DAKWAH TANPA ILMU TIDAK AKAN ISTIQOMAH SELAMANYA


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin




Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kita sering menemukan 
sebagian da�i memiliki perhatian terhadap dakwah ke jalan Allah dan ukhuwah 
di jalan Allah serta saling mencintai di dalamnya, namun tidak memperhatikan 
persoalan ilmu dan tafaqquh dalam perkara-perkara Ad-Dien dan aqidah serta 
dalam menghadiri majlis-majlis ilmu, maka apakah komentar Syaikh terhadap 
hal ini ?

Jawaban
Komentar saya terhadap hal itu adalah : Saya mengatakan bahwa bekal paling 
pertama yang wajib dipegangi oleh seorang da�i adalah hendaknya menjadi 
seorang yang �alim (berilmu). Karena meremehkan urgensi ilmu artinya 
seseorang akan tetap dalam kondisi bodoh, dan dakwahnya menjadi buta tanpa 
mengetahui apa yang benar di dalamnya.

Jika dakwah itu berdiri di atas kebodohan maka setiap orang akan memberikan 
hukum sesuai dengan apa yang didiktekan oleh akalnya, yang ia sangka benar 
padahal salah. Maka saya berpendapat bahwa pandangan ini adalah salah ! 
Wajib ditinggalkan, dan hendaknya seseorang tidak berdakwah kecuali setelah 
mempelajaari (apa yang ia akan dakwahkan). Oleh karena itu Imam Al-Bukhari 
Rahimahullah telah membuat bab yang semakna dengan ini dalam kitab Shahihnya 
dengan menuliskan : Bab Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal, lalu beliau 
menjadikan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta�ala.

�Artinya : Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) 
meliankan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang 
mukmin, laki-laki dan perempuan� [Muhammad : 19]

Maka seseorang haruslah mengetahui terlebih dahulu lalu kemudian 
mendakwahkannya.

Adapun dakwah tanpa landasan ilmu tidak akan istiqomah (konsisten) 
selamanya. Tidakkah anda melihat jika kita keluar dari Jeddah dan berangkat 
menuju Riyadh, lalu kita menunjuk seseorang yang kita ketahui sebagai orang 
yang memiliki prilaku dan niat yang baik, lalu kita katakan padanya : �Kami 
ingin anda menunjukkan pada kami jalan ke Riyadh�. Namun ia sebenarnya tidak 
mengetahui jalannya. Maka iapun membawa kita ke perjalanan yang jauh dan 
panjang, hingga kita letih dan lelah, dan hasilnya adalah bahwa kita tidak 
sampai ke kota Riyadh. Kenapa ? Karena orang itu tidak mengetahui jalannya.

Maka bagaimana mungkin dapat menjadi petunjuk jalan untuk (mengetahui) 
syari�at seseorang yang tidak mengetahui syari�at tersebut ? Ini tidak 
mungkin selama-lamanya.


[Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi 
Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih 
Al-Utsaimin, terbitan Darul Haq]

sumber http://www.almanhaj.or.id

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/UwRTUD/UOnJAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

------------------------------------------------------------------------
Website Islam pilihan anda.
http://www.assunnah.or.id
http://www.almanhaj.or.id
Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------------------------ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke