Assalamu'alaikum,
Apa khabar akh Mirza ? Afwan ana blm sempat ketemu antum lagi. Saat ini sedang safar 1 bulan. Nanti kalau sdh kembali, silahkan antum kapan saja datang ke kantor, ahsan kalau hari senin siang (pekan ke-1,3 atau 5) sambil sama-sama dengerin kajian Ustadz Abu Haidar. Usulan akhi bagus sekali, ini utk menjaga perasaan kita masing-masing agar yg tua tdk merasa dilecehkan dan yg muda juga tdk merasa disepelekan. Maklum, milis kita ini milis umum yg tidak semuanya rajin mengikuti kajian. Bahkan, yg sering mengikuti kajian di darat saja tdk dijamin akhlak dan ucapannya bagus. Bagi yg berlapang dada mungkin tidak masalah, tapi terkadang yg namanya manusia wajar-wajar saja ada yg tersinggung. Menanggapi soal penerbit sofwa dan yayasan al-sofwa, ana sarankan antum tanyakan saja kepada ustadz yg memang TAHU BANYAK ttg al-sofwa. Yg perlu diketahui, tidak semua ustadz tahu manajemen didalam al-sofwa. Dan, yg perlu kita ketahui adalah bhw diantara byk yayasan-yayasan yg mensupport da'wah ahlussunnah diatas manhaj salafussoleh ini TDK ADA yg sempurna, masing2 mempunyai kelebihan dan kekurangan, sebagaimana juga kita. Tetapi yg namanya nasehat tetap menjadi hak kita semua utk diberi dan memberi sebagaimana mafhum dlm hadits shahih. Dalam e-mail salah satu saudara kita, memang ada yg perlu diluruskan ttg ucapan: "Subhanallah, betapa bencinya Syaikh Zaid ini pada saudara seaqidahnya, apakah kebencian antum terhadap saudara antum sendiri lebih besar dari pada kebencian antum kepada orang-orang kafir??? mengapa engkau wahai syaikh sangat membenci hizbiyyun..? mengapa engkau peringatkan kami dari al Qorni ini wahai Syaikh? apakah engkau sudah tabayyun atau hanya mendengar isu-isu itu dari teman teman antum wahai syaikh? " Hendaknya kita tdk menafsirkan terlalu jauh nasihat yg diberikan kepada ulama kepada para duat yg tergelincir dg kemudian berfikir seakan Ulama itu lebih membenci suadaranya dr pd kekafiran. Sungguh ini penyakit kaum hizbi kalau sepak terjang da'wahnya dikritik yg muncul adalah tafsiran2 bathil spt itu. Dan, utk saudaraku yg berkata spt diatas, marilah kita tawadhu dg bersikap bhw sesunggguhnya ulama itu lebih berilmu dr kita sehingga apa yg mgkn menurut kita bahayanya "kecil" tapi tidak dalam pandangan ahlul 'ilm. Sesungguhnya mereka telah berjihad dg Ilmu, memperingatkan ummat TDK HANYA dari bahaya kekafiran, tapi juga bahaya bid'ah, bahaya maksiat dan bahaya-bahaya ketergelinciran manhaj da'wah. Sebagai penuntut ilmu, kita pelajari saja hujjah-hujjah yg disampaikan dg lapang dada dan ikhlas. Wassalamualaikum, abu mu'adz (35 thn)..:) --- In [email protected], "Mirza" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalamu'alaikum. > Ikhwah sekalian, sudah lebih kurang dua atau tiga tahun ana mengikuti milis > ini, tapi rasanya ada 'sesuatu' yang kurang mempererat tali silaturrahim di > antara kita. Memang di 'dunia maya' ini kita tidak bisa saling bertatap muka > langsung, sehingga kita tidak pernah tahu apakah lawan bicara kita itu lebih > tua, sebaya atau lebih muda umurnya daripada kita. > Sering ana melihat saling "adu argumen" diantara sesama anggota milis. > Beberapa di antaranya bahkan ada yang mengeluarkan kata-kata cukup "pedas" > kepada yang lain, tanpa memperhatikan adab yang santun. Apakah orang yang > "diserang" itu usianya lebih tua, lebih muda atau sebaya dengan kita, kita > tidak pernah tahu. Tentunya hal ini selain menimbulkan gejolak, juga akan > menjadi fitnah mulut yang bisa menimbulkan penyesalan di yaumil hisab nanti. > Naudzubillah. > Nah, oleh sebab itu bagaimana jika para milister meniru kebiasaan akh Ahmad > Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim (l.1980M/1400H), yang selalu > mencantumkan tahun kelahirannya (?). Jika tanda di dalam kurung itu memang > tahun kelahirannya, maka kita bisa menggambarkan usianya tahun ini kira-kira > 25 tahun-an, begitu kan akh? Tapi afwan jika bukan itu yang dimaksud. > > Jadi dalam saling berbalas e-mail, kita bisa tahu lawan bicara kita, apakah > usianya itu lebih tua, lebih muda ataukah sebaya. Kepada yang lebih tua > hendaknya bisa bersikap lebih santun; kepada yang lebih muda hendaknya bisa > lebih membimbing ; kepada yang sebaya hendaknya bisa saling menyayangi. > Walaupun dalamnya 'ilmu seseorang tidak ditentukan oleh usia, namun tidak > ada salahnya, bukan?, jika kita memperhatikan adabyang santun dalam > menanggapi satu masalah. Tidak "bernafsu" dalam menulis bantahan, sehingga > menyinggung dan melukai hati sesama saudara seiman, apalagi yang satu manhaj > dengan kita. > > Sekali lagi ini hanya sekadar usul. Afwan jika terasa tidak populer dan > mengada-ada. > > Wallahu waliyyut taufiq. > > Hatur nuhun. > Abu Iqbal (Bandung) > L. 1965M. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/WwRTUD/SOnJAA/i1hLAA/TXWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ------------------------------------------------------------------------ Website Islam pilihan anda. http://www.assunnah.or.id http://www.almanhaj.or.id Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu Berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] ------------------------------------------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
