Wa 'alaikumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh, Mas Ahmad,
1. Masalah liqo' ==> Dalam satu liqo'at saya sejak SMA sampai di ITS, semuanya keluar karena malas ikut. Bukan karena tertarik ke jamaah lain. Dan pengetahuan mereka ttg HT, JT, dan salafy pun sangat minim. Jadi mereka hanya malas. Dan bukannya bergabung dg jamaah lain. Seandainya mereka bergabung dg jamaah lain pun, ya nggak masalah. Maaf, saya lupa, ada satu yg keluar dan malah bergabung dg "pengajian" di masjid sunan ampel. Yang menurut saya sih pengajian itu lebih dekat ke pengajian model NU. Dan alhamdulillah saua tetap menjalin hubungan baik dengan semuanya. 2. Masalah "Di mana Allah" ==> Memang saya akui, ada ikhwan PKS kurang memperhatikan masalah yang satu ini. Dan mungkin bila ditanyakan kepada mereka pertanyaan tsb, jawaban mereka mungkin, "Allah di mana mana". Itu hanyalah karena mereka tidak tahu. Karena memang nggak pernah diajarkan materi di mana Allah selama liqoat walaupun ayatnya begitu jelas di surat Thoha. Saya sendiri tahunya dari ikhwan salafy. However, saya sudah sebarkan jawaban pertanyaan "dimana Allah" ke sesama liqo'at dan ke ikhwan PKS Jerman (karena PKS prancis secara struktural masih di bawah naungan PKS jerman). Dan saya rekomendasikan agar itu dimasukkan ke dalam materi. Saya berharap mereka menyampaikan ke pusat. Saya akui, ada ikhwan PKS terlalu sibuk berpikir politik walaupun tujuannya adalah kebaikan. 3. Saya tidak tahu mengenai orang yang menuduh Syekh Muqbil sebagai org munafik. Saya sendiri seringkali hadir ketika ada kunjungan para murid Syekh Al Albani dan syaikahain haramain ke surabaya. Lumayan lah. Banyak org yg haji di masjidil haram yg saya yakin nggak bakalan sedekat jarak saya ke mereka. Lha wong saya persis di belakang syekh syuraim. Semoga syaikh tsb masih ingat saya ketika saya ananti ke masjidil haram, insya Allah. Dan pernah ketika di masjid ITS, ada org yg menjadi imam (bukan imam tetap masjid, tapi orang lain) padahal di ditu ada muridnya Al Albani. Kesalnya bukan main. Kok berani2nya jadi imam padahal di belakangnya ada org yg saya yakin hafal quran. 4. Mengenai buku "ikhwanul muslimin, anugrah yg terzalimi", saya belum baca lengkap. Saya kurang tertarik macam buku2 tsb. Terus terang, saya sangat tertarik dg buku sejarah islam, sejarah para khalifahnya dsb. Andaikan buku2 perdebatan, saya baca hanya sekedar wawasan. Buku2 aqidah dan buku2 fiqh saya juga tertarik sebab di dalamnya kan juga ada sejarahnya. Tapi kalau baca hadits yg disebutkan satu2 perawinya, kepala saya pusing. Soalnya dari si anu berkata, dari bapak saya, dari... dan terus dari... Walaupun baik sih. Tapi saya pingin baca langsung intinya. Masalah shahih dan tidaknya, itu urusan ahli hadits. Saya cukup baca keterangannya yg di dalam kurung. Kalau ditulis, hadits shahih bla bla bla. Saya percaya. Kalau ditulis hadits dhair bla bla bla. Ya sudah cukup saya tahu saja. Dan saya belum merasa perlu belajar misalnya karena perawi si A, masih lemah ingatannya. 5. Mengenai saya belajar di salafy. Saya belajar duluan baru bilang. Dan bagi saya nggak ada pengaruhnya mereka bilang ya dan tidak. Karena it's my life. I do what i want. Dan saya mempertanggungjawabannya ke hadapan Allah bukan ke mereka dan sudah gitu saya menghadap Allah nya sendirian lagi dan nggak bersama mereka. Belajarnya pun karena liqo'at saya mengalami masa vakum yg sangat lama sekali. Dan saya orangnya suka baca buku pengetahuan umum dan seka kenalan sama sesama muslim. Apalgi ketika ikut kajian salafi di surabaya dapat makan gratis. Wah ini cocok buat mahasiswa "kelaparan" kayak saya. Anyway, di paris sudah mulai panas dan "panas". Panas karena suhu 32° dan "panas" karena semuanya pakai celana pendek dan kaos singlet. Bahkan teman sekamar saya (laki2 dari tunisia) sehabis solat dhuhur bilang,"hanif, ajari saya tajwid". Maklum, orang2 afrika utara baca qurannya kayak baca karangan bebas. Sudah gitu gak pakai tajwid. Nggak tahu yg namanya iqlab, idzhar, dll. Lalu dia copot baju nya. Lalu saya bilang,"are you crazy, you want to learn quran topless like that.". Lalu dia jawab,"hanif, saya kepanasan. Dan Allah Maha pengampun". Mati aku. Semoga Allah nggak menjadikan aku kayak dia. hanif 2006/6/10, Ahmad Ridha <[EMAIL PROTECTED]>: > > On 6/9/06, hanif hanif <[EMAIL PROTECTED] <hanif230982%40gmail.com>> > wrote: > > > wassalamu alaikum warohmatullah, > > > > Wa 'alaikumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh, > > Saya tidak tahu kenapa kalau ada anggota PKS bilang A, maka seolah2 itu > > adalah keputusan resmi partai/jamaah. Demi Allah saya nggak pernah > dengar > > itu. Jangan menyebarkan kabar yg nggak2. Teman saya banyak yg keluar dan > > biasa saja. > > > > Berkenaan perkataan tersebut silakan Mas Hanif hubungi Pak Syamsul > secara langsung karena telah ia katakan "Jika ingin mengetahui > sumbernya nanti saya berikan via japri". Terus terang saya pun ingin > tahu. > > Mengenai perkataan individu saya pun pernah menjumpai perkataan > pendukung PKS seperti "kalau dari salafy sih ane gak percaya lagi". > Ungkapan ini diterima oleh teman saya oleh kerabatnya yang pendukung > PKS. Bahkan teman saya dicemooh karena masalah kerajaan (kerabatnya > itu mendukung demokrasi tentunya). Bicara masalah demokrasi, PKS jelas > mendukung demokrasi - tidak sekadar "terpaksa" - karena di Bogor > pernah saya jumpai spanduk PKS berbunyi "Jangan ambil demokrasiku" > atau semacamnya. > > Saya juga pernah menerima "teguran" dari pendukung PKS ketika saya > ingin menjelaskan masalah "Di manakah Allah?" karena menurutnya hal > itu tidak terlalu berguna. Sedihnya bukan main saya. > > Bahkan ada perkataan yang lebih jahat dari itu yakni celaan terhadap > Syaikh Muqbil rahimahullah karena beliau menentang IM dengan ungkapan > "seorang munafiqin Yaman bernama Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i". Allahul > musta'aan. Perkataan ini dinyatakan di komentar suatu blog. > > Tidaklah saya katakan bahwa perkataan-perkataan itu sesuatu yang resmi > dari PKS dan mungkin saja itu dibuat orang untuk mencoreng citra PKS. > Akan tetapi, ini adalah bagian dari "waqi'". > > Akan tetapi sebaliknya, pengalaman teman Mas Hanif yang banyak keluar > dan biasa saja juga apakah keputusan resmi partai/jamaah? Juga > misalnya dukungan murabbi Mas Hanif untuk belajar di kajian salafi. > Bagaimanakah "keputusan resmi" tersebut? > > Bagaimana dengan buku "Ikhwanul Muslimin: Anugerah Allah Yang > Terzhalimi" yang di dalamnya justru banyak kezhaliman? Penulis > menyatakan bahwa fatwa Syaikh Ibn Baz rahimahullah bahwa IM termasuk > 72 golongan berarti Syaikh menyatakan jama'ah IM sebagai ahli neraka. > Padahal tidak demikian karena ahli neraka berarti kekal di neraka. Ia > juga mengesankan bahwa Syaikh berfatwa hanya berdasarkan "bisikan > sekelilingnya". Apakah buku tersebut direstui secara resmi? Di > Indonesia cukup populer lho buku itu dan sebagian isinya juga dimuat > di web. Kerabat teman saya itu "merekomendasikannya". > > Semoga Allah Ta'ala memberikan petunjuk kepada kita semua dan > mengampuni semua kesalahan kita. > > Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Allahu Ta'ala a'lam. > > Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, > -- > Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim > (l. 1400 H/1980 M) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free. http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/TXWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG TERPERCAYA -------------------------------------------- Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] -------------------------------------------- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
