APAKAH IBNU SHAYYAD ITU DAJJAL YANG BESAR ITU ?

Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2


Dalam pembicaraan di muka mengenai hal ikhwal Ibnu Shayyad dan
pengujian Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam terhadapnya, beliau
bersikap tawaqquf (berdiam diri) mengenai masalah Ibnu Shayyad, karena
beliau tidak mendapatkan wahyu yang menerangkan apakah Ibnu Shayyad
itu Dajjal atau bukan.

Umar Radiyallahu anhu pernah bersumpah di sisi Nabi Shalallahu 'alaihi
wa sallam bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan beliau tidak
mengingkarinya.
Sebagian sahabat juga berpendapat seperti pendapat Umar sebagaimana
diriwayatkan dari Jabir, Ibnu Umar, dan Abu Dzar.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Muhammad bin Al-Munkadir
[1] dia berkata, "Saya melihat Jabir bin Abdullah bersumpah dengan
nama Allah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Saya bertanya
(kepadanya), Anda bersumpah dengan nama Allah?" Dia menjawab, "Saya
mendengar Umar bersumpah begitu di sisi Nabi Shalallahu 'alaihi wa
sallam. tetapi beliau tidak mengingkarinya." [Shahih Bukhari, Kitab
Al-l'tisham bil-Kitab Was sunnah, Bab Ban Ra-aa Tarkan Nakir Min an-
Nabiyyi saw Hujjatan Laa min Ghairi Rasul 13: 223; dan. Shahih Muslim,
Kitabul Fitan wa Asyrothis Sa'ah. Bab Dzikri Ibni Shayyad 18: 52-53]

Dari Zaid bin Wahab [2] ia berkata, "Abu Dzar berkata, "Sungguh, jika
saya bersumpah sepuluh kali bahwa Ibnu Shaid adalah Dajjal lebih saya
sukai daripada bersumpah satu kali bahwa dia bukan Dajjal." [Hadits
Riwayat Imam Ahmad]

Dari Nafi, ia berkata, "Ibnu Umar pernah berkata, "Demi Allah, saya
tidak ragu-ragu bahwa Al-Masih Ad-Dajjal adalah Ibnu Shayyad." [Sunan
Abi Daud, Ibnu Hajar berkata, "Sanadnya shahih." Fathul-Bari 13: 325]

Dan diriwayatkan dari Nafi pula, ia berkata, "Ibnu Umar pernah bertemu
Ibnu Shaaid di suatu jalan kota Madinah, lalu ia mengucapkan kata-kata
yang menjadikannya marah dan.naik pitam hingga membuat ribut di jalan.
Lantas Ibnu Umar datang kepada Kafshah sedang berita itu telah sampai
pula kepadanya, kemudian Hafshah berkata kepadanya, "Mudah-mudahan
Allah memberi rahmat kepadamu. Apakah yang engkau harapkan dari Ibnu
Shaaid? Tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa
sallam bersabda :

"Sesungguhnya dia keluar dari kemarahan yang dibencinya." [Shahih Muslim 18:57]

Dan dalam satu riwayat lagi dari Nafi', ia berkata, "Ibnu Umar
berkata, "Saya pernah bertemu Ibnu Shaaid (Ibnu Shayyad) dua kali.
Setelah saya bertemu yang pertama kali, saya bertanya kepada beberapa
orang, "Apakah Anda mengatakan bahwa dia itu Dajjal?" Jawabnya,
"Tidak, demi Allah." Semua berkata, "Anda berdusta. Demi Allah,
sebagian Anda telah memberitahukan kepadaku bahwa dia tidak akan mati
sehingga menjadi orang yang paling banyak harta dan anaknya. Dan
demikianlah anggapan mereka hingga hari ini. Lantas kami
berbincang-bincang, kemudian kami berpisah. Kemudian bertemu lagi
sedangkan sebelah matanya telah buta, lalu saya bertanya, "Sejak kapan
mata Anda demikian?" Dia menjawab, "Tidak tahu." Saya bertanya,
"Apakah Anda tidak tahu padahal mata itu ada di kapala Anda sendiri?"
Dia berkata, "Jika Allah menghendaki, Dia menciptakan yang demikian
ini pada tongkatmu." Lalu dia mendengus seperti dengus himar. Kemudian
sebagian sahabat saya menganggap bahwa saya telah memukulnya dengan
tongkat saya sehingga matanya cidera, padahal demi Allah saya tidak
merasa (berbuat) sama sekali."

Setelah itu Ibnu Umar datang kepada Ummul Mukminin dan bercakap-cakap
dengannya, lalu Ummul Mukminin berkata, " Apa yang engkau inginkan
darinya? Tidakkah engkau tahu bahwa ia pernah berkata, "Sesungguhnya
pertama kali yang mengutusnya (membangkitkannya) kepada manusia ialah
kemarahan." [Al-Kahfi. 57-58]

Ibnu Shayyad mendengar apa yang diperbincangkan orang mengenai dirinya
dan dia sangat terganggu karenanya, oleh sebab itu dia membela diri
bahwa dia bukan Dajjal dengan argumentasi bahwa identitas Dajjal
seperti yang dikemukakan oleh Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam itu
tidak cocok diterapkan pada dirinya.

Dalam sebuah riwayat dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu 'anhu, ia
bercerita, katanya. "Kami pernah melakukan haji atau umrah bersama
Ibnu Shayyad (Ibnu Shaaid), lalu kami berhenti di suatu tempat dan
orang-orang pun berpencar hingga tinggal saya dan Ibnu Shaaid. Saya
merasa sangat ketakutan kepadanya, mengingat apa yang dikatakan orang
tentang dia. Dia membawa perbekalannya dan meletakkannya bersama
perbekalanku. Lalu saya berkata. "Sesungguhnya hari sangat panas.
sebaiknya engkau letakkan di bawah pohon itu." Lalu ia
melaksanakannya. Lantas kami dibawakan kambing. lalu ia mengambil
mangkok besar seraya berkata, "Minumlah, wahai Abu Sa'id'" Saya jawab,
"Sesungguhnya hari amat panas, dan susu itu juga panas." Saya berkata
demikian itu hanya karena saya tidak suka minum sesuatu dari tangannya
atau mengambil sesuatu dari tangannya. Ia berkata, "Wahai Abu Sa'id,
ingin rasanya aku mengambil tali lantas kugantungkan pada pohon, lalu
kucekik leherku karena kekesalan hatiku terhadap apa yang dikatakan
orang banyak mengenai diriku. Wahai Abu Sa'id, kalau orang-orang
kesamaran terhadap hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam maka
tidaklah ada kesamaran atas kalian kaum Anshar. Bukankah engkau
termasuk orang yang paling tahu tentang hadits Rasulullah Shalallahu
'alaihi wa sallam ? Bukankah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam
telah bersabda bahwa Dajjal itu mandul, tidak punya anak, sedangkan
saya punya anak yang saya tinggalkan di Madinah? Bukankah Rasulullah
Shalallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda bahwa Dajjal itu tidak
bisa memasuki kota Madinah dan Makkah, sedang saya datang dari Madinah
dan hendak menuju ke Makkah?"

Kata Abu Sa'id, "Begitulah, hingga aku hampir menerima alasannya."
Kemudian Ibnu Shaaid, "Ingatlah, demi Allah, Sesungguhnya saya
mengenalnya dan mengetahui tempat kelahirannya serta mengetahui di
mana ia sekarang berada." Abu Sa'id berkata: Saya berkata kepadanya,
"Celakalah engkau pada hari-harimu." [Shahih Muslim 18:51-52]

Dan dalam suatu riwayat Ibnu Shayyad berkata, "Ingatlah, demi Allah,
sesungguhnya saya mengetahui di mana sekarang dia (Dajjal) berada, dan
saya juga mengetahui tempat kelahirannya serta mengetahui di mana ia
sekarang berada." Abu kau senang jika laki-laki itu adalah engkau?"
Dia menjawab, "Kalau disindirkan kepadaku, maka aku tidak benci."
[Shahih Muslim 18: 51]

Dan masih ada beberapa riwayat lagi tentang Ibnu Shayyad yang sengaja
tidak saya sebutkan karena takut terkesan terlalu panjang, dan lagi
karena beberapa orang muhaqqiq seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan
lain-lainnya menolaknya karena kelemahan sanadnya. [Periksa:
An-Nihayah (Al-Fitan wal Malahim) karya Ibnu Katsir dengan tahqiq DR.
Thaha Zaini; dan Fathul-Bari karya Ibnu Hajar 13; 326]

Timbul kemusykilan di kalangan para ulama mengenai masalah Ibnu
Shayyad ini, sebagian mereka mengatakan bahwa Ibnu Shayyad adalah
Dajjal dan mereka beralasan dengan sumpah beberapa orang sahabat bahwa
dia adalah Dajjal beserta kondisinya sebagaimana diriwayatkan dari
Ibnu Umar dan Abu Sa'id ketika sedang bersamanya. Dan sebagian lagi
berpendapat bahwa dia bukan Dajjal dengan mengemukakan alasan hadits
Tamim Ad-Dari.

Dan sebelum saya kemukakan perkataan kedua belah pihak secara lengkap,
baiklah saya bawakan hadits Tamim seutuhnya:

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Amir bin Syurahil
Asy-Sya'bi suku Hamdan, bahwa ia pernah bertanya kepada Fatimah binti
Qais, saudara wanita Adh-Dhahhak bin Qais, salah seorang muhajirah
(peserta hijrah wanita) angkatan pertama. Amir berkata kepada Fatimah,
"Sampaikanlah kepadaku sebuah hadits yang engkau dengar Rasulullah
Shalallahu 'alaihi wa sallam secara langsung tanpa melalui orang
lain." Fatimah menjawab, "Jika engkau menginginkan akan saya lakukan."
Amir berkata, "Benar, ceritakanlah kepadaku." Fatimah berkata, "Dahulu
saya kawin dengan Ibnul Mughiroh, salah seorang pemuda Quraisy yang
baik pada waktu itu, lalu ia gugur dalam jihad pertama bersama
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Ketika saya menjanda, saya
dilamar oleh Abdur Rahman bin Auf, salah seorang kelompok sahabat
Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam meminangku untuk mantan
budaknya yang benama Usamah bin Zaid, sedang saya pernah mendapat
berita bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

"Barangsiapa yang mencintai aku hendaklah ia mencintai Usamah."


[Disalin dari kitab Asyratus Sa'ah edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari
Kiamat, Penulis Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabl MA, Penerjemah
Drs As'ad Yasin, Penerbit CV Pustaka Mantiq]
_________
Foote Note
[1]. Dia adalah Abu Abdillah Muhammad bin Al-Munkadir bin Abdullah bin
Hudair bin Abdul Uzza At-Taimin, seorang tabi'i dan salah seorang Imam
yang alim, meriwayatkan hadits dari para sahabat, wafat pada thun 131H
[Tahdzibut Tahdzib 9 : 473-475]
[2]. Daia adalah Abu Sulaiman Zaid bin Wahab Al-Juhami Al-Kufi,
meriwayatkan hadits dari banyak sahabat seperti Umar, Utsman, Ali, Abu
Dzar dan lain-lainnya. Dia seorang terpercaya yang banyak meriwayatkan
hadits, wafat tahun 96H [Tahdzibut Tahdzib 3 : 427]



sumber, http://almanhaj.co.id




------------------------------------------------------------------------
Website Islam pilihan anda.
http://www.assunnah.or.id
http://www.almanhaj.or.id
Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------------------------ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke