Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Perlu ditambahkan dari jawaban-jawaban yang sudah ada. Bahwa di antara arti Islam adalah berserah diri. Pasrah dan tunduk kepada syari'at Allah yang disampaikan oleh Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sikap ini sendiri pun tidak bertentangan dengan akal dan fitrah manusia.

Sebagai ilustrasi, yang ana dapatkan dari kajian-kajian ustadz Abdul Hakim Abdat (mohon dikoreksi jika salah), adalah ketika kita memperbaiki mobil atau alat-alat elektronik. Kita pasrah kepada teknisi, bahwa yang rusak ini dan itu, ada komponen2 tertentu yang harus diganti/diperbaiki. Kita percayakan, pasrahkan kepada teknisi karena pengetahuan teknisi terhadap mobil atau alat elektronik itu lebih baik dari pengetahuan kita. Kita tidak membantah teknisi itu dengan mengatakan, "kok yang harus diganti kok komponen A dan B, padahal yang korslet komponen A saja?" atau "kok bagian depan yang diperiksa, sementara bagian belakang yang agak parah (padahal parah menurut pemilik, bukan menurut teknisi) tidak diperiksa?" dan pertanyaan-pertanyaan serupa.

Ilustrasi lain sama halnya ketika seseorang berobat dengan terapi pijat refleksi. Semua penyakit yang dikeluhkan, yang diobati (dipijat-pijat) tetap saja telapak kaki. Dan hal ini, tidak pernah dibantah oleh pasien. Padahal, dengan akal mereka yang awam terhadap pijat refleksi, tidak akan masuk (yang sakit apa, yang diperiksa apa). Lalu, kita juga tidak bisa membantah, "Pak, kayaknya bapak kurang mijet kaki saya yang kiri." atau, "Kenapa punggung kaki kanan dipijat, tapi punggung kaki kiri tidak?" dan pertanyan-pertanyaan yang 'tidak masuk akal' lainnya yang dapat ditanyakan atau istilah para pendewa akal penentang syari'at 'dikritisi'.

Pertanyaan yang patut untuk direnungkan adalah, mengapa dalam masalah-masalah sehari-hari keduniaan kita dapat bersikap pasrah, menyerahkan suatu masalah kepada yang ahli dalam bidangnya, sementara kita mempersoalkan terhadap sesuatu hal (yakni syari'at) yang datang secara shahih dari Allah (melalui rasul-Nya)? Sementara kita (sebagai muslim) tahu dan meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui bersama sifat-sifat-Nya yang mulia lainnya?

Maka, seseorang yang mempertentangkan syari'at atau kabar yang telah sampai kepada kita dengan shahih, ia hanyalah mengikuti hawa nafsunya saja. Semoga kita semua terhindar dari sikap ini.

Islam memuliakan dan menghargai akal, namun seorang muslim harus mengetahui di mana kedudukan akal itu berada dan diatur dalam Islam. Mengenai hal ini, sebagiannya secara singkat dapat dilihat di:

http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=698&Itemid=89
http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=699&Itemid=89
http://vbaitullah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=700&Itemid=89

Demikian dari ana. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Mohon dikoreksi jika ada yang salah

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Adinda P

On 4/1/06, nur hidayat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ass. wr. wb
Apakah dalam memahami nilai-nilai keagamaan, kita harus sesuai konteks tanpa boleh berpikir atau menggunakan akal? padahal Allah menyukai orang yang menggunakan akal.
Apakah pengertian Allah turun ke bumi diartikan secara harfiah Allah dari langit ke bumi? yang dapat menimbulkan konotasi Allah punya wujud lebih kecil dari bumi, Subanallah. maaf kalau saya salah.
mohon penjelasan karena saya sering ikut kajian seakan akal di nomor duakan di dalam salafi. misal ketika ustadz ditanya kenapa begini atau begitu jawab utamanya adalah karena haditsnya begitu ikuti saja gak usah mikir. sehingga seakan-akan kita jadi dibutaka dari ilmu/akal.
www





--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke