Apakah Kita Boleh Menghajr [Mengisolasi/Memboikot] Orang-Orang Yang Menyalami 
Ahlul Bid'ah ?

Oleh
Fadhilah Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi 'Umair Al-Madkholiy Hafidzahullah

Pertanyaan :
Apakah boleh kita menghajr (mengisolasi/memboikot) orang-orang yang menyalami 
Ahlul Bid'ah dari kalangan Ikhwanul Muslimin, harokiyin dan takfiriyin, mereka 
bermajlis dengan mereka dengan tetap mengakui bahwa mereka adalah mubtadi', 
namun mereka menjauhkan manusia dari ilmu Jarh wa Ta'dil?

Jawaban :
Bagaimana mereka bermajlis dengannya?? Apakah Salafiyun bermajlis dengan Ahlul 
Bid'ah?? Jika ditemukan ada seorang salafi yang kuat, dan ia mampu untuk 
menyampaikan dakwah kepada Ahlul Bid'ah dan kelompok-kelompok (lainnya) dengan 
hujjah dan burhan, mampu mempengaruhi mereka dan bukan mereka yang 
mempengaruhinya, maka ini merupakan kewajibannya supaya dia bercampur dengan 
mereka dalam rangka mendakwahi mereka, bukan dalam rangka makan dan minum 
bersama mereka, bukan pula untuk bermudahanah [1] (menjilat/berpura-pura), 
bukan pula untuk sesuatu dari urusan agama, bukan pula untuk menyetujui 
kebatilan mereka. Sesungguhnya dia berkumpul dengan mereka di masjid untuk 
mendakwahinya, berkumpul dengan mereka di pasar untuk mendakwahinya, dan pergi 
naik mobil, pesawat atau kereta api besertanya untuk mendakwahinya.

Dia berdakwah dan mau tidak mau dia harus bercampur dengan mereka, yang dia tak 
dapat terbebas dari mereka, karena Ahlul Bid'ah dan Ahlul Ahwa' adalah jauh 
lebih banyak, sedangkan salafiyun bagaikan rambut putih pada kerbau hitam, 
semoga Allah memberkahi kalian, maka mau tidak mau salafiyun berbaur dengan 
mereka, namun apakah kewajibannya?

Kewajibannya adalah, menyampaikan dakwah kepada Allah dengan cara yang hikmah 
dan nasehat yang baik. Jika orang ini berdiam diri di rumahnya dengan dalih 
menghajr Ahlul Bid'ah! Maka hal ini dapat mematikan dakwah!!

Contohnya, ada seorang manusia yang jahil dan pribadinya lemah, jika dia 
mendengar syubhat yang kecil saja dengan serta merta dia mengambilnya, maka 
sepatutnya orang ini menyelamatkan diri dari Ahlu Syubhat dan Ahlu Bid'ah, 
menjauhi mereka dan tidak bermajlis dengan mereka. Namun jika ada seseorang 
yang mengujimu dengan mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah salamnya : wa 
'alayka as-Salam. Tapi, jika anda bermajlis dengan mereka, makan-makan dengan 
mereka, bercanda dengan mereka dan bercengkerama dengan mereka, maka anda dalam 
hal ini telah melakukan kesalahan! Karena apa yang anda kerjakan menyelisihi 
manhaj salafi dan sunnah.

Sekarang... saya -Rabi' misalnya-, tidaklah diriku melihat seorang mubtadi' 
kecuali aku akan lari darinya! Dan aku tidak tau kenapa!! Fulan, fulan atau 
fulan dari para penuntut ilmu -misalnya-, tidaklah dia melihat seorang mubtadi' 
melainkan ia lari darinya! Dia tidak mau melihatnya atau memandang wajahnya 
dari depan rumahnya melainkan ia menyembunyikan dirinya, jika ia melihatnya di 
suatu jalan, maka ia akan menghindar ke jalan yang lain. Yang demikian ini 
bukanlah jalannya salafi. Para sahabat dulu mereka menyebar diantara kaum 
kuffar di seluruh penjuru bumi, dan mereka menyebarkan agama Allah kepada 
mereka, semoga Allah memberkah kalian.

Salafiyun sebelum kita, mereka juga menyebar -seperti para sahabat- di 
tengah-tengah Ahlul Bid'ah, mereka mempengaruhi Ahlul Bid'ah, dan masuklah 
beribu-ribu manusia ke dalam haribaan manhaj salafi. Maka barangsiapa yang 
memiliki pemahaman dan kepribadian yang kuat serta ilmu yang mantap, hendaknya 
dia menegakkan hujjah dan mendakwahi mereka dengan cara yang hikmah dan 
pelajaran yang baik. Maka anda akan lihat pengaruh hal ini.

Adapun orang yang lemah, Demi Allah! janganlah dia bercampur sedikitpun dengan 
mereka, namun jika ia diuji dengan salam maka wajib atasnya menjawab salam, 
tidaklah mengapa ia melakukannya, jika tidak apa yang ia lakukan? Namun, 
janganlah ia bercampur dan jangan pula bermajlis dengan mereka.


Pertanyaan  :
Bagaimana cara bermua'amalah terhadap seseorang yang berpendapat : 
'Sesungguhnya fulan telah dikatakan mubtadi' oleh ulama, namun dia hanya 
menyalahkannya saja dan tidak mengeluarkannya dari lingkaran Ahlus Sunnah'? Dan 
manhaj baru ini mulai tampak setelah wafatnya para ulama senior seperti Albani, 
Ibnu Baz dan al-Utsaimin -semoga Allah merahmati mereka semua-.

Jawaban :
Iya, manhaj ini memang baru-baru ini berkembang. Kalian memiliki ilmu dari Jarh 
wa Ta'dil -perkataan yang tadi telah kami utarakan-: ada manusia menjarh 
seseorang dan ada manusia tidak menjarhnya, ada manusia yang memujinya dan 
membela orang yang dijarh ini, dan kita meminta kepada orang yang menjarh 
tafsir (penjelasan sebab jarhnya, pent.). Jika ia menjelaskan sebab-sebab 
jarhnya secara benar maka wajib mengikutinya, karena hal ini termasuk mengikuti 
yang benar dan membantah orang-orang yang tidak memiliki kebenaran dan orang 
itu menolak kebenaran.

Hakikat Jarh wa Ta'dil itu sendiri didapatkan di sini, mereka menjarh seseorang 
namun jarhnya tanpa disertai hujjah maka sungguh ucapannya tidak bernilai. Jika 
mereka menjarh dengan hujjah maka wajib bagi orang yang menyelisihi mereka 
(orang yang menjarh, pent.) ini untuk mengakui kebenaran dan kembali kepada 
al-Haq, dan dia mengambilnya dengan hujjah, semoga Allah memberkahi kalian. 
Betapa banyak orang-orang yang mendustakan kebenaran dan menolaknya. Dan hal 
ini sungguh merupakan perkara yang besar dan sangat berbahaya.

Dan demikianlah -sebagaimana telah kukatakan pada kalian-, inilah dia kaidah di 
dalam Jarh wa Ta'dil, yaitu dituntut orang yang menjarh penjelasan (tafsir) 
jarhnya dan bayyinah (keterangan) atasnya jika mereka tidak memiliki bayyinah, 
namun jika mereka memiliki bayyinah dan dalil, maka ia menjadi hujjah dan 
mengikuti kebenaran, dan selesailah segala perkara.


Pertanyaan :
Semoga Allah memberi anda pahala, jika ada seorang ulama menghukumi seseorang 
bahwa ia adalah seorang mubtadi', apakah dimutlakkan pula hukum ini terhadap 
pengikutnya yang mengikuti syaikhnya, mereka berdalih bahwa syaikh mereka hanya 
melakukan kesalahan biasa dan tidak perlu membid'ahkannya?

Jawaban :
Dikembalikan pada pertanyaan pertama tadi, jika ulama tadi yang membid'ahkan 
orang ini memiliki hujjah atas tabdi'nya, maka wajib atas murid-muridnya dan 
setiap orang yang meneliti perkara ini mau mengambil kebenaran ini. Tidak boleh 
bagi mereka membelanya.

Aku memohon kepada Allah untuk mempererat hati kalian.

Aku memohon kepada Allah untuk mempersatukan kalimat kalian di atas kebenaran.

Aku memohon kepada Allah untuk menghilangkan tipu daya syaithan dari kalian.

Dan bersungguh-sungguhlah kalian untuk mewujudkan sebab-sebab (persatuan) ini, 
dan cabutlah sampai ke akar-akarnya sebab-sebab duri/luka perpecahan yang telah 
mendarah daging ini.

Semoga Allah menuntun kalian dan meluruskan langkah-langkah kalian 
-hayyakumullahu-

Lihatlah musuh-musuh kalian bergembira! Sesungguhnya dakwah salafiyah 
dihentikan dan diganggu -wahai saudaraku sekalian-, maka bertakwalah kalian 
kepada Allah terhadap (perihal) diri-diri kalian, dan bertakwalah kepada Allah 
terhadap dakwah ini. Dan wujudkanlah semua sebab-sebab yang dapat menumpas 
segala kebatilan dan fitnah ini.

Barokallahu fiikum wa Hayyaakumullahu.
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarokatuh.

[Dialihbahasakan oleh Abu Salma bin Burhan Al-Atsari, Diperiksa dan diedit oleh 
Ustadz Abu Abdurrahman Thayib, Lc. Sumber : Transkrip ceramah Syaikh Rabi'bin 
Hadi bin Umair al-Madkhali yang berjudul : Al-Hatstsu 'alal Mawaddah wal 
I'tilaaf wat Tahdziiru minal Furqoti wal Ikhtilaafi yang disusun oleh : Lajnah 
al-Bahtsi al-'Ilmi wa Tahqiq at-Turats al-Islami Markaz Imam Albani lid 
Dirosaati al-Manhajiyyah wal Abhaatsil Ilmiyyah. Selebaran no : 13, Dar 
al-Atsari, Amman Yordania. Terjemahan disebarkan oleh Lajnah Da'wah & Ta'lim 
FSMS Forum Silaturrahim Mahasiswa as-Sunnah Surabaya, Indonesia 2004/1425]


[1] Syeikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily Hafidzahullah dalam Nasihatnya kepada 
salafiyyin berkata:

Hendaknya para pelajar (Tholabatul Ilmi), terutama para da'i, dapat membedakan 
antara Al Mudarah dan Al Mudahanah. Karena Al Mudarah adalah suatu hal yang 
dianjurkan, yaitu : sikap lemah lembut dalam pergaulan, sebagaimana disebutkan 
dalam kitab Lisanul Arab, bersikap Mudarah terhadap orang lain adalah dengan 
beramah-tamah kepada mereka, berhubungan dengan cara yang baik, dan bersabar 
menghadapi gangguan mereka, agar mereka tidak menjauh darimu. Sedangkan Al 
Mudahanah (menjilat) adalah sikap tercela, yaitu sikap (mengorbankan) agama, 
Allah berfirman :

"Artinya : Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka 
bersikap lunak (pula kepadamu). [Al Qolam : 9].

Al Hasan Al Bashry menafsirkan makna ayat ini dengan berkata: "Mereka 
menginginkan agar engkau berpura-pura dihadapan mereka, sehingga mereka juga 
akan berpura-pura pula dihadapanmu" [Tafsir Al Baghowy 4/377].

Dengan demikian, orang yang bersikap mudarah akan berlemah lembut dalam 
pergaulan, tanpa meninggalkan sedikitpun dari prinsip agamanya, sedangkan orang 
yang bersikap mudahin, ia akan berusaha menarik simpati orang lain dengan cara 
meninggalkan sebagian prinsip agamanya.

Sungguh dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, merupakan figur paling baik 
akhlaqnya, dan paling lemah lembut terhadap umatnya, dan ini sebagai perwujudan 
sisi lemah lembut, dan ramah tamah dari perangai beliau. Di sisi lain, beliau 
adalah orang paling kuat dalam (mengemban) agama Allah, sehingga beliau tidak 
akan meninggalkan prinsip agama, barang satupun, walau dihadapan siapapun, dan 
ini adalah perwujudan sisi keteguhan hati beliau dalam mengemban 
(prinsip-prinsip) agama. Dan sisi perangai beliau ini sangat bertentangan 
dengan sikap mudahanah (menjilat).

Hendaknya para pelajar, memperhatikan perbedaan antara kedua perangai ini, 
karena sebagian orang beranggapan, bahwa bersikap ramah-tamah kepada orang 
lain, dan berlemah lembut, sebagai tanda lemah dan luluh dalam (mengemban 
perintah) agama. Disaat yang lain, ada yang beranggapan bahwa: sikap membiarkan 
orang lain dalam kebatilan, dan berdiam diri tatkala melihat kesalahan, adalah 
bagian dari sikap ramah-tamah (Ar Rifqu). Sudah barang tentu kedua kelompok 
(anggapan) ini adalah, salah, dan tersesat dari kebenaran. Hendaknya hal ini 
benar-benar diperhatikan dengan baik, karena kesalah pahaman pada permasalahan 
ini, sangat berbahaya, dan tiada yang dapat terlindung darinya, kecuali 
orang-orang yang mendapatkan taufiq (bimbingan) dan petunjuk dari Allah.

[Diterjemahkan oleh ASPRI RAHMAT AZAI Islamic university of Madinah, Po. Box : 
10234, Phone : 966-4-8390448, Mobile: 966-59467833]


dikutip dari:

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1295&bagian=0

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=260&bagian=0



-------------
Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail  makes sharing a breeze.





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke