FATWA TTG KESESATAN HIZBUT TAHRIR (I)
Penulis: Syaikh Al Albani
Pada suatu kesempatan ada dua pertanyaan yang keduanya bertemu pada satu titik
berkenaan dengan Hizbut Tahrir (selanjutnya disingkat HT).
Pertanyaan Yang Pertama :
Saya banyak membaca tentang Hizbut Tahrir dan saya kagum terhadap banyak
pemikiran-pemikiran mereka, saya ingin Anda menjelaskan atau memberikan faedah
pada kami dengan penjelasan yang ringkas tentang Hizbut Tahrir ini.
Pertanyaan Yang Kedua :
Sehubungan dengan permasalahan-permasalahan tadi akan tetapi si penanya
menghendaki dariku penjelasan yang sangat luas tentang Hizbut Tahrir, sasaran,
atau tujuan-tujuannya, serta pemikiran-pemikirannya, dan apakah semua sisi
negatifnya merembet ke dalam permasalahan akidah?
Saya (Syaikh Al Albani) menjawab atas dua pertanyaan tadi :
Golongan atau kelompok atau perkumpulan atau jamaah apa saja dari perkumpulan
Islamiyah, selama mereka semua tidak berdiri di atas Kitabullah (Al Qur'an) dan
Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam serta di atas manhaj
(jalan/cara) Salafus Shalih, maka dia (golongan itu) berada dalam kesesatan
yang nyata! Tidak diragukan lagi bahwasanya golongan (hizb) apa saja yang tidak
berdiri di atas tiga dasar ini (Al Qur'an, Sunnah Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam dan Manhaj Shalafus Shalih) maka akan berakibat atau membawa
kerugian pada akhirnya walaupun mereka itu (dalam dakwahnya) ikhlas.
Pembahasan saya kali ini tentang golongan-golongan Islamiyah yang mereka semua
harus ikhlas kepada Allah 'Azza wa Jalla dan menginginkan nasehat kebaikan bagi
umat sebagaimana dalam hadits yang shahih :
"Agama itu adalah nasehat", kami (para shahabat) berkata : "Bagi siapa ya
Rasulullah?" (Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam) bersabda : "Bagi Allah
dan bagi Kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, bagi Imam-Imam kaum Muslimin, dan mereka
(kaum Muslimin) pada umumnya." (Imam Muslim menyendiri dalam lafadz hadits
hadits ini dari hadits Tamim Ad Dari)
Karena Allah telah berfirman dalam Al Qur'an tentang permasalahan ini :
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan
Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al Ankabut : 69)
Maka barangsiapa yang jihadnya karena Allah 'Azza wa Jalla dan berdasarkan
Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam serta di atas
manhaj Salafus Shalih merekalah orang-orang yang dimaksud dalam ayat :
"Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu." (QS. Muhammad :
7)
Manhaj Salafus Shalih ini adalah dasar yang agung maka dakwah setiap golongan
kaum Muslimin harus berada di atasnya. Berdasarkan pengetahuan saya, setiap
golongan atau kelompok yang ada di muka bumi Islam ini, saya berpendapat
sesungguhnya mereka semua tidaklah berdakwah pada dasar yang ketiga, sementara
dasar yang ketiga ini adalah pondasi yang kokoh.
Mereka hanya menyeru kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam saja, di sisi lain mereka tidak menyeru (berdakwah) pada
manhaj Salafus Shalih kecuali hanya satu jamaah saja.
Dan saya (Al Albani) tidak menyebut satu jamaah tadi sebuah hizb (sekte) karena
mereka tidak berkelompok dan tidak berpecah belah serta tidak fanatik kecuali
kepada Kitabullah, Sunnah Rasul, dan manhaj Salafus Shalih, dan sungguh saya
tahu persis tentang hal ini. Dan akan lebih jelas bagi kita semua betapa
pentingnya dasar yang ketiga ini dalam kaitannya dengan nash syar'i yang
dinukil dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam baik yang berhubungan dengan Al
Qur'an maupun As Sunnah.
Pada kenyataannya, jamaah-jamaah Islamiyah sekarang ini, demikian pula
kelompok-kelompok Islamiyah sejak awal munculnya penyimpangan terus merajalela
serta menampakkan taringnya di antara jamaah-jamaah Islamiyah yang pertama
(yaitu mulai timbulnya Khawarij) pada masa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib
radhiallahu 'anhu, kemudian sejak mulainya Jaad bin Dirham mendakwahkan
(pemikiran) Mu'tazilah dan sejak munculnya firqah-firqah yang dikenal
nama-namanya di zaman dulu serta berhubungan dengan wajah-wajah baru di zaman
sekarang dengan nama-nama yang baru pula. Mereka itu baik yang dulu maupun yang
sekarang tidak terdapat padanya perbedaan, tak satupun di antara mereka yang
menyatakan dan mengumandangkan bahwasanya mereka di atas manhaj Salafus Shalih.
Semua kelompok-kelompok ini dengan perselisihan yang ada pada mereka, baik
dalam masalah akidah, dasar-dasar atau permasalahan-permasalahan hukum dan
furu' (cabang-cabang), semuanya menyatakan berada di atas Kitab dan Sunnah,
akan tetapi mereka berbeda dengan kita, karena mereka tidak mengatakan apa yang
kita katakan, yang perkataan itu merupakan kesempurnaan dakwah kita. Yakni
(perkataan) berada di atas manhaj Salafus Shalih.
Maka atas dasar ini, siapa yang menghukumi golongan-golongan ini, yang mereka
semua ber-intima' (menisbatkan diri) walaupun minimal secara perkataan bahwa
dakwahnya di atas Kitab dan Sunnah, dan bagaimana hukum yang pasti (tentang
mereka), karena mereka semua mengatakan dengan perkataan yang sama?
Jawabannya, tidak ada jalan untuk menghukumi golongan-golongan di antara mereka
bahwa mereka di atas yang haq (benar), kecuali apabila dibangun di atas manhaj
Salafus Shalih. Sekarang pada diri kita timbul satu pertanyaan : "Dari mana
(atas dasar apa, pent.) kita mendatangkan manhaj Salafus Shalih?"
Jawabannya, sesungguhnya kita mendatangkan dasar yang ketiga ini dari
Kitabullah dan hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan sebagaimana
yang telah ditempuh oleh Imam-Imam Salaf dari kalangan shahabat dan yang
mengikuti mereka dengan baik dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah seperti
halnya yang mereka katakan saat ini. Dalil yang pertama adalah firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala :
"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan
mengikuti jalan selain jalannya orang-orang Mukmin, Kami palingkan dia kemana
dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu
seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An Nisa' : 115)
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (("Dan mengikuti jalan yang bukan jalan
orang-orang Mukmin")) dihubungkan dengan firman Allah (("Dan barangsiapa
menentang Rasul")). Maka seandainya ayat ini berbunyi (("Dan barangsiapa yang
menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, Kami palingkan dia kemana dia
berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu seburuk-buruk
tempat kembali")) yakni tanpa firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (("Dan mengikuti
jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin")) niscaya ayat ini menunjukkan
kebenaran dakwah golongan-golongan dari kelompok-kelompok tadi baik yang di
zaman dahulu maupun yang sekarang ini, karena mereka mengatakan kami di atas
Kitab dan Sunnah. Mereka tidak mengembalikan permasalahan-permasalahan yang
mereka perselisihkan kepada Kitab dan Sunnah, sebagaimana firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala :
" … kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia
kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul-Nya (As Sunnah), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan
lebih baik akibatnya." (QS. An Nisa : 59)
Apabila Anda mengajak (berdakwah) kepada salah satu dari jumhur ulama mereka
dan salah satu dari da'i mereka kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, maka mereka akan berkata, "Saya mengikuti
madzhabku", yang lain menyatakan, "madzhabku adalah Hanafi", yang lain
menyatakan, "madzhabku adalah Syafi'i", dan seterusnya.
Mereka taqlid kepada Imam-Imam mereka sebagaimana mereka mengikuti Kitabullah
dan Sunnah Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Maka apakah benar mereka
mengamalkan ayat ini? Tidak sama sekali dan sekali-kali tidak. Oleh sebab itu
apa faedahnya pengakuan mereka bahwasanya mereka di atas Kitab dan Sunnah
selama mereka tidak mengamalkan keduanya.
Dari contoh ini, tidaklah saya menghendaki untuk orang-orang yang taqlid (awam,
pent.) dari mereka, akan tetapi yang aku kehendaki dengannya adalah para da'i
Islam yang seharusnya tidak menjadi orang yang taqlid belaka, yang mengutamakan
pendapat para Imam yang tidak ma'shum keadaannya.
Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala tidaklah menyebutkan kalimat di pertengahan ayat
tadi secara sia-sia, hanya saja Allah Subhanahu wa Ta'ala menginginkan
dengannya menanamkan satu pokok yang sangat penting, suatu patokan yang sangat
kokoh yaitu tidak boleh kita semata-mata bersandar pada akal dalam memahami
Kitab Allah (Al Qur'an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.
Kaum Muslimin hanyalah dikatakan mengikuti Al Qur'an dan As Sunnah baik secara
pokok-pokoknya dan patokan-patokannya, apabila di samping berpegang pada Al
Qur'an dan Sunnah, mereka juga berpegang dengan apa yang ditempuh oleh Salafus
Shalih. Karena ayat di atas mengandung nash yang jelas tentang dilarangnya kita
menyelisihi jalannya para shahabat.
Artinya wajib bagi kita mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan
tidak menyelisihi (menentang) beliau, demikian pula wajib bagi kita untuk
mengikuti jalannya kaum Mukminin dan tidak menyimpang darinya. Dari sini kita
menyatakan bahwa wajib atas tiap golongan/kelompok/jamaah Islamiyah untuk
memperbaharui tolok ukur mereka yakni agar mereka bersandar kepada Al Qur'an
dan Sunnah di atas pemahaman Salafus Shalih.
Dan sangat kita sayangkan Hizbut Tahrir tidak berdiri di atas dasar yang
ketiga, demikian pula Ikhwanul Muslimin dan hizb-hizb Islamiyah lainnya.
Sedangkan kelompok-kelompok yang mengumandangkan perang dengan Islam seperti
partai Baats dan partai komunis, maka mereka tidak (masuk) dalam pembicaraan
kita sekarang ini.
Oleh karena itu seyogyanya seorang Muslim dan Muslimah hendaknya mengetahui
bahwa suatu garis kalau sudah bengkok pada awalnya (pangkalnya) maka akan
semakin jauh dari garis yang lurus. Dan setiap ia melangkahkan kakinya akan
semakin bertambahlah penyelewengannya. Maka jelas yang lurus adalah sebagaimana
yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam ayat Al Qur'an :
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya." (QS. Al An'am : 153)
Ayat yang mulia ini jelas Qath'iyyatul Ad Dalalah (pasti penunjukkan)
sebagaimana disukai dan biasa diucapkan oleh Hizbut Tahrir dan sekte-sekte lain
dalam dakwahnya, tulisan-tulisan dan khutbah-khutbahnya. Dalil yang
Qath'iyyatul Ad Dalalah (pasti penunjukkan), karena ayat ini menyatakan :
"Sesungguhnya jalan yang bisa menuju pada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah
satu, dan jalan-jalan yang lain adalah jalan-jalan yang menjauhkan kaum
Muslimin dari jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam juga menambahkan keterangan dan
penjelasan terhadap ayat ini sebagaimana keberadaan Sunnah Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam itu sendiri (menjelaskan dan menerangkan Al
Qur'an, pent.). Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan dalam Al Qur'anul Karim
kepada Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
"Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (QS. An Nahl : 44)
Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam adalah penjelas yang sempurna
terhadap Al Qur'an, sedangkan Al Qur'an adalah asal peraturan/undang-undang
dalam Islam. Untuk memperjelas suatu permasalahan pada kita agar lebih mudah
untuk dipahami, saya (Syaikh Al Albani) berkata : "Al Qur'an bila diibaratkan
dengan sistem peraturan buatan manusia adalah seperti undang-undang dasar dan
As Sunnah bila diibaratkan dengan sistem peraturan buatan manusia adalah
seperti penjelasan terhadap undang-undang dasar tersebut."
Oleh sebab itu sudah menjadi kesepakatan di kalangan kaum Muslimin, yang pasti
bahwa tidak mungkin bisa memahami Al Qur'an kecuali dengan penjelasan
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan ini adalah perkara yang telah
disepakati.
Akan tetapi sesuatu yang diperselisihkan kaum Muslimin sehingga menimbulkan
berbagai pengaruh setelahnya yaitu bahwa semua firqah sesat dahulu tidak mau
memperhatikan dasar yang ketiga ini yaitu mengikuti Salafus Shalih, maka mereka
menyelisihi ayat yang aku sebutkan berulang-ulang :
" … dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang Mukmin." (QS. An Nisa :
115)
Mereka menyelisihi jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena jalan Allah
Subhanahu wa Ta'ala adalah satu yaitu sebagaimana yang disebut dalam ayat
terdahulu :
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya." (QS. Al An'am : 153)
Saya (Syaikh Al Albani) berpendapat, sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam menambahkan penjelasan dan keterangan pada ayat ini dari riwayat salah
seorang shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang terkenal faqih
(fahamnya terhadap dien) yaitu Abdullah Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu ketika
beliau mengatakan :
Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam membuat satu garis
untuk kami, sebuah garis lurus dengan tangan beliau di tanah, kemudian beliau
menggaris disekitar garis lurus itu garis-garis pendek. Lalu Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengisyaratkan (menunjuk) pada garis yang lurus
dan beliau membaca ayat (yang artinya : "Dan bahwa (yang Kami perintah) ini
adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti
jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari
jalan-Nya".
Bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sambil menunjuk jarinya pada
garis lurus, "ini adalah jalan Allah", kemudian menunjuk pada garis-garis yang
pendek di sekitarnya (kanan-kirinya) dan bersabda, "ini adalah jalan-jalan dan
pada setiap pangkal jalan itu ada syaithan yang menyeru manusia padanya."
Hadits ini ditafsirkan dengan hadits lain yang telah diriwayatkan oleh Ahlus
Sunan seperti Abu Dawud, Tirmidzi, dan selain dari keduanya dari Imam-Imam
Ahlul Hadits dengan jalan yang banyak dari kalangan para shahabat seperti Abu
Hurairah, Muawiyah, Anas bin Malik, dan yang selainnya dengan sanad yang
jayyid. Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
"Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan Nashrani telah terpecah menjadi 72
golongan, dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya
ada di neraka kecuali satu. Maka mereka (para shahabat) bertanya : "Siapa dia
ya Rasulullah?" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : "Dia adalah
apa yang aku dan shahabatku berada di atasnya."
Hadits ini menjelaskan kepada kita jalannya kaum Mukminin yang disebut dalam
ayat tadi. Siapakah orang-orang Mukmin yang disebutkan dalam ayat itu? Meraka
itulah yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pada
hadits Al Firaq, ketika beliau ditanya tentang Firqatun Najiah (golongan yang
selamat), manhaj, sifat, dan titik tolaknya. Maka Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam menjawab, "apa yang aku dan para shahabatku berada di
atasnya."
Maka jawaban ini wajib diperhatikan, karena merupakan jawaban dari Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Jika bukan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala
maka itu adalah tafsir dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam terhadap
jalannya orang-orang Mukmin yang terdapat pada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
:
"Dan barangsiapa yang menentang Rasulullah sesudah jelas kebenaran baginya dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin."
Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan tentang Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan jalannya orang-orang Mukmin. Sementara itu
(dalam hadits, pent.) Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menyebutkan
tanda Firqatun Najiah yang tidak termasuk 72 golongan yang binasa. Sesungguhnya
Firqatun Najiah adalah golongan yang berdiri di atas apa yang ada pada
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan para shahabat.
Maka pada hadits ini kita akan dapati apa yang kita dapati pula dalam ayat.
Sebagaimana ayat tidak membatasi penyebutan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa
Sallam saja, demikian pula hadits tidak membatasi penyebutan Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam saja. Di samping itu ayat juga menyebutkan
jalannya orang-orang Mukmin demikian pula dalam hadits terdapat penyebutan
"shahabat Nabi" maka bertemulah hadits dengan Al Qur'an. Oleh sebab itu
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
"Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat selama
berpegang teguh dengan keduanya, yakni Kitabullah dan Sunnahku dan tidaklah
terpisah keduanya (Al Qur'an dan As Sunnah) sampai keduanya datang kepadaku di
Haudl." (Diriwayatkan oleh Malik dalam Muwatha'-nya, Al Hakim dalam
Mustadrak-nya dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' hadits nomor
2937)
Banyak golongan-golongan terdahulu maupun sekarang yang tidak berdiri di atas
dasar yang ketiga ini sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur'an dan
Hadits. Pada hadits di atas disebutkan tanda golongan yang selamat yaitu yang
berada di atas apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan
para shahabatnya. Semakna dengan hadits ini adalah hadits Irbadl ibn Sariyyah
radhiallahu 'anhu yang termasuk salah satu shahabat Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam dari kalangan Ahlus Shufah, yakni mereka dari kalangan
fuqara' yang tetap berada di Masjid dan menghadiri halaqah-halaqah (majelis
taklim) Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam secara langsung dan bersih.
Berkata Irbadl ibn Sariyyah radhiallahu 'anhu :
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memberi nasehat kepada kami yang
membuat hati kami bergetar dan air mata kami berlinang (karena terharu). Kami
berkata : "Ya Rasulullah seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan maka berilah
kami wasiat." Maka beliau bersabda : "Aku wasiatkan kepada kamu sekalian untuk
tetap bertakwa kepada Allah 'Azza wa Jalla dan senantiasa mendengar dan taat
walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Barangsiapa hidup (berumur
panjang) di antara kalian niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak.
Oleh karena itu wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah
Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk (yang datang) sesudahku, gigitlah
sunnah itu dengan gigi geraham kalian, dan jauhilah perkara-perkara baru yang
diada-adakan (dalam urusan agama, pent.). Karena sesungguhnya setiap perkara
yang baru itu bid'ah. Dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di
neraka." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi. Berkata
Tirmidzi, hadits ini hasan) Hadits ini merupakan (penguat) bahwasanya Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak membatasi perintahnya kepada umatnya untuk
berpegang teguh dengan sunnahnya saja ketika mereka berselisih akan tetapi
beliau menjawab dengan uslub/cara bijaksana, dan siapa yang lebih bijaksana
dari beliau setelah Allah? Oleh sebab itu tatkala Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam bersabda :
"Barangsiapa di antara kalian yang hidup (berumur panjang) setelahku maka dia
akan melihat perselisihan yang banyak."
Beliau juga memberikan jawaban dari soal yang mungkin akan muncul
(dipertanyakan) : "Apa yang kita lakukan ketika itu wahai Rasulullah?" Maka
Rasulullah menjawab : "Wajib atas kalian mengikuti sunnahku." Dan Rasulullah
tidak mencukupkan perintahnya terhadap mereka yang hidup pada waktu terjadi
perselisihan dengan hanya mengikuti sunnah beliau, akan tetapi menggabungkannya
dengan sabda beliau :
" … dan sunnahnya Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk."
Jika demikian halnya, maka seorang Muslim yang menginginkan kebaikan pada
dirinya dalam masalah akidah, dia harus kembali pada jalannya orang-orang
Mukmin (para shahabat) bersama dengan Kitab (Al Qur'an dan As Sunnah) yang
shahih dengan dalil ayat dan hadits Al Firaq (perpecahan) serta hadits dari
Irbadl ibn Sariyyah radhiallahu 'anhu.
Inilah kenyataan yang ada dan sangat disesalkan bahwasanya hal ini banyak
dilalaikan oleh semua hizbi-hizbi/sekte-sekte Islamiyah masa sekarang ini
sebagaimana keberadaan firqah-firqah yang sesat, khususnya kelompok Hizbut
Tahrir yang berbeda dengan sekte-sekte lainnya di mana Hizbut Tahrir dalam
melaksanakan Islam menggunakan akal manusia sebagai tolok ukurnya. (Bersambung
ke vol. II)
(Dikutip dari buku Terjemahan HT Mu'tazilah Gaya Baru, terbitan Cahaya Tauhid
Press)
Abu abdirrahman bin misdi al-carati
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/mDk17A/lOaOAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
SALURKAN BANTUAN ANDA UNTUK KAUM MUSLIMIN YANG TERKENA MUSIBAH
GEMPA DI DAERAH YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA KEPADA LEMBAGA AMAL YANG
TERPERCAYA
--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/