Waalaikumussalam warahmatullah.
Mungkin disatu sisi antum benar, bahwa kita berada disatu panji yaitu
islam, perbedaan dalam masalah furu' memang hal yang biasa terjadi,
tetapi ketika perbedaan itu telah sampai kepada yang pokok maka
pernyataan antum perlu dikoreksi lagi. Kita ambil contoh sederhana
saja, coba antum tanyakan kepada sebagian manusia tentang "dimanakah
dzat Allah?" kalo pertanyaan ini nt tanyakan pada orang sufi maka
mungkin mereka akan menjawab bahwa Allah ada dalam diri kita, sebagai
realisasi dari aqidah wihdatul wujud mereka yang sesat, tp kalo nt
tanyakan pada sebagian golongan lain maka mereka akan menjawab Allah
ada dimana2x, atau kalo ditanyakan pada sebagian orang yang
kebingungan dan pusing kepalanya mereka menjawab Allah tidak dimana2x,
lihat antum akan temukan 3 jawaban yang berbeda, yang ketiga-tiganya
jelas-jelas menyelisihi ayat2x dalam alqur'an yang banyak dan hadits
nabi yang shahih, sekarang katakanlah apakah perbedaan prinsip semacam
ini akan antum biarkan..??

Padahal Alquran dengan tegas mengatakan bahwa Allah berada diatas arsy
[thahaa:5],[yunus:3] dll, juga bertentangan dengan hadits yang kalo
tidak salah ada di shahih muslim tentang pertanyaan Nabi
salalahualaihiwasallam kepada budak wanita tentang dimana Allah,
kemudian budak tsb menjawab Allah diatas langit, dan hadits lain yang
menyatakan hal-hal yang semakna dengan ini.

perbedaan semacam ini yang hendaknya kita hilangkan karena menyangkut
sah dan tidaknya agama seseorang, yang menjadikan seseorang itu islam
atau bukan, bahkan ana pernah liat sebuah iklan sinetron judulnya :
"Allah dimana-mana", jelas ini sebuah cara untuk menyeru manusia
kepada neraka jahannam.

perbedaan-perbedaan seperti ini sesungguhnya yang membuat ummat ini
berpecah belah, karena mereka tidak mengembalikan pemahaman agamanya
kepada khairul umma yaitu para shahabat nabi salallahualaihi wasallam.

Persatuan yang tanpa didasari dengan aqidah yang benar adalah semu
belaka, kelihatannya mereka bersatu tapi hati mereka berpecah belah.

Mungkin antum perlu cermati sebuah hadits berikut:
"Akan selalu membawa ilmu ini orang-orang yang adil dari para penerus,
mereka menghilangkan daripadanya perubahan dari orang yang melampaui
batas (terhadap Dien), kebohongan ahlul bathil, dan pentakwilan orang-
orang jahil." [HR Ahmad]

wallahu a'lam.


> Sarwani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamualaikum Wr Wb..
>
> Rekan2 milist yang semoga dimuliakan Allah...
>
> Menyikapi perbedaan pendapat yang ada di milist ini, yang sampai
> menjatuhkan vonis sesat pada ulama2 tertentu, saya secara peribadi
> menyesalkan hal tersebut.
> Karena apa? bukankah kita semua sama2 bernaung di bawah panji2
> Islam. Lantas kenapa hanya karena berbeda penafsiran aja kita
> sampai menganggap bahwa kitalah yang benar dan yang lain salah.
> Bukankah di dunia ini tiada manusia yang sempurna keimanannya
> selain Rasulullah?
>
> Pandangan orang jarang ditujukan pada hal-hal yang berada di
> pertengahan antara dua hal yang berdekatan. Bagi seseorang sesuatu
> itu warnanya putih saja, sebagian yang lain hitam saja, mereka
> melupakan ada warna yang lain, tidak putih dan tidak pula hitam.
>
> Nabi SAW pernah bersabda kepada Abu Dzar r.a., beliau bersabda,
> "Engkau seorang yang masih ada padamu sifat Jahiliyah."
> Abu Dzar adalah seorang sahabat yang utama, termasuk dari orang2
> yang pertama yang beriman dan berjihad, tetapi masih ada
> kekurangannya.
>
> Juga di dalam Shahih Bukhari diterangkan oleh Nabi SAW.:
> "Barangsiapa yang meninggal bukan karena melakukan jihad dan tidak
> dirasakannya (tidak ingin) di dalam jiwanya maksud akan berjihad,
> maka dia mati dalam keadaan sedikit ada nifaknya."
>
> Dalam sunnah Rasul SAW sendiri terdapat sesuatu yang mendukung
> diterimanya perbedaan pendapat dalam suatu peristiwa yang terkenal,
> yaitu peristiwa shalat Ashar di Bani Quraizhah, setelah usai perang
> Ahzab:
>
> Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., ia berkata:
> Rasulullah SAW bersabda pada hari perang Ahzab:
> "Jangan sekali-kali seseorang melakukan shalat Ashar kecuali di
> (perkampungan) Bani Quraizhah."
>
> Sebagian mereka mendapatkan waktu Ashar di tengah perjalanan. Lau
> mereka berkata, "Kami tidak akan shalat Ashar kecuali setelah kami
> datang di Bani Quraizhah." Dan sebagian lagi berkata, "Kami akan
> melakukan shalat Ashar, karena bukan itu yang dimaksudkan
> Rasulullah SAW terhadap kita." Kemudian peristiwa itu dilaporkan
> kepada Rasulullah SAW, maka beliau tidak mencela salah satunya."
>
> Mungkin dari kisah di atas, kita dapat merenungkan bahwa Rasulullah
> sendiri tidak mencela umatnya lantaran berbeda penafsiran/pendapat,
> tetapi mengapa kita yang hanya manusia biasa, yang hidup jauh dari
> masa2 Rasulullah bisa-bisanya menganggap pendapat saudara kita
> sesama muslim itu salah atau bahkan sesat (selagi pendapat tersebut
> tidak keluar dari Al Qur'an dan sunnah)
>
> Jadi, saya mengajak, marilah kita pererat ukhuwah islamiah kita.
> Kita lupakan semua perbedaan yang sifatnya khilafiyah. Dan kita
> serahkan semuanya kepada Allah SWT.
>
> Wassalamu'alaikum Wr Wb....


_______________________________________
Email gratis 4 MB dengan fasilitas POP3 dan SMTP.
Kunjungi Indonesia Interactive http://www.i2.co.id.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke