, adalah raja tua tersebut, bukan sang jenderal. Aurelius adalah emperor atau raja Romawi, super power jaman itu; seperti Amerika Serikat jaman sekarang. Aku suka sama Aurelius; karena dia adalah apa yang disebut Plato, sebagai philosopher king. arcus Aurelius lebih dikenang dunia, terutama dunia intelektual, karena buku tipisnya yang berjudul Meditations. Judul buku tersebut diberikan belakangan oleh orang lain; Aurelius sendiri menulis buku tersebut ketika dalam peperangan, dalam bahasa Yunani, dan diberinya judul "Ta eis heauton" (to himself - untuk dirinya sendiri). Himself, tidak lain dari Aurelius sendiri. Konon, ketika di ujung hidupnya raja ini memerintahkan membakar buku tersebut. Untung bahwa para pengikutnya melanggar aturan tersebut, sehingga dunia bisa membaca salah satu refleksi moralnya. Pergulatan hidup seorang raja untuk tetap menjadi manusia seutuhnya. Aurelius mulai bukunya, dengan banyak catatan terimakasihnya untuk orang-orang yang mendidiknya, baik langsung maupun lewat buku. Kepada kakeknya, dia mengucapkan terimakasih karena belajar tingkah laku yang sopan, dan bagaimana memupuk pikiran yang jernih. Dia juga berterimakasih untuk ajaran lain yang penting, yaitu selalu punya waktu untuk mereka yang minta tolong. Dari ayahnya, ia belajar menjadi berani, tanpa perlu menjadi show off dgn keberaniannya. Dari neneknya, dia belajar menjadi taat pada para dewa2, ramah pada orang lain, dan sederhana dalam cita rasa. Kepada gurunya, dia mengucapkan terimakasih, karena mereka mengajarkan bahwa moral itu penting dalam kehidupan ini, dan bukan sulit untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari2. Bagus kan? Tapi, satu hal yang bikin aku selalu ingat buku ini, hal yang praktis. Hidup kita bukan tergantung pada hal-hal eksternal. Apakah kita akan sukses, akan kaya, akan senang, kita tidak dapat mengontrolnya. Paling kurang, kita tidak dapat memastikannya. Satu-satunya yang bisa kita kontrol ialah pikiran kita. Mari kita bayangkan. Bangun tidur, kita masuk kamar mandi. Ingin mandi. Ternyata air bak kosong, PAM ngocor sangat kecil. Apakah kita marah, BT? Mengapa marah, kata Aurelius. Mau mandi, atau mau marah? Jgn biarkan orang lain mengontrol pikiran dan emosi kita. Sampai di sekolah, tiba-tiba banyak kerjaan. Marah, sebel. Mau kerja atau mau marah? Ingin berbuat baik, eh digosipin oleh teman atau musuh. Mau berbuat baik, atau ingin orang lain mengontrol pikiran kita, sehingga keinginan kita berbuat baik menjadi sebaliknya (membenci, dlsb)?. Ok, aku persingkat JC, apa yang Aurelius ingin bilang gampang. Kamu pasti nebak. Kedamaian hati adalah kunci hidup sehari-hari. Orang bijaksana adalah orang yang bisa mencapai kedamaian hati. Dunia bisa mengambil mainan milik kita yang menyenangkan. Sejarah dunia memperlihatkan bahwa orang yang satu bisa menyakiti orang baik. Tapi, satu hal yang siapapun tidak bisa ambil, yaitu kedamaian hati. Jadi jangan biarkan tingkah laku yang menyebalkan dari orang lain membuat kamu menjadi hilang kedamaian hatiku.

