Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, Berikut saya salinkan kembali artikel yang pernah dimuat di milis assunnah pada 20 Desember 2005 lalu yang membahas masalah adab hutang piutang ----- From: "Abu Abdillah" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Tue Dec 20, 2005 7:56 am Subject: Re: [assunnah]>>Tanya Masalah Adab Menagih Hutang<< >From: "Asshiddiqi, Hasbi" <[EMAIL PROTECTED]> >Date: Fri Dec 16, 2005 1:47 am >Subject: Tanya: Masalah adab >Assalaamu'alaykum, >Tanya : bagaimanakah adab - adab yang diajarkan dalam islam jika >kita menagih hutang ? >Wassalaamu'alaykum
Alhamdulillah Hutang piutang tidaklah dilarang dalam Islam dan itu lebih baik daripada kita minta-minta kepada orang lain, akan tetapi apabila kita sudah mampu untuk membayar hutang, maka diharamkan untuk menunda-nunda hutang yang wajib dilunasi jika sudah jatuh tempo. Bagi yang menagih utang juga harus mempunyai sikap toleransi dalam menagih hutang, karena ada kemungkinan orang yang berhutang mempunyai kesulitan untuk membayar hutangnya dan minta untuk ditangguhkan. Namun sangat disayangkan ada sebagian dari teman-teman kita yang mempunyai hutang sangat lalai dalam membayar hutang dan tidak menepati janji, malahan sikapnya jadi berubah ; tidak mau bertemu, tidak mau telpon ataupun minta ma'af, padahal sewaktu mau pinjam (hutang) dia sangat ramah sekali, sering datang ke rumah, sering telpon menanyakan khabar dan hal-hal lainnya. Tentunya, ini suatu kekeliruan dan hendaknya orang yang berhutang bertakwa kepada Allah dalam hal tersebut sebelum maut menjemputnya dengan tiba-tiba, sementara dia masih tergantung pada hutanngnya. Dibawah ini akan saya salinkan keutamaan "Toleransi" dari situs http://www.almanhaj.or.id semoga bermanfaat KEUTAMAAN-KEUTAMAAN TOLERANSI Oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali [1]. Toleransi Merupakan Penghapus Kesalahan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Artinya : Para Malaikat mengerumuni roh seorang lelaki dari umat sebelum kalian. Mereka bertanya : 'Apakah engkau pernah berbuat kebajikan ?' Ia menjawab : 'Dulu aku menyuruh para pegawaiku untuk memberi tangguh orang yang kesulitan (dalam membayar hutang, -pent) dan mema'afkan orang yang mudah' Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : 'Ma'afkanlah dia" [Hadits Riwayat Bukhari 4/307 -Fath] Beliau juga menceritakan. "Artinya : Ada seorang lelaki sebelum kalian dihisab ternyata tidak didapati baginya amalan kebajikan kecuali dia dulunya orang yang lapang (berkecukupan) dia biasa berhubungan dengan orang lain, dan dia menyuruh para pegawainya untuk mema'afkan orang yang kesulitan. Maka Allah Azza wa Jalla memerintahkan para malaikat-Nya : 'Kita lebih berhak untuk itu dari dia, ma'afkanlah dia" [Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir : 3154] Dalam riwayat lain beliau mengisahkan. "Artinya : Sesungguhnya ada seorang lelaki sebelum kalian didatangi malaikat maut untuk mencabut nyawanya, malaikat tadi bertanya kepadanya : 'Apakah engkau pernah mengamalkan kebajikan ? Jawabnya : 'Saya tidak tahu'. Katanya : Lihat ! Jawabnya : 'Aku tidak mengetahui sedikitpun (amalan baik) hanya saja saya dahulu berjual beli dan berhubungan dagang dengan masyarakat, maka aku memberi tangguh orang yang kesulitan dan mema'afkan orang yang lapang'. Allah-pun memasukkan ke dalam Surga" [Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 2075] [2]. Toleransi Merupakan Sebab Turunnya Rahmat Allah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Artinya : Mudah-mudahan Allah merahmati sorang lelaki yang toleran bila menjual, membeli dan menagih." [Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 3489] [3]. Toleransi Dapat Menyelamatkan (Pelakunya) Dari Kengerian Hari Kiamat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Artinya : Barangsiapa memberi tangguh orang yang kesulitan atau meletakkan hutangnya (dianggap lunas tanpa bayar, -pent) , maka Allah akan menyelamatkannya dari kengerian di hari kiamat" [Hadit Riwayat Muslim : 1563] Beliau juga memberitakan. "Artinya : Barangsiapa memberi tangguh orang yang kesulitan atau meletakkannya, maka Allah akan menaunginya di hari kiamat pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya" [Hadits Riwayat Muslim 3006, Nukilan Hadits Jabir yang panjang] [4]. Toleranasi Mengharamkan Pelakunya Dari Api Neraka Sabda beliau. "Artinya : Barangsiapa yang mempermudah, lemah lembut dan lunak (perangainya), maka Allah mengharamkan api neraka atasnya" [Shahih Jami' Ash-Shaghir 6360] Beliau juga bersabda. "Artinya : Maukah kalian saya beritahu tentang orang yang diharamkan masuk neraka besok (di hari akhir) ? Yaitu orang yang lemah lembut, familiar dan mudah (toleran)" [Shahih Al-Jami' 2606] BEBERAPA HAL YANG DAPAT MEMBANTU SIKAP TOLERANSI [1]. Menahan Angkara Murka Ketahuilah wahai saudaraku muslim, bahwasanya toleransi itu adalah kerelaan hati dan kelapangan dada bukan karena menahan, kesempitan dan terpaksa sabar melainkan toleransi adalah bukti kebaikan hati, lahir dan bathin. Hanya saja, toleransi tidak dapat dicapai kecuali melalui jembatan menahan angkara murka dan berupaya sabar, bila seorang hamba dapat dengan mantap melewatinya, maka dia akan memasuki -pintu-pintu toleransi- dengan pertolongan dan taufik dari Allah. Allah Ta'ala berfirman memuji kaum mukminin. "Artinya : (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarah dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang berbuat kebajikan" [Ali-Imran : 134] Dan firman-Nya yang lain. "Artinya : ... Dan apabila mereka marah, mereka memberi ma'af" [Asy-Syura : 37] Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Artinya : Barangsiapa yang dapat menahan angkara murkanya padahal dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya dihadapan khalayak guna disuruh memilih bidadari mana yang dia kehendaki untuk Allah nikahkan dia dengannya" [Shahih Al-Jami 6394 dan 6398] [2]. Mema'afkan dan Berlapang Dada Kapan saja engkau menyaksikan wahai hamba yang toleran ! Keutamaan dari sikap toleransi ini dan engkau telah merasakan kelezatan dan kemuliaannya, maka engkau tidak akan berpaling darinya. Ketahuilah ! Semoga Allah membantumu dengan pertolongan-Nya, bahwasanya tidak ada yang berpaling darinya kecuali orang yang telah Allah porak-porandakan hatinya dan Allah tutupi pandangan dan mata hatinya. Bagaimana mungkin engkau berpaling dari derajat kemuliaan menuju tangga kehinaan ? Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari keadaan yang demikian itu. Para cendekiawan telah mengetahui dengan ekseperimennya dan realita yang ada, bahwa seorang hamba bila dia melampiaskan kemarahan dirinya, maka dia akan hina dan tergelincir, sementara pada sikap mema'afkan dan berlapang dada terdapat kelezatan, ketenangan, kemuliaan jiwa dan keagungan serta ketinggiannya yang tidak terdapat sedikitpun pada sikap pembalasan dan pelampiasan angkara murka. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Artinya : Tidaklah shadaqah itu mengurangi harta benda, tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba dengan sikap pema'afnya kecuali kemuliaan dan tidaklah seorang bertawadlu karena Allah melainkan Allah mengangkat (derajat)nya" [Hadits Riwayat Muslim 2588 dan lainnya] [Disalin dari kitabToleransi Islam Menurut Pandangan Al-Qur'an dan As-Sunnah, oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali, terbitan Maktabah Salafy Press, hal. 43-48, penerjemah Abu Abdillah Mohammad Afifuddin As-Sidawi Hari wrote: > Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. > Saudara-saudaraku, ana ingin minta bantuan saran atau pendapat dari rekan-rekan millist As-Sunnah. > > Keluarga ana tergolong keluarga yang alhamdulillah tidak kekurangan namun juga tidak berlebihan, ana dan keluarga suka menolong orang-orang (tetangga) yang sedang kesulitan (maaf tidak bermaksud sombong), seperti orang yang memerlukan biaya tambahan modal berdagang atau yang lainnya. Ana beserta istri mau membantu mereka dengan harapan uang tersebut dapat kembali tidak kurang dan tidak lebih. > Akan tetapi pada saat waktu yang telah disepakati mereka tidak bisa mengembalikan uang itu, istri ana sudah mencoba menagih kepada mereka namun mereka selalu dan selalu meminta tenggang waktu hari lagi yang akhirnya mereka tidak bisa membayar, sehingga akhirnya kami mengikhlaskannya. > > Bagaimana seharusnya sikap ana dan keluarga menghadapi masalah tersebut, sementara banyak yang minta tolong ke keluarga ana, dan ana sangat ingin sekali membantu mereka dengan kemampuan seadanya yang ana miliki, namun ana khawatir uang tersebut tidak kembali lagi seperti yang lainnya, karena ana juga membutuhkan uang tersebut untuk kehidupan keluarga ana sehari hari. > > Sekali lagi mohon bantuan saran dan pendapatnya, mudah-mudahan beserta contohnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. > Jazakumullah khoiron katsiro > Wassalaamu 'alaikum warohmatullahi wabarokaatuhu. > Hari hamba Allah yang dhoif ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/TXWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ------------------------------------------------------------------ HADIRILAH.. SILATURAHMI ULAMA DAN UMMAT KE II BERSAMA MURID-MURID SENIOR ULAMA AHLI HADITS ABAD INI SYAIKH MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI, MASJID ISTIQLAL, AHAD 20 MUHARRAM 1427H/19 FEBRUARI 2006M JAM 08.00 12.00 Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] ------------------------------------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
