assalaamu'alaikum warahmatullah,
 
Afwan ana sekilas melihat ttg perkataan al-akh niat bahwa ibadah yang niatnya diucapkan adalah umrah dan haji, mungkin maksudnya adalah talbiyyah ?
ana sempat baca perkataan syaikh utsaimin,
 
 
إذا قال قائل : قول الملبي : لبيك اللهم عمرةً ولبيك اللهم حجاًّ ولبيك الله عمرةً وحجاًّ ، أليس هذا نطقاً بالنية ؟
فالجواب : لا ، هذا إظهاراً للشعيرة ،
ولهذا قال بعض العلماء : إن التلبية في النسك كتكبيرة الإحرام في الصلاة ،
يعني إذا لم تلبِّ ما انعقد إحرامك كما أن تكبيرة الإحرام لو لم تكبر ما انعقدت صلاتك ،
إذن قول الملبي : لبيك عمرةً أو حجاًّ أو عمرةً وحجاًّ ، ليس إلا لإظهار هذه الشعيرة فقط ،
 
Apabila seorang berkata : Labbaika Allahumma umratan, dan Labbaika Allahumma hajjan, dan Labbaika Allahumma umratan wahajjan apakah hal ini termasuk melafadzkan niat ?
Maka jawabnya : tidak, ini adalah untuk menampakkan syi'ar. Dan tentang ini berkata sebagian ahli ilmu, bahwa talbiyyah di dalam manasik adalah seperti takbir di dalam shalat, yaitu apabila tidak bertalbiyyah maka belum menghadirkan ihram nya sebagimana takbiratul ihram jika belum bertakbir maka tidak sah shalatnya.
Dengan demikian, ucapan seorang yang bertalbiyyah : labbaika Allahumma umratan atau hajjan ataupun umratan dan hajjan, tidak lain hanyalah menampakkan syi'ar ini saja.
 
***
 
Adapun tentang niat, seperti yang ditanyakan akhi sebelumnya ... [karena telah dipotong ana copy lagi]
Saya tadi malam tidak seperti biasanya menyengaja berniat di dalam hati untuk berpuasa. Biasanya saya beniat dalam hati setelah shalat isya atau tarawih atau pas sahur. Saya benar-benar lupa. Tadi malam saya tidak sahur karena mungkin saking lelah dan ngantuk, saya tidak mendenngar alarm (jam).

Akan tetapi saat sebelum shalat tarawih dan kemudian tidur, saya menyengaja masak nasi untuk sahur karena tinggal sedikit lagi dan menyiapkan sedikit nasi di mangkuk untuk sahur serta menset alarm pada pukul (kira-kira) 4 kurang 10 menit. Masalah di sini adalah saya tidak sahur dan tidak menyengaja berniat di dalam hati yang biasanya saya lakukan sth shalt isya, setelah shalat tarawih atau pas sahur. Apakah shaum saya hari ini sah?? saya sangat mengahrapka jawaban aas masalah saya. Saya ucapkan banyak terima aksih atas jawabnnya..
mungkin berikut ini menjadi jawabannya yang membantu ...

س29: هل نية صيام رمضان كافية عن نية صوم كل يوم على حدة؟

ج29: من المعلوم أن كل شخص يقوم في آخر الليل ويتسحر فإنه قد أراد الصوم ولا شك في هذا، لأن كل عاقل يفعل الشيء باختياره لا يمكن أن يفعله إلا بإرادة. والإرادة هي النية، فالإنسان لا يأكل في آخر الليل إلا من أجل الصوم، ولو كان مراده مجرد الأكل لم يكن من عادته أن يأكل في هذا الوقت. فهذه هي النية ولكن يحتاج إلى مثل هذا السؤال فيما لو قدر أن شخصاً نام قبل غروب الشمس في رمضان وبقي نائماً لم يوقظه أحد حتى طلع الفجر من اليوم التالي؛ فإنه لم ينو من الليل لصوم اليوم التالي؛ فهل نقول: إن صومه اليوم التالي صوم صحيح بناءً على النية السابقة؟
أو نقول: إن صومه غير صحيح؛ لأنه لم ينوه من ليلته؟ فنقول: إن صومه صحيح. فإن القول الراجح أن نية صيام رمضان في أوله كافية، ولا يحتاج إلى تجديد النية لكل يوم. اللهم إلا أن يوجد سبب يبيح الفطر فيفطر في أثناء الشهر، فحينئذٍ لابد من نية جديدة لاستئناف الصوم.
 
المصدر : 48 سؤالاً في الصيام
Soal no 29 : Apakah sekali niat dalam puasa ramadhan (pada awal bulan) sudah mencukupi untuk seluruh hari di bulan itu ?
Jawab no 29 : Adalah hal yang ma'lum, bahwa setiap orang yang bangun di akhir malam dan bersahur, sesungguhnya dia hendak berpuasa, tidak ragu lagi. Karena setiap orang yang berakal, mengerjakan segala sesuatu dengan pilihan tidak mungkin mengerjakan sesuatu kecuali dengan kehendak dan kehendak dalam hal ini adalah niatnya itu. Maka seseorang tidaklah makan pada akhir malamnya kecuali karena mau puasa. Kalau seandainya maunya adalah makan semata, tidaklah menjadi kebiasannya makan pada waktu ini. Maka inilah niat, akan tetapi perlu contoh persoalan seperti ini : seandainya seseorang tertidur sebelum maghrib, pada bulan ramadhan.. dan terus tertidur tidak terbangun kecuali sampai terbitnya fajar pada hari berikutnya. Jadi dia tidak berniat pada malam hari itu untuk puasa hari berikutnya. Maka apakah kita katakan : puasanya untuk hari berikutnya itu sah berdasarkan niat sebelumnya ? atau kita katakan : bahwa puasanya tidak sah karena dia tidak berniat pada malamnya ?
Maka (jawabnya) kita katakan : bahwa puasanya sah, karena menurut pendapat yang rajih bahwa niat puasa ramadhan itu cukup pada awalnya saja, dan tidak perlu untuk diperbarui setiap hari. Allahumma... Kecuali dia jumpai sebab yang membolehkannya berbuka lalu dia berbuka pada tengah-tengah bulan (terpotong dg tidak puasa suatu hari), maka kalo demikian dia harus memperbarui niat lagi untuk melanjutkan puasanya.
 
sumber : 48 soal dalam puasa.
 
demikian itu jawaban syaikh utsaimin dalam fatwa nya dan kurang lebihnya terjemahannya.
 
waAllahu a'lam bis shawab, semoga bermanfaat.

abu iisa alghurahy
----- Original Message -----
Sent: Monday, October 17, 2005 10:14 AM
Subject: Balasan: [assunnah] Niat Puasa

Assalammu'alaikum
Satu2nya ibadah yang lafaz niatnya diucapkan yaitu Umrah dan haji (Afwan ana lupa haditsnya). sedangkan kalau ibadah seperti shalat dan sebagainya itu tidak perlu dilafazkan (diucapkan) karena sesuai dengan hadits ahad ("Sesungguhnya segala amal ibadah itu tergantung kepada niatnya"), dengan kata lain menyiapkan nasi untuk sahur udah bisa dibilang niat. Afwan hany segini kemampuan ana.
Wallahhu'alam bis Showaf
 


------------------------------------------------------------------------
Website Islam pilihan anda.
http://www.assunnah.or.id
http://www.almanhaj.or.id
Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------------------------




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke