----- Original Message -----
From: "nur hidayat" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Saturday, April 01, 2006 9:41 AM
Subject: [***SPAM*** Score/Req: 05.65/05.00] [assunnah] penggunaan akal dalam 
beragama

> Ass. wr. wb
> Apakah dalam memahami nilai-nilai keagamaan, kita harus sesuai konteks tanpa 
> boleh berpikir atau menggunakan akal? padahal Allah
menyukai orang yang menggunakan akal.
> Apakah pengertian Allah turun ke bumi diartikan secara harfiah Allah dari 
> langit ke bumi? yang dapat menimbulkan konotasi Allah
punya wujud lebih kecil dari bumi, Subanallah. maaf kalau saya salah.
> mohon penjelasan karena saya sering ikut kajian seakan akal di nomor duakan 
> di dalam salafi. misal ketika ustadz ditanya kenapa
begini atau begitu jawab utamanya adalah karena haditsnya begitu ikuti saja gak 
usah mikir. sehingga seakan-akan kita jadi dibutaka
dari ilmu/akal.
> www


Kedudukan Akal Didalam Islam

Rasulullah adalah seorang yang maksum yang terjaga dari kesalahan. Beliau tidak 
jarang menyampaikan berita yang ghaib yang diluar
kemampuan akal manusia. Para shahabat ra. adalah generasi terbaik keimanannya 
sehingga mereka selalu bersikap mendengar dan taat
kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Namun digenarasi terakhir ini semakin banyak orang yang dijuluki ulama oleh 
pengikutnya sangat menjunjung tinggi kedudukan rasio,
sehingga nash yang tidak masuk akal ditolaknya. Dimanakah posisi akal didalam 
Islam ? Siapakah diantara tokoh pengagung akal ?
Insyaa Allah tulisan ini sedikit memberikan gambaran dalam perkara ini.

A. Beberapa atsar para Shahabat radhiyallahu`anhum. tentang pengutamaan nash 
(dalil) diatas rasio.

1. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu`anhu, dia berkata :
"Andaikata agama itu cukup dengan ra'yu (akal), maka bagian bawah khuf (alas 
kaki) lebih utama untuk diusap daripada bagian atasnya.
Aku benar-benar melihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengusap 
bagian atas khuf-nya."
(HR. Abu Daud dengan sanad yang baik. Dalam Al-Talkhishul Habir, 1/160 
Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Atsqalani berkata hadits ini shahih,
dan juga telah disepakati Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam 
Shahihul Abu Daud, 1/33)

2. Dari Umar bi Al-Khaththab radhiyallahu`anhu, dia berkata tatkala mencium 
Hajar Aswad:
"Sesungguhnya aku tahu engkau hanya sekedar batu yang tidak bisa memberi 
madharat dan manfaat. Kalau tidak karena kulihat Rasulullah
menciummu, tentu aku tidak akan menciummu."(HR. Bukhari dan Muslim)

3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu`anhu, dia berkata :
"Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, 
"Janganlah kalian mencegah istri-istrimu (untuk mendatangi)
masjid-masjid jika mereka meminta izin kepada kalian."
Salim bin Abdullah berkata, "Lalu Bilal bin Abdullah berkata, 'Demi Allah, kami 
akan mencegah mereka'."
Salim berkata, "Lalu Ibnu Umar menghampiri Abdullah dan mengolok-oloknya dengan 
olok-olokan yang amat buruk, yang tidak pernah
kudengar sebelumnya seperti itu. Dia berkata, "Aku mengabarkan kepadamu dari 
Rasulullah, lalu engkau berkata,'Demi Allah, aku
benar-benar akan mencegahnya ?'."(HR. Muslim)

4. Dari Imran bin Hushain radhiyallahu`anhu, dia berkata :
"Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Malu itu 
adalah kebaikan seluruhnya."
Lalu Busyair bin Ka'ab berkata, "Sesungguhnya di dalam sabda beliau ini 
terdapat kelemahan."
Lalu Imran berkata, "Aku memberitahukan dari Rasulullah, lalu engkau datang 
untuk menentang ? Aku tidak akan memberitahukan satu
hadits pun yang kuketahui."(HR. Bukhari dan Muslim)

5. Dari Urwah bin Az-Zubair, bahwa dia berkata kepada Ibnu Abbas 
radhiyallahu`anhu:
"Engkau telah menyesatkan manusia.""Apa itu wahai Urayyah ?", tanya Ibnu 
Abbas.Urwah menjawab, "Engkau memerintahkan umrah pada
sepuluh hari itu, padahal hari-hari itu tidak ada umrah."Ibnu Abbas bertanya, 
"Apakah engkau tidak bertanya mengenai masalah ini
kepada ibumu ?"Urwah menjawab, "Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar tidak pernah 
melakukan hal itu."Ibnu Abbas berkata, "Inilah yang
membuat kalian rusak. Demi Allah, aku tidak melihat melainkan hal ini akan 
membuat kalian tersiksa. Sesungguhnya aku beritahukan
kepada kalian dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, namun kalian menjawab 
dengan diri Abu Bakar dan Umar."(HR Imam Ahmad dan
Al-Khathib serta lainnya dengan sanad yang shahih)

Ibnul Qayyim berkata, "Semoga Allah merahmati Ibnu Abbas. Bagaimana andaikata 
dia tahu sekian banyak orang yang menentang firman
Allah dan sabda Rasul-Nya dengan menggunakan perkataan Aristoteles, Plato, Ibnu 
Sina, Al-Faraby, Jahm bin Shafwan, Bisyr Al-Maraisy,
Abul Huzail Al-Allaf, dan orang-orang yang sealiran dengan mereka ?"

Dapat kami katakan (Syaikh Ali Hasan), "Semoga Allah merahmati Ibnul Qayyim. 
Bagaimana jika dia tahu ada orang-orang rasionalis abad
ke dua puluh, yang menentang Sunnah hanya dengan menggunakan rasionya yang 
serba terbatas, dengan gambaran-gambaran yang rusak dan
dengan pendapat yang hina ?"


B. Golongan Rasionalis Masa Kini

1. Salah seorang diantara mereka berkata, "Para pemeluk Islam telah sepakat 
--kecuali sebagian kecil di antara mereka yang tidak
perlu digubris-bahwa jika aqly dan naqly saling bertentangan, maka apa yang 
ditunjukkan oleh aqly harus diambil."
(Yang dimaksudkan adalah Muhammad Abduh dalam tulisannya, Al-Islam 
Wan-Nashraniyyah, hal. 59. Padahal dalam buku Risalatut-Tauhid
dia berkata bahwa rasio saja tidak bisa sampai kepada kebahagiaan ummat, jika 
tidak disertai petunjuk ilahi)

2. Seorang jurnalis yang juga menganggap dirinya sebagai pemikir ulung yang 
bernama Fahmy Huwaidy berkata di dalam sebuah artikelnya
yang berjudul Watsaniyyun Hum Abadatun-Nushush, "Orang-orang paganis adalah 
para penyembah nash, menguraikan upaya peniadaan rasio
di hadapan nash, bahwa hal ini merupakan gambaran paganisme modern. Sebab yang 
disebut paganis itu tidak hanya orang-orang yang
menyembah berhala. Tetapi paganisme pada zaman sekarang berubah menjadi 
penyembah terhadap simbol-simbol yang tertuang dalam tulisan
dan upacara keagamaan."

3. Seorang tokoh sekolah Al-Azhar Mesir, Muhammad Al-Ghazaly berkata di dalam 
bukunya yang sangat zhalim terhadap ilmu dan ilmuwan,
As-Sunnah baina Fiqhi wa Ahlil-Hadits, "Kita harus tahu bahwa kebatilan yang 
ditetapkan rasio mustahil merupakan agama. Agama yang
benar adalah yang berunsur kemanusiaan yang benar. Unsur kemanusiaan yang benar 
adalah rasio yang bisa menetapkan hakikat, yang bisa
jelas karena ilmu, yang memburukkan khurafat dan yang dijauhkan dari dugaan. 
Kami senantiasa menegaskan bahwa setiap hukum yang
ditentang rasio, setiap jalan yang tidak dikehendaki kemanusiaan yang benar dan 
sejalan dengan fitrah yang lurus, mustahil merupakan
agama."
Maka dari itu kita melihat Muhammad Al-Ghazali secara berani menolak sekian 
banyak hadits Nabawi yang shahih dan kuat, hanya karena
hadits-hadits tersebut dianggap menunggangi rasionya.
(Silahkan baca kitab Kasyfu Mauqifi Al-Ghazaly Minas-Sunnah wa Ahliha wa naqdu 
Ba'dhi Ara'ihi, karya DR. Rabi' bin Hadi Al-Madkhaly
yang sudah diterjemahkan dengan judul Membela Sunnah Nabawy, jawaban terhadap 
buku Studi Kritis atas Hadits Nabi, karya Muhammad
Al-Ghazaly, anda akan mendapatkan di dalamnya bagaimana ia menolak 
hadits-hadits shahih yang tidak dapat diterima oleh akalnya walau
tercantum dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Serta setiap syubuhat yang 
dilontarkannya di jawab secara ilmiyah oleh Syaikh DR.
Rabi bin Hadi Al-Madkhaly -hafidhahullah)

4. Muhammad Ahmad Khalafullah berkata di dalam bukunya, Ghazwun Minad-Dakhil, 
hal. 51, "Islam telah membebaskan rasio manusia untuk
menguasai nubuwah, dengan mengumumkan penghabisan masa nubuwah secara total dan 
sekaligus kebebasan manusia dari nubuwah.

5. Husain Ahmad Amin yang merupakan penerus langkah bapaknya, berkata, 
"Menyerap ruh Islam, dan bukan komitmen terhadap hukum-hukum
tertentu, cukup dijadikan tameng yang bisa membawa kita ke jalan yang lurus. 
Masyarakat yang ada sekarang mendapatkan hukuman pidana
pencurian tidak seperti hukuman di masyarakat badui. Begitu pula masalah hijab 
yang pernah di wajibkan di Madinah. Hukuman potong
tangan yang ditetapkan Al-Qur'an sebagai hukuman bagi pencuri adalah syariat 
masyarakat badui. Hijab lebih tepat untuk masyarakat
Madinah Al-Munawwarah, dan tidak tepat untuk masyarakat Cairo pada abad ke dua 
puluh."

6. Diantara pendukung paham rasionalis ini adalah seorang Doktor dalam bidang 
Hukum, Hasan At-Turaby, yang saat ini namanya cukup
berkibar karena hubungan dekatnya dengan pemerintah Sudan. Dia berkata dalam 
bukunya Tajdidul-Fikri-Islamy, hal. 26, "Sumber yang
perlu kami tegaskan sekali lagi sebagai dasar adalah rasio."
Perhatikan pula masalah besar yang dimuntahkan At-Turaby, dalam suatu ceramah 
yang disampaikannya dengan judul Tahkimusy-Syari'ah,
yang secara lancang dia membolehkan kemurtadan dari Islam, "Saya ingin 
mengatakan, bahwa dalam suatu pemerintahan dan pada satu
zaman, orang Muslim boleh mengganti agamanya, sebagaimana yang dilakukan orang 
Nashrani."
Yang menguatkan kedok dirinya dan menambah kejelasan jati dirinya ini adalah 
penjelasan Muhammad Surur Zainul Arifin, dalam bukunya,
Dirasat Fis-Sirah An-Nabawiyah, hal. 308, mengisahkan pengalaman pribadi yang 
dialaminya bersama At-Turaby. Dia berkata, "Dosen
dalam bidang hukum di Universitas Sudan, DR. Hasan Abdullah At-Turaby ini 
mengingkari turunnya Isa Al-Masih pada akhir zaman. Dalam
suatu pertemuan pada sebelas tahun yang lalu, saya bertanya kepadanya, "Mengapa 
engkau mengingkari hadits yang mutawatir ?"
Dia menjawab, "Saya tidak mengingkari hadits dari segi sanadnya. Tetapi saya 
melihat hadits tersebut bertentangan dengan rasio.
Padahal rasio harus didahulukan daripada nash jika terjadi pertentangan."

7. Yusuf Al-Qardhawi
Beliau berbeda dengan Muhammad Al-Ghazaly yang frontal (beliau menolak hadits 
dengan susunan bahasa yang lebih halus dan tidak
keras), sekalipun hadits-hadits yang dibicarakan Al-Qardhawy adalah hadits yang 
sama dengan yang ditolak Muhammad Al-Ghazaly
berdasarkan rasionya yang sempit. Hadits yang secara terang-terangan ditolak 
Muhammad Al-Ghazaly, biasanya Al-Qardhawy cukup
berkata, "Saya masih bimbang tentang hadits yang dimaksud." Baru kemudian ia 
menyebutkannya.
Paham rasionalisme ini tampak dalam buku karangannya yang terakhir, Kaifa 
Nata'amalu Ma'as Sunnah An-Nabawiyyah.
Diantaranya adalah kebimbangannya tentang keabsahan hadits yang diriwayatkan di 
dalam shahih Muslim, dari Anas, sesungguhnya Nabi
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda kepada seorang laki-laki, "Sesungguhnya 
bapakku dan bapakmu berada di dalam neraka."
Kadang-kadang Al-Qardhawy beralih kepada takwil yang bertentangan dengan zahir 
nash, seperti sikapnya dalam menghadapi hadits,
"Kematian di datangkan dalam bentuk domba berwarna hitam bercampur 
putih."(Muttafaq Alaihi)

Maka tidak heran jika engkau melihat kebebasan pemikiran mereka, yang 
menganggap Islam itu bukan satu-satunya agama Allah. Berarti
mencari agama selain Islam bukan merupakan kesesatan dan kekufuran. Bahkan 
mencari agama Nashrani dan Yahudi bisa membawa pelakunya
ke surga dan bahkan bisa ke Firdaus, surga yang paling tinggi, seperti pendapat 
Muhammad Ammarah, Fahmy Huwaidy, Abdul Aziz Kamil,
Sa'id Al-Asymawy, Mahmud Abu Rayyah dan lain-lainnya. ( Al-Aqlaniyyah, Hidayah 
Am Ghiwayah, hal. 46)

Wallaahu a'lam bishshawab.

(Diringkas dari kitab "Muslim Rasionalis" (Aqlaniyyun), karya Syaikh Ali Hasan 
bin Ali Abdul Hamid Al-Atsary - hafidhahullah)

[Kontributor : Abu Abdirrahman Uli, 09 Desember 2001 ]

Sumber : 
http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=56




--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke