----- Original Message -----
From: "H. eledri." <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Saturday, April 08, 2006 5:57 PM
Subject: Re: [assunnah] Tanya: Kriteria Masjid yg ada Kuburan

> ini hadis sahih gak ?
> Lah... gimana di masjid nabawi yang di madinah disitu ada kuburan nabi besar 
> Muhammad SAW. tolong penjelasan yang sejelas2nya..?
>
>
> On 4/7/06, Sellynia Melynda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Wa'alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh
> >
> > Afwan yang ana tau Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, di suruh mengulang kembali
> > sholat yang di sekitarnya masjid ada kuburan ( dalam, luar, kanan, kiri )
> > masjid.
> >
> > Wallahu'alam
> >
> > Mohon Koreksi, Jazakumullah khairon katsiro
> >
> >
> > Fahmi Fahlevi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Assalamu'alaykum Warohmatullahi Wabarokatuh,
> >
> > Saudaraku sekalian, saya mau Tanya mengenai kriteria masjid yg ada kuburan
> > yg tidak boleh kita sholat di situ.
> >
> > Apakah yg kuburannya ada di dalam masjid atau apakah yg di luar masjid
> > atau lainnya.....
> >
> > Mohon penjelasan yg lebih detail
> >
> > Wassalamu'alaykum Warohmatullahi wabarokatuh,
> >
> > Fahmi Fahlevi


ADAPUN SUBHAT YANG SERING KITA DENGAR: “Kuburan Nabi saw ada di dalam Masjid 
beliau, yang dapat disaksikan hingga saat ini. Kalau memang hal ini dilarang, 
lalu mengapa beliau dikuburkan disitu ?

Jawabannya:  Keadaan yang kita saksikan pada jaman sekarang ini tidak seperti 
yang terjadi pada jaman sahabat.  Setelah beliau wafat,  mereka menguburkannya 
didalam biliknya yang letaknya bersebelahan dengan masjid, dipisahkan oleh 
dinding yang ada pintunya. Beliau biasa masuk masjid lewat pintu itu.

Hal ini telah disepakati oleh semua ulama, dan tidak ada pertentangan diantara 
mereka. Para sahabat mengubur jasad beliau didalam biliknya, agar nantinya 
orang-orang sesudah mereka tidak menggunakan kuburan beliau sebagai tempat 
untuk shalat, seperti yang sudah kita terangkan dalam hadits ‘Aisyah dibagian 
muka. Tapi apa yang terjadi dikemudian hari di luar perhitungan mereka. Pada 
tahun 88 Hijriah, Al Walid bin Abdul Malik merehab masjid Nabi dan memperluas 
masjid hingga kekamar ‘Aisyah. Berarti kuburan beliau masuk ke dalam area 
masjid. Sementara pada saat itu sudah tidak ada satu sahabatpun yang masih 
hidup, sehingga dapat menentang tindakan Al Walid ini seperti yang diragukan 
oleh sebagian manusia.

Al Hafizh Muhamad Abdul-Hady menjelaskan didalam bukunya Ash-Sharimul Manky: 
“Bilik Rasulullah masuk dalam masjid pada jaman Al Walid bin Abdul Malik, 
setelah semua sahabat beliau di Madinah meninggal. Sahabat terakhir yang 
meninggal adalah Jabir bin Abdullah. Ia meninggal pada jaman Abdul Malik, yang 
meninggal pada tahun 78 Hijriah. Sementara Al Walid menjadi khalifah pada tahun 
86 Hijriah, dan meninggal pada tahun 96 Hijriah. Rehabilitasi masjid dan 
memasukkan bilik beliau kedalam masjid, dilakukan antara tahun-tahun itu.

Abu Zaid Umar bin Syabbah An Numairy berkata di dalam buku karangannya 
Akhbarul-Madinah: “Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur Madinah pada 
tahun 91 Hijriah, ia meribohkan masjid lalu membangunnya lagi dengan 
menggunakan batu-batu yang diukir, atapnya terbuat dari jenis kayu yang bagus. 
Bilik istri-istri Nabi saw dirobohkan pula lalu dimasukkan kedalam masjid. 
Berarti kuburan beliau juga masuk kedalam masjid.”

Dari penjelasan ini jelaslah sudah bahwa kuburan beliau masuk menjadi bagian 
dari masjid nabawi, ketika di Madinah sudah tidak ada seorang sahabatpun. Hal 
ini ternyata berlainan dengan tujuan saat mereka menguburkan jasad Rasulullah 
di dalam biliknya.

Maka setiap orang muslim yang mengetahui hakikat ini, tidak boleh berhujjah 
dengan sesuatu yang terjadi sesudah meninggalnya paraa sahabat. Sebab hal ini 
bertentangan dengan hadits-hadits shahih dan pengertian yang diserap para 
sahabat serta pendapat para imam. Hal ini juga bertentangan dengan apa yang 
dilakukan Umar dan Utsman ketika meluaskan masjid Nabawi tersebut. Mereka 
berdua tidak memasukkan kuburan beliau ke dalam masjid.

Maka dapat kita putuskan, perbuatan Al Walid adalah salah. Kalaupun ia terdesak 
untuk meluaskan masjid Nabawi, toh ia bisa meluaskan dari sisi lain sehingga 
tidak mengusik kuburan beliau. Umat bin Khattab pernah mengisyaratkan segi 
kesalahan semacam ini. Ketika meluaskan masjid, ia mengadakan perluasan di sisi 
lain dan tidak mengusik kuburan beliau. Ia berkata: “Tidak ada alasan untuk 
berbuat seperti itu.” Umar memberi peringatan agar tidak merobohkan masjid, 
lalu memasukkan kuburan beliau ke dalam masjid.

Karena tidak ingin bertentangan dengan hadits dan kebiasaan khulafa’urrasyidin, 
maka orang-orang Islam sesudah itu sangat berhati-hati dalam meluaskan masjid 
Nabawi. Mereka mengurangi kontroversi sebisa mungkin. Dalam hal ini An-Nawawi 
menjelaskan di dalam Syarh Muslim: “Ketika para sahabat yang masih hidup dan 
tabi’in merasa perlu untuk meluaskan masjid Nabawi karena banyaknya jumlah kaum 
muslimin, maka perkuasan masjid itu mencapai rumah Ummahatul-Mukminin,  
termasuk bilik ‘Aisyah, tempat dikuburkannya Rasulullah dan juga kuburan dua 
sahabat beliau, Abubakar dan Umar. Mereka membuat dinding pemisah yang tinggi 
disekeliling kuburan, bentuknya melingkar. Sehingga kuburan tidak langsung 
nampak sebagai bagian dari masjid. Dan orang-orangpun tidak shalat ke arah 
kuburan itu, sehingga merekapun tidak terseret pada hal-hal yang dilarang.

Ibnu Taimiah dan Ibnu Rajab yang menukil dari Al-Qurthuby, menjelaskan: “Ketika 
bilik beliau masuk ke dalam masjid, maka pintunya di kunci, lalu 
disekelilingnya dibangun pagar tembok yang tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk 
menjaga agar rumah beliau tidak dipergunakan untuk acara-acara peringatan dan 
kuburan beliau dijadikan patung sesembahan.”

Dapat kami katakan: Memang sangat disayangkan bangunan tersebut sudah didirikan 
sejak berabad-abad di atas kuburan Nabi saw. Disana ada kubah menjulang tinggi 
berwarna hijau, kuburan beliau dikelilingi jendela-jendela yang terbuat dari 
bahan tembaga, berbagai hiasan dan tabir. Padahal semua itu tidak diridhai oleh 
orang yang dikuburkan disitu, yaitu Rasulullah saw. Bahkan ketika kami 
berkunjung kesana, kami lihat disamping tembok sebelah uatara terdapat mihrab 
kecil. Ini merupakan isyarat bahwa tempat itu dikhususkan untuk shalat 
dibelakang kuburan . Kami benar-benar heran. Bagaimana bisa terjadi paganisme 
yang sangat mencolok ini dibiarkan begitu saja oleh suatu negara yang 
mengagung-agungkan masalah tauhid ?

Namun begitu kami mengakui secara jujur, selama disana kami tidak meliahat 
seorangpun mendirikan shalat didalam mihrab itu. Para penjaga yang sudah 
ditugaskan disana mengawasi secara ketat agar mencegah manusia yang datang 
kesana dan melakukan suatu yang bertentangan dengan syariat disekitar kuburan 
Nabi saw. Ini merupakan suatu yang perlu disyukuri atas sikap pemerintah Saudi. 
Tetapi ini belum cukup dan tidak memberikan jalan keluar yang tuntas. Tentang 
hal ini  sudah lama kami katakan di dalam buku Ahkamul Jana’iz wa Bida’uha: 
“Seharusnya masjid Nabawi dikembalikan ke jamannya semula, yaitu dengan membuat 
tabir pemisah antara kuburan dengan masjid, berupa tembok yang membentang dari 
uatara ke selatan. Sehingga setiap orang yang masuk ke masjid tidak dikejar 
oleh macam-macam pertentangan yang tidak diridhai pendirinya. Kami merasa 
yakin, ini merupakan kewajiban pemerintah Saudi, kalau ia masih ingin menjaga 
tauhid yang benar. Andaikata ada rencana perluasan kembali, maka bisa melebar 
kesebelah barat atau sisi lainnya. Tapi ketika diadakan perbaikan lagi, 
ternyata masjid Nabawi tidak dikembalikan ke bentuknya yang pertama pada jaman 
sahabat.

[Diambil dari buku "Peringatan !  Menggunakan Kuburan Sebagai Masjid" Syeikh 
Muhammad Nashiruddin Al-Albani]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke