sekedar menambahkan semoga bermanfaat. JANJI ALLAH KEPADA KAUM MUKMININ (SOLUSI PERMASALAHAN POLITIK UMMAT)
Oleh : Abu Hanan sabil arrasyad Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak akan ada yang memberi petunjuk kepadanya. Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah. Setiap bid'ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan ada di neraka. Sungguh saya menulis risalah ini bukan atas dasar kebencian dan kedengkian kepada saudara-saudara saya, saya menulis risalah ini bukan pula karena untuk menggembosi partai mereka, saya menulis ini bukan pula untuk mencari-cari kesalahan mereka, Sungguh saya menulis risalah ini diatas dasar kecintaan kepada kaum muslimin, semoga risalah singkat ini bermanfaat. "Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman" (Adz Dzariyyat : 55). Allah Ta'ala berfirman : "Allah berjanji bagi orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih dan bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan sebagai penguasa (pemimpin) di muka bumi sebagaimana orang-orang terdahulu telah berkuasa., dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menggantikan kondisi mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa, Mereka tetap beribadah kepadaKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun denganKu, Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik (QS. 24. An-Nur: 55). Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menerangkan "Ini adalah Janji Allah Ta'ala kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam bahwa Dia akan menjadikan umatnya sebagai khalifah dan pemimpin di muka bumi ini. Seluruh umat akan tunduk dibawah kekuasaan mereka dari perasaan takut yang dulu selalu menghantui menjadi perasaan aman sentosa penuh ketenanganÂ… (Tafsir Ibnu Katsir III). Asy Syaikh Abdurrahman Nasir As Sa'di rahimahullah berkata tentang surat An Nur ayat 55 diatas Janji yang diberikan Allah Ta'ala dalam ayat ini akan terus berlaku sampai hari kiamat. Selama mereka menegakkan keimanan dan amal shalih maka pasti akan diperoleh apa yang dapat dikuasai oleh orang-orang kafir dan munafik, maka itu disebabkan mereka menyia-nyiakan iman dan amal shalih yang diperintahkan kepada mereka (Tafsir As Sa'di). Di ayat di atas jelas sekali syarat yang Allah berikan yaitu Iman (tauhid dan keikhlasan yang bersih dari berbagai macam kesyirikan) dan Amal shalih (amalan yang ittiba mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diatas manhaj salafusshalih jauh dari bid'ah dan ta'assub hizbiyah), kedua syarat inilah yang harus dipenuhi kaum muslimin, yang hari-hari ini sebagian mereka terperosok kepada amalan-amalan bid'ah bahkan sebagian lainnya terperosok ke dalam kesyirikan. Sementara mental-mental kaum muslimin yang lemah dihinggapi penyakit wahn. 'Telah berkumpul umat-umat untuk menghadapi kalian, sebagaimana orang-orang yang makan berkumpul menghadapi piringnya'. Mereka berkata : Apakah pada saat itu kami sedikit wahai Rasulullah ? Beliau menjawab : 'Tidak, pada saat itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan, dan Allah akan menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian, dan Allah akan menimpakan pada hati kalian penyakit Al-Wahn'. Mereka berkata : Apakah penyakit Al-Wahn itu wahai Rasulullah?. Beliau menjawab :'Cinta dunia dan takut akan mati". [Haadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud (4297), Ahmad (5/287), dari hadits Tsaubah Radhiyallahu anhu, dan dishahihkan oelh Al-Albani dengan dua jalannya tersebut dalam As-Shahihah (958)] Keadaan yang tragis tersebut ditambah lagi sebagian kaum muslimin yang terperosok memakai cara kuffar dengan demokrasinya. Mereka tidak sadar bahwa cara itulah salah satu alat pemecah belah kaum muslimin, mereka lebih sering tertipu dan takut dengan dzon (dugaan- dugaan) mereka sendiri, bahwa kaum kuffar akan menguasai mereka, partai kuffar akan membunuh dan membrangus mereka, yang ini memang merupakan salah satu ciri bagian dari wahn yang timbul dari kelemahan iman mereka, terhadap ayat dan janji Allah di dalam Al Qur'an dan hadist. Syaikh Abdul Malik Ar Ramadhani hafidzahullah pernah mengatakan ketika mendengar pembicaraan emosional "orang-orang kafir akan memerangi kaum muslimin, menumpahkan darah, merampas harta... dst" beliau berkata pembicaraan seperti ini hanyalah menyibukkan dan menyia-nyiakan waktu, hanya membuat kaum muslimin miris dan menganggap semua kekuatan milik orang kafir. Jadi pada hakikatnya ini adalah pembicaraan untuk mengukuhkan orang kafir, bukan perbicangan untuk memberikan semangat bagi kaum muslimin untuk menghadapi orang-orang kafir, karena hal itu tidak lebih dari ratap dan jerit tangis. Yang seperti ini tidak ada manfaatnya.....namun yang kita inginkan adalah kita bersama-sama menempuh cara Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam memperbaiki keadaan..." Sungguh benar perkataan beliau hafidzahullah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendidik (tarbiyah) ummatnya dengan sunnah, membersihkan aqidah mereka (tasfiyah) dengan Tauhid dan keikhlasan tidak pernah beliau menceritakan keadaan Romawi dan Parsi saat itu sehingga menakut-nakuti kaum muslimin, karena hal itu bukanlah cara Islam, yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam lakukan adalah memperkuat aqidah kaum muslimin dengan tauhid dan sunnah. Menanamkan janji Allah pada mereka, yang mereka imani janji-janji Allah tersebut dengan kuat di hati-hati dan jiwa mereka. "Sesungguhnya Allah telah melipatkan bumi ini bagiku, lalu aku dapat melihat yang paling timur dan barat, dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai kepada apa yang telah dilipatkan untukku itu". (HR. Muslim 8/171, Abu Dawud 4252, Tirmidzi 2/27, Ibnu Majah 2952, dan Ahmad 5/278 dan 284 dari haditsnya Tsauban dan Syadad bin Aus). Maka dengan kesabaran dan keimanan yang kuat mereka merealisasikan janji Allah tersebut walaupun jumlah mereka yang masih sedikit. "Betapa banyak pasukan kecil bisa mengalahkan pasukan yang besar dengan idzin Allah Dan Allah bersama orang-orang yang sabar" (Qs Al Baqoroh :249). Sungguh kehinaan dan musibah kepada kaum muslimin saat ini tidak lepas dari kesalahan yang mereka lakukan sendiri, bukan semata-mata karena kekuatan orang kafir. "Jika kalian sudah jual beli dengan 'inah(salah satu bagian riba), memegang ekor sapi, rela dengan pertanian, dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan dan Alllah tidak akan melepaskan kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada agama kalian" (HR Abu Daud dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam shahih Abu Daud No.3956) Agama yang telah Allah sempurnakan,hingga buang hajat pun diatur di dalam Islam, lantas mengapa kaum muslimin masih mengambil sistem experimen seperti demokrasi dan berbagai anasirnya. "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu dan Aku ridha Islam menjadi agamamu" (Al Maidah:3). Imam Malik berkata ketika menafsirkan ayat ini: "Tidak akan baik umat yang belakangan ini kecuali dengan sesuatu yang telah membuat baik umat terdahulu (yakni para shahabat radiyallahu'anhum) Maka kewajiban kita saat ini adalah berjalan di atas manhaj Rasulullah dan para sahabatnya, meyakini janji Allah di dalam surat An Nur ayat 55. dan menerapkan metode mereka dengan aqidah dan keyakinan yang semua hal tersebut membutuhkan kesabaran. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan masyarakat Islam menjadi dua bagian yaitu orang yang berilmu dan yang bukan berilmu (awam). Dan Allah mewajibkan kepada masing-masing di antara keduanya apa-apa yang tidak Allah wajibkan kepada yang lainnya. Maka kewajiban atas orang-orang yang bukan ulama adalah hendaknya mereka bertanya kepada ahli ilmu. Dan kewajiban atas para ulama adalah hendaknya menjawab apa-apa yang ditanyakan kepada mereka. Maka kewajiban-kewajiban berdasarkan pijakan ini adalah berbeda-beda sesuai dengan perbedaan individu itu sendiri. Seorang yang berilmu pada saat ini kewajibannya adalah berda'wah mengajak kepada da'wah yang hak sesuai dengan batas kemampuannya. Dan orang yang bukan berilmu kewajibannya adalah bertanya tentang apa-apa yang penting bagi dirinya atau bagi orang-orang yang berada dibawah kepemimpinannya seperti istri, anak atau semisalnya. Sehingga apabila seorang muslim dari masing-masing bagian ini menegakkan kewajibannya sesuai dengan kemampuannya, maka dia telah selamat, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. "Artinya : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". (Al-Baqarah : 286) "Jika kamu menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong kamu dan mengokohkan kedudukanmu" (Qs Muhammad: 7) Di ayat ini para mufassirin telah sepakat bahwa makna nashrullah (pertolongan Allah) adalah beramal dengan hukum-hukum Allah Ta'ala. Termasuk diantaranya adalah beriman kepada hal-hal ghaib yang Allah jadikan syarat pertama bagi kaum mukmimin dengan firmannya: " Orang-orang yang beriman terhadap yang ghaib dan menegakkan sholat" (Qs Al Baqoroh : 3). Maka apabila pertolongan Allah tidak turun kecuali dengan menegakkan hokum-hukumNya, Maka bagaimana kita dapat masuk kedalam jihad 'amali (yakni perang di medan tempur yang kita mengharapkan pertolongan Allah turun padanya). Bagaimana kita dapat berjihad (qital) sedangkan aqidah kita rusak? Sedangkan kaum muslimin sendiri terjerumus kepada kesyirikan dan bid'ah yang merajalela?. Hanyalah ilmu itu didapat dengan cara mempelajarinya, dan hanyalah hilm (sikap bijak) itu diperoleh dengan cara tahallum (usaha bersikap bijak) (HR Al Khatib dishahihkan oleh Imam Al Albani dalam Ash Shahihah 342) Maka Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan : "Maka wajib atas para ulama kaum muslimin untuk berjihad bil ilmi dengan melakukan tashfiyah dan tarbiyah dengan cara mengajari kaum muslimin tauhid yang benar dan keyakinan-keyakinan yang benar serta ibadah-ibadah dan akhlak. Semuanya itu sesuai dengan kemampuannya masing-masing di negeri-negeri yang dia diami, karena mereka tidak mampu menegakkan jihad menghadapi Yahudi dalam satu shaf (barisan) selama mereka keadaannya seperti keadaan kita pada saat ini, saling berpecah-belah, tidak berkumpul/bersatu dalam satu negeri maupun satu shaf (barisan), sehingga mereka tidak mampu menegakkan jihad dalam arti perang fisik untuk menghadapi musuh-musuh yang berkumpul/bersatu memusuhi mereka. Akan tetapi kewajiban mereka adalah hendaknya mereka memanfaatkan semua sarana syar'i yang memungkinkan untuk dilakukan, karena kita tidak memiliki kemampuan materi, dan seandainya kita mampu pun, kita tidak mampu bergerak, karena terdapat pemerintahan, pemimpin dan penguasa-penguasa dalam kebanyakan negeri-negeri kaum muslimin menjalankan politik yang tidak sesuai dengan politik syar'i, sangat disesalkan sekali. Akan tetapi kita mampu merealisasikan -dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala- dua perkara agung yang saya sebutkan tadi, yaitu tasfiyah (pemurnian aqidah kaum muslimin dengan Tauhid dan keikhlasan ) dan tarbiyah (pendidikan kaum muslimin diatas sunnah shahihah jauh dari bid'ah dan ta'assub hizbiyyah dan mazhabiyah ). Dan ketika para da'i muslim menegakkan kewajiban yang sangat penting ini di negeri yang menjalankan politiknya tidak sesuai dengan politik syar'i, dan mereka bersatu di atas asas ini (tasfiyah dan tarbiyah), maka yakinlah pada suatu hari akan terjadi apa yang Allah katakan : "Artinya : Dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah Dia menolong siapa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Perkasa lagi maha Penyayang". (Ar-Ruum : 4-5) Ya Allah, tunjukkanlah kebenaran itu sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kebatilan itu sebagai sebuah kebatilan, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya. Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, saya memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu. Wallahu A'lam ibnu_syamsu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamua'laikum Alhamdulillah, mdh2an kita tdk terjatuh ke dalam debat berkepanjangan dlm membahas masalah ini. Pertanyaannya, apakah kader2 PKS sudah memenuhi persyaratan2 yg dijelaskan para ulama di atas utk berpolitik sekarang ini?? wallahua'alm.... karena klo melihat pengalaman pribadi dan realita, bahwa memang kurangnya tasfiyah dan tarbiyah dalam tubuh kader2 PKS... akankah daulah tercapai tanpa kedua hal tsb??? dan apakah daulah adalah tujuan utama yg harus dicapai utk menjalankan syariat (Top-Down approach, bentuk negara dulu baru pelaksanaan syariat)?? ataukan kita tanamkan pemahaman syariat dulu di masyarakat, maka barulah dengan itu akan terbentuk daulah di atas pemahaman yg benar dan ikhlas dari masyarkat sendiri (Down-Top approach)?? Jadi ingat perkataan ulama salaf (saya lupa siapa, ada yg bisa mengingatkan?): "dirikanlah daulah dalam dirimu dahulu, baru kemudian daulah akan berdiri di tanah airmu" atau "kita mulai dengan aqidah, ibadah, akhlak, dan suatu saat nanti kita akan memasuki politik" (syaikh AlBani??). selama aktif di halaqoh mereka dulu, saya kurang mendapat kajian tentang aqidah, ibadah, fiqh, dsb, sejelas dan sedalam ketika saya mengikuti kajian bermanhaj salaf sekarang ini, karena itulah yg saya perlukan dlam memahami Dien ini.... meskipun mereka jg berikrar diri dgn manhaj salaf, tapi saya kurang merasakannya sewaktu aktif di dalamnya... sebagai akibatnya, satu hal yg paling terasa salahnya di saat mengikuti halaqoh mereka adalah persatuan yg semu, persatuan yg tidak didasarkan atas aqidah dan manhaj yg jelas... saya tidak tahu apakah mereka memiliki jawaban yg sama/kompak/seragam apabila ditanyakan pertanyaan kepada mereka tentang "Dimanakah Allah?" atau tentang "Kenapa kita berbeda dalam sebagian gerakan sholat? yg mana yg merupakan hal diperbolehkan ikhtilaf dan yg mana yg tidak?? dan yg mana yg lebih rajih??", sungguh karena kedua pertanyaan tsb berhubungan dgn hal penting dalam Dien ini, yaitu aqidah dan sholat yg menentukan hasil hisab nanti. Tapi apakah saya temui bahasan ttg kedua hal di atas selama aktif dalam halaqoh mereka dulu?? sayangnya belum selama saya aktif hampir 3 tahun, padahal hal tersebut adalah hal yg penting dan utama untuk disampaikan kepada umat ini... masih banyak hal2 lainnya yg belum saya ketahui sewaktu mengikuti mereka, dan baru saya dapatkan setelah mengikuti kajian2 manhaj salaf skrng ini, alhamdulillah... Tapi, memang benar penjelasan yg ada dalam salah satu fatwa di atas, mereka juga memiliki kebaikan2 dibelakang kelemahan2nya, begitu jg dengan pribadi2 kita semuanya.... saya dulu memiliki semangat mengenal Islam karena dulu simpati thd pergerakan mereka dan melihat teman2 yg memang baik.... kita tdk bisa meratakan kesalahan manhaj haraki PKS ada dalam setiap individu yg aktif di PKS, karena kemungkinan besar individu2 tsb masuk ke manhaj haraki karena ketidaktahuannya saja atau karena ikut2an saja (seperti saya dulu, dan mudah2an Allah memberikan hidayah kepada mereka), individu2 yg masih mencari kebenaran yg hakiki (manhaj salaf)... lagipula kesholehan itu untuk setiap individu bukan sebuah golongan (seperti halnya para salaf kita, makanya ditambahi kata sholeh menjadi salafussholeh utk merujuk para salaf yg benar), Allah maha mengetahui atas setiap hamba2Nya... Mohon koreksinya bila ada... wallahua'lam bishowab wassalamua'laikum warohmatullah ___________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com -------------------------------------------- Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] -------------------------------------------- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
