|
B E R B U K A
Oleh
Syaikh Salim bin 'Ied
Al-Hilaaly
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul
Hamid
SHIFATI SHAUMIN NABIYII SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
FII RAMADHAN
1. Kapan
Orang Yang Puasa Berbuka ?
Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam menafsirkan dengan datangnya malam dan perginya siang serta sembunyinya
bundaran matahari. Kami telah membawakan (penjelasan ini pada pembasahan yang
telah lalu,-ed) agar menjadi tenang hati seorang muslim yang mengikuti sunnatul
huda.
Wahai hamba Allah, inilah
perkataan-perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ada di hadapanmu
dapatlah engkau membacanya, dan keadaannya yang sudah jelas dan telah engkau
ketahui, serta perbuatan para sahabatnya, Radhiyallahu 'anhum telah kau lihat,
mereka telah mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam.
Syaikh Abdur Razaq telah meriwayatkan
dalam Mushannaf 7591 dengan sanad yang dishahihkan oleh Al-Hafidz dalam
Fathul Bari 4/199 dan al-Haitsami dalam Majma' Zawaid 3/154 dari Amr bin Maimun
Al Audi.
2.
Menyegerakan Berbuka
Wahai saudaraku seiman, wajib atasmu
berbuka ketika matahari telah terbenam, janganlah dihiraukan oleh rona merah
yang masih terlihat di ufuk, dengan ini berarti engkau telah mengikuti sunnah
Rasuullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menyelisihi Yahudi dan Nasrani,
karena mereka mengakhirkan berbuka. Pengakhiran mereka itu sampai pada waktu
tertentu yakni hingga terbitnya bintang. Maka dengan mengikuti jalan dan manhaj
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berarti engkau menampakkan syiar-syiar
agama, memperkokoh petunjuk yang kita jalani, yang kita harapkan jin dan manusia
berkumpul diatasnya. Hal-hal tersebut dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam pada pargraf-paragraf yang akan datang.
[a].
Menyegerakan Buka Berarti Menghasilkan Kebaikan.
Dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu
'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
[b].
Menyegerakan Berbuka Adalah Sunnah Rasul Shallallahu 'alaihi wa
sallam
Jika umat Islamiyah
menyegerakan berbuka berarti mereka tetap di atas sunnah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam dan manhaj Salafus Shalih, dengan izin Allah mereka tidak akan
tersesat selama "berpegang dengan Rasul mereka (dan) menolak semua yang
merubah sunnah".
Dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu
'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
[c].
Menyegerakan Buka Berarti Menyelisihi Yahudi dan
Nashrani
Tatkala manusia senantiasa berada di
atas kebaikan dikarenakan mengikuti manhaj Rasul mereka, memelihara sunnahnya,
karena sesungguhnya Islam (senantiasa) tetap tampak dan menang, tidak akan
memudharatkan orang yang menyelisihinya, ketika itu umat Islam akan menjadi
singa pemberani di lautan kegelapan, tauladan yang baik untuk diikuti, karena
mereka tidak menjadi pengekor orang Timur dan Barat, (yaitu) pengikut semua yang
berteriak, dan condong bersama angin kemana saja angin bertiup.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
Kami katakan :
Hadits-hadits di atas mempunyai
banyak faedah dan catatan-catatan penting, sebagai berikut.
[d]
Berbuka Sebelum Shalat Maghrib
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam berbuka sebelum shalat Maghrib[3] karena
menyegerakan berbuka termasuk akhlaknya para nabi. Dari Abu Darda'
Radhiyallahu 'anhu.
3. Berbuka
Dengan Apa ?
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam berbuka dengan korma, kalau tidak ada korma dengan air, ini termasuk
kesempurnaan kasih sayang dan semangatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam (untuk kebaikan) umatnya dan dalam menasehati mereka. Allah
berfirman.
Karena memberikan ke tubuh yang
kosong sesuatu yang manis, lebih membangkitkan selera dan bermanfaat bagi badan,
terutama badan yang sehat, dia akan menjadi kuat dengannya (korma). Adapun air,
karena badan ketika dibawa puasa menjadi kering, jika didinginkan dengan
air akan sempurna manfaatnya dengan makanan.
Ketahuilah wahai hamba yang taat,
sesungguhnya korma mengandung berkah dan kekhususan -demikian pula air- dalam
pengaruhnya terhadap hati dan mensucikannya, tidak ada yang mengetahuinya
kecuali orang yang berittiba'. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu (ia
berkata) :
4. Yang
Diucapkan Ketika Berbuka
Ketahuilah wahai saudaraku yang
berpuasa - mudah-mudahan Allah memberi taufiq kepada kita untuk mengikuti
sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam- sesungguhnya engkau punya
do'a yang dikabulkan, maka manfaatkanlah, berdo'alah kepada Allah dalam
keadaan engkau yakin akan dikabulkan, -ketahuilah sesungguhnya Allah
tidak mengabulkan do'a dari hati yang lalai-. Berdo'alah kepada-Nya dengan apa
yang kamu mau dari berbagai macam do'a yang baik, mudah-mudahan engkau bisa
mengambil kebaikan di dunia dan akhirat.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
Do'a yang tidak tertolak ini adalah
ketika waktu engkau berbuka berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu
'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
Dari Abdullah bin Amr bin Al
'Ash, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
Do'a yang paling afdhal adalah do'a
ma'tsur dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau jika berbuka
mengucapkan.
5. Memberi
Makan Orang Yang Puasa
Bersemangatlan wahai saudaraku
-mudah-mudahan Allah memberkatimu dan memberi taufik kepadamu untuk
mengamalkan kebajikan dan taqwa- untuk memberi makan orang yang puasa
karena pahalanya besar dan kebaikannya banyak.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
Orang yang puasa harus memenuhi
undangan (makan) saudaranya, karena barangsiapa yang tidak menghadiri undangan
berarti telah durhaka kepada Abul Qasim Shallallahu 'alaihi wa sallam, dia harus
berkeyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun amal kebaikannya,
tidak akan dikurangi pahalanya sedikitpun.
Orang yang diundang disunnahkan mendo'akan pengundangnya setelah selesai makan dengan do'a-do'a dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi
Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali
Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak
Ata.
Foote Note.
------------------------------------------------------------------------ Website Islam pilihan anda. http://www.assunnah.or.id http://www.almanhaj.or.id Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu Berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] ------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links
| |||||||||||||
